20 Sep 2014

A MILLION WAYS TO DIE IN THE WEST (2014)

Saya menikmati Ted (review) yang merupakan debut penyutradaraan Seth MacFarlane, tapi tidak sampai begitu mencintainya apalagi tidak sabar menantikan sekuelnya yang akan rilis tahun depan. Meski menjadi komedi berating R dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, bagi saya Ted masih banyak miss dalam penghantaran komedinya. Singkat kata, bagi saya film itu terasa overrated, dan karena itulah saya tidak terlalu antusias menantikan film penyutradaraan kedua MacFarlane yang berjudul nyeleneh ini. Dengan banyak nama besar mulai dari Charlize Theron, Liam Neeson, Amanda Seyfried, Neil Patrick Harris, Giovanni Ribsi sampai MacFarlane sendiri, A Million Ways to Die in The West akan membawa dunia western masa lalu yang gersang dan penuh kekerasan serta kematian kedalam sajian komedi gila dan penuh hal jorok ala MacFarlane. Mungkin ensemble cast dan mengemas kerasnya western menjadi komedi adalah daya tarik tersendiri bagi film ini, tapi seperti yang sudah saya bilang, ekspektasi terhadap film ini tidaklah terlalu besar mengingat Ted yang juga tidak terasa spesial di mata saya.

Ber-setting pada tahun 1882 di Arizona, film ini bercerita tentang Albert Stark (Seth MacFarlane), seorang peternak domba yang terkenal pengecut. Karena sifatnya itulah Albert harus kehiangan kekasih yang amat ia cintai, Louise (Amanda Seyfried). Louise sendiri akhirnya malah berpacaran dengan seorang penjual obat penumbuh kumis yang sukses, Foy (Neil Patrick Harris). Ditengah segala keputusasaan dan kesedihan yang ia alami, Albert bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Anna (Charlize Theron) yang ia selamatkan dalam sebuah perkelahian di bar. Albert dan Anna pun mulai menjadi teman dekat dimana Anna mulai membantu Albert dalam banyak hal mulai dari usaha untuk melupakan Louise sampai mengajari Albert bagaimana caranya menggunakan pistol. Tapi ada satu hal yang tidak Albert ketahui tentang Anna, yaitu bahwa dia merupakan istri dari Clinch Leatherwood (Liam Neeson) yang tidak lain adalah pembunuh paling ditakuti sekaligus penembak tercepat di kawasan western.

19 Sep 2014

LE WEEK-END (2014)

Dalam kolaborasi keempatnya (tiga film, satu serial televisi) sutradara Roger Michell dan penulis naskah Hanif Kureishi kembali mengangkat kisah tentang karakter lansia seperti yang pernah mereka lakukan di Venus delapan tahun lalu. Ceritanya sendiri telah dikembangkan oleh keduanya selama tujuh tahun, dimulai saat mereka melakukan perjalanan ke Bukit Montmartre yang terletak di sebelah Utara kota Paris. Le Week-End sendiri terasa seperti versi lansia dari trilogi "Before" milik Richard Linklater karena sepanjang film fokusnya hanya berada pada seputaran obrolan serta konflik (yang juga hadir dalam obrolan) antara kedua karakter utamanya ditambah dengan setting sebuah kota yang indah. Kedua karakter utamanya adalah Nick (Jim Broadbent) dan Meg (Lindsay Duncan) yang tengah merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-30. Tentu saja anniversary dari pernikahan yang telah berlangsung lama itu harus spesial, dan hal itu jugalah yang ada di benak Nick. Dia berencana mengajak istrinya ke Paris yang tidak lain adalah tempat dimana mereka melakukan bulan madu. Untuk menambah kesan nostlgia, Nick pun menyewa hotel yang sama dengan yang mereka gunakan dahulu.

Tapi ternyata rencana tersebut tidak berjalan sesuai rencana disaat hotel yang dipesan Nick sudah tidak sama lagi bentuknya dengan masa bulan madunya dulu, dan hal itu membuat Meg begitu kecewa. Apa yang terjadi berikutnya adalah kedua pasangan ingin "berimprovisasi" dalam perjalanan mereka di Paris, mendatangi banyak tempat dan menginap di hotel mahal. Namun pada kenyataannya, kekecewaan karena hotel itu bukanlah permasalahan terakhir dan terbesar yang mereka hadapi. Pernikahan mereka yang telah berlangsung 30 tahun lamanya akan benar-benar mendapat ujian berat yang ironisnya terjadi pada hari anniversary keduanya. Dengan alur yang berjalan lambat dan mayoritas berisi dialog antara Nick dan Meg, maka wajar saja jika ekspektasi saya akan Le Week-End adalah film ini menjadi "versi lansia" dari trilogi "Before". Tentu saja bukan berarti membandingkan kedua film itu, tapi lebih kepada bagaimana saya berharap film ini akan punya rangkaian dialog yang menarik untuk disimak, bisa terasa romantis dan menyentuh tanpa perlu dramatisasi berlebihan, serta mengeksplorasi manis dan pahitnya hubungan cinta para orang-orang tua. Harapan yang akhirnya gagal terpenuhi.

17 Sep 2014

THE MONKEY KING (2014)

Kisah Journey to the West yang menampilkan sosok Sun Wukong sang raja kera sebagai sosok sentralnya memang tidak pernah kehilangan daya tarik meski sudah berulang kali diangkat ke dalam medium apapun. Untuk film sendiri, salah satu yang paling baru adalah Journey to the West: Conquering the Demons (review) milik Stephen Chow yang bagi saya merupakan salah satu film paling menghibur tahun ini. Tapi ada satu lagi proyek yang mengangkat Sun Wukong sebagai karakter sentralnya, dan proyek ini bisa dibilang adalah proyek besar yang sudah cukup lama dinantikan. Disutradarai oleh Cheang Pou-soi, The Monkey King adalah film besar dengan bujet mencapai $82 juta dan dibintangi oleh nama-nama tenar seperti Donnie Yen, Chow Yun-fat, Aaron Kwok, Joe Chen, Peter Ho hingga Gigi Leung. Film ini pun sukses besar dengan meraih pendapatan lebih dari $175 juta. Nama Donnie Yen sebagai Sun Wukong memang sudah menarik banyak perhatian penonton bahkan jauh sebelum filmnya dirilis. Jadi apakah film yang lebih besar ini juga lebih baik dari milik Stephen Chow?

Sama seperti film Stephen Chow, The Monkey King juga tidak akan mengisahkan perjalanan Sun Wukong dan bikso Tong mengambil kitab suci ke Barat, melainkan menyoroti kejadian yang terjadi jauh sebelum itu, tepatnya sejak sebelum sang raja kera lahir ke dunia. Pada saat itu, peperangan besar antara dewa yang dipimpin Jade Emperor (Chow Yun-fat) dengan para siluman yang dipimpin oleh Raja Siluman Kerbau (Aaron Kwok) sedang terjadi. Dalam peperangan besar itu, pihak siluman berhasil dikalahkan dan kerajaan langit pun disegel supaya para siluman tidak lagi bisa masuk. Namun disaat yang bersamaan, kristal dari kerajaan langit jatuh ke Bumi, dan di dalamnya terdapat seekor kera yang tak lain adalah Sun Wukong. Terlahir dari kristal surga, Wukong pun memiliki kekuatan yang jauh diatas rata-rata siluman kera lainnya. Meski punya kepribadian yang nakal dan seenaknya sendiri, sesungguhnya Wukong adalah sosok yang terlahir baik dan penuh kepedulian. Hal itulah yang disadari oleh para dewa yang akhirnya memutuskan melatih Wukong. Tapi disisi lain Raja Siluman Kerbau yang mengetahui keberadaan Wukong mulai menyusun rencana untuk memanfaatkan kekuatannya guna mengambil alih kerajaan langit.

16 Sep 2014

ONLY LOVERS LEFT ALIVE (2013)

Jim Jarmusch. sutradara indie yang identik dengan film-film ber-setting malam hari dan bertempo lambat dengan banyak still shot serta adegan diam membuat sebuah film vampir. Meski berbalut drama percintaan, tentu saja Only Lovers Left Alive bukanlah versi indie dari Twilight, apalagi melihat nama-nama besar yang terlibat mulai dari Tom Hiddlestone, Tilda Swinton, Mia Wasikowska, John Hurt hingga Anton Yelchin. Dengan naskah yang ditulis sendiri oleh Jim Jarmusch, Only Lovers Left Alive akan berpusat pada dua karakternya, Adam (Tom Hiddlestone) dan istrinya, Eve (Tilda Swinton). Mereka berdua sama-sama adalah vampir yang sudah hidup selama ratusan tahun. Adam selama ini tanpa diketahui oleh orang-orang telah memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan dunia musik dan sains lewat karya-karyanya. Walaupun begitu kini Adam hidup menyendiri di sebuah rumah tua sambil tetap berkarya menciptakan lagu-lagu pemakaman dan tidak ingin diketahui keberadaannya oleh orang lain meskipun itu adalah fans dari musiknya sendiri. Dengan tendensi bunuh diri, Adam menjalani hari-harinya dengan suasana yang gloomy dan selalu terobsesi dengan kematian serta mengeluh tentang kondisi dunia modern dimana dia menyebut manusia sebagai "zombie".

Untuk memenuhi kebutuhannya akan darah, Adam mendatangi rumah sakit untuk membelinya dari Dr. Watson (Jeffrey Wright) dengan kedok sebagai seorang dokter. Disisi lain, Eve selama beberapa tahun terakhir tinggal di Tangier, Maroko dan selalu berkomunikasi lewat telepon dengan sang suami. Eve sendiri mendapat suplai darah dari Christopher Marlowe (John Hurt), seorang vampir yang juga merupakan seorang penulis besar. Eve yang merasa khawatir dengan tendensi bunuh diri Adam akhirnya menuju Detroit dan kembali bersama dengan sang suami. Mereka berdua pun mulai menjalani hari-hari yang tenang dan romantis berdua, sebelum akhirnya datang Ava (Mia Wasikowska) yang tidak lain adalah adik Eve. Berbeda denagn sang kakak, Ava adalah vampir dengan sosok gadis remaja yang doyan bersenang-senang dan membuat ulah, sesuatu yang membuat Adam begitu membencinya. Begitulah kurang lebih sinopsis dari film ini. Jika anda mengira saya sengaja tidak menuliskan bagian horror atau action demi menghindari spoiler anda salah, karena memang "hanya" seperti itulah konten dari film ini. Jika anda mengharapkan sebuah film vampir konvensional bersiaplah kecewa karena Only Lovers Left Alive sejatinya merupakan drama realis tentang kritikan terhadap dunia modern dengan mayoritas diisi obrolan bertempo lambat.

15 Sep 2014

FRANK (2014)

Menyebut Frank sebagai film yang aneh mungkin terkesan terlalu "standar", tapi memang begitulah film ini. Disaat kamu punya seorang aktor dengan nama besar plus wajah komersil yang sudah dikenal di penjuru dunia tentu saja hal terakhir yang akan kamu lakukan adalah menyembunyikan wajahnya sepanjang film. Sebagai contoh kita bisa lihat film Judge Dredd yang dibintangi Sylvester Stallone dimana sang sutradara lebih memilih mengorbankan helm ikonis sang hakim dariada wajah sang aktor utama. Maka saat ada yang melakukan sebalinya dengan mudah keputusan itu akan disebut aneh, tidak biasa atau mungkin gila. Tapi memang hal itulah yang dilakukan Lenny Abrahamson dalam film terbarunya ini. Wajah Michael Fassbender tentu saja merupakan "barang jualan" yang begitu berharga, tapi di film ini selama mayoritas kemunculannya sang aktor akan mengenakan sebuah topeng berwujud kepala manusia kartun berukuran besar. Saat itulah ia bertransofrmasi menjadi sosok Frank yang terinpirasi dari Frank Sidebottom, comic persona dari komedian sekaligus musisi Chris Sievery. 

Film ini dibuka lewat perkenalan kita dengan Jon (Domhnall Gleeson), seorang pemuda yang begitu ingin menjadi musisi sekaligus penulis lagu besar. Setiap hari selalu ia isi dengan menulis lirik dan membuat komposisi lagu. Tapi seberapa keraspun ia mencoba, Jon selalu gagal menciptakan lagu bagus seperti yang ia inginkan. Sampai suatu hari kesempatan untuk menjadi musisi besar datang disaat Jon mendapat tawaran untuk menjadi keyboradist sementara dari band eksentrik bernama "Soronprfbs". Tidak hanya punya nama dan musik yang aneh, Soronprfbs juga diisi oleh para personel yang eksentrik. Tapi yang paling aneh tentu saja sang frontman, Frank dengan topeng kepala besar dan segala tingkah laku uniknya. Pada akhirnya Jon tidak hanya menjadi seorang additional panggung biasa tapi turut terlibat dalam proses penggarapan album dari Soronprfbs di sebuah kabin di tengah hutan. Mulai dari situlah Jon harus berhadapan dengan banyak hal mulai dari proses eksentrik yang dilakukan Frank, ketidak akurannya dengan Clara (Maggie Gyllenhaal), sampai ambisinya yang tidak pernah padam untuk menjadi musisi besar.