22 Agt 2014

IDA (2013)

Judul film karya sutradara Pawel Pawlikowski ini memang sangat pendek dan simpel. Ditambah lagi dengan durasi yang hanya 80 menit dan penggunaan warna hitam putihnya makin membuat Ida terasa begitu minimalis. Tapi meski dikemas secara minimalis, film yang bakal menjadi perwakilan Polandia pada ajang Oscar tahun 2015 nanti ini punya kompleksitas yang lumayan berkaitan dengan pergolakan batin dalam diri karakter-karakternya. Ida akan membawa kita pada berbagai pertanyaan serta pertentangan yang terjadi apabila kita sedang membicarakan tentang masalah kepercayaan, masalah agama. Penonton akan diajak untuk mengamati dua perspektif tentang agama yang amat bertolak belakang. Film ini ber-setting di Polandia pada era 1960-an dimana meskipun perang dunia telah berakhir tapi dampak dan "peninggalannya" masih terasa begitu kental. Disana kita akan melihat Anna (Agata Trzebuchowska) seorang biarawati novice yang baru akan mengambil sumpah. Tapi sebelum itu ia diperintahkan oleh biarawati senior untuk bertemu dengan satu-satunya anggota keluarganya yang masih hidup.

Anna pun berangkat untuk menemui bibinya, Wanda (Agata Kulesza) yang selama ini belum pernah ia temui. Jika Anna adalah seorang biarawati yang pendiam dan selalu yakin untuk hidup di jalan Yesus, maka sang bibi begitu  bertolak belakang. Wanda adalah wanita yang "liar", alkoholik dan senang bercinta dengan pria-pria yang ia temui di bar. Tapi pertemuan itu tidak berakhir hanya sebagai reuni belaka, karena Anna menemukan banyak rahasia mengejutkan tentang dirinya dan identitas kedua orang tuanya dari Wanda. Nama asli Anna ternyata adalah Ida Lebenstein dan kedua orang tuanya adalah Yahudi yang terbunuh di saat perang. Bersama dengan Wanda, Ida pun akhirnya memutuskan untuk mencari makam orang tuanya. Kedua wanita yang begitu bertolak belakang ini pun melakukan perjalanan panjang bersama yang nantinya akan berpengaruh besar kepada cara berpikir serta keyakinan yang selama ini mereka anut.

20 Agt 2014

IN THE BLOOD (2014)

Film karya sutradara John Stockwell (Dark Tide) ini hanyalah film aksi standar berbujet rendah yang dirilis langsung ke DVD. Secara kualitas pun tampaknya tidak terlalu baik bisa dilihat dari respon para kritikus, dan pastinya jika film ini bagus tidak akan berakhir menjadi straight-to-DVD movie bukan? Jadi kenapa saya mau repot-repot menonton film yang tidak spesial ini? Jawabannya adalah Gina Carano. Kehadiran sosokjuara MMA ini memang menarik perhatian saya untuk menonton In the Blood. Namanya semakin melambung pasca bermain di Fast & Furious 6, tapi Carano benar-benar bersinar saat ia menjadi bintang utama Haywire. Disana dia menunjukkan kebolehannya menjadi sosok female action star yang tangguh dan berkat kemampuannya bertarung sungguhan tiap adegan aksi yang dilakoni Carano jadi terasa makin meyakinkan. Memang penyutradaraan John Stockwell di film ini tidak akan sehebat Steven Soderbergh di Haywire tapi tetap saja menarik melihat aksi Gina Carano sebagai aktris utama. Selain itu film ini juga punya banyak nama-nama terkenal lainnya seperti Cam Gigandet, Luiz Guzman, Stephen Lang, Amaury Nolasco hingga Danny "Machete" Trejo.

Ava (Gina Carano) adalah wanita dengan masa lalu yang keras dimana sang ayah selalu memberikan latihan keras dan menyiksa guna menjadikan Ava wanita tangguh. Tapi baginya semua itu hanyalah masa lalu yang coba ia lupakan khususnya setelah ia menikah dengan Derek (Cam Gigandet). Keduanya memutuskan untuk berbulan madu di kepulauan Karibia tempat keluarga Derek sering berlibur di masa lalu. Awalnya semua begitu membahagiakan bagi mereka berdua, sampai sebuah kecelakaan menimpa Derek saat tengah menggunakan zipline. Derek yang terluka parah pun dibawa dengan ambulans, tapi sesampainya di rumah sakit Ava mendapati sang suami tidak ada disana. Ava pun mulai mencari di rumah sakit dan klinik lainnya tapi Derek masih tetap tidak ditemukan. Pihak kepolisian yang dipimpin oleh Chief Ramon (Luiz Guzman) juga tidak banyak membantu. Karena itulah Ava akhirnya memtusukan untuk mencari sang suami sendirian berbekal kemampuan bela diri dan latihan beratnya selama bertahun-tahun tersebut.

19 Agt 2014

VENUS IN FUR (2013)

Roman Polanski kembali mengadaptasi sebuah pertunjukkan teater setelah pada tahun 2011 membuat Carnage yang memperlihatkan bagaimana kemampuan sang sutradara memindahkan sebuah pertunjukkan panggung ke dalam media film. Naskah teater yang banyak didominasi oleh dialog-dialog mampu ditransformasikan menjadi sebuah film yang dinamis berkat penyutradaraan Polanski. Setelah keberhasilan tersebut, kali ini Roman Polanski melakukan adaptasi dari pertunjukkan Venus in Fur yang ditulis oleh David Ives. Pertunjukkan itu sendiri mengambil inspirasi dari novel Venus in Furs karya Leopold von Sacher-Masoch. Dari nama pengarang novelnya mungkin anda sudah bisa menebak bahwa istilah Masochism (merasakan kepuasan seksual saat disakiti/didominasi) berasal dari namanya. Memang baik pada novel, pertunjukkan teater, maupun film milik Polanski ini aspek masokis dan dominasi terasa begitu kental. Dengan naskah yang ditulis berdua oleh Polanski dan Ives, Venus in Fur hanya menampilkan dua orang aktor, yaitu Mathieu Amalric Emmanuelle Seigner yang tidak lain adalah istri Roman Polanski. Dengan ber-setting hanya di sebuah gedung pertunjukkan Venus in Fur akan membawa penonton mengikuti begitu banyak dinamika antar kedua karakternya.

Thomas (Mathieu Amalric) baru saja menjalani hari yang melelahkan disaat audisi untuk aktris dalam pementasannya tidak berjalan lancar. Dari sekian banyak wanita yang datang tidak ada satupun yang ia anggap cocok untuk memerankan karakter utama wanita dalam pementasannya, Wanda von Dunayev. Thomas sendiri baru kali ini menyutradarai pementasan teater setelah selama ini lebih banyak menulis naskahnya. Pementasan yang akan ia sutradarai merupakan sebuah adaptasi yang dia buat dari novel Venus in Furs. Merasa frustrasi, Thomas memutuskan untuk pulang, apalagi para kru juga sudah terlebih dahulu meninggalkan gedung pertunjukkan. Tapi sesaat sebelum ia pergi datanglah seorang wanita dengan penampilan nyentrik nan kental unsur fetish bernama Vanda (Emmanuelle Seigner). Meski namanya hampir sama dengan nama karakter yang akan diaudisi, kepribadian keduanya amat bertolak belakang. Melihat hal itu Thomas menolak melakukan audisi, apalagi nama Vanda tidak tercantum dalam daftar peserta audisi. Meski pada akhirnya setuju melakukan audisi, tentu saja Thomas tidak berharap banyak. Tapi semuanya berubah saat Vanda mulai mengucapkan dialog pertama karakter Wanda.

17 Agt 2014

UNDER THE SKIN (2013)

Scarlett Johansson si Black Widow berperan sebagai sesosok alien penggoda laki-laki dalam sebuah film? Tanpa mempedulikan aspek lainnya faktor tersebut sudah cukup menjadikan Under the Skin sebagai salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini. Film ini sendiri adalah film ketiga dari sutradara Jonathan Glazer yang merupakan adaptasi lepas dari novel berjudul sama karangan Michel Faber yang terbit tahun 2000. Pembuatan film ini sendiri sudah direncanakan oleh Glazer setelah menyelesaikan debutnya, Sexy Beast tahun 2001. Tapi proses pengerjaan awalnya baru benar-benar dimulai setelah film keduanya, Birth rilis pada tahun 2004. Berarti kurang lebih film ini dikerjakan selama satu dekade, sebuah waktu yang sangat panjang tentu saja. Melihat daftar filmografi dan video klip yang digarap oleh sang sutradara, tentu saja ekspektasi saya dari Under the Skin adalah mendapatkan sebuah kisah yang punya atmosfer kelam dan diisi momen-momen kontroversial nan berani khususnya dalam aspek seksual. Tapi meskipun dibintangi oleh Scarlett Johansson yang merupakan aktris besar dan mengangkat genre sci-fi, film ini bukanlah sci-fi blockbuster ala Hollywood, melainkan lebih kearah film arthouse yang lambat dan penuh metafora.

Filmnya dibuka dengan rangkaian gambar abstrak yang sedikit meningatkan saya akan opening film-film David Lynch. Kemudian kita melihat sesosok pria yang mengendarai motor (Jeremy McWilliams) mengangkat mayat seorang wanita (Scarlett Johansson) lalu memasukkannya kedalam sebuah van. Di dalam van kita melihat ada satu lagi wanita yang berpenampilan serupa dengan mayat tadi. Sang wanita hidup yang telanjang ini ternyata adalah sesosok alien yang menyerupai wajah si wanita yang telah mati tersebut. Yang terjadi berikutnya adalah, alien wanita ini berkeliling Skotlandia dengan mengendarai van tersebut. Sepanjang perjalanan ia berulang kali berhenti untuk bertanya arah pada banyak pria, dimana beberapa diantara pria tersebut akhirnya ikut naik ke dalam van. Mereka yang naik tentu saja berharap bisa berhubungan seks dengan sang wanita cantik nan seksi berambut hitam itu, tapi yang mereka dapatkan justru kengerian saat tiba di "rumah" milik sang wanita. Ya, alien wanita ini ternyata sedang mencari mangsa. Hal itu terjadi berulang kali sampai sebuah pertemuan merubah segalanya.

THE CROW (1994)

Sebagai sebuah film yang sering disebut salah satu film adaptasi komik terbaik dan sukses mendapatkan penghasilan lebih dari $144 juta, The Crow nyatanya lebih dikenal sebagai film terakhir seorang Brandon Lee. Sebelum perilisannya, The Crow disebut bakal menjadi film yang menghantarkan Brandon Lee menuju gerbang kesuksesan. Memang pada akhirnya film ini sukses besar secara finansial, diakui kualitasnya bahkan menjadi sebuah cult movie. Performa Brandon Lee pun banyak mendapat pujian disini. Ya, andaikata tidak ada kecelakaan yang menewasknnya, film ini memang bakal menjadi pembuka kesuksesan bagi putera Bruce Lee tersebut. The Crow sendiri merupakan adaptasi dari komik berjudul sama karya James O'Barr yang terbit tahun 1989. Kesuksesan film pertamanya ini sayangnya tidak berhasil diikuti oleh tiga sekuel yang kesemuanya gagal total baik secara Box Office maupun kualitas (dua diantara dirilis langsung ke DVD). Sesungguhnya jika ditinjau dari segi cerita tidak ada yang spesial dari film ini, bahkan ada banyak kekurangan khususnya pada segi penggalian karakter, tapi atmosfer kelamnya lah yang sanggup menjadikan The Crow terasa spesial.

Sehari sebelum malam Halloween atau yang dikenal sebagai Devil's Night sepasang kekasih yang akan segera menikah diserang oleh sekelompok geng. Eric Draven (Brandon Lee), seorang gitaris band rock tewas setelah dijatuhkan dari lantai atas apartemen, sedangkan tunangannya, Shelly Webster (Sofia Shinas) yang juga diperkosa masih hidup saat polisi datang sebelum akhirnya meninggal di rumah sakit. Pelaku penyerangan tersebut adalah sebuah geng berisikan empat orang preman yang dipimpin oleh T-Bird (David Patrick Kelly). Walaupun begitu sesungguhnya otak dibalik segala penyerangan dan pembakaran yang terjadi adalah Top Dollar (Michael Wincott), bos dunia hitam yang dahulu pertama memulai Devil's Night. Pihak kepolisian termasuk Sersan Albrecht (Ernie Hudson) yang sempat mengusut kasus tersebut kesulitan untuk menangkap para pelaku. Sampai akhirnya sebuah kejadian misterius terjadi di saat seekor burung gagak memberikan kekuatan supranatural yang membangkitkan Eric Draven dari kuburnya. Tidak hanya bangkit, ia juga tidak bisa dilukai. Kekuatan itulah yang ia pakai untuk menuntut balas terhadap para pembunuh dirinya dan Shelly.