UN CHIEN ANDALOU (1929)

Seorang pria paruh baya (Luis Bunuel) tengah mengasah pisau sambil menatap bulan purnama dan awan-awan di sekitarnya. Tiba-tiba adegan berganti dengan memperlihatkan close-up wajah wanita muda (Simone Mareuil) yang matanya ditahan oleh sang pria paruh baya. Lalu bersamaan dengan purnama yang disayat oleh awan, mata wanita mudah itu pun disayat oleh pisau sang pria. Begitulah Un Chien Andalou atau yang punya arti An Andalusian Dog ini dibuka. Berawal dari perbincangan Luis Bunuel dan Salvador Dali tentang mimpi mereka, terciptalah film sureal ini. Bunuel adalah sutradara yang punya obsesi dengan mimpi serta metode Freudian seperti asosiasi bebas dan psikoanalisis. Suatu malam ia bermimpi tentang bulan yang dipotong oleh awan, seperti mata yang tersayat pisau. Sedangkan Dali sang pelukis sureal bermimpi tentang tangan seseorang yang dikerubuti semut. Berbasis dua mimpi tersebut, Bunuel dan Dali menulis naskah bersama untuk film pendek yang disutradarai Bunuel ini.

Sebuah karya surealis memberikan gambaran sebuah kejadian atau karakter dengan simbolisasi dan metafora yang tidak jarang hiperbolis. Akan memusingkan bagi penonton, tapi juga menantang bahkan "nagih" bagi mereka yang gemar memutar otak mencari interpretasi. Tapi untuk film ini, pertanyaan sesungguhnya bukanlah "apa interpretasi ceritanya?" melainkan "apakah interpretasi tersebut ada disana?" Un Chien Andalou tersusun oleh narasi yang tidak saling berhubungan Setelah pembuka di atas, kita akan melihat seorang pria muda (Pierre Batcheff) bersepeda dengan dandanan suster, wanita androginus (Fano Messan) yang terobsesi dengan potongan tangan, adegan tangan sang pria muda yang mengeluarkan semut, serta adegan lain yang terkesan dreamy sekaligus disturbing. Bunuel dan Dali menulis naskah dengan perjanjian bahwa "tidak ada satupun ide atau gambar yang bisa dijelaskan secara rasional". Bunuel juga menambahkan "tidak ada satupun hal dalam film ini yang merupakan simbolisasi".
Apakah sebuah film harus punya makna? Apakah surealisme harus menyimbolkan sesuatu? Dengan dua pernyataan Bunuel di atas, bisa disimpulkan film ini dibuat tanpa bermaksud menuturkan apapun. Bagi saya film bisa merupakan bentuk opini pembuatnya terhadap suatu kejadian, tapi juga bisa sebagai cerminan nyata dari sebuah kejadian tanpa dikurangi atau ditambahi. Film ini termasuk yang kedua. Bunuel dan Dali hanya ingin memvisualisasikan mimpi masing-masing dalam film ini dengan beberapa adegan tambahan sebagai benang merah. Adegan tambahan itu tidak bermaksud untuk menciptakan narasi yang koheren, tapi lebih kepada rasa dan suasana. Secara narasi tidak ada kaitan satu dengan yang lain. Tapi secara suasana dan kesan mimpi yang coba dibangun lewat momen demi momen tak beraturan, semuanya selaras. 
Tapi jika mencoba berinterpretasi, saya merasa Un Chien Andalou berkisah tentang obsesi, tentang hasrat yang ditekan, tentang seksualitas yang twisted. Adegan pria muda menyeret piano yang berisikan mayat keledai, batu bertuliskan 10 perintah Tuhan dan dua orang Pendeta sambil mendekat kearah si wanita muda bagai memperlihatkan hasrat seksual sang pria yang tertekan oleh norma dan agama. Sang pria juga diperlihatkan menikmati melihat wanita androginus tertabrak mobil, bahkan setelah itu ia ingin berhubungan seks dengan si wanita muda (simbolisasi twisted sexuality). Bunuel sendiri menyatakan bahwa jika ada interpretasi yang mungkin tepat, itu berbasis dari psikoanalisis. Lewat psikoanalisis dalam buku The Interpretation of Dream, Sigmund Freud menyatakan bahwa mimpi merupakan hasrat terpendam, pelampiasan dari sesuatu yang ingin seseorang lakukan di kehidupan nyata tapi tidak kesampaian. Tapi lagi-lagi tidaklah penting bagi saya apakah suatu film punya makna yang coba disampaikan. Karena salah satu fungsi film adalah menuturkan suatu kejadian apa adanya, seperti Bunuel dan Dali menuturkan mimpi mereka tanpa coba memberikan interpretasi.

Tanpa harus memberikan makna Un Chien Andalou tetaplah pencapian yang luar biasa dan menjadi pondasi bagi film indie sekaligus film sureal masa kini. Disaat pada masa itu para pembuat film cenderung ingin memuaskan penonton (lebih dari yang terjadi saat ini), Bunuel justru sebaliknya ingin memberikan rasa tidak nyaman bagi audience. Kesan itu berhasil tersaji dengan sempurna disini. Kesan sureal tidak hanya terasa aneh, tapi juga digambarkan lewat cara se-disturbing mungkin. Visualisasi itu turut disempurnakan oleh scoring  Richard Wagner. Adegan pria menarik piano adalah contoh sempurna. Saat musik semakin meninggi, saya pun semakin merasa tidak nyaman, jantung semakin berdebar, ketegangan makin memuncak. Sebagai sebuah film bisu tanpa dialog, Un Chien Andalou adalah sajian sureal yang tidak nyaman tapi begitu mengesankan disaat bersamaan.

PREDESTINATION (2014)

"Inevitable" merupakan kata yang berulang kali muncul dalam adaptasi cerita pendek "---All You Zombies---" karya Robert A. Heinlein ini. Kata itu sekilas merupakan perwakilan dari tema takdir yang diusung oleh film ini. Judul Predestination sendiri punya arti "suatu hal yang telah dituliskan oleh Tuhan" atau dengan kata lain takdir. Tapi dalam suatu kisah sci-fi kompleks apalagi yang berkisah tentang perjalanan waktu, kata tersebut sering digunakan sebagai penggampangan untuk menutupi plot hole. Bagaimana bisa? Karena dengan menyebut inevitable, pertanyaan seperti "bagaimana?" bisa dijawab dengan mudah: karena itu tidak terelakkan. Sama seperti murphy law dalam Interstellar, hanya saja secara penyebutan serta penerapan terasa less scientific. Premis film ini adalah mengenai keberadaan agen yang bertugas untuk menghentikan aksi kejahatan sebelum kejahatan itu terjadi. Tentu saja caranya dengan memakai mesin waktu (dalam film ini berbentuk tas biola).

Langsung dibuka dengan aksi saat seorang agen mengalami luka bakar parah dalam usahanya menghentikan teroris bernama "Fizzle Bomber" menjadikan film Australia ini terasa bakal mengikuti blueprint Hollywood yang penuh aksi dan ledakan. Tapi semua berubah saat fokus film beralih pada pembicaraan antara seorang bartender (Ethan Hawke) dan penulis transgender dengan nama pena "The Unmarried Mother" (Sarah Snook). Sang penulis mengisahkan tentang masa lalunya, mulai dari masa ia ditinggalkan saat masih bayi di sebuah panti asuhan, tumbuh sebagai gadis penyendiri dengan kemampuan fisik dan otak di atas rata-rata, keikutsertaannya dalam seleksi Space Corps, kehamilan dengan pria tak dikenal yang tiba-tiba meninggalkan dia, sampai momen menyedihkan saat bayinya menghilang dari rumah sakit. Menggunakan dialog dan flashback film ini menggali masa lalu sang penulis. 
Predestination menjadikan sentuhan time travel-nya sebagai jalan untuk mengeksekusi drama kehidupan. Diperhatikan lagi, konsep sci-fi disini amat sederhana bahkan predictable. Membawa konsep paradoks dan ouroboros, penonton tidak akan kesulitan menebak twist-nya. Tapi meski familiar dengan konsep predestination paradoks dimana perjalana waktu mengakomodir "A menyebabkan B dan sebaliknya B menyebabkan A" tidak akan mengurangi kesenangan anda menonton film garapan Michael dan Peter Spierig ini. Saat twist semakin dekat kita bisa menebak arahnya, tapi jauh sebelum itu sulit memprediksi ceritanya bergerak kearah twist tersebut. Saya dibuat tidak sempat repot-repot menebak arahnya karena drama yang kuat. Karena secara mengejutkan, dibalik konsep perjalanan waktunya ada drama kelam tentang takdir sampai selipan sex story yang twisted. 

Kejutan muncul bukan sekedar untuk menghias plot, tapi penting pada pembangunan drama karakter. Akhirnya setelah kejutan hadir, efeknya pun sampai pada sisi emosi. Begitu film selesai, saya merasa bahwa segala hal yang terjadi pada karakternya terasa memilukan. Sebuah tragedi menyedihkan yang diciptakan oleh kekejaman bernama takdir. Semakin menyedihkan lagi karena semua itu tidak bisa dirubah (inevitable). Predestination membawa kisah time travel pada suasana kelam bahkan cukup depresif diakhirnya. Disaat banyak sci-fi bertemakan perjalanan waktu mencoba bersikap lebih positif, tidak begitu dengan film ini. Fakta bahwa kita tidak bisa merubah takdir ditekankan sebagai suatu hal yang memilukan. Meski ada harapan, setelah tahu keseluruhan ceritanya saya menyadari itu hanya harapan semu. Tanpa banyak darah, film ini berhasil menjadi sebuah tontonan yang bagi saya cukup sadis. 
Kenapa sadis? Kenapa memilukan? Karena karakternya mengejar masa lalu. Masa lalu adalah saat dimana mereka menemukan cinta, kenangan indah yang tak bisa lagi terulang. Seiring berjalannya waktu, kehidupan berjalan seolah tanpa arti karena ketiadaan tujuan. Predestination menyoroti hal itu, disaat seseorang tidak tahu arah serta makna dari kehidupan yang ia jalani. Terasa sadis, karena pada akhirnya saat tujuan berhasil ditemukan, dan masa depan coba dibangun, sebagai penonton kita tahu bahwa itu hanyalah sesuatu yang semu. Semuanya akan terus berputar, seperti ular yang menggigit ekornya sendiri dalam lambang ouroboros. Diluar dugaan ada drama sedalam itu. Dengan cermat, Michael dan Peter Spierig menggiring saya pada awalnya untuk percaya bahwa film ini berkisah tentang balas dendam atau usaha membunuh seseorang di masa lalu (seperti Looper) karena voice over diawal film.

Sekilas akan terasa memusingkan, tapi sesungguhnya alur fim ini amat sederhana. Semakin sedehana jika anda memahami konsep paradoks dalam perjalanan waktu. Tapi memang sekeras apapun usaha Michael dan Peter Spierig untuk melogiskan adaptasi ini, tetap banyak hal yang di luar nalar, sehingga menciptakan plot hole. Tapi saya tidak peduli. Kebanyakan sci-fi dewasa ini tidak bisa menyeimbangan antara hiburan dengan kedalaman cerita. Predestination adalah produk langka yang berhasil menyuguhkan itu. Saya dibuat terhibur, diajak bersenang-senang dengan konsep time travel penuh twist-nya, tapi juga dibuat tenggelam dalam drama karakternya. Konsep tinggi diimbangi dengan hati dalam cerita membuat saya tidak mempedulikan lubang alur maupun fakta bahwa film ini lebih berat ke fiksi daripada penggabungannya dengan sains. 

A MOST VIOLENT YEAR (2014)

Saat para kritikus dan banyak penikmat film memberikan puja-puji pada J.C. Chandor karena dua film pertamanya (Margin Call & All is Lost), saya berpendapat lain. Margin Call membuat orang yang awam dengan Wall Street seperti saya tersesat dalam alur kompleksnya. Sedangkan tanpa dibawa mengenali karakter utamanya, All is Lost hanya seperti video rekaman kecelakaan. Disaat kedua film itu mendapat critical acclaim, saya justru dibuat bosan. Lalu hadirlah A Most Violent Year, sebuah sajian kompleks tapi secara keseluruhan lebih grounded dibanding dua film pertama sang sutradara. Judulnya merujuk pada tahun 1981 di kota New York, dimana pada saat itu kekerasan, kejahatan dan korupsi memang begitu merajalela. Pada kondisi seperti itu, Abel Morales (Oscar Isaac) nyatanya masih memegang tinggi kejujuran. Sebagai pemiliki perusahaan minyak yang sukses tentu mudah bagi Abel untuk melakukan penggelapan uang, bahkan terjun ke dunia para gangster. Tapi Abel bersikeras untuk tetap berada di jalan yang benar.

A Most Violent Year adalah pertentangan antara kelembutan melawan kekerasan serta kejujuran melawan kecurangan. Kedua kontradiksi tersebut begitu kental mengisi alurnya. Hal ini bisa kita lihat dari perbedaan sikap antara Abel dengan istrinya, Anna (Jessica Chastain). Disaat harus melunasi kontrak sebesar $1,5 juta, perusahaan Abel justru dihantam berbagai masalah. Mulai dari tuduhan jaksa wilayah tentang penggelapan pajak dan tindak ilegal lain, sampai terjadinya beberapa pembajakan terhadap truk pengangkut minyak miliknya. Dalam kondisi itu Abel nyatanya masih berusaha sabar, dan mengurus semuanya lewat cara yang benar. Sebaliknya, sebagai anak seorang gangster, Anna merasa bahwa kekerasan harus dibalas dengan kekerasan pula. Pendapat keduanya bertolak belakang, tapi Chandor mampu membawa saya untuk memahami alasan masing-masing. Abel memang tampak penuh keraguan bahkan seperti pengecut. Tapi ia sebenarnya berusaha bertindak taktis. Sedangkan Anna dengan cara kerasnya hanya ingin melindungi perusahaan dan keluarga secepat mungkin. Pada kesempatan berbeda, kedua pendekatan itu sama-sama diperlihatkan keuntungan serta kerugiannya.
Menghadirkan dua sudut pandang yang tidak bisa disalahkan, film ini memang dipenuhi ambiguitas dengan moral sebagai sesuatu yang paling kental. Memanfaatkan pertentangan itu, Chandor membangun intensitas dan dinamika emosi. Intens. Karena dalam kondisi yang penuh kekerasan seperti ini, bukan hal mudah menentukan benar dan salah. Filmnya dibuka dengan adegan pembajakan truk milik Abel, dimana dua orang pembajak melakukan aksinya dengan mudah, meninggalkan sang supir terluka di tengah jalan tanpa ada satupun orang berusaha menghalangi. Padahal jalan berada dalam kondisi ramai. Pembukaan yang cukup untuk menggambarkan betapa keras dan kacaunya New York saat itu. Menghadirkan dilema sebagai konflik emosional sekaligus pikiran yang membuat saya betah menikmati, adalah kunci keberhasilan film ini. Pertentangan Abel dan Anna, sampai suasana dilematis disaat Abel tidak menyetujui usulan untuk mempersenjatai supir truk dengan pistol, semuanya tersaji solid.

Kisah kriminalitas yang berakar pada dunia bisnis dan korupsi penuh unsur politis jelas memberikan kesan kompleks pada film ini. Tapi A Most Violent Year bukanlah Margin Call dimana penonton yang awam terhadap dunia filmnya tersesat. Anda tidak perlu menjadi pakar bisnis perminyakan untuk bisa menikmatinya. Naskah J.C. Chandor kali ini tidak dipenuhi istilah "asing" dalam dialog yang berfungsi sebagai penggerak plot. Tentu banyak hal tersirat sebagai kepingan puzzle untuk ceritanya yang tidak akan repot-repot diterangkan secara gamblang oleh Chandor. Sang sutradara seolah memfasilitasi penontonnya supaya lebih mudah merangkai alur kompleks tersebut. Tapi untuk memahaminya, kita harus fokus pada setiap kejadian, karena film ini bergerak lewat "aksi" tanpa banyak menjelaskan perihal aksi itu. Alur yang bergerak lambat juga cukup menjadi kekuatan. Alih-alih menurunkan tensi, keheningan dan momen "santai" sering dijadikan sebagai awal dari kejadian tak terduga yang amat mengejutkan.
Setiap karakternya pernah atau sedang mengalami hidup yang keras. Anna adalah anak mafia dan itu membentuk pola pikirnya yang pro-kekerasan. Abel adalah mantan supir truk yang kini berhasil merengkuh kesuksesan tapi nyatanya tetap harus berjibaku dengan kerasnya hidup. Sedangkan Julian (Elyes Gabel) adalah perwakilan dari mereka yang terus mengalami penderitaan serta kesialan. Dengan karakter-karakter semacam itu, saya bisa memahami bagaimana New York tahun 1981 dapat menjadi kota yang keras. Bahkan konklusi film pun memperlihatkan bahwa korupsi terjadi daam tiap sendi kota tersebut, dimana kondisi sulit yang terjadi dapat mendorong siapa pun untuk melakukannya. 

Kedua pemeran utamanya, Oscar Isaac dan Jessica Chastain bermain baik. Dengan cara bicara yang terstruktur dan perlahan, Oscar membentuk karakter Abel sebagai soso taktis dengan sempurna. Adegan saat ia memberikan pengarahan pada karyawan baru memperlihatkan itu. Pembawaannya memperlihatkan sosok orang yang sanggup menggaet atensi lawan bicara dengan mudah tanpa perlu intimidatif, tapi bisa seperti itu jika diperlukan. Sedangkan Chastain sebaliknya. Matanya menunjukkan kesan kejam yang memperlihatkan bahwa karakter Anna adalah wanita keras dan tidak ragu bertindak keras pula pada lawannya. Disandingkan, keduanya menciptakan chemistry kuat dalam sebuah romansa unik. Pada beberapa bagian termasuk awal film, sulit memastikan apakah keduanya pasangan suami istri. Hal itu merupakan hasil bentukan dari kondisi dan situasi keras nan penuh intrik. Tapi pada kesempatan lain tergambar jelas bagaimana romansa yang terjalin diantara mereka. 

Film ini dipenuhi impian dan ambisi yang berhasil dicapai. Namun apakah keberhasilan itu memberi kebahagiaan setelah berbagai cara yang ditempuh? Untuk pertama kalinya saya menyukai fim garapan J.C. Chandor. Saya suka naskah yang ia tulis, cerita kompleksnya, alur lambatnya, akting pemain, sampai kesan classy dan elegan miliknya. It's pretty cool

MEMANDANG DEFINISI "FILM YANG BAGUS"

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul terkait sebuah film adalah "bagus nggak?" Tentu jawaban yang muncul akan beragam, tergantung sudut pandang mana yang dipakai oleh penonton. Tapi adakah pakem standar yang bisa digunakan untuk menilai suatu film secara general? Saya jawab: tidak ada. Argumen umum tentang seperti apa film bagus seringkali meliputi akting bagus, naskah kuat, sampai gambar oke. Tapi benarkah semua itu ukuran baku? Sebagai contoh, mari menuju perbandingan antara The Evil Dead (1981) dengan The Woman in Black (2012). Secara teknis termasuk sinematografi, film kedua jauh lebih unggul. Secara cerita pun lebih berbobot karena hadirnya latar belakang karakter dan sebagainya. Teknik makeup pun sama, karena film pertama punya riasan murah yang sangat buruk. Belum lagi bicara akting. Daniel Radcliffe jelas jauh di atas Bruce Campbell yang overacting. Tapi disaat The Evil Dead dianggap sebagai salah satu film horror terbaik sepanjang masa, kenapa The Woman in Black justru direspon biasa saja? 
kebodohan menyenangkan
Karena tujuan horror adalah memberikan tontonan seram. Percuma horror digarap bagus tapi tidak menyeramkan. Hal yang sama berlaku di genre lain, seperti komedi yang penting lucu, tidak peduli sebodoh apa cerita dan seburuk apa aktingnya. Semua film punya tujuan masing-masing. Saya sendiri lebih suka film yang berkonsentrasi pada cerita lewat kesederhanaan bertutur seperti Boyhood, tapi bukan berarti film super bodoh murahan macam Poultrygeist: Night of the Chicken Dead atau Tokyo Gore Police langsung saya cap "jelek" karena tidak memenuhi standar naskah dan akting bagus. Justru saya suka film yang punya tujuan jelas, bersenang-senang, dan tidak coba sok pintar seperti itu. Tanpa perlu malu, tanpa perlu takut dicap berselera film jelek. 
like Joker said, "why so serious?"
Perdebatan lain yang cukup mengesalkan bagi saya berkaitan dengan film superhero. Sudah banyak orang termasuk beberapa teman yang menyatakan anti terhadap film superhero khususnya sajian ringan dari Marvel. Alasan utamanya seringkali karena cerita ringan sampai banyaknya komedi yang dianggap sebagai suatu hal buruk. Jika bicara film superhero, banyak dari mereka lebih memilih penggarapan ala Nolan dalam trilogi The Dark Knight yang gelap dan mengutamakan kesan realistis. The Dark Knight memang film superhero terbaik, tapi bukan berarti semua film superhero harus seperti itu, dan bukan berarti film ringan dari Marvel itu jelek. Lihat Man of Steel. Berkesan realistis dengan tone serius. Bandingkan dengan Guardians of the Galaxy yang menebarkan lelucon dimana-mana, cerita sederhana, bahkan tidak banyak eksplorasi latar belakang karakter disitu. Apa nakah Man of Steel lebih bagus? Hell, no!
one of the best superhero movie of all time
MoS naskahnya (bagi saya) dipenuhi dialog kosong, karakter seolah dalam tapi sebenarnya tidak dan terasa jauh dengan penonton, sampai cerita bodoh yang coba ditutupi oleh suasana gelap supaya terkesan pintar. Tidak mau mengakui kebodohannya, begitulah MoS. Sedangkan GotG punya dialog berisikan lelucon cerdas penuh referensi tanpa batas, interaksi karakter yang begitu hidup sehingga meski minim latar belakang mudah bagi penonton mencintai tokohnya. Tapi yang paling penting, film ini sadar bahwa ceritanya tipis dan bodoh. Tanpa berusaha sok pintar/sok serius, film ini sadar diri dengan cara mentertawakan diri sendiri. Itu pintar. Bahkan kalau mau merujuk opini kritikus film Amerika, dari 287 orang hanya 55% memberikan penilaian positif pada MoS. Sebaliknya, dari 258 kritikus 91% menilai positif GotG. Bahkan film itu mendapat dua nominasi Oscar tahun ini (Best Visual Effect Best Makeup and Hairstyling). Tentu hal itu bukan panutan utama tentang mana yang lebih bagus, tapi salah satu bukti tentang anggapan "film superhero yang kelam lebih bagus" tidak selalu benar.
Andrei Tarkovsky
Tapi pada akhirnya film merupakan bentuk karya yang sangat subjektif. Tergantung selera masing-masing penonton. Saya sendiri tidak suka Blade Runner (2 dari 5 bintang), film yang dianggap salah satu sci-fi terbaik sepanjang masa. Tidak ada patokan utama, bahkan Oscar sekalipun yang makin kesini lebih cocok dianggap pertarungan marketing dan politisasi film daripada kualitas (akan saya bahas nanti). Jangan merasa selera anda bagus hanya dengan membenci film-film ringan, apalagi jika bukan penikmat sajian art house karya orang-orang seperti Andrei Tarkovsky, Hong Sang-soo, Abbas Kiarostami, dan lain-lain. Tidak ada seseorang dengan selera film lebih bagus dari orang lain. Tidak ada yang namanya memperbaiki kualitas selera yang ada hanya memperluas selera. Caranya mudah. Tontonlah film bertipe apapun, genre apapun, dari negara manapun, dengan cerita apapun. Ada ratusan juta bahkan mungkin milyaran film di seluruh dunia. Menonton tanpa pilih-pilih, dan keindahan sinema akan kita temukan tanpa henti.

(tulisan juga dimuat di: krst-masukakal.blogspot.com/)

ST. VINCENT (2014)

Grumpy old man and innocent kid, formula klasik yang sama sekali tidak dirubah pengemasannya oleh sutradara Theodore Melfi dalam debutnya. Vincent (Bill Murray) adalah veteran perang Vietnam yang kesehariannya diisi dengan mabuk-mabukan, judi pacuan kuda, sampai berhubungan dengan pelacur Rusia yang tengah hamil, Daka (Naomi Watts). Ditambah mulut pedas yang tidak segan mencela siapapun, Vincent pun jauh dari kesan orang tua panutan apalagi likable. Sebagai pria yang membenci dan dibenci hampir semua orang, kedatangan Maggie (Melissa McCarthy) dan anaknya Oliver (Jaeden Lieberther) dipastikan bakal membawa masalah. Baru pada hari pertama, Vincetn dan Maggie sudah terlibat pertengkaran. Tapi sebuah kesiaan yang menimpa Oliver di sekolah membuatnya mau tidak mau harus menghabiskan hari di rumah Vincent saat sang ibu tengah bekerja. Bisa ditebak, hubungan orang tua  kasar dan bocah polos ini bakal menjadi persahabatan yang membantu mereka menangani masalah masing-masing. 

Vincent adalah lansia dengan tingkah seenaknya, mulut tajam dan gaya keren. Oliver adalah bocah polos yang bisa tiba-tiba berubah jauh lebih dewasa dari usianya. Kita pernah melihat Johnny Knoxville dalam makeup tebal sebagai kakek mesum yang gila lewat Bad Grandpa, jadi Bill Murray akan terlihat waras. Banyak hal termasuk karakter begitu klise disini. Ekspektasi berada pada titik terendah, kecuali untuk performa Murray. Pada akhirnya hingga film usai tidak ada twist apapun yang diberikan oleh Theodore Melfi. Semuanya tetap predictable sampai akhir. Tapi pemaksimalan pada setiap aspek dan penampilan bagus masing-masing aktor menjadikan St. Vincent sebagai drama komedi tentang "memperbaiki hidup" yang langka. Tidak hanya lucu, film ini juga terasa hangat bahan cukup menyentuh pada beberapa momen.
Vincent sebagai titular character jelas reasonable dan menarik. Hal ini penting supaya penonton bisa terikat dan memahami sosoknya. Vincent punya masa lalu berat, pernah ikut perang Vietnam, kondisi ekonomi yang buruk dan harus menerima fakta bahwa sang istri, Sandy (Donna Mitchell) menderita alzheimer yang membuatnya tidak lagi bisa mengenali Vincent. Alhasil segala sisi kasar dari Vincent punya alasan kuat. Ditambah lagi, seiring berjalannya waktu kita diajak perlahan melihat sisi lembutnya mulai saat Vincent secara rutin berpura-pura sebagai dokter untuk mengunjungi sang istri, sampai saat ada sedikit rasa iba ia tunjukkan terhadap Oliver. Karena hal-hal itu mudah bagi saya bersimpati pada Vincent. Tentu saja itu pun karena kesan keren yang kuat dari sosok ini. Tidak terlalu dalam, tapi setidaknya memberikan latar belakang yang cukup dan pasti. 
Semakin menarik saat masing-masing pemain sanggup memanfaatkan keklisean karakter mereka justru menjadi keunikan. Jangan ragukan Bill Murray dalam fase melucu dengan penuh sinisme serta ekspresi datar. Ada alasan kuat kenapa pria dengan wajah yang jauh dari kesan ramah ini dijuluki the funniest man in the world. Sarkasme dan ejekan kasar bisa termaksimalkan potensi kelucuannya jika dilontarkan oleh Murray. Jaeden Lieberher yang harus banyak berbagi adegan dengan Murray pun tidak buruk. Disaat karakternya sering tidak konsisten (kadang polos, kadang terlalu dewasa), akting Jaeden membuat sosok Oliver tidak berlebihan. Melissa McCarthy dan Naomi Watts melakukan hal sama: merubah karakter klise menjadi unik karena karakter itu berbeda dari yang selama ini identik dengan keduanya. McCarthy dalam peran paling seriusnya ternyata cukup baik. Adegan emosional ia tangani dengan baik. Naomi Watts dengan aksen Rusia, gestur liar, dan kalimat ceplas ceplos adalah scene stealer.

Saya suka komedinya. Salah satu yang terlucu dari rilisan tahun 2014 berkat penghantaran lelucon khususnya oleh Bill Murray. Untuk drama, saya justru merasa kualitasnya tidaklah konsisten. Kadang hangat, kadang menyentuh, tapi kadang pula membosankan. Hangat melihat bagaimana di dalam sosok Vincent yang keras ternyata ada seorang pria penuh kasing sayang dan peneritaan. Kata "mengharukan" sendiri pantas disematkan pada bagian konklusi. St. Vincent meski berisikan pria tua yang kasar jelas merupakan feel good movie. Konklusinya tidak saja berkesan positif tapi juga menunjukkan bahwa semua karakter yang ada semakin memiliki harapan, dan mendekati definisi "orang baik". Sebuah konklusi yang tidak saja klise tapi naif. Tapi tidak semua film harus berbeda, dan kata "klise" tidak selalu berakhir buruk. St. Vincent terbukti berhasil mengaduk-aduk perasaan lewat komedi lucu dan drama positif yang hangat. Sama seperti kisahnya yang membawa pesan bahwa orang seperti Vincent pun tidak serta merta buruk. Bahkan bagi Oliver, Vincent adalah seorang saint.

AGENT CARTER - SEASON 1 (2014-2015)

Di tengah anggapan bahwa genre superhero kekurangan sosok wanita tangguh sebagai fokus utama, wajar saja bila Peggy Carter (Hayley Atwell) menjadi favorit banyak penonton. Ada alasan kuat mengapa dia menjadi orang yang paling dihormati (sekaligus dicintai) oleh Steve Rogers/Captain America. Memiliki integritas, ketegasan, serta sanggup berubah menjadi sosok badass saat beraksi adalah beberapa diantaranya. Tapi yang paling penting, Peggy mampu mewakili sosok wanita sebagai minoritas dan dipandang sebelah mata dalam bidang yang ia geluti. Setelah one-shot yang rilis pada 2013, tidak mengherankan saat Agent Carter memiliki serial televisi sendiri. Diputar sebagai pengisi saat Agent of S.H.I.E.L.D menjalani libur tengah musim, serial delapan episode ini ber-setting pada 1946. Saat itu perang telah berakhir, dan Peggy bekerja sebagai sekretaris untuk S.S.R (Strategic Scientific Reserve). Meski punya reputasi tinggi saat perang, di tempat barunya itu Peggy hanya melakukan hal sepele, seperti menyiapkan berkas atau makan siang.

Konflik utamanya melibatkan Howard Stark (Dominic Cooper) yang dituduh menjual senjata berbahaya ke pihak musuh. Howard sendiri menyatakan secara langsung pada Peggy bahwa ia dijebak, dan segala senjata itu telah dicuri dari brankasnya. Untuk itu ia meminta bantuan Peggy membersihkan nama baiknya. Dibantu oleh Jarvis (James D'Arcy) yang merupakan pelayan Howard, secara diam-diam Peggy melakukan penyelidikan sendiri tentang siapa sesungguhnya pelaku pencurian tersebut. Cerita berjalan, interaksi antar karakter pun semakin banyak terjadi. Sampai akhirnya saya sampai pada keyakinan bahwa kualitas penulisan serial televisi Marvel jauh di bawah filmnya. Saya tidak menonton Agent of S.H.I.E.L.D, tapi dari berbagai respon yang hadir, ekspektasi akan kehadiran serial yang terhubung dengan cinematic universe lebih banyak gagal terpenuhi. Itulah yang terjadi pada Agent Carter meski saya cukup terhibur, tapi hiburan satu ini tidak hanya brainless tapi begitu pointless.

Kita tahu salah satu tema besar serial ini adalah perjuangan hak seorang wanita. Sebagai karya dari Marvel yang termasuk bagian MCU, tentu jangan berharap kompleksitas karakter. Hitam dan putih terpisah dengan begitu jelas. Hal serupa terasa dalam penggambaran interaksi Peggy dengan para pria yang meremehkan dirinya. Saat Peggy merupakan wanita yang sanggup melakukan banyak hal, menjalankan tugas macam apapun, rekan kerja di kantornya hanya sekelompok pria bodoh yang tidak tahu apa-apa. Belum lagi ditambah sikap menyebalkan yang mereka tunjukkan pada Peggy. Sejujurnya itu membuat serial ini mencapai tujuannya. Saya bersimpati pada Peggy dan mendukungnya untuk bisa membuktikan diri pada rekan kerjanya. Berhasil, tapi dengan cara yang murahan. Sekuat apapun usaha serial ini menampilkan Detektif Thompson (Chad Michael Murray) sebagai ahli interogasi (cukup menghibur) atau Chief Dooley (Shea Whingham) sebagai ketua yang keras, kesan bodoh tetap paling kuat terasa.
Karakter beserta interaksinya adalah kekuatan utama Marvel. Berbagai sosok menarik telah dihadirkan berkat kualitas penulisan kuat, mulai dari Tony Stark sampai Guardians of the Galaxy. Penulisan serial ini dimulai dengan tujuan sama tapi dengan kualitas berbeda, berujung pada hasil akhir berbeda pula. Obrolan antara Peggy dan Jarvis selalu menarik bahkan sampai delapan episode. Berkebalikan dari Peggy, Jarvis adalah pria yang tampak tidak bisa diandalkan, bahkan takut pada istrinya. Kombinasi dua tokoh berlawanan memang merupakan formula klise tapi efektif dalam buddy cop. Seiring berjalannya waktu saya mulai menyukai Jarvis dengan loyalitas yang ia tunjukkan. Obrolannya dengan Peggy sering memunculkan momen lucu, membuat saya terus bertahan sampai serial usai meski kualitasnya medioker. Tapi disaat jokes dari Marvel biasanya benar-benar lucu, kelucuan Peggy-Jarvis tidak lebih dari guilty pleasure. Dialog yang terlontar bodoh dan lagi-lagi pointless, tapi mampu memberikan kesenangan. Tapi tunggu saja beberapa menit, saya akan melupakan apa yang baru mereka bicarakan.
Disaat rekan kerja Peggy adalah sekumpulan agen bodoh, tidak ada yang lebih mengecewakan dari penggambaran Howard Stark. Kemunculannya di Captain America: the First Avenger menghadirkan kesan sama seperti Peggy: penonton ingin ia kembali. Semula saya berharap Howard akan jadi Tony-nya Agent Carter. Tapi disaat Tony Stark adalah billionaire, playboy, philanthropist, with cool armor and responsibility, sang ayah tidak lebih dari milyuner playboy yang menyebalkan. Tony Stark adalah pria sekaligus teman yang brengsek, tapi disaat bersamaan penonton bisa bersimpati. Tapi Howard pada setiap kemunculannya hanya menimbulkan masalah baru bagi Peggy sambil bercinta dengan tiap wanita yang ia temui. Howard Stark mengecewakan, begitu pula dengan kebanyakan karakter lain, menjadikan Agent Carter gagal menyuguhkan kekuatan utama MCU: likable and interesting characters.

Plot? Bagaimana dengan plot? Tidak menarik, penuh lubang, dan terlalu berusaha menjadi kompleks dengan twist. Tanpa kualitas penulisan baik, bukan kompleksitas mengikat yang muncul, tapi kompleksitas berantakan yang membuat saya tidak lagi peduli. Apa yang sedang terjadi dalam suatu episode? Belum tentu saya tahu sepenuhnya. Saya hanya menanti aksi Peggy Carter dan interaksinya dengan Jarvis. Sentral cerita adalah pencarian dalang pencurian barang-barang Howard Stark yang di-tease bakal terikat dengan suatu hal yang lebih besar. "Hal yang lebih besar" membuat saya tetap berusaha mengikuti ceritanya, sampai pada dua episode terakhir hal besar itu tidak pernah benar-benar besar. Pengungkapan "Leviathan" beserta rencana mereka yang seharusnya berpuncak pada finale hadir begitu datar. Cukup menghibur, tapi jelas bukan sajian cocok sebagai episode terakhir, apalagi setelah semua konspirasi dan misteri yang dibangun sedari awal.

Dengan begitu banyak sisi negatif anda mengira saya akan memberi penilaian buruk pada serial ini bukan? Tapi tidak. Saya katakan lagi bahwa Agent Carter adalah guilty pleasure.....at it's best. Banyak aspek serial ini mengecewakan, termasuk plot utamanya. Tapi jika bersinggungan dengan sesuatu yang berkaitan dengan Peggy Carter, serial ini cukup berhasil. Dia adalah heroine tangguh yang sudah lama ditunggu kehadirannya dalam MCU selain Black Widow. Tiap Peggy beraksi, selalu ada hiburan menyenangkan muncul. Saya berhasil mendukung karakternya, interaksi yang melibatkan Peggy selalu menarik (meski bodoh), dan yang paling penting drama tentang sosok Steve sebagai hantu masa lalu bagi Peggy hadir cukup kuat. Disaat konklusi plot utama mengecewakan, konklusi drama Peggy-Steve terasa hangat. Ditambah akting bagus Hayley Atwell khususnya saat harus bersinggungan dengan Steve Rogers dimana ia mampu tampil emosional tanpa dramatisasi berlebih, karakter Peggy Carter terasa makin solid, makin mudah disukai. Mengecewakan di berbagai sisi, tapi disaat sebuah serial berjudul Agent Carter mampu menghadirkan sang titular character dengan baik, tidaklah layak menyebutnya sebagai kegagalan.

87th ACADEMY AWARDS WINNERS LIST & "AWESOME" MOMENTS

Kemarin ajang Academy Awards (Oscar) yang ke-87 telah digelar. What to expect from 3 hours of awards show? Banyak. Apa yang membuat Oscar menarik untuk disaksikan bukan sekedar mencari tahu pemenang dari tiap kategori tapi juga momen diantara semua itu. Ada momen emosional, momen lucu, sampai momen aneh yang tidak jarang berakhir memalukan. Jadi sebelum sampai pada daftar pemenang, saya akan merangkum beberapa momen favorit saya pada perhelatan Oscar kemarin. Berikut beberapa diantaranya:

1. Adele Dazeem & Glom Gazingo
John Travolta identik dengan weirdness dalam setiap penampilannya di malam Oscar khususnya tiga tahun terakhir. Setelah penyebutan kacau "Les Miserables" dan memanggil Idina Menzel sebagai Adele Dazeem, pelantun "Let it Go" tersebut mendapat kesempatan "balas dendam" saat ia dan Travolta naik panggung bersama. Idina tidak melewatkan kesempatan itu dengan memperkenalkan partnernya dengan nama yang tidak kalah aneh, "Glom Gazingo". Lucu, tapi berubah menjadi awkward sekaligus aneh saat Travolta kembali berulah dengan menyentuh wajah Idina...in a creepiest way possbile. (mostly scripted, but still funny)

2. Everything is Awesome with the Sound of Music
Pada akhirnya "Glory" berhasil memenangkan "Best Original Score" mengalahkan "Everything is Awesome", tapi Tegan and Sara dan The Lonely Island jelas pemenangnya saat harus tampil di atas panggung. Menggunakan set meriah, keceriaan lagu itu dihantarkan dengan sempurna. Saya tersenyum..semua penonton tersenyum. Belum lagi saat Will Arnett muncul dengan kostum Batman menyanyikan sebaris lirik tentang Batman yang begitu lucu.

Tapi untuk musical scene, tidak ada yang lebih mengesankan selain Lady Gaga. Menanggalkan semua keanehan dan musik pop catchy, Gaga menyanyikan medley lagu-lagu dalam film The Sound of Music sebagai tribute...and she's surprisingly amazing! Terkesan anggun dengan performa ala Broadway, Lady Gaga membuktikan talenta aslinya sebagai seorang penyanyi.

3. Neil Patrick Harris with underwear
Tiap malam Oscar selalu menghadirkan parodi dari film-film yang menjadi nominasi, tidak terkecuali kemarin. NPH memparodikan adegan ikonik dari Birdman saat ia harus naik panggung hanya dengan celana dalam di tengah kerumunan penggemarnya sambil diiringi scoring film tersebut. Semakin luar biasa lucu saat ditutup dengan kehadiran Miles Teller memainkan drum solonya dari film Whiplash. NPH pun bereaksi layaknya J.K. Simmons (not my tempo!)

4. Neil Patrick Harris and his Oscar predictions
Mungkin NPH bukan host terbaik Oscar. Banyak lelucon yang gagal, tapi banyak juga momen menarik. Selain parodi di atas, momen sulap ini pun menarik. NPH membuka prediksi yang telah ia tulis beberapa hari lalu. Bukannya daftar pemenang, prediksi itu berisi momen-momen aneh yang terjadi pada malam tersebut. 

5. "Ida" won Best Foreign Language Film
Saya memang memprediksi Wild Tales dari Argentina bakal memenangkan kategori ini, dan saya senang akhirnya salah. Film Polandia garapan Pawel Pawlikowski ini merupakan salah satu favorit saya, bahkan seharusnya cukup layak masuk nominasi Best Picture. Kemenangan Ida adalah satu-satunya momen saat saya berteriak kegirangan pada Oscar tahun ini.

6. Jessica Chastain presented Best Cinematography for Chivo
It's cute...and sweet.

7. The Surprises that created tension
Sebelum dimulai, pesaing utama untuk Best Picture hanyalah Birdman dan Boyhood. Saya menjagokan Boyhood, tapi momentum ada pada Birdman yang memenangkan PGA. Tapi kemudian The Grand Budapest Hotel seolah mendapat kesempatan saat memenangkan Best Costume Design, Best Production Designe dan Best Makeup and Hairstyling. Sebagai peraih nominasi terbanyak bersama Birdman, tiga piala itu sedikit memberikan harapan, apalagi jika akhirnya memenangkan Best Original Screenplay seperti yang terjadi pada WGA. Tapi kemudian Whiplash menghentak. Setelah (sesuai prediksi) memenangkan Best Sound Mixing, film "kecil" ini mengalahkan Boyhood pada Best Editing. Membuktikan kecintaan Academy pada film ini sekaligus makin memupuskan harapan Boyhood jadi yang terbaik. Tensi meninggi, karena jika Whiplash menang di Best Adapted Screenplay, maka inilah penantang utama Birdman. Tapi akhirnya The Imitation Game membawa pulang naskah adaptasi terbaik, dan Birdman mendapat naskah asli terbaik, mengunci kemenangan yang sudah bisa diprediksi bagi film tersebut. Sekaligus memberi kekecewaan besar pada saya karena Boyhood pulang nyaris dengan tangan kosong (hanya Patricia Arquette yang menang di Best Supporting Actress).

Winners List:
(dari 21 kategori, tebakan saya hanya benar 15. Bad prediction)

BEST PICTURE: Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
BEST DIRECTOR: Alejandro Gonzales Inarritu
BEST ACTOR: Eddie Redmayne 
BEST ACTRESS: Julianne Moore 
BEST SUPPORTING ACTOR: J.K. Simmons
BEST SUPPORTING ACTRESS: Patricia Arquette
BEST ORIGINAL SCREENPLAYBirdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
BEST ADAPTED SCREENPLAY: The Imitation Game
BEST ANIMATED FEATURE FILM: Big Hero 6
BEST FOREIGN LANGUAGE FILM: Ida
BEST DOCUMENTARY - FEATURE: Citizenfour
BEST ORIGINAL SCORE: The Grand Budapest Hotel 
BEST ORIGINAL SONG: Glory
BEST SOUND EDITING: American Sniper
BEST SOUND MIXING: Whiplash
BEST PRODUCTION DESIGN: The Grand Budapest Hotel
BEST CINEMATOGRAPHY: Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)
BEST MAKEUP AND HAIRSTYLING: The Grand Budapest Hotel
BEST COSTUME DESIGN: The Grand Budapest Hotel
BEST FILM EDITING: Whiplash
BEST VISUAL EFFECTS: Interstellar

HOSTEL (2005)

Dibuka dengan kalimat "QUENTIN TARANTINO presents" bukan berarti film ini kental dengan gayanya.. Ya, banyak kekerasan, tapi Hostel tidak akan memberikan cerita-cerita brilian ala Tarantino. Bukan rahasia lagi bila Tarantino adalah pecinta genre movie yang banyak berteman dengan pembuat genre movie (yang tidak sejenius dia) dan salah satunya adalah Eli Roth. Film kedua Roth ini bisa dibilang termasuk pemimpin kebangkitan genre torture porn bersama Saw yang rilis setahun sebelumnya tapi baru benar-benar mengeksploitasi penyiksaan pada film kedua (rilis juga pada 2005). Sederhana saja cerita dalam film ini. Tiga orang remaja laki-laki dengan libido tinggi melakukan backpacking berkeliling Eropa. Sesampainya di Amsterdam, mereka bertemu dengan seorang pria yang mereferensikan sebuah penginapan di Slovakia. Konon penginapan tersebut berisikan banyak wanita cantik dan seksi yang tergila-gila pada pria Amerika. Tanpa pikir panjang ketiganya langsung menuju kesana. Penonton pun tahu apa yang akan menimpa mereka.

Lebih dari 30 menit pertama diisi eksploitasi seksual. Wanita cantik bertelanjang bulat yang selalu bertingkah ingin disetubuhi bertebaran disini. Semua itu adalah kesenangan yang diberikan Eli Roth sebelum sajian utama berupa gorefest yang juga penuh kesenangan. Nama subgenre-nya adalah torture porn. Disaat porn adalah film yang hanya menyajikan seks belaka tanpa cerita maupun karakter, maka torture porn adalah fim yang hanya menyajikan kekerasan dalam penyiksaan. Semakin penonton terangsang semakin berhasil pula film porno. Sedangkan "porno penyiksaan" bakal semakin baik saat penonton berhasil dibuat ngilu, berteriak, atau bersorak kegirangan melihat darah sampai potongan tubuh manusia berhamburan. Sejauh ini film terbaik dalam jenis itu bagi saya adalah kesintingan dari Jepang bernama Grotsque (review)
Keep it simple and never try to be smart is two of the most important aspects from good torture porn. Jika anda menonton film seperti ini dengan harapan cerita bagus berkelas Oscar atau Cannes, maka entah anda bodoh, keras kepala, atau keduanya. Saya hanya berharap dihajar oleh kekerasan gila melampaui batas dalam menonton Hostel. Untuk hal itu sendiri Eli Roth sudah melakukan yang terbaik, setidaknya dalam tataran film dengan rating "R", bukan "NC-17". Dimulai dengan lambat, kekerasannya cukup untuk membuat saya ngilu meski tidak pada semua bagian. Tentu saja sesuai dengan aturan tak tertulis, semua penyiksaan dimulai dengan mencongkel atau memotong kuku/jari. Perlahan tapi pasti. Saya sedikit dikecewakan oleh total screen time penyiksaan yang kurang lebih hanya 1/4 durasi, tapi kualitasnya menutupi kuantitas. Sebuah adegan yang melibatkan bola mata cukup terasa menyakitkan sekaligus menjijikkan. Satu yang pasti: ikonik. Memuaskan, tapi dengan kuantitas minim itu, Hostel tidak akan pernah menjadi torture porn bagus.

Pengemasan Eli Roth terasa tanggung bahkan ragu disini. Dia nampak tidak ingin filmnya "kosong". Karena itu ditambahkanlah sebuah kritik sosial tentang orang kaya, keadaan sosial buruk yang merusak anak-anak, sampai sindiran bagi Amerika. Tapi percayalah semua itu hanya tempelan. Kritik sosial akan berhasil saat penonton dibuat muak, atau merasa ngeri dengan kondisi yang muncul. Hostel jelas gagal menciptakan kesan itu. Naskahnya berusaha memasukkan berbagai macam konflik, bahkan hingga film mencapai konklusi. Menyebut film ini sebagai kritik sosial sama saja mengamini A Serbian Film sebagai kritik pada pemerintah. Semua itu hanya alasan kosong untuk memberikan excuse pada parade kebrutalannya. Eli Roth terasa takut filmnya bodoh, yang justru membuat Hostel semakin bodoh (in a negative way) karena sok pintar. Tapi ada ketidak konsistenan disini saat pada beberapa bagian, Eli Roth sengaja membuat adegan bodoh yang konyol. Hostel ada diantara batas serius dan brainless tanpa berhasil masuk  ke salah satunya.
Sekarang sebagai contoh tengok Grotesque. Tidak ada plot disana, tidak ada konflik rumit pula yang muncul. Filmnya hanya berisi sepasang kekasih yang diculik, lalu disiksa secara perlahan dengan cara paling menyakitkan yang bisa kita bayangkan. Sederhana, tapi membuat film memiliki fokus dan akhirnya maksimal sebagai torture porn. Meski over-the-top, uniknya Grotesque justru punya karakter yang jauh lebih believable daripada Hostel. Tidak ada kesan sok romantis, tidak ada kesan sok pahlawan, tidak ada keputusan bodoh yang menjadi jalan menciptakan ketegangan dipaksakan. Hostel sebaliknya. Usaha keras memberikan konflik serta karakterisasi disaat tokohnya tidak tergarap dengan kuat membuatnya semakin bodoh. Bukan bodoh yang menyenangkan pastinya. 

Tapi saya sendiri suka dengan production value film ini. Pengemasan torture chamber-nya cukup creepy dengan nuansa gelap, darah, potongan tubuh manusia, serta alat penyiksaan dimana-mana meski bicara alat penyiksaan apa yang akhirnya muncul ada di bawah ekspektasi setelah apa yang saya lihat pada museum penyiksaan di pertengahan film. Ketegangan tidak terlalu intens, tapi tidak flat sama sekali. Meski berfokus pada penyiksaan, Eli Roth masih sanggup menyuguhkan beberapa scare jump efektif dan klimaks yang dinamis. Hostel adalah jawaban saya pada pertanyaan "seperti apa film bagus itu?" Apakah harus punya cerita bagus? Twist cerdas? Akting kuat? Harus "nyeni"? Jawabannya tidak. Film bagus tidak harus memiliki semua itu. Kuncinya hanya satu: memenuhi hakikatnya. Sebuah komedi yang penting lucu, sebuah horror yang penting menyeramkan, dan torture porn yang penting diisi gorefest gila, tidak peduli seberapa bodoh filmnya. Hostel justru gagal tampil maksimal (meski tidak buruk) karena mencoba lebih berbobot.

THE BETTER ANGELS (2014)

"The Better Angels" is Terrence Mallick's movie not directed by Terrence Mallick. Penempatan kamera low-angle yang menciptakan kesan wide dan megah, eksploitasi lighting natural termasuk cahaya matahari yang benderang di belakang karakter, menjadikan alam sebagai sentral melebihi sosok manusianya, wanita menari kesana kemari diikuti pergerakan kamera yang seolah melayang, penggunaan voice over lirih daripada dialog, sampai selipan religius adalah segala hal yang selalu kita temui dalam karya Mallick khususnya tiga film terakhir (The New World, The Tree of Life & To the Wonder). Apa saja yang saya sebutkan diatas juga terdapat dalam debut penyutradaraan A.J. Edwards yang berkisah tentang masa kecil Abraham Lincoln. Dinarasikan oleh sepupu Lincoln yang sudah tinggal dengannya sedari kecil, Dennis Hanks (Cameron Mitchell Williams), The Better Angels dibuka dengan suasana Lincoln Memorial yang megah nan sunyi sebelum berpindah ke sebuah hutan di Indiana pada tahun 1817.

Lincoln (Braydon Denney) saat itu masih berusia delapan tahun dan tumbuh sebagai anak pendiam yang suka menyendiri. Ayahnya, Thomas Lincoln (Jason Clarke) adalah tukang kayu sekaligus petani jagung digambarkan sebagai seorang ayah yang baik, walaupun sering bersikap keras (ex: hukum cambuk atau larangan makan malam bagi Abe) tapi ia tidak doyan mabuk-mabukan dan berjudi seperti kebanyakan pria pada masa itu. Sang ibu, Nancy (Brit Marling) adalah wanita religius yang amat menyayangi Abe. Meski harus hidup miskin dan membuatnya tidak bisa membaca, Nancy sadar sang putera punya bakat besar. Pemikiran itulah yang mendorongnya untuk membujuk sang suami supaya menyekolahkan Abe, meski akhirnya Thomas menolak. Menurutnya, sang putera akan lebih banyak belajar dengan bekerja di hutan. Tapi kita semua tahu bocah pendiam yang miskin ini kelak bakal menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat, bahkan salah satu Presiden terbaik sepanjang masa.

"All that I am, or hope to be, I owe to my angel mother" Sebaris kalimat itu membuka film ini, dan kita tahu kata "angels" pada judul film merujuk pada siapa. Ini adalah cerita seorang anak yang tumbuh menjadi orang hebat seperti yang kita tahu berkat segala cinta , kasih sayang, serta pelajaran dari sang ibu. Untuk Abraham Lincoln sendiri, ada dua sosok ibu dalam hidupnya. Pada 1818, Nancy meninggal dunia akibat keracunan susu. Nancy mengajarkan tentang Tuhan, harapan, dan berulang kali meyakinkan sang putera bahwa ia anak berbakat. Setahun kemudian, hadirlah Sarah (Diane Kruger) dalam kehidupan Abe setelah ayahnya menikah lagi. But she's not that wicked step-mother "cliche". She's another angel for Abraham Lincoln. Seperti yang terucap dalam sebuah dialog, Sarah tidak pernah mencoba menggantikan sosok Nancy, tapi ia akan mencintai Abe sebesar cinta mendiang ibunya. Sarah digambarkan sebagai sosok yang melanjutkan impian Nancy, yakni menyekolahkan Abe, membuatnya berpeluang meraih penghidupan lebih baik.
The Better Angels menggambarkan sosok ibu layaknya malaikat, dan untuk itu filmnya berhasil. Melihat kedua yang secara paras tentu saja cantik itu tersenyum, berlarian di tengah hutan dan ilalang, mengucapkan kalimat demi kalimat penuh rasa cinta lewat nada lirih adalah cara film ini berhasil melakukan itu (sama seperti bagaimana Mallick merubah Jessica Chastain menjadi malaikat dalam The Tree of Life). Saya merasakan casting sempurna untuk karakter Nancy dan Sarah, meski penggunaan Diane Kruger terasa sebagai historical inaccuracy mengingat dari berbagai gambar, Sarah Bush Lincoln tidaklah secantik itu. Tapi karena hal itu dilakukan sebagai penyesuaian mood serta rasa (yang berhasil), saya memaklumi. 

Bicara soal mood, layaknya Mallick, The Better Angels pun dikemas bukan sebagai plot-driven melainkan mood-driven. Filmnya mengalir tanpa ada alur yang menggiring penonton. Tentu ada beberapa momen episodik untuk menuturkan apa yang tengah terjadi, tapi mayoritas filmnya bergerak liar, terasa mengawang tanpa ada sedikitpun narasi yang menahan saya untuk tetap fokus. Kebahagiaan dituturkan dengan memperlihatkan karakternya berlarian penuh canda tawa di tengah hutan, sedangkan kesedihan dibangun saat karakternya berdiri diam, memandang kosong seperti tengah membuka kembali memori masa lalu yang menimbulkan rasa haru dalam duka. Sangat Mallick tentu saja, mengingat ia adalah orang yang melakukan banyak riset untuk film ini, bahkan sempat berencana menyutradarainya sendiri sebelum diserahkan pada A.J. Edwards. Mallick sendiri duduk sebagai salah satu produser. 
Edwards juga bukan orang baru bagi Mallick. Dia adalah second unit director dan co-editor dalam The Tree of Life, To the Wonder, serta Knight of Cups yang akan segera rilis. Dengan posisi tersebut, dapat disimpulkan ia merupakan salah satu orang kepercayaan Mallick, serta termasuk yang paling dekat dengannya saat proses produksi. Maka tidak heran treatment yang diadposi begitu mirip (kalau tidak boleh dibilang sama persis). Satu-satunya pembeda adalah pemilihan warna hitam putih yang entah bertujuan untuk membangun kesan masa lampau, atau sekedar untuk menjauhkan diri dari kesan "sangat Mallick". Dengan cerita seputar keluarga dimana sang ayah menjadi sosok keras namun sebenarnya penuh cinta, dan sang ibu bagaikan malaikat, The Better Angels semakin serupa dengan The Tree of Life. Tapi Edwards melupakan poin penting masterpiece tersebut, yakni cerita kuat. The Tree of Life bisa begitu berkesan bukan hanya karena gambar indah dan kesan filosofis, tapi juga drama keluarga yang dalam. Cinta, sedih, duka, kematian, semuanya bisa dirasakan penonton karena ada pondasi kuat. 

Sedangkan film ini hampir 100% bergantung pada mood, membuatnya lebih dekat dengan To the Wonder secara interpretasi penggarapan. Masalahnya, To the Wonder memang nampak diniati seperti itu dari awal. Kita tidak butuh cerita, kita tidak butuh latar belakang, yang penting adalah penggambaran segala sendir percintaan. Meski bukan mahakarya, film tersebut berhasil mencapai tujuan. Sebaliknya, The Better Angels punya cerita yang harus dituturkan. Penggambaran kasih sayang ibu memang cukup berhasil, tapi narasinya punya banyak aspek lain. Daripada diajak lebih mendalami masa kecil Abraham Lincoln disaat tidak sedang mengeksploitasi mood, saya justru terlampau sering diajak menikmati keindahan hutan Indiana yang meski tersaji indah namun terasa pointless. Saya paham Abe bisa menjadi sedemikian besar karena sosok ibu, tapi untuk menuturkan itu saja tidak perlu film berdurasi 95 menit. Bahkan sepanjang film saya hampir tidak menemukan alasan kenapa Abe begitu spesial kecuali dari ucapan kedua ibunya, atau lewat voice over.

Saya ingin dibawa tahu secara lebih jauh, merasakan secara lebih dalam. Karena tidak berhasil membuat itu, film ini terasa tidak lebih dari sekedar dokumentasi indah kehidupan sehari-hari sebuah keluarga tanpa membawa lebih jauh memahami keluarga tersebut. Terasa hampa. Tapi The Better Angels memang penuh sajain visual memukau. Warna hitam putih tidak mematikan potensi keindahan, tapi memberikan dimensi baru dari apa yang selama ini sudah diperlihatkan Terrence Malick. Meski kali ini agak kecewa, saya pastinya akan menyempatkan waktu untuk menonton kembali film ini nantinya (dan bisa jadi menimbulkan penilaian yang lebih baik). Menarik untuk ditunggu, bagaimana kelanjutkan karir A. J. Edwards sebagai sutradara di masa datang. Khususnya saat ia menggarap materi original yang bukan buah hasil pemikiran Malick. 

KINGSMAN: THE SECRET SERVICE (2014)

Another adaptation from Mark Millar's comic book. There will be blood...and violence and black comedy and very cool visual style. Setelah pembunuh yang mampu membelokkan peluru dan superhero amatiran, tentu saja film lain berbasis komik Millar amat menarik ditunggu. Eggsy (Taron Egerton) adalah remaja dengan bakat luar biasa termasuk IQ tinggi yang justru berakhir sebagai bocah bandel yang gemar mencuri. Harry Hart (Colin Firth) adalah agen rahasia yang merasa bersalah atas kematian ayah Eggsy dalam suatu misi dan bertekad membalas hutang budi itu. Kita tahu arah ceritanya menuju kemana. Harry akan menjadi mentor bagi Eggsy, dan Eggsy sendiri bakal berkembang dari remaja berbakat bandel menjadi agen rahasia yang handal. Bukan formula yang segar, tapi pengemasan Matthew Vaughn mengingatkan pada saya kenapa Kick-Ass begitu menyenangkan (Although I'm one of the "rare species" who think that the sequel is slightly better

Agen rahasia dengan gadget canggih tentu butuh lawan sepadan. Untuk itu hadirlah milyuner Richmond Valentine (Samuel L. Jackson) dan tangan kanannya, seorang wanita dengan kaki pedang, Gazelle (Sofia Boutella) yang berencana menghapuskan mayoritas peradaban umat manusia demi menciptakan dunia yang lebih baik. Dengan kehadiran penjahat megalomania, berbagai persenjataan canggih yang tersembunyi dalam peralatan "sepele", agen rahasia berpenampilan necis, joke tentang martini, sampai ending yang "seksi", Kingsman: The Secret Service jelas merupakan parodi dari film James Bond, khususnya era Roger Moore lengkap dengan tone komikal. Bahkan beberapa dialognya menghadirkan referensi secara gamblang daripada tersirat. Matthew Vaughn dan penulis naskah Jane Goldman memang tidak ingin terang-terangan menyuguhkan identitas film ini. Penuh lelucon parodi yang lucu (bagi penonton yang paham), tapi ini bukan parodi konyol macam Austin Power. Film ini lebih berdarah-darah, brutal, stylish, punya momen kelam, tapi tetap ceria dan sadar diri.
Maaf bagi para fans James Bond khususnya era Moore atau Connery (even Brosnan), Kingsman: The Secret Service justru merupakan parodi yang lebih menyenangkan daripada film yang diparodikan. Kuncinya adalah keberhasilan Vaughn untuk menggarapnya menjadi sajian keren, over-the-top, berkesan cartoonish tapi tidak terlalu cheesy. Lihat betapa banyak aspek film Bond yang dipinja Vaughn, lalu berhasil ia sulap menjadi badass, jauh dari kesan konyol. Agen Kingsman beraksi dengan setelan keren, bahkan tetap keren dan rapih setelah berbaku tembak secara brutal. Mereka memakai peralatan-peralatan canggih seperti payun sebagai senapan sekaligus tameng, kacamata multifungsi, dan sebagainya. Berbagai gadget yang..well pastinya jauh dari kesan realistis jika dibandingkan Jason Bourne atau Bond versi Craig. Bahkan pada kimaksnya ada momen yang melibatkan adegan aksi luar angkasa layaknya Moonraker. Tapi alih-alih repon "that's silly!", berkat pengemasan Vaugh saya justru berujar "that's cool!"
Kemudian ada kekerasan. Walau sifatnya parodi, sebagai adaptasi komik Mark Millar, kekerasan adalah aspek esensial yang berguna untuk mengesankan banyak hal, mulai dari bahaya, kehidupan keras, sampai pemicu ketegangan. Mungkin dibandingkan Kick-Ass, kekerasan dalam film ini lebih kuat unsur style over substance, tapi tetap tidak mengurangi fakta bahwa semua itu berhasil memberikan kesenangan luar biasa. Kingsman: The Secret Service punya kekerasan yang menyenangkan seperti darah bertumpahan, bahkan badan yang terbelah pun ada. Menyenangkan, karena hal itu tidak banyak saya jumpai dalam film big budget sekarang ini, apalagi yang kental unsur komedinya. Kalaupun ada, belum tentu mampu dieksekusi sekeren apa yang dilakukan Vaughn. Brutal, tapi tetap mempertahankan tone ringan, termasuk adegan di klimaks saat Vaughn mengganti cipratan darah masif dengan ledakan warna warni. Bagian klimaks (kurang lebih 20-30 menit akhir) luar biasa. Setelah intensitas yang agak naik turun (meski tetap keren), Vaughn menggila di akhir. Pergerakan kamera, editing cepat, dan musik meriahnya meningkatkan intensitas dan ketegangan sampai ke tingkat maksimum. Saya menahan nafas, lalu kemudian bersorak gembira karenanya.

Masih tentang kekerasan, bagi penonton Indonesia nampaknya tengah bernasib sial. Sebuah adegan massacre di Gereja dipotong habis-habisan oleh LSF, dengan total durasi kabarnya mencapai 12 menit. Saya tidak tahu sebrutal apa adegan itu, tapi satu yang pasti, itu bukan sekedar glorifikasi kekerasan melainkan momen esensial yang berdampak besar baik bagi perkembangan karakter maupun sisi emosional cerita. Melihat apa yang terjadi setelahnya, saya tahu itu akan menjadi momen krusial khususnya bagi karakter Harry dan Eggsy. Menghilangkannya tidak saja sedikit mengurangi kesenangan, tapi juga secara drastis menghilangkan potensi kedalaman cerita yang ada. Apapun alasannya, pemotongan adegan ini sudah merendahkan esensi media film itu sendiri. Lewat Kingsman: The Secret Service, Matthew Vaughn berhasil menyajikan sebuah aksi menghibur, lengkap dengan parodi penuh kelucuan berbasis rangkaian referensi film James Bond. Karakternya menarik dan punya kedalaman cerita yang cukup. Jika suatu hari nanti franchise James Bond ingin kembali merubah tone menjadi ringan, Matthew Vaughn jelas layak menjadi sutradara.