27 Nov 2014

WILLOW CREEK (2014)

Found footage horror tidak akan pernah mati, setidaknya dalam waktu dekat ini. Meski sudah kehilangan kesan realistis seperti yang berhasil dibangun The Blair Witch Project atau jika ditarik lebih ke belakang Cannibal Holocaust tetap saja sub-genre horor satu ini masih sanggup menghadirkan kengerian yang menyenangkan. Disaat franchise Paranormal Activity semakin kehilangan daya tariknya lewat hantu-hantu yang membosankan, bermunculan berbagai macam mockumentary lain yang mengusung konsep jauh lebih unik, sebagai contoh dari Norwegia ada Trollhunter. Dengan keberhasilan film tersebut tidak mengejutkan jika setelah itu akan bermunculan mockumentary lain yang mengangkat monster mitologi sebagai fokusnya. Kali ini giliran sutradara Bobcat Goldthwait yang selama ini dikenal lewat film-film komedi hitam (God Bless America, World's Greatest Dad) yang melakukan hal itu dengan membuat film tentang perburuan Bigfoot. Willow Creek terinspirasi dari footage terkenal buatan Roger Patterson dan Robert Gimlin pada tahun 1967 yang menampilkan sosok Bigfoot sedang berjalan di tengah hutan. Sampai sekarang footage itu masih menuai perdebatan, apakah nyata atau sekedar hoax?

Sepasang kekasih bernama Jim (Bryce Johnson) dan Kelly (Alexie Gilmore) melakukan perjalanan ke sebuah hutan di California yang dikenal sebagai tempat Patterson dan Gimlin merekam sosok Bigfoot. Perjalanan itu dilakukan sebagai hadiah ulang tahun Kelly untuk Jim yang memang menggilai teori-teori Bigfoot. Keduanya pun melakukan perjalanan dengan bermodalkan sebuah kamera, berharap bisa menemukan bukti atas keberadaan Bigfoot. Mereka pun mulai melakukan pengambilan gambar sambil sesekali melakukan wawancara terhadap penduduk sekitar yang tahu atau diduga pernah melihat langsung sosok monster itu. Meski sempat ada dua orang pria yang dengan sikap tidak mengenakkan coba menghentikan perjalanan Jim dan Kelly, mereka berdua akhirnya tetap meneruskan perjalanan. Akhirnya mereka memasuki hutan yang masih amat liar tanpa tahu teror telah menanti mereka di bagian terdalam hutan. Dengan sinopsis sependek ini dan durasi yang hanya mencapai 79 menit sudah bisa diraba akan seperti apa Willow Creek berjalan. Tentu saja tidak akan ada cerita kompleks dan seperti mockumentary horror lain, pada paruh awal kita masih disuguhi momen-momen non-horor sebelum akhirnya berjalan kencang menjelang akhir.

26 Nov 2014

A MOST WANTED MAN (2014)

Bahkan hingga saat ini masih terjadi kontroversi serta ambiguitas dalam peperangan terhadap terorisme khususnya yang mengatas namakan diri mereka sebagai mujahidin (jihad). Dampak dari hal itu menjadi amat panjang. Banyak yang beranggapan hal tersebut sebagai bentuk usaha untuk menjatuhkan umat Islam, dan memang cukup banyak terjadi kasus orang Islam di negeri Barat dianggap sebagai teroris meski mereka sama sekali tidak terlibat. Bagi para pelaku terorisme sendiri, jika anda mengikuti pemberitaan mengenai hal itu pasti tahu kalau banyak dari mereka memang beranggapan tindak terorisme itu sebagai bentuk jihad. Masih banyak lagi kontroversi yang mengiringi kasus tersebut, dan membuat sebuah film atau karya apapun yang memasukkan terorisme yang melibatkan kaum muslim punya beban yang lebih. Mereka harus bisa menyajikan film itu tanpa membuat satu pihak merasa dilecehkan (tentu saja saya yakin tetap akan ada beberapa ekstrimis berpikiran sempit yang tetap mencap "sesat" film itu). Tema itulah yang diangkat Anton Corbijn dalam A Most Wanted Man, sebuah adaptasi dari novel berjudul sama karangan John le Carre. 

Gunter Bachmann (Phillip Seymour Hoffman) adalah seorang agen rahasia Jerman yang bertugas memimpin operasi dalam pencegahan tindak terorisme di Hamburg. Tim yang dipimpin Gunter bekerja secara diam-diam dengan cara memasukkan intel ke dalam berbagai tempat, salah satunya adalah komunitas muslim disana. Salah satu target utama operasi tersebut adalah Dr Abdullah (Homayoun Ershadi), seorang dermawan kaya dalam komunitas tersebut yang disinyalir memberikan banyak suntikan dana pada Al Qaeda. Disaat penyelidikan tengah dilakukan, muncul Issa Karpov (Grigoriy Dobrygin) seorang imigran gelap dari Chechnya yang konon sempat berada di penjara Rusia akibat tinda terorisme dan ingin memulai hidup baru di Hamburg. Untuk itulah dia meminta bantuan pada seorang pengacara muda, Annabel Richter (Rachel McAdams) guna mendapatkan suaka dan menghubungkannya dengan seorang pemilik bank bernama Tommy Brue (Willem Dafoe) yang menurut Issa bakal membantunya. Gunter dan timnya pun berusaha mendapatkan Issa guna memancing Dr. Abdullah. 

24 Nov 2014

BEARS (2014)

Esensi utama dari sebuah dokumenter alam adalah bagaimana film itu mampu menangkap kehidupan di alam liar secara nyata, sehingga keindahan dunia luar yang selama ini sulit dijamah oleh orang-orang mampu terpapar dengan jelas. Bagi saya sebuah dokumenter tentang alam harus mempunyai tingkat realisme yang jauh lebih tinggi dibandingkan dokumenter jenis lainnya. Maksud dari tingkat realisme yang lebih tinggi adalah meminimalisir adegan reka ulang apalagi dramatisasi, berbagai hal yang mungkin bisa meningkatkan tensi tapi jelas melucuti rasa natural dari dokumenter itu sendiri. Tapi nampaknya bagi orang-orang Disneynature pemikiran itu tidak berlaku, dan Bears membuktikan hal tersebut. Film ketujuh dari Disneynature ini akan berkisah tentang perjalanan induk Beruang bernama Sky yang baru saja melahirkan dua anak bernama Scout dan Amber lalu membawa keduanya dalam perjalanan penuh bahaya menuju lepas pantai guna mencari ikan salmon untuk persediaan makanan musim panas, persiapan sebelum kembali hibernasi pada musim dingin. Perjalanan itu membawa mereka bertiga bertemu dengan banyak rintangan, mulai dari salju longsor, seekor serigala buas bernama Tikaani, beruang-beruang lain yang mengincar Scout dan Amber, sampai sulitnya mengikuti ikan-ikan salmon yang terus bermigrasi.

Bears jelas mempunyai keunggulan utama dokumenter alam, yaitu sinematografi indah yang mampu menangkap kehidupan keluarga beruang itu dalam berbagai sudut pandang sampai ke tingkat paling detail sekalipun. Tidak hanya indah, gambar-gambar yang hadir dalam film ini memang sanggup membawa penonton kedalam hidup Sky dan kedua anaknya dengan begitu intim. Kita tidak hanya diajak mengamati dari kejauhan tapi seolah benar-benar turut masuk kedalam dunia mereka. Hal itu menjadi kekuatan utama bagi film ini dalam menyibak kehidupan dan perjalanan para beruang grizzly, khususnya kedua anak yang baru berusia satu tahun, dimana tahun pertama dianggap sebagai tahun yang paling sulit. Tidak banyak bayi beruang yang bisa bertahan hidup dalam tahun pertama, dan film ini berhasil menjelaskan alasan dari kesulitan tersebut. Tapi keunggulan itu jadi terasa percuma gara-gara narasinya. Narasi yang dituturkan oleh aktor John C. Reilly dikemas sedemikian rupa sehingga menjadikan Bears layaknya film live action petualangan keluarga yang dramatis dan lucu khas Disney. Narasi dalam film ini membuatnya kehilangan kejujuran dan membuat saya bertanya masihkah film ini layak disebut dokumenter?

23 Nov 2014

THE BABADOOK (2014)

Bagi anak-anak, sebuah bedtime stories seperti apapun ceritanya akan terasa benar-benar nyata. Mereka akan merasa berbagai fantasi yang ada di dalamnya sebagai sebuah kenyataan dalam hidup. Hal yang sama juga terjadi berkaitan dengan kisah-kisah legenda horror sebelum tidur seperti boogeyman yang bersembunyi dalam kamar atau monster-monster lainnya. Sedangkan bagi orang dewasa adalah hal yang kadangkala menyebalkan saat harus meyakinkan pada anak-anak bahwa monster itu tidak nyata supaya mereka tidak selalu merasa ketakutan. Tapi bagaimana jika kisah seram itu memang benar adanya? Konsep itulah yang coba diangkat oleh Jennifer Kent dalam film yang pada awalnya berasal dari film pendek berjudul MONSTER buatannya tahun 2005. Menarik meski sebenarnya bukanlah suatu konsep yang benar-benar baru. Tapi perbedaan The Babadook dengan horor populer garapan Hollywood adalah keputusan Jennifer Kent untuk tidak mengandalkan jump scare dalam meningkatkan tensi dan menghadirkan keseraman. Filmnya dibuka dengan sebuah opening slow motion menarik, menampilkan adegan mimpi yang dialami oleh Amelia (Essie Davis). Amelia kini merupakan orang tua tunggal setelah sang suami, Oskar (Benjamin Winspear) meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan saat mengantar Amelia menuju rumah sakit untuk melahirkan. 

Kecelakaan itu merenggut nyawa Oskar, tapi Amelia selamat begitu pula kandungannya. Putera Amelia bernama Samuel (Noah Wiseman) merupakan seorang anak yang jika dilihat sekilas tidak jauh beda dengan anak-anak kebanyakan. Tapi Samuel punya tingkah laku yang bakal dengan mudah dicap "aneh" dan "menyebalkan" oleh orang-orang di sekitarnya. Dia begitu percaya dengan cerita-cerita monster dan sering menakut-nakuti anak lain, suka membuat senjata yang katanya akan digunakan untuk mengalahkan sang monster, bahkan emosinya sering meledak-ledak. Hal itu jugalah yang membuat kesulitan Amelie semakin besar. Disatu sisi, tentu saja kehidupan sudah merupakan suatu hal yang berat sebagai orang tua tunggal, ditambah lagi trauma atas meninggalnya Oskar masih ia rasakan sampai sekarang. Kelakuan Samuel pun semakin menambah beban dan tekanan yang dirasakan Amelia. Sampai suatu hari Samuel menemukan sebuah buku cerita misterius berjudul Mister Babadook. Tidak seperti buku anak-anak lainnya, buku itu penuh dengan gambar dan narasi menyeramkan tentang Mister Babadook, sosok monster yang mencari mangsa dan tidak akan bisa diusir. Dari situlah awal teror yang dialami Amelia berawal.

21 Nov 2014

AMERICAN HORROR STORY: FREAK SHOW (EPISODE 7)

Lewat Test of Strength akhirnya Freak Show berani menyajikan sesuatu yang "berani" dan lebih bersifat konklusif daripada sekedar memberikan tease demi tease seperti beberapa episode terakhir. Permasalahan dalam beberapa episode terakhir adalah kurangnya pergerakan dalam plot dan kehadiran berbagai momen yang memperlihatkan bahwa seolah serial ini begitu takut untuk membunuh salah satu karakternya (baca: memberikan kelokan ekstrim) dengan begitu banyak momen imajinasi yang akhirnya tidak terwujud. Episode ketujuh ini bakal memperlihatkan beberapa hal, seperti kembalinya Bett dan Dot ke Freak Show, hubungan antara Jimmy dan Dell, sampai usaha Stanley untuk membunuh salah satu freak yang masih belum juga membuahkan hasil (yap, kali ini Dandy tidak mendapat banyak porsi penceritaan). Cukup menyegarkan disaat akhirnya Bette dan Dot kembali menjadi sentral cerita semenjak episode keenam, meski sebenarnya keduanya bukan karakter yang amat menarik, tapi setidaknya sedikit beranjak dari kegilaan Dandy atau ambisi besar Elsa cukup menyegarkan.

Sayangnya kisah kembalinya Bette dan Dot ke freak show terasa terburu-buru, setelah episode sebelumnya memberikan tease akan konfrontasi menarik antara Jimmy dan Dandy, kita ditinggalkan dengan kekecewaan saat tidak terjadi apapun, dan dengan mudahnya Bette dan Dot kembali, meski itu didasari oleh intensi terselubung keduanya. Saya cukup menyukai eksplorasi hubungan Jimmy dan Dell yang pada akhirnya "bersatu" sebagai ayah dan anak. Sebuah momen mengejutkan yang cukup manis itu juga memberikan angin segar bahwa keduanya tidak akan terus talik ulur dan saling membenci seperti sebelumnya. Konflik pasti tetap akan muncul tapi setidaknya karena tidak ada lagi rahasia tentang identitas masing-masing, ada harapan perselisihan antara keduanya bisa jadi lebih kompleks. Kedua aspek itu adalah hal positif, tapi yang paling menyenangkan dari episode ini adalah keberania Freak Show untuk kembali menyuntikkan momen gila. Aspek shocking merupakan salah satu yang membuat saya menyukai serial ini, dan hal itu sempat menghilang dalam beberapa episode terakhir.