SPY (2015)

Setelah Kingsman: the Secret Service (review) yang menjadi salah satu parodi/tribute film espionage terbaik sepanjang masa, masihkah kita perlu mendapat film serupa tahun ini? Mungkin tidak. Hanya saja sebuah film yang membawa Melissa McCarthy ke hakikatnya sebagai leading actress memukau dalam film komedi tentu sayang untuk dilewatkan. Semenjak perannya dalam Bridesmaids-nya Paul Feig, McCarthy digadang-gadang sebagai the next big thing dalam dunia komedi. Hollywood-pun berusaha mati-matian mewujudkan hal tersebut meski mayoritas berujung kegagalan. Mungkin hanya The Heat (review) (juga disutradarai Feig) yang paling mendekati itu. Spy pun pada awalnya tidak tampak meyakinkan. McCarthy berperan sebagai Susan Cooper, karakter yang tidak lebih dari salah satu cara standar komedi Hollywood mengeksploitasi aktris berbadan gemuk. Susan adalah anggota CIA yang bekerja di belakang meja, dan tentunya dipandang sebelah mata. 

Tugas Susan adalah membantu Bradley Fine (Jude Law), seorang agen lapangan dengan cara memberikan info-info tentang keberadaan musuh atau perangkap di sekitarnya melalui earpiece. Saya sempat menyebut Kingsman diawal tulisan, tapi Spy sesungguhnya tampil berbeda. Film ini lebih merupakan straight comedy, dimana aksi para agen banyak diisi kekonyolan bahkan untuk agen serius macam Bradley Fine sekalipun. Bagi Susan sendiri, pekerjaan di balik meja tidak akan selamanya ia jalani. Kesempatan datang saat Fine terbunuh dalam suatu misi. Didorong oleh rasa cintanya ada Fine dan kebutuhan CIA akan seorang agen yang identitasnya masih belum diketahui oleh pihak musuh, Susan pun dikirim untuk terjun dalam misi lapangan pertamanya. Tugasnya sederhana: melacak keberadaan pemilik nuklir bernama Rayna (Rose Byrne) lalu melaporkannya pada atasan. Tapi seperti yang sudah kita tahu Susan tidak akan diam begitu saja menuruti perintah tersebut.
Sebagai sebuah komedi, Paul Feig nampak tidak ingin naskahnya tampak terlalu bodoh. Karena itu sebelum penonton dibuat terganggu dan mempertanyakan bagaimana Susan yang selama ini hanya "aktor di balik layar" bisa menjadi agen lapangan tangguh, Feig memberikan latar belakang pada karakter ini. Susan diceritakan telah menunjukkan bakatnya dalam perkelahian tangan kosong maupun penggunaan senjata. Hanya saja selama ini fakta itu ia sembunyikan. Masih terdengar bodoh memang, tapi setidaknya disaat Susan sanggup menghajar para penjahat, mengendarai pesawat, atau memacu motor di tengah keramaian kota, penonton bisa menerima dan menyangkal pertanyaan di kepala mereka dengan bergumam "kan dia sebenarnya terlatih." Mengikuti cerita yang ditulis Feig dalam film ini pun rasanya percuma saja. Daripada menjelaskan ceritanya dengan cara bertutur yang baik, Feig memilih menjelaskan alur rumit penuh konspirasi dan tetek bengek espionage-nya lewat rangkaian dialog panjang nan bebelit dari beberapa karakter macam Rayna atau pimpinan CIA, Elaine (Allison Janney) saat sedang menjelaskan misi pada anak buahnya. Semua penjelasan tersebut memang hanya excuse supaya rangkaian komedinya memiliki cerita sebagai benang merah.
Tapi komedi tak ubahnya horor. Seburuk apapun ceritanya, jika esensi dari genre tersebut hadir dengan baik, artinya film itu bagus. Tentu saja esensi komedi adalah menyuguhkan kelucuan, dan Spy berhasil memberikan itu. Disaat banyak komedi hanya mengeksploitasi fisik McCarthy dengan membuatnya melakukan hal sebodoh mungkin atau bertindak semenyebalkan mungkin, Feig memberikan sesuatu yang pantas didapat sang aktris. Rangkaian momen komedi dengan timing sempurna, penuh kegilaan yang datang tiba-tiba seperti ledakan muntahan Susan terbukti sempurna mengakomodir gaya all-out McCarthy. Bakat terbesar Melissa McCarthy adalah kebersediaannya melakoni adegan komedik yang gila dan tidak jarang menjijikkan, (ingat adegan buang air besar di Bridesmaids?) dan untuk memaksimalkan itu tidak cukup dengan hanya melemparkan kebodohan demi kebodohan secara asal. Paul Feig menyadari hal tersebut dan kembali pada formula yang ia pakai pada Bridesmaids. Hal itu juga berarti memberikan McCarthy karakter yang mudah dicintai penonton. Susan Cooper yang sesungguhnya kompeten sebagai agen lapangan dan nekat membahayakan dirinya demi membalaskan kematian pria yang dicintai jelas sudah cukup membuat penonton menyukai sosoknya.

Akhirnya Melissa McCarthy bersinar sebagai leading lady, tapi bukan berarti karakter lain terpinggirkan. Jason Statham dan Rose Byrne juga mendapatkan spotlight mereka sendiri. Seperti McCarthy, Byrne pun terbantu berkat pengetahuan Feig akan gaya komedi yang cocok dengannya. Seperti karakter Rayna disini, kekuatan Byrne adalah menghidupkan sosok wanita cantik yang sekilas nampak anggun dan elegan sebelum kemudian melakukan atau tertimpa hal-hal bodoh. Siapa tidak suka wanita cantik yang tampil gila mengesampingkan image? Tapi penonton lebih menyukai saat seorang aktor tampil dalam peran yang jauh berbeda dengan tipikalnya selama ini. Ditambah lagi jika sang aktor bersedia mengolok-olok typecast tersebut. Jason Statham melakukan itu disini. Rick Ford yang ia perankan adalah agen CIA yang doyan mengumbar kehebatannya melakukan hal mustahil saat menjalankan misi, sama seperti tipikal karakter yang selama ini dimainkan Statham. Tapi pada kenyataannya ia justru lebih sering melakukan kebodohan saat beraksi. Sangat menyenangkan melihat seorang Jason Statham bersedia "mengolok-olok" dirinya sendiri seperti itu. Titik lemah hanya ada di karakter Nancy (Miranda Hart) yang leluconnya lebih sering miss dalam menghadirkan tawa. 

Verdict: Lebih berfokus pada eksplorasi karakter melalui bakat komedi tiap-tiap pemainnya daripada asal tampil bodoh, memberikan Spy begitu banyak kelucuan maksimum. Akhirnya Melissa McCarthy mendapatkan film yang layak, dan Statham menemukan alternatif baru untuk memperpanjang usia karirnya sebagai A-list actor.

KOMPILASI PEMENANG XXI SHORT FILM FESTIVAL 2015

Berikut ini adalah review singkat saya untuk 10 pemenang "XXI Short Film Festival 2015" yang kompilasinya baru saja diputar tanggal 20 Mei ini di Yogyakarta. Kapan lagi bisa menonton film-film pendek di layar lebar bukan? Apalagi semuanya hasil karya sineas lokal yang diharapkan bisa memberikan masa depan cerah bagi dunia perfilman Indonesia. Tidak semuanya memuaskan memang, tapi dibandingkan berbagai acara lain yang memutar kompilasi film pendek di Yogyakarta akhir-akhir ini, kompilasi dari XXI ini jelas terasa spesial mulai dari kualitas sampai keberagaman genre yang diusung.

A WEEK WITH HERU
Sutradara: Made Dimas Wirawan (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Pilihan Juri Media
Pembuka yang menaikkan mood. Seperti judulnya, film ini membawa penonton pada satu minggu dalam hidup karakter Heru yang dibagi dalam tujuh segmen, dimana tiap segmen menggambarkan kejadian per-hari. Tapi semua itu tidak lewat cara serius. A Week with Heru ibarat campuran antara Happy Tree Friends versi lebih "lembut" dengan komedi ala Sketsa. Kelucuan hadir lewat twist absurd penuh kebodohan karakternya. Bergerak cepat, mengakhiri setiap segmen tepat pada saat punch line komedi terbukti sukses menghadirkan tawa tanpa henti. Aneh, gila, bodoh, tapi sangat menghibur.


O5:55
Sutradara: Tiara Kristiningtyas (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Fiksi Pilihan Juri Media
Sekitar 10 menit awal durasi film memperlihatkan keseharian warga Bantul. Kesan damai dan tentram hadir lewat kesederhanaan mereka. Sebagai sajian eksperimental 10 menit awal itu amat menarik. Saya suka sajian realis yang layaknya dokumentasi hidup sehari-hari. Tapi sisa 2 menit terakhir yang memperlihatkan wajah serta tujuan asli film ini justru merusak semuanya. Gemuruh serta narasi hadir tepat setelah tangisan seorang bayi. Mungkin tujuannya untuk membuat penonton merasakan ironi dari tragedi, disaat bencana bisa datang tiba-tiba, menghancurkan kedamaian yang ada. Penonton diharapkan bisa terhenyak mendapati fakta tragis setelah menghabiskan 10 menit menikmati ketentraman. Tapi bagi saya konklusinya seperti bentuk kemalasan. Rasanya hampa. Konsep unik dan baru memang tidak selalu berhasil.


HARI YANG LAIN UNTUK BAKKA' SENDANA
Sutradara: N. Priharwanto (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Dokumenter Pilihan Juri Media
Gambaran kultur sabung ayam yang ada di Toraja ini efektif memberikan tanya, "apakah kultur bisa dibenarkan jika itu menyakiti makhluk hidup?" Memang menyakitkan melihat ayam-ayam saling bertarung, terluka hingga bercucuran darah, bahkan dipotong kakinya. Untuk pemaparan hal itu filmnya berhasil. Tapi dalam hal lain seperti fakta bahwa kemungkinan sabung yang hadir bisa jadi merupakan kali terakhir akibat ancaman penggerebekan polisi, sampai peran sosok Sappe sang pemilik Bakka' Sendana dalam narasi hanya terasa sebagai tempelan yang tidak signifikan. Durasi 7 menit tampak begitu kurang untuk menggali segala aspek yang diniati sang sutradara.


DJAKARTA-00
Sutradara: Galang Ekaputra Larope (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Terbaik
Sebuah kritikan eksplisit terhadap kondisi Jakarta yang penuh kemacetan dan rawan banjir. Setting-nya adalah Jakarta pada masa post-apocalyptic (disebut Djakarta-00) dimana kota dibangun diatas reruntuhan kota lama yang tenggelam dalam air. Visualnya memikat, meski penggambaran beberapa aspek terlalu komedik daripada murni satir seperti tumpukan mobil hasil kemacetan yang menggunung. Sebagai satir, dunia yang diwujudkan terlalu eksplisit, kurang elegan. Karakter Gani sang pelukis hipkorit yang menggambar harapan tapi kehilangan harapan dan Antya yang apatis sebenarnya menarik. Sayang voice acting yang lemah membuat dinamika interaksi keduanya gagal menyampaikan emosi kuat.


ONOMASTIKA
Sutradara: Loeloe Hendra (Yogyakarta)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Fiksi
Akhirnya hadir juga drama penuh makna yang hadir lewat kesederhanaan bertutur. Seorang anak tanpa nama dan tidak bersekolah tinggal bersama kakeknya yang memiliki banyak nama setelah kedua orang tuanya menghilang. Nama adalah jati diri seseorang, dan siapa diri kita hanya kita yang tahu, kita yang menentukan. Onomastika menyajikan pertanyaan tentang jati diri lewat sudut pandang anak-anak. Perjalanannya terasa kuat berkat akting bagus dari sang aktor cilik. Kita bisa merasakan adanya pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini ia pendam tentang "nama". Sederhana, tidak dramatis tapi thoughtful.



THE DEMITS
Sutradara: Ruben Adriano (Bandung)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Animasi
Dari judulnya sudah bisa ditebak animasi ini adalah komedi dengan para hantu (dedemit) sebagai objek lelucon. Karakter utamanya adalah Demi yang mendapati dirinya mati dalam posisi memalukan. Kondisi semakin gawat bagi Demi saat Dinda, wanita yang ia sukai akan datang ke rumahnya. Saat itulah muncul tiga hantu tetangga mendatangi Demi. Murni hiburan, murni komedi menyenangkan yang mengolok-olok dunia hantu yang selama ini identik dengan kesan seram. Sama seperti A Week with heru, film ini adalah kekonyolan ringan yang konsisten menghadirkan tawa dari awal hingga akhir.


IBLIS JALANAN
Sutradara: Salma Farizi (Jakarta)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Dokumenter
Sederhana saja dokumenter ini, yaitu menghadirkan wawancara dengan dua pembalap Tong Setan yang mengulik sedikit kehidupan pribadi sampai resiko-resiko yang harus siap dihadapi saat beratraksi di atas motor. Eksplorasinya memang tidak terlalu dalam dimana penonton belum akan sampai tahap memahami dua karakter secara intim apalagi emosional. Namun Iblis Jalanan cukup menjadi sarana "mengintip" kehidupan dibalik layar para pembalap. Sayang, adegan pertunjukkan maut dalam tong setan sendiri tidak dihadirkan dengan menarik, meski iringan lagu berjudul sama milik Bangkutaman jelas jadi pembangun suasana yang sempurna.


PRET
Sutradara: Firman Widyasmara (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association)
Kata "pret" memang sering kita layangkan saat melihat para calon wakil rakyat berebut kursi pemerintahan. Janji-janji mereka memang layaknya suara "pret" yang dihasilkan oleh kentut dari pantat. Hanya berbunyi nyaring, tapi tidak ada isinya bahkan seringkali berbau busuk. Sindiran keras yang memang hadir "lewat cara bertutur dan teknik visual asal" (dalam artian positif) seperti judulnya sendiri. Disajikan langsung pada sasaran, juga menggelitik karena mengajak penonton bersenang-senang mencela para "pantat" tapi bukan sebuah sindiran yang cerdas pula.


DIGDAYA ING BEBAYA
Sutradara: BW Purba Negara (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Dokumenter Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association)
Kenapa banyak warga yang tetap nekat tinggal di lereng Merapi meski hidup mereka terancam bahaya setelah beberapa letusan khususnya yang paling dahsyat dan memakan banyak korban jiwa pada 2010 lalu? Apa itu hanya bentuk kebodohan dan keras kepala tanpa dasar? Atau ada alasan lain? Digdaya ing Bebaya adalah dokumenter yang sebenarnya begitu sederhana, memperlihatkan tiga orang wanita tua yang tetap tinggal di lereng Merapi tengah mencari tanaman obat di hutan. Satu per satu dari mereka menuturkan kejadian traumatis tersebut sambil menyampaikan alasan mengapa memilih tetap tinggal. Dipadu dengan suasana sunyi, ini adalah dokumenter yang sanggup mengajakpenonton melakukan merenungi dan memahami secara lebih dalam alasan para warga tersebut. 


LEMANTUN
Sutradara: Wregas Bhanuteja (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Favorit Penonton, Film Pendek Fiksi Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association), Film Pendek Fiksi Terbaik
Bercerita tentang seorang ibu yang membagikan warisan berupa lima buah lemari pada kelima anaknya, Lemantun memang yang terbaik dari total 10 film dalam kompilasi ini. Sebuah drama keluarga hangat yang menyoroti hubungan antar anggota keluarga, kasih sayang, dan kenangan masa lalu yang tersimpan dalam memori mereka. Apakah kita akan melupakan kenangan tersebut? Membuangnya? Melupakan kasih sayang dan kebersamaan untuk kepentingan sendiri? Atau justru kita bakal tetap menyimpan semuanya sebagai salah satu kepingan hidup yang akan kita jaga? Semua terserah kita. Tapi Lemantun jelas presentasi indah tentang hangatnya kasih sayang dalam keluarga meski itu hadir lewat hal-hal kecil dan sederhana.

A GIRL WALKS HOME ALONE AT NIGHT (2014)

Pada waktu masih kecil, saya sering merasa takut di malam hari saat sedang mencoba tidur. Saya selalu terbayang-bayang ada sosok (hantu) wanita dengan gaun panjang tengah mondar-mandir di jalanan depan rumah. Wanita itu tidak melakukan apapun kecuali berjalan perlahan sambil menanti ada orang lewat untuk ia jadikan mangsa. Belasan tahun berselang bayangan tersebut mulai terlupakan hingga malam ini saat Ana Lily Amirpour membangkitkan kembali mimpi buruk tersebut dalam debut penyutradaraannya. A Girl Walks Home Alone at Night ber-setting di sebuah kota di Iran bernama Bad City. Dengan nama seperti itu pastinya ini bukanlah kota yang indah. Bad City adalah kota yang sunyi, khususnya di malam hari. Jalanan sepi dan gelapnya malam yang hanya disinari lampu-lampu jalan adalah lokasi yang bakal sering dikunjungi penonton. Dilengkapi visual hitam-putih dan ambience sound layaknya film David Lynch, makin kuatlah atmosfer mencekam film ini.
Tapi kota tersebut bukan hanya mengerikan secara suasana, kehidupan yang dijalani warganya pun tidak lebih menyenangkan. Setidaknya itu yang kita lihat dalam diri Arash (Arash Marandi) pemuda bergaya ala-James Dean lengkap dengan jaket kulit, kaus putih dan mobil klasik keren. Dalam kesehariannya, Arash bekerja sebagai tukang kebun, dan lewat kerja kerasnya itulah ia membeli mobil meski hanya mendapat gaji yang tidak seberapa. Tapi beban yang harus ditanggung Arash begitu besar karena sang ayah (Marshall Manesh) adalah seorang pecandu kokain, hobi berjudi dan main wanita. Dia juga punya hutang besar pada seorang germo bernama Saeed (Dominic Rains). Kondisi tersebut semakin membuat Arash merasa tak berdaya dan dihantui kesepian. Sampai pada suatu malam ia bertemu wanita misterius yang mengenakan cadar hitam besar (Sheila Vand). Arash tidak tahu bahwa sang gadis adalah vampir yang selama ini berkeliaran, membuntuti orang-orang di jalan setiap malam dan telah membunuh banyak orang.
 A Girl Walks Home Alone at Night adalah film modern bernafaskan horor yang paling baik dalam memanfaatkan visual hitam-putih. Pewarnaan seperti itu memang efektif memunculkan suasana kelam, tapi Ana Lily Amirpour melakukan lebih dari itu. Judulnya memang menyebut seorang wanita yang berjalan sendirian di malam hari, tapi atmosfer yang dibangun justru membuat penonton serasa menjadi orang yang berada sendirian di jalan pada gelap malam. Perasaan tidak nyaman hingga kesan paranoid kalau-kalau ada sosok yang mengikuti berhasil disalurkan pada penonton. Kita familiar dengan perasaan tidak aman tersebut. Kemunculan sang vampir wanita beserta tampilannya pun tidak berlebihan. Tidak perlu make-up berlebihan atau kemunculan tiba-tiba yang "berisik". Cukup dengan kerudung hitam dan kehadiran yang diam-diam tapi tak terduga sudah cukup membangkitkan kembali rasa takut. 

Poin utama ceritanya ada dua, yaitu kesepian dan penderitaan. Penderitaan dari mereka orang-orang yang tak berdaya, entah itu seperti Arash dan ayahnya yang terhimpit masalah ekonomi serta kecanduan, atau korban dari sang vampir yang hanya bisa pasrah menunggu ajal. Beberapa scene menunjukkan alat-alat industri yang bekerja aktif, tapi kota di sekitarnya justru dipenuhi suasana depresif akibat kehidupan yang jauh dari kata makmur. Ironis memang disaat benda mati bagi industri tersebut terus hidup, para makhluk hidupnya sendiri terasa "mati". Mereka pun diselimuti kesepian yang tidak jauh berbeda dengan kesunyian kota di malam hari. Kita tahu Arash merasakan hal itu, begitu juga Atti (Mozhan Marno), sang pelacur yang tidak bahagian dengan pekerjaannya. Tapi siapa mengira sang vampir merasakan hal yang sama. Pada siang hari ia harus berada di dalam rumah, sendirian sambil menikmati koleksi musik yang kadang ia dapatkan dari para korban. Tapi sekalinya keluar di malam hari, yang ia temui hanya jalanan kota yang senyap.
Film ini mengajak kita untuk memandang sosok vampir wanitanya secara lebih mendalam. Observasi pun dilakukan, menjadikannya tidak hanya sebagai monster haus darah melainkan sosok yang terjebak dalam kesepian. Karena itu saat berkeliaran di malam hari, hanya beberapa kali saja kita meihatnya mencari mangsa. Sisanya ia habiskan untuk mengikuti orang-orang, membuat mereka takut tanpa melukai, sampai menjelajahi kota dengan skateboard yang diambilnya dari seorang anak kecil. Bahkan dalam suatu adegan kita melihatnya merambat perlahan di dinding sambil tetap berada di atas skate. Daripada perbuatan jahat seperti yang ia tuturkan pada Arash, vampir ini lebih sering melakukan hal-hal iseng. Kekosongan yang ia rasakan dan tingkah polah yang seringkali menggelitik membuat saya mudah memberikan simpati pada karakter ini. 

Lalu pada pertengahan, filmnya juga menambahkan sisi romansa. Kisah cinta antara Arash dan sang vampir dibuka dengan pertemuan menarik antara keduanya. Tapi seiring berjalannya waktu daya tarik itu sedikit luntur. Saya dibuat memahami alasan ketertarikan keduanya, tapi tidak seperti pada sang vampir, hubungan tersebut tidak membuat saya sampai peduli. Unik? Pastinya. Tapi kehangatan romansa yang tersaji di tengah atmosfer dingin ini tak pernah sekuat atmosfer creepy-nya. Walau begitu sampai akhir sekalipun penampilan Sheila Vand masih begitu mengikat. Pada beberapa momen, sosoknya lengkap dengan tatapan dingin memunculkan rasa ngeri. Tapi di momen lain, tatapan dingin itu berubah menjadi tatapan seorang gadis yang kesepian, bosan, tak tahu harus berbuat apa saat sedang berjalan sendirian di malam hari.

Verdict: Sepertiga akhir dengan selipan romansa sedikit mengendurkan intensitas mood selaku penggerak utama film ini. Tapi dua pertiga awal adalah perjalanan atmosferik yang memberikan satu lagi perspektif baru terhadap film bertemakan vampir dan membuat saya ingin bertemu lagi dengan sang vampir wanita.

BROKEN FLOWERS (2005)

Jim Jarmusch membuat sebuah film tentang pria yang harus melakukan perjalanan untuk mengunjungi masa lalunya. Tapi Broken Flowers tidaklah seoptimis film-film lain yang berisikan retrospeksi, dimana kebanyakan karakter utama mendapat pelajaran dari masa lalu, kemudian menemukan makna hidup atau apapun yang ia cari. Don Johnston (Bill Murray) adalah pria tua yang saat mudanya dulu adalah seorang playboy layaknya Don Juan. Karena itulah sang kekasih, Sherry (Julie Delpy) memutuskan pergi karena merasa Don belum sanggup beranjak dari kehidupannya sebagai playboy. Don sendiri menyangkal anggapan Sherry, meski kita tentu meragukan janji setia seorang Don Juan. Tapi melihat kesehariannya, saya mulai merasa bahwa Don memang ingin berhenti, ingin beristirahat dan hidup tenang. Don hanya menghabiskan waktunya duduk diam di rumah sambil menonton televisi atau mendengarkan musik klasik. Namun disisi lain ia nampak bosan dan kesepian dengan kehidupan seperti itu. Jarmusch menunjukkan kesan tersebut dengan banyaknya adegan statis yang repetitif tanpa satupun hal signifikan terjadi.

Rasa sepi itu juga yang nampaknya mendorong Don untuk melakukan perjalanan setelah suatu pagi ia mendapatkan surat misterius dalam amplop berwarna pink. Surat tanpa nama dan alamat itu ternyata dari seseorang yang mengaku 20 tahun lalu sempat menjalani hubungan dengan Don, lalu berujung pada kehamilan yang ia sembunyikan. Sekarang sang anak sudah berusia 19 tahun dan pergi melakukan road trip yang ditengarai bertujuan untuk mencari sang ayah. Awalnya Don tidak ingin menanggapi serius surat tersebut, tapi atas dorongan sang tetangga, Winston (Jeffrey Wright) yang gemar melakukan analisa layaknya detektif, Don pun berangkat juga mengunjungi empat mantan kekasihnya dari 20 tahun lalu. Tapi benarkah semua itu semata-mata karena dorongan Winston? Pada beberapa adegan kita melihat secara diam-diam Don juga menyimpan penasaran terhadap surat tersebut. Contohnya saat ia menolak membuat daftar para mantan seperti yang diminta Wilson tapi akhirnya ia buat juga. Mungkin ia berada dalam dilema, antara ingin menikmati hidup tenang tapi disaat bersamaan merasa bosan dan sepi. Karena itu Don ingin menyambung kembali hubungan yang terputus, entah dengan para mantan maupun anaknya.
Perjalanan yang dilakukan Don sejatinya adalah perlambang dari retrospeksi seseorang terhadap masa lalunya. Jim Jarmusch mengulang adegan saat Don berada di tengah jalan. Mulai dari pesawat yang lepas landas sampai saat Don berada di dalam mobilnya, melintasi jalan sambil mendengarkan CD pemberian Winston. Disatu sisi hal itu bertujuan menguatkan kesan repetitif kegiatan sang karakter, tapi disisi lain Jarmusch memasukkan detail-detail esensial untuk mewakili intisari cerita. Pertama adalah truk. Jika diperhatikan lebih seksama, selama perjalanan mengunjungi keempat mantan kekasihnya Don berpapasan dengan empat truk. Truk pertama melewatinya dari belakang, seperti masa lalu yang pergi kemudian menghilang. Dua truk berikutnya datang dari depan, bahkan seolah akan bertabrakan dengan Don. Hal itu sama dengan kondisi sang karakter yang dihampiri oleh masa lalunya. Terakhir, lagi-lagi dari belakang sebuah truk datang tapi sebelum sempat berlalu, layar fade-out. Kenapa? Karena saat itu Don telah "bersatu" kembali dengan masa lalu tersebut. Sepanjang perlanan penonton juga dibuat familiar dengan lagu yang terus diputar oleh Don. Hal ini berguna menanamkan lagu tersebut, dan memberikan petunjuk tentang jati diri anak Don yang sebenarnya pada ending.
Broken Flowers memang kental dengan misteri mengenai siapa pengirim surat sebenarnya dan benar atau tidak Don mempunyai seorang anak. Jim Jarmusch mengemas filmnya ini bukan sebagai "film tentang misteri" tapi sebuah misteri itu sendiri. Tidak ada jawaban yang nyata karena tidak semua misteri harus terpecahkan. Misteri yang terpecahkan sendiri bakal mengurangi esensinya sebagai sesuatu yang kabur tanpa kejelasan. Jika diperhatikan, masing-masing wanita yang dikunjungi Don tidak ada satupun yang sepenuhnya menyangkal (juga membenarkan) kalau mereka memiliki anak hasil hubungan dengan Don. Saat bertanya pada Lolita (Alexis Dziena), puteri Laura (Sharon Stone) apakah ia punya kakak laki-laki, Lolita menjawab, "Do I need some?" Kemudian Don sempat menyinggung masalah anak saat makan malam bersama Ron (Christopher McDonald) dan Dora (Frances Conroy) dimana Dora berkata, "I don't know if I would have had the time and patience to be a good mother...to Ron's Children." Sedangkan Carmen (Jessica Lange) menjawab "I have a daughter." Terakhir, Penny (Tilda Swinton) yang hanya berteriak "Fuck you, Donny!". Tidak ada satupun dari mereka berkata "tidak memiliki anak laki-laki hasil hubungan dengan Don."

Seperti yang saya sebutkan diawal, pada akhir perjalanan karakter utamanya sama sekali tidak merasa mendapat "pencerahan". Jikapun ada, itu adalah kesadaran yang makin kuat bahwa ia masihlah seorang Don Juan yang mudah tertarik pada tiap wanita yang ditemui. Sepanjang perjalanan Don memang beberapa kali bertemu wanita asing yang membuatnya tidak bisa mengalihkan perhatian. Meski berkesan menyedihkan, Jim Jarmusch tetap menjadikan Broken Flowers sebagai drama yang kental dengan unsur komedi. Komedinya penuh nuansa quirky berkat penggunaan banyak steady shot, membiarkan objek dalam frame bergerak bebas meski kamera hanya diam di tempat. Pengemasan itu berpadu sempurna dengan penghantaran komedi deadpan dari Bill Murray. Sang aktor begitu sempurna sebagai Don, dengan banyaknya tatapan dingin penuh kesepian. Seringkali pula dari tatapannya kita merasa Don tidak peduli terhadap segala hal di sekitar, seolah berkata "I don't give a fuck!" tapi nampak jelas jauh di dalam hati ia memikirkan hal-hal tersebut. Tipikal karakter Murray, tapi ia selalu berhasil menghembuskan nafas baru dan kedalaman sehingga tiap-tiap tokoh tetap menarik meski terasa mirip. 

Verdict: Jim Jarmusch memperhatikan detail sampai kepada yang terkecil untuk membuat Broken Flowers menjadi drama penuh makna tentang kesepian dan masa lalu sambil disaat bersamanan menjadi komedi menggelitik karena permainan atmosfer kuat serta gaya akting Bill Murray.

MAD MAX: FURY ROAD (2015)

Orang boleh berkata bahwa sekuel demi sekuel merupakan salah satu bentuk kemiskinan ide industri perfilman mainstream. Tapi George Miller baru saja memberi bukti bahwa sekuel berapapun jumlahnya (entah diperlukan atau tidak) bukan suatu masalah asal digarap dengan baik. Mungkin berkaca pada fakta bahwa film terakhir Mad Max yakni Beyond the Thunderdome dirilis 30 tahun lalu, banyak yang akan menuduh pembuatan Fury Road tidak lebih dari sekedar usaha Miller menimbun pundi-pundi dollar. Tapi melihat hasil akhirnya saya berani menyangkal opini tersebut. Fury Road merupakan bentuk pelampiasan idealisme sekaligus kegilaan terpendam seorang pria berumur 70 tahun yang sejak 1998 hingga 2011 menghabiskan karirnya untuk membuat tiga film bernafaskan "film anak". Meski tanpa Mel Gibson, Miller memang siap seutuhnya kembali ke dunia post-apocalyptic penuh kekeraasan serta kegilaan yang pertama ia hadirkan tahun 1979 lalu.

Gaya bertutur film ini bagaikan The Raid-nya Gareth Evans: bergerak cepat dan mengalir tanpa putus menuturkan satu kejadian. Bedanya, Miller tidak hanya menggunakan setting sempit melainkan padang gurun tandus yang begitu luas sebagai "arena balapan" antara Max (Tom Hardy) dengan sekelompok tentara gila dari tiga kota berbeda. Mengacu pada premis tersebut, dua jam film ini berisikan kejar-kejaran antar mobil-mobil modifikasi aneh nan gahar. Tapi mereka tidak hanya berpacu, namun juga saling berperang di atas kendaraan masing-masing yang melacu kencang menembus gurun gersang sampai salah satu badai pasir paling ganas yang pernah ditampilkan dalam film. Disinilah Miller menumpahkan seluruh kegilaan yang telah terpendam puluhan tahun. Tidak hanya melacu kencang tapi juga brutal, penuh stunt sinting, serta dikemas dengan CGI yang luar biasa. George Miller sungguh memanfaatkan dengan baik bujet $150 juta yang ia miliki. Efek CGI bukan sekedar "gaya" melainkan aspek penting demi mewujudkan visinya membentuk suasana wasteland yang brutal dan penuh bahaya.
Terus bergerak dengan kecepatan tinggi, Fury Road tidak pernah kehabisan bahan bakar. Awalnya saya ragu Miller sanggup melebihi rentetan adegan aksi yang sudah ia munculkan saat badai menyerang di awal film. Saya pun bertanya-tanya apakah klimaksnya bakal lebih gila atau justru berakhir mengecewakan karena kekalapan sang sutradara mengeksploitasi segalanya di paruh awal. Tapi George Miller memang seorang kakek-kakek jenius yang disaat bersamaan rupanya juga orang gila. Tidak hanya memperbesar skala dan menambah ledakan serta kesadisan, klimaksnya menyuntikkan ketegangan tingkat tinggi saat penonton tanpa sadar sudah peduli pada karakternya, khususnya mereka para wanita. Para istri Joe adalah wanita lemah secara fisik namun tangguh di dalam yang merupakan modal cukup. Furiousa (Charlize Theron) adalah perwujudan badass heroine. Max? Well, he's mad anti-hero right? Tapi patut disayangkan dalam filmnya sendiri Max justru kalah bersinar dibanding karakter-karakter lainnya. Dengan sintingnya, Miller juga melibatkan gang nenek-nenek dalam pertempuran tersebut. Membuat mereka beraksi hingga membunuh mereka dengan cara yang brutal. Siapa tidak tercengang melihat hal semacam itu?

Mad Max: Fury Road boleh saja berjalan layaknya The Raid yang tanpa henti, tapi bedanya film ini punya naskah kuat. Lagi-lagi kejeniusan Miller berperan besar. Naskah yang ia tulis bersama Brendan McCarthy dan Nico Lathouris berpadu sempurna dengan penyutradaraannya yang cermat. Tidak hanya hebat mengemas adegan aksi, Miller masih jeli menyelipkan kekayaan cerita yang tertuang dalam naskah. Musuh utama Max kali ini adalah seorang raja bernama Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne) yang dipuja bagaikan Tuhan oleh para pengikutnya. Karakterisasi Immortan Joe beserta kepemimpinannya adalah cara George Miller menyelipkan kritik terhadap perbedaan kasta sosial. Joe beserta pasukan serta orang-orang dekat termasuk anaknya hidup di bebatuan tinggi yang bagian atasnya dipenuhi rerumputan hijau (satu-satunya tumbuhan segar yang kita lihat sepanjang film). Mereka hidup makmur. Bahkan di satu adegan kita melihat sekelompok orang obesitas yang terus-terusan duduk sambil bersantai. Hal itu berbanding terbalik dengan rakyatnya yang hidup di bawah, kelaparan, kekeringan, dan menderita banyak penyakit menjijikkan.
Karena itulah Joe begitu dipuja termasuk saat ia menurunkan air yang langsung diperebutkan oleh orang-orang. Miller memperlihatan sebuah tirani yang mencengkeram kehidupan kaum bawah, mengadu mereka hingga berkelahi satu sama lain hanya untuk mendapatkan air bersih. Sedangkan bagi pasukannya, Joe adalah panutan yang membuat mereka rela mati dalam pertempuran. Karena dengan itu mereka percaya sang pemimpin bakal menuntun mereka menuju "valhalla". Hal ini tidak jauh beda dengan realita masa kini tentang kemunculan kelompok cult yang menjanjikan surga versi mereka yang seringkali coba digapai dengan melakukan bunuh diri. Ditambah dengan sub-plot beberapa karakternya seperti Max yang dihantui kematian sang puteri, penebusan dosan Furiosa dan Nux, hingga ambisi Immortan Joe mendapat putera dengan fisik sempurna, menunjukkan bahwa Mad Max: Fury Road sejatinya adalah film tentang kemanusiaan. Disaat dunia telah hancur, kegilaan menyelimuti, penyakit pun menyebar, nyatanya beberapa orang masih berusaha mencari jawaban atas kehidupan mereka sebagai manusia meski lewat caranya masing-masing.

Saya begitu suka penggambaran dunia post-apocalyptic film ini. Tentu saja salah satu hal wajib adalah kondisi dunia yang begitu gersang, hampir tidak tersisa apapun termasuk hewan, air dan tumbuhan hijau. Tapi diluar itu, atmosfer hopeless dalam diri manusia yang berujung pada kegilaan digambarkan begitu nyata. Desain karakter dengan pakaian maupun make-up yang unik cenderung aneh plus banyaknya kendaraan-kendaraan berat dengan modifikasi yang tak kalah sinting pun jadi terasa bukan sekedar gaya-gayaan. Bayangkan anda hidup dalam dunia seperti Fury Road dimana sandang pangan dan air bersih semakin langka, namun penyakit justru merajalela. Manusia didorong untuk bertahan hidup hingga batasan terakhir, pastilah membuat hati serta pikiran mereka tak lagi jernih. Jangankan dandanan tak wajar, mental breakdown, nurani yang menghilang, serta memuja penguasa yang diharap bisa memberikan kemakmuran layaknya Tuhan pun bisa dimaklumi. 

Verdict: Mad Max: Fury Road adalah penceritaan mendalam dan cerdas tentang kondisi post-apocalyptic yang bersembunyi dalam sampul B-Movie penuh kegilaan tak berotak. 

THE FOG (1980)

Jika Halloween adalah bagaimana John Carpenter membawa sebuah urban legend kedalam dunia nyata, maka The Fog adalah urban legend itu sendiri. Dibuka dengan adegan seorang pria tua (John Houseman) menceritakan kisah seram di depan api unggun tentang kabut misterius yang menenggelamkan sebuah kapal, film ini mengajak penonton menyaksikan teror saat cerita tersebut menjadi kenyataan. Carpenter tidak banyak berbasa-basi disini. Tidak seperti Halloween yang menghabiskan paruh pertamanya untuk pembangunan teror secara perlahan, The Fog langsung tancap gas setelah adegan pembuka tadi selesai. Tengah malam yang biasanya tenang di kota kecil bernama Antonio Bay mendadak dipenuhi kejadian misterius. Kita tahu semua barang yang bergerak dan pecah dengan sendirinya adalah perbuatan para hantu, meski kita akan bertanya-tanya untuk apa hantu mencabut pompa bensin atau menyalakan alarm mobil. Jangan harap Carpenter maupun Debra Hill selaku penulis naskah bakal menjawab itu.

Jika bicara soal cerita, The Fog memang bukan merupakan horror yang cerdas. Kita akhirnya tahu bahwa semua teror itu hadir karena masa lalu kelam yang dimiliki Antonio Bay. Karena itu para hantu berusia 100 tahun tersebut harus membunuh enam orang untuk melampiaskan dendam mereka. Keenam nyawa harus diambil dalam rentang waktu satu jam, antara pukul 12 sampai 1 malam, karena pada jam itulah keenam konspirator yang juga pendiri Antonio Bay berkumpul untuk merencanakan sebuah tindakan kejam. Jadi bisa ditebak para hantu berniat menghabisi enam orang keturunan konspirator tersebut bukan? Disitulah naskah Carpenter dan Hill tampak kebingungan. Di satu momen khususnya yang melibatkan karakter Father Malone (Hal Holbrook) sepertinya memang itu tujuannya. Tapi di momen lain para hantu tampak menyerang siapapun secara acak. Tapi pada adegan pembuka mereka hanya mejatuhkan barang di sebuah supermarket tanpa membunuh seorang pria yang ada disana. 
Pada akhirnya itu adalah lubang yang diciptakan memang hanya untuk memberi kesempatan pada filmnya menebar teror selama mungkin, termasuk adegan saat sebuah papan kayu tiba-tiba terbakar atau mayat yang mendadak hidup kembali hanya untuk menyampaikan pesan menggelikan. Tapi disaat sebuah film horror mampu menghadirkan kengerian, tidak peduli seburuk apapun kualitas naskah maupun aspek lainnya maka itu adalah horror yang baik. Carpenter membuat film horror yang tidak murahan disini. Kengerian dihadirkan lewat pembangunan atmosfer, bukan scare jump penuh efek suara memekakkan. Scare jump muncul hanya pada saat-saat tertentu yang memang membutuhkan kehadirannya, dan tanpa dentuman musik yang berlebihan. Hasilnya pun efektif. Teror sudah dibangun dari awal dan tak pernah berhenti. Tapi itu bukan berarti filmnya terburu-buru. Karena berpusat pada membangun suasana, The Fog sendiri terasa seperti kabut yang menyeruak perlahan tapi secara pasti menyelimuti seisi kota. 

Ketegangan merambati penonton, bukan menggedor mereka tiba-tiba. Alhasil kita tidak akan merasa lelah dan filmnya pun tidak pernah kehabisan bahan bakar. Film ini tidak berusaha mengejutkan penonton, namun bermain-main dengan antisipasi kita. Penonton diajak melihat langsung (khususnya pada klimaks) bagaimana kabut secara perlahan menyelimuti seisi Antonio Bay. Kita tahu jika pada akhirnya kabut telah menutupi seluruh kota, maka bahaya bakal mencapai puncaknya. Rasanya pun mencekam, karena meski tidak diajak berada langsung disana, penonton bagai melihat langsung dari balik kaca. Kecemasan semakin memuncak saat kita sadar bahwa kita hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apapun. Perasaan tidak berdaya melihat para karakter yang juga tidak berdaya itu menjadikan klimaksnya begitu efektif. Seperti di mayoritas filmnya, Carpenter juga menjadi komposer musik film ini. Hasilnya pun luar biasa. Film-film klasiknya termasuk Halloween dan The Fog kerap menghadirkan sebuah scoring klasik yang sempurna mewakili suasana filmnya. Cobalah mendengarkan scoring film ini sambil menutup mata, maka suasana mencekam karena perasaan bakal hadirnya hal misterius yang mengancam sontak bakal kita rasakan. 
Walaupun bernaskah buruk, The Fog punya kelebihan yang jarang dimiliki horror kebanyakan, yaitu karakter yang bagus dan mudah menarik simpati. Karena fokusnya bukan hanya teror terhadap salah satu tokoh melainkan seisi kota, maka film ini membagi fokusnya pada beberapa karakter. Kesemuanya mendapat porsi yang cukup berimbang. Interaksi yang hadir diantara mereka pun bukan sekedar pengisi durasi yang membosankan, melainkan dinamika hidup antara sosok-sosok "nyata". Nick Castle (Tom Atkins) dan Elizabeth (Jamie Lee Curtis) adalah pasangan yang tidak sampai mengganggu tone film ini dengan kisah cinta mereka, meski patut disayangkan karakter Elizabeth tidak mewadahi Jamie Lee Curtis untuk tampil habis-habisan layaknya di Halloween. Kathy Williams (Janet Leigh) dan Sandy (Nancy Loomis) adalah dua karakter bertolak belakang yang memberikan dinamika menarik. Kathy adalah bos yang cerewet tapi tidak annoying sedangkan Sandy adalah asisten yang ketus dan mampu membuat ucapan "Yes mam" seperti "screw you". 

Tapi yang paling mencuri perhatian adalah Stevie Wayne (Adrienne Barbeau) sang penyiar radio. Bermodalkan suara Adrienne Barbeau, karakter Stevie jadi begitu esensia bagi film ini. Diawal kita mengenalnya sebagai tipikal penyiar radio wanita dengan suara menggoda. Tapi seiring film berjalan, perannya berkembang menjadi bumbu ketegangan. Ibarat pertandingan sepak bola, Stevie adalah komentator yang menarasikan tiap kejadian dan membuat pertandingan bertambah seru. Stevie pun semakin mendapat simpati dari saya saat dia mengambil peran heroik dengan bertahan di mercusuar guna memberikan informasi tentang pergerakan kabut meski hal itu membahayakan keselamatannya. Klimaksnya yang terbagi dalam dua lokasi pun mendapat keuntungan dari hal tersebut. Adegan di Gereja memang punya skala lebih besar, tapi meski hanya sendirian dan berada di satu lokasi, kejar-kejaran antara Stevie dengan para hantu (atau zombie?) terasa sama bahkan lebih menegangkan. 

Verdict: Manusia lebih takut pada hal yang tidak diketahui atau tidak terlihat dan Carpenter memanfaatkan itu. The Fog menghidupkan imajinasi saya tentang cerita hantu tengah malam berisi sosok hitam mengerikan di tengah kabut pekat yang mengintai dalam diam.


THE OVERNIGHTERS (2014)

Negeri dongeng akan selalu ada. Bagi kita warga Indonesia, Jakarta adalah negeri itu. Tempat dimana begitu banyak orang dari berbagai daerah berbondong-bondong melakukan migrasi dengan harapan mendapat pekerjaan layak dan uang melimpah. Tapi impian tidak selalu berakhir sebagai kenyataan manis. Banyak dari mereka akhirnya mendapati jangankan untuk mendapat uang banyak, sekedar memiliki pekerjaan serta tempat tinggal layak saja sulit. Permasalahan serupa juga hadir di Amerika, tepatnya di Williston, North Dakota. Proyek tambang minyak yang "menggila", memberikan pendapatan per-kapita mencapai 29% (di atas rerata nasional) sekaligus membuka lapangan kerja melimpah. The Overnighters garapan Jesse Moss mengajak penonton menyaksikan bagaimana ribuan orang ber-migrasi ke Williston untuk mencari pekerjaan yang mereka impikan, sebelum akhirnya harus menerima kenyataan tidak semudah itu mendapatkan pekerjaan.

Masalahnya, banyak dari mereka datang tanpa bermodalkan apapun. Tanpa pekerjaan tidak ada uang, dan tanpa uang tidak ada tempat tinggal. Beberapa yang cukup "beruntung" memiliki RV masih bisa tinggal di dalam sana, atau berkemah di beberapa lahan yang ada. Tapi banyak pula yang datang hanya dengan one-way ticket. Datang penuh impian besar, orang-orang ini berakhir sebagai homeless. Dari situlah seorang Pastur bernama Jay Reinke mulai tergerak hatinya untuk memberikan tempat tinggal. Alhasil ia memfungsikan Gereja disana menjadi penampungan bagi orang-orang tersebut. Bermula dari satu orang, hanya dalam tempo dua tahun saja sudah lebih dari 1000 orang yang tinggal. Ada yang tidur di lantai, ada pula yang menginap di mobil yang terparkir di halaman Gereja. Tentu dengan mudah penonton akan bersimpati pada sang Pastur yang rela melakukan itu meski harus bertentangan dengan banyak pihak.
Jamaah Gereja banyak yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran para overnighters. Begitu pula masyarakat Williston secara umum yang mulai diselimuti ketakutan akibat terjadinya beberapa kasus pemerkosaan dan tindak kriminal lain yang dilakukan para pendatang. Tentu hal itu natural. Mementingkan keselamatan pribadi serta keluarga tercinta daripada orang asing yang mendadak memenuhi seisi kota adalah hal yang wajar dilakukan. Tapi disisi lain sebagai suatu komunitas masyarakat apalagi berpatokan pada ketentuan agama, bukankah menolong sesama yang membutuhkan adalah suatu keharusan? Disitulah Jesse Moss mulai melontarkan isu sosial yang ada pada penonton. Kita tahu bahwa membantu sesama adalah kebaikan, tapi bagaimana jika kebaikan tersebut justru membahayakan diri kita dan keluarga? Karena itulah Pastur Jay Reinke menjadi sosok pahlawan yang ideal. Pahlawan yang rela berdiri melawan segala rintangan untuk melakukan sesuatu yang kita tak berdaya melakukannya.
Tapi kemudian The Overnighters mulai berubah arah dengan begitu "halus". Dari sebuah paparan sekaligus social commentary, dokumenter ini beranjak menuju kisah tentang gejolak personal. Disaat kondisi semakin memojokkan Jay dengan munculnya hukum-hukum baru bagi para pendatang serta keterlibatan media dalam memanaskan suasana, kita sebagai penonton mulai mempertanyakan motivasi Jay dalam memberikan segala bantuan tersebut. Benarkah semua itu merupakan panggilan kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang harus membantu sesama? Benarkah semua itu tulus ikhlas ia lakukan? Ataukah semuanya karena faktor lain seperti obsesi pribadi, keseganan untuk mengatakan "tidak", atau mungkin sebagai bentuk penebusan dosa? Seiring berjalannya film khususnya setelah kehadiran kejutan menjelang akhir, kita pun menyadari sang Pastur tidak "seputih" yang selama ini terlihat. Seperti yang ia katakan sosok publiknya begitu berbeda dengan sosok pribadinya.

The Overnighters akhirnya jadi sebuah eksplorasi tentang keresahan disaat sang karakter utama mulai berada dalam posisi yang terpojok. Dari seorang panutan sempurna yang dicintai banyak orang, ia langsung berubah jadi orang yang dibenci, bahkan oleh mereka yang sebelumnya begitu memuja dirinya. Kita pun memahami alasan orang-orang tersebut. Karena memang begitu menyakitkan jika orang yang selama ini kita hormati karena begitu menyayangi kita dengan tulus, serta merta membuang kita begitu saja dalam tempo waktu yang amat singkat cenderung mendadak. Dengan kamera yang mampu menangkap momen-momen sampai pada tingkat paling intim sekalipun, The Overnighters berhasil menguak segala sisi dengan gamblang dan mendalam. 

Verdict: Bergerak dari dokumenter tentang social commentary menjadi inner personal conflict, The Overnighters turut menjadi penampang wajah kehidupan sosial-ekonomi di era modern. Penuh ironi saat ending-nya, menunjukkan lingkaran setan yang ada kembali lagi ke awal.


AMERICAN PSYCHO (2000)

Patrick Bateman (Christian Bale) adalah investor perbankan yang sudah hidup penuh kemewahan meski usianya baru 27 tahun. Bersama teman-temannya, Bateman selalu makan di restoran mewah yang membutuhkan reservasi hanya demi gengsi. Setiap pagi pun ia rutin merawat tubuhnya dengan olah raga rutin dan berbagai produk perawatan wajah. Ditambah memiliki seorang tunangan cantik bernama Evelyn (Reese Witherspoon) tampak begitu sempurna kehidupan Bateman. Tapi nyatanya tidak. Bateman sama sekali tidak menyukai teman-teman dan tunangannya. Kita bisa melihat ia tidak pernah bisa sejalan saat terlibat pembicaraan dengan mereka. Disaat tengah mengutarakan wawasan, opini, serta kepeduliannya pada isu sosial, teman-teman Bateman selalu mentertawakan dirinya. Kita sebagai penonton pun ikut tertawa karena semua itu tidak lebih dari sekedar omong kosong.
Daripada memikirkan seisi dunia yang kepalaran seperti kata-katanya, Bateman lebih terganggu saat rekan-rekan kerjanya memiliki kartu nama yang jauh lebih bagus. Bahkan saat tengah merasa kesal Bateman tidak segan membunuh seorang tuna wisma setelah sebelumnya mengolok-olok pria tersebut. Ya, diluar kehidupannya sebagai pria kaya nan tampan, Bateman adalah seorang pembunuh berantai. Intensi membunuh akan selalu muncul dalam diri Bateman setiap dia merasa kesal, dan ia akan kesal jika ada seseorang yang terlihat lebih mapan, lebih sukses darinya. Dia pun tidak segan membantai Paul Allen (Jared Leto) dengan kapak karena sang pria punya kartu nama terbaik yang pernah ia lihat. Saat menyembunyikan mayat Paul pun yang dikhawatirkan oleh Bateman bukan resiko akan diketahui orang, tapi karena melihat apartemen korbannya itu jauh lebih mahal dari miliknya.
Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Bret Easton Ellis, American Psycho begitu kental dengan usaha menjadi sebuah komedi hitam, sebuah satir yang menjadikan mereka para orang kaya sebagai bahan olok-olok. Teman-teman Bateman digambarkan sebagai orang bodoh yang tidak mempedulikan apapun kecuali makan di restoran mewah dan memiliki kartu nama terbaik. Kita juga tidak pernah sekalipun melihat mereka sedang bekerja. Setiap kemunculannya, orang-orang kaya ini diperlihatkan sedang makan malam, minum di bar, berpesta, atau memakai narkoba di toilet. Bateman juga tidak berbeda. Meski kita sering diajak melihatnya di kantor, ia tidak pernah sekalipun tampak bekerja. Yang ia lakukan hanya menggambar di buku agenda atau bicara dengan sang sekretaris Jean (Chloe Sevigny) yang jelas menyukai sang atasan. Setiap janji yang ada di jadwal Bateman pun tidak lebih dari sekedar makan malam bersama teman daripada pertemuan bisnis.

Sutradara Mary Harron berniat memfokuskan film ini sebagai jalan untuk menyindir mereka para orang kaya yang dalam kondisi apapun hanya memikirkan masalah penampilan, kekayaan dan harga diri. Lewat eksplorasi sosok Patrick Bateman-lah Harron coba menyampaikan satir tersebut. Pada awalnya semua itu dihadirkan dengan begitu efektif. Penonton dibawa melihat Bateman melakukan aksi brutalnya sambil selalu membicarakan seleranya yang tinggi terhadap musik-musik Phill Collins, Whitney Houston dan lain-lain. Ada ironi yang hadir saat itu dikala cita rasa tinggi dihadirkan bersamaan dengan kegiatan yang gila seperti membunuh orang atau melakukan threesome. Semua itu membuat karakter Bateman penuh kontradiksi yang makin memperkuat satir filmnya. Beberapa kali saya berhasil dibuat tertawa saat diajak menelusuri isi pikiran sang pembunuh berantai. 
Tapi lama kelamaan, American Psycho jadi semakin repetitif dalam menghadirkan sindirannya. Pola yang digunakan selalu berulang, dimana Bateman akan dihadapkan dalam situasi entah makan bersama teman atau bertemu dengan wanita sebelum akhirnya terdorong untuk melakukan pembunuhan. Tentu awalnya menarik melihat segala kegilaan Bateman, tapi kesan repetitif tadi membuat film ini semakin membosankan. Penonton sudah tahu inti dari satir yang diutarakan Mary Harron lewat karakter utamanya, tapi filmnya seolah tidak mau beranjak dari pengenalan tersebut. Berputar-putar di tempat yang sama tanpa pernah maju ke depan sebelum sampai pada klimaks. Sedangkan sebagai thriller berdarah pun American Psycho tidak lagi terasa shocking. Setiap pembunuhan terasa menarik tapi lebih karena performa over-the-top Christian Bale yang akan membuat Nic Cage merasa minder. Saya suka bagaimana Bale sanggup berulang kali melakukan transformasi dari "cool charming guy" menjadi "histerical & maniac psychopath".

Lalu hadirlah twist yang membuat film ini disebut sebagai "the next Fight Club" dalam versi yang lebih ambigu. Sebuah twist yang menjadikan segala tindakan Bateman sepanjang film menjadi "dipertanyakan". Namun ada perbedaan mendasar antara mengaburkan kejelasan peristiwa dalam film dengan usaha non-sense untuk menciptakan kebingungan pada penonton. Sayangnya American Psycho masuk dalam kategori yang kedua. Apa yang dilakukan Mary Harron bagaikan usaha menipu dan "mentertawakan" penonton daripada sebuah open interpretation. Pada akhirnya kejutan itu pun juga terasa hanya sebagai sebuah gimmick daripada media untuk memperkuat eksplorasi sosok Patrick Bateman karena kehadirannya yang "tiba-tiba" pada ending daripada membangun semuanya lewat hal-hal tersirat sedari awal film.

Verdict: Sebagai komedi hitam, satirnya dibuyarkan oleh repetisi. Sebagai thriller pun tidak ada intensitas yang mumpuni. Christian Bale hadir sebagai hal paling mengesankan dalam American Psycho.

THE DUKE OF BURGUNDY (2014)

Evelyn (Chiara D'Anna) mengayuh sepedanya dan tiba di sebuah rumah milik wanita bernama Cynthia (Sidse Babett Knudsen). Tidak lama, Cynthia langsung menyuruh Evelyn membersihkan ruang kerja. Dari situ jelas bahwa Evelyn bekerja di rumah tersebut sebagai pembantu. Cynthia sendiri nampak sebagai majikan yang galak dan gemar memberikan pekerjaan tanpa henti. Suasana nampak intens, namun bukan disebabkan oleh ketegangan akibat amarah, melainkan intensitas saat hasrat menggebu coba ditekan. Saya pun berasumsi Evelyn diam-diam menyukai sang majikan. Apalagi ia nampak "tidak nyaman" saat Cynthia meminta Evelyn memijat kakinya. Semuanya berpuncak saat Cynthia "menghukum" Evelyn akibat suatu kesalahan dan berujung keduanya berhubungan seks. Ternyata sang majikan juga memendam perasaan yang sama, bukan begitu? Rupanya tidak. Sutradara Peter Strickland langsung memberikan twist di babak awal yang membelokkan arah film.

Kedua wanita tersebut rupanya memang sepasang kekasih. Adegan pembuka tadi hanyalah role play yang rutin mereka lakukan tiap hari sebagai "pengantar" menuju seks. The Duke of Burgundy nyatanya merupakan drama sadomasochism. Cynthia adalah dominan, berperan sebagai majikan kejam yang semena-mena dan gemar menghukum pembantunya. Sedangkan Evelyn adalah submisif dan menyukai situasi dimana ia tidak berdaya atau dipermalukan. Sebagai contoh, ia akan terangsang saat Cynthia memberikan hukuman dengan duduk di atas mukanya atau dikurung dalam sebuah peti dalam kondisi terikat. Daripada kalimat "aku bahagia bersamamu", Evelyn lebih memilih ucapan "aku kecewa padamu". Semakin ia merasa tak berguna dan tak berdaya, semakin besar pula rangsangan yang dirasakan. Evelyn menikmati semua itu, tapi Cynthia tidak. Perlahan penonton akan mempelajari bahwa semua yang dilakukan Cynthia bukan semata-mata karena ia menikmati, tapi demi membahagiakan sang kekasih.
The Duke of Burgundy adalah erotic film, dimana hampir tiap adegan dikemas supaya menghadirkan kesan sensual atau punya simbolisme yang merujuk kearah sana. Tapi Peter Strickland tidak menghadirkan segala sensualitas tersebut secara murahan. Kesan tersebut dihadirkan oleh permainan atmosfer yang jeli. Strickland menerapkan ilmu beserta pengalamannya dalam membuat film-film horor/thriller atmosferik untuk film ini. Alhasil tanpa perlu banyak adegan seks eksplisit maupun ketelanjangan vulgar, suasana seksi masih bisa dibangun begitu intens. Momen-momen sederhana seperti mencuci baju atau mengukur badan pun bisa terasa erotis, terasa "panas". Lalu seiring berjalannya durasi, Strickland seperti tidak bisa menahan diri menjadikan film ini makin kental dengan aura horor. Jadilah paruh akhir The Duke of Burgundy layaknya surreal horror milik Lynch yang berkesan dreamlike
Bagian itu dieksekusi dengan begitu baik. Permainan visual yang memikat turut memperkuat atmosfer creepy dan disturbing saat Strickland membawa hubungan Evelyn-Cynthia ke babak yang lebih gelap. Intensinya jelas, substansinya pun kuat dalam menggambarkan hubungan penuh passion yang perlahan berubah jadi mimpi buruk. Meski punya segala bumbu sadomasochism dan pengemasan sureal dari Strickland, esensi kisah The Duke of Burgundy sebenarnya sederhana saja, yaitu eksplorasi terhadap dinamika hubungan sepasang kekasih. Apa yang terjadi saat salah satu dari sepasang kekasih sebenarnya tidak menikmati apa yang selama ini mereka lakukan? Cynthia tidak menikmati semua role play dan kegiatan BDSM yang disukai Evelyn. Secara tersirat yang diinginkan Cynthia sederhana saja, yakni hidup bahagia bersama kekasih yang ia cintai dan berhubungan seks layaknya pasangan lain. Bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan "I love you" atau menghabiskan malam dengan tidur berdampingan saja tidak ia dapatkan. Sebaliknya, ia terpaksa melakukan segala hal yang baginya terasa mengganggu.

Saya begitu menyukai bagaimana sebuah hubungan BDSM digambarkan disini. Bagaimana interaksi antara dominan dengan submisif jadi pondasi kuat untuk menghadirkan hubungan rumit yang terjalin. Dari kata yang digunakan, semua orang tahu apa peran masing-masing dari "dominan" dan "submisif". Tapi banyak yang tidak tahu bahwa dalam prakteknya, justru submisif-lah yang memegang kontrol lebih kuat. Hal tersebut diaplikasikan oleh Peter Strickland disini. Cynthia sebagai dominan nyatanya lebih sering diatur. Bagaimana ia berpakaian, apa yang ia katakan dan cara pengucapannya, hingga detail lain semuanya hasil dari permintaan Evelyn. Peter Strickland menjadikan filmnya ini sebagai bahan eksplorasi terhadap peran dalam sebuah hubungan. Sebagai penggalian lebih dalam pada inner kedua tokoh utama, digunakanlah kupu-kupu. Hewan itu memang begitu mendominasi film ini, tidak saja muncul dalam berbagai adegan tapi karakter Evelyn dan Cynthia sama-sama mempelajari kupu-kupu. Dari berbagai kultur, kupu-kupu melambangkan banyak hal: transformasi, kelahiran kembali, cinta dan seks, jiwa, hingga kehadiran iblis. Well, berbagai makna tersebut masing-masing bisa diterapkan dalam film ini bukan?

Verdict: Sensual namun elegan. Penuh intensitas diantara parade visual puitis nan mengerikan. The Duke of Burgundy adalah sajian erotik substansial tentang romansa yang perlahan jatuh menjadi mimpi buruk.