1 Okt 2014

BATTLESHIP POTEMKIN (1925)

Film propaganda memang seringkali menuai kontroversi karena kontennya. Penyebab kontroversi biasanya hadir karena sudut pandang mengenai sesuatu atau seseorang yang seringkali sepihak, berlebihan bahkan tidak jarang penuh kepalsuan. Semisal sebuah film propaganda tentang anti-Nazi maka film tersebut akan mengeksploitasi keburukan-keburukan Nazi, menyelipkan hiperbola dan dengan cara apapun berusaha membuat mereka tampak sebagai sosok yang harus dimusnahkan. Namun dibalik segala kontroversi tersebut, film-film propaganda biasanya mempunyai satu nilai plus yang amat kuat yakni totalitas. Setidaknya sampai saat ini saya belum pernah menemukan film propaganda yang digarap setengah-setengah apalagi asal-asalan. Di Indonesia sendiri, contoh terbaik untuk film tersebut adalah Pengkhianatan G 30 S/PKI (review). Battleship Potemkin karya Sergei Eisenstein ini sendiri tidak hanya sering disebut sebagai film propaganda terbaik yang pernah dibuat tapi juga salah satu film terbaik sepanjang masa. Mengambil setting tahun 1905, film ini membawa pesan mengenai keburukan rezim Tsar yang penuh dengan ketidak adilan.

Battleship Potemkin seperti judulnya merupakan dramatisasi dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1905 saat para kru Potemkin melakukan pemberontakan terhadap atasan-atasan mereka. Pemberontakan tersebut didasari oleh perasaan yang sama diantara para kru tentang perlakuan semena-mena yang mereka terima. Mereka selalu mendapatkan makanan yang tidak layak seperti daging busuk yang sudah dipenuhi belatung. Bahkan saat tidur pun mereka sering menerima tindak kekerasan dari atasan mereka sebagai bentuk pelampiasan rasa kesal mereka. Merasa sudah cukup menerima semua itu, mereka pun sepakat melakukan perlawanan yang dipimpin serta diprakarsai oleh Grigory Vakulinchuk (Aleksandr Antonov). Pada akhirnya perlawanan yang terjadi diatas kapal perang tersebut justru menginspirasi rakyat-rakyat Russia dan terjadilah perlawanan yang lebih besar yang bahkan berujung juga pada pembantaian yang terjadi di Odessa. 

29 Sep 2014

THE DOUBLE (2013)

Setelah menjalani debutnya sebagai sutradara lewat drama coming-of-age berbalut romansa berjudul Submarine, kali ini komedian Richard Ayoade giliran mengadaptasi novel berjudul The Double karya Fyodor Dostoyevsky. Cukup aneh memang melihat seorang Ayoade mengangkat sebuah kisah yang kental unsur thriller-nya. Tapi toh The Double tetap mengandung banyak unsur kesukaan sang sutradara seperti karakter utama seorang pria anti-sosial dan tentu saja sedikit selipan komedi meski kali ini komedinya terasa jauh lebih gelap. Tentu saja untuk memerankan pria penuh sisi awkward Jesse Eisenber merupakan salah satu aktor terbaik untuk peran itu. Sebagai aktris utama ada Mia Wasikowska yang akhir-akhir ini pilihan filmya semakin bagus dan mulai membuktikan kapasitas aktingnya. Sama seperti Enemy (review) milik Dennis Villeneuve yang juga diangkat dari novel lain berjudul The Double, film ini pun akan bertutur tentang doppleganger. Karakter utamanya adalah Simon James (Jesse Eisenberg), seorang pemuda yang hidup sendirian di sebuah apartmene kecil nan gelap dan selalu menghabiskan hari-harinya dengan pulang-pergi ke kantor dengan kereta api.

Simon adalah pria yang kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya karena kemampuan sosialnya yang rendah, tapi juga karena orang-orang tersebut tidak pernah menganggap dirinya. Satu-satunya hal yang menjadi hiburan bagi Simon hanya Hannah (Mia Wasikowska). Hannah merupakan salah satu rekan kerja sekaligus tetangga Simon yang sudah lama ia sukai. Setiap hari Simon selalu memperhatikan Hannah mulai sejak berada di dalam kereta, di kantor, bahkan sampai saat keduanya sudah ada di apartemen masing-masing. Tiap malam Simon selalu menikmati hobinya mengintip Hannah dengan teleksop. Suatu hari sebuah hal mengejutkan menimpa Simon disaat muncul seorang karyawan baru bernama James Simon yang punya wajah sama dengannya (diperankan juga oleh Jesse Eisenberg). Tapi walaupun wajah keduanya sama, kepribadian dan nasib mereka amat sangat berbeda. Jika Simon seolah selalu bernasib sial dan tidak pernah mendapatkan respon yang menyenangkan dari orang lain, maka James seolah selalu beruntung dan begitu disukai oleh orang-orang di sekitarnya bahkan dianggap jenius. Siapakah James sebenarnya?

28 Sep 2014

HEAVEN IS FOR REAL (2014)

Surga merupakan sebuah konsep yang tidak mudah dijelaskan dan diterima oleh banyak orang bahkan oleh para pemeluk agama yang dalam ajarannya meyakini keberadaan surga sekalipun. Seperti apa bentuknya? Ada apa saja disana? Tapi mungkin pertanyaan paling mendasar adalah "apa surga benar-benar ada?" Pada akhirnya surga memang masih menjadi suatu konsep yang abstrak dijelaskan secara nalar. Lalu apa jadinya jika ada orang yang mengaku pernah "mampir" ke surga? Pasti banyak yang akan menyebutnya gila atau sekedar cari perhatian. Tapi apa jadinya jika yang mengaku pernah ke surga adalah seorang anak kecil berusia 4 tahun yang tentunya masih amat polos? Hal itulah yang terjadi dalam Heaven is For Real garapan sutradara Randall Wallace ini. Kisahnya diangkat dari buku berjudul sama tulisan Pastur Todd Burpo dan penulis Lynn Vincent. Buku itu sendiri ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh Todd Burpo disaat suatu hari puteranya yang masih berusia 4 tahun, Colton mengalami near-death experience saat tengah dioperasi dan begitu sadaar ia mengaku sempat berada di surga bahkan duduk di pangkuan Yesus. 

Tentu saja pada awalnya tidak mudah bagi Todd dan istrinya, Sonja untuk percaya pada cerita puternya yang bagaikan sebuah dongeng imajinasi dari isi pikiran anak-anak tersebut. Tapi kemudian saat Colton mulai bercerita tentang hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui seperti apa yang dilakukan orang tuanya saat ia sedang menjalani operasi, Todd mulai memikirkan cerita anaknya tersebut. Bahkan kepercayaan Todd mulai digoncang saat Colton mulai bertutur tentang hal-hal lain yang ia lihat di surga. Ironis memang, bagi Todd yang selama ini selalu berkhotbah di Gereja, cerita sang anak tentang surga ia rasa mustahil, tapi disisi lain Colton terasa amat jujur saat bercerita. Hal itulah yang membuat Todd mulai sering membahas kisah "kunjungan" Colton ke surga dalam tiap khotbahnya, suatu hal yang tidak terlalu disukai oleh para jemaat dan pengurus gereja. Bagi mereka cerita tentang surga itu terlalu mengada-ada dan hanyalah dongeng semata yang tidak pantas untuk diceritakan dalam sebuah khotbah. Dilema yang dialami Todd pun semakin berat saat disatu sisi ia harus berusaha memperbaiki kondisi finansial keluarganya tapi disisi lain kisah yang ia ceritakan itu mulai membuat jemaat-jemaatnya tidak lagi menyukai Todd.

27 Sep 2014

THE FIFTH ELEMENT (1997)

Semua orang pasti setuju bahwa era keemasan Luc Besson terjadi pada tahun 90-an. Pada masa inilah ia banyak melahirkan film-film klasik yang juga meraih kesuksesan besar di Box Office, mulai dari Nikita, Leon: The Professional sampai The Fifth Element. Judul yang disebut terakhir merupakan salah satu film tersukses dari Besson. Film ini sempat menjadi film Prancis dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa (lebih dari $263 juta) sebelum dikalahkan oleh The Intouchables (review) pada tahun 2011 dan merupakan film Luc Besson dengan pendapatan tertinggi sebelum dilewati Lucy (review) tahun ini. Ide cerita dari The Fifth Element sendiri sudah mulai ditulis oleh Luc Besson pada tahun 1975, tepatnya 22 tahun sebelum filmnya dirilis saat ia baru berumur 16 tahun. Film ini sendiri merupakan film Prancis termahal dan terbesar di zamannya. Hal itu tidak hanya karena bujetnya yang mencapai $90 juta tapi juga karena keberadaan nama-nama besar yang tengah berada dalam puncak popularitas seperti Bruce Willis, Gary Oldman dan Chris Tucker. Lewat film ini jugalah Milla Jovovich mulai mendaki puncak popularitasnya. 

The Fifth Element berkisah tentang keberadaan empat batu yang merupakan perlambang empat elemen (air, api, angin, tanah). Keempat batu tersebut merupakan sebuah senjata yang disimpan oleh ras alien bernama Mondoshawans di Bumi untuk menghancurkan sosok jahat yang akan bangkit setiap 5.000 tahun. Selain keempat batu tersebut ada elemen kelima yang bakal menyatukan kekuatan keempatnya, dan elemen kelima itu berwujud manusia. Pada tahun 2263, sosok jahat itu pun bangkit dalam wujud planet raksasa yang siap menghancurkan Bumi. Untuk mendapatkan kelima elemen tersebut, ia memanfaatkan seorang industrialis bernama Zorg (Gary Oldman) yang meyewa ras alien Mangalores untuk merebutnya dari Mondoshawans. Tapi elemen kelima yang ternyata berwujud seorang gadis bernama Leeloo (Milla Jovovich) berhasil kabur dan secara tidak sengaja bertemu dengan Korben Dallas (Bruce Willis), seorang mantan anggota militer yang kini bekerja sebagai supir taksi. Mereka berdua pun berakhir saling membantu untuk mencegah kehancuran dunia.

24 Sep 2014

THE UNKNOWN KNOWN (2013)

Errol Morris merupakan salah satu sutradara dokumenter terbaik saat ini. Film-filmnya seperti Gates of Heaven, The Thin Blue Line, Tabloid (review), sampai The Fog of War yang memenangkan Best Documentari Feature pada Oscar tahun 2004 merupakan bukti-bukti kehandalan Morris untuk mengemas berbagai fakta mencengangkan ke permukaan. Dalam judul-judul diatas kita akan melihat bahwa Errol Morris tidak hanya seseorang yang handal bercerita dan mengemas fakta tapi juga hebat dalam "memancing" narasumbernya untuk bertutur dengan sejujurnya hingga terungkap fakta demi fakta mengejutkan dari mulut mereka. Maka akan sangat menarik untuk dilihat bagaimana Morris berusaha menggali berbagai fakta dar Donald Rumsfeld di film ini. Sebelum menonton saya tidak tahu siapa itu Donald Rumsfeld yang ternyata pernah menjabat dua kali sebagai menteri pertahanan Amerika Serikat. Yang pertama pada tahun 1975-1977 pada era pemerintahan Gerald Ford dan yang kedua pada 2001-2006 yang tidak lain adalah era George W. Bush dimana pada masa jabatan kali inilah Rumsfeld sering mendapat sorotan atas berbagai keputusannya.

Menonton dokumenter yang kita hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak tahu tentang narasumber yang dibahas mungkin bakal memancing penonton untuk mencari tahu lebih dulu supaya sama sekali tidak buta. Bahkan banyak dari mereka yang sampai mencari tahu tentang kasusnya hingga ke aspek paling detail sebelum menonton. Saya sendiri memilih jalan yang berbeda. Saya hanya akan mencari tahu hal paling umum tentang ceritanya, semisal di film ini saya hanya coba mencari tahu siapa itu Donald Rumsfeld, dan setelah tahu ia adalah mantan menteri pertahanan pencarian saya berhenti. Biarkan Errol Morris dan The Unknown Known miliknya yang bercerita. Disinilah kita bisa menguji apakah sebuah dokumenter sanggup membuat penonton awam mengerti akan subjek yang dibahas atau tidak. Lagipula pada Tabloid, Errol Morris terbukti sanggup melakukan hal itu. Film ini sendiri akan memperlihatkan penggalian fakta oleh Morris terhadap Donald Rumsfeld yang banyak dianggap publik sering melakukan hal-hal kontroversial khususnya dalam menyikapi pecahnya perang di Irak dan Afghanistan. Banyak yang menganggapnya sebagai seorang warmonger. Tentu saja Rumsfeld tidak akan begitu saja mengakui bahwa ia adalah warmonger dan akan mengelak bahwa semua itu adalah untuk menjaga keamanan dan stabilitas Amerika bahkan dunia. Dari situlah awal keterpurukan The Unknown Known dimulai.