25 Okt 2014

OBVIOUS CHILD (2014)

Diangkat dari sebuah film pendek berjudul sama yang juga ditulis dan disutradarai oleh Gillian Robespierre, Obvious Child akan mengagkat kisah tentang kehamilan diluar nikah dan aborsi. Tapi tentu saja dengan genre komedi-romantis yang diusung, film ini akan menyikapi tema sensitif tersebut dengan berbagai candaan, apalagi karakter utamanya adalah seorang stand-up komedian. Karena ini juga adalah mumblecore, maka bersiaplah dengan kehadiran dialog-dialog panjang yang meluncur cepat dari mulut karakter-karakternya dan seringkali dialog tersebut keluar seenak jidat tanpa peduli konteks pembicaraan. Karakter utama dalam film ini adalah Donna Stern (Jenny Slate), seorang wanita yang di siang hingga sore hari bekerja di sebuah toko buku dan malam harinya menjadi seorang comic di sebuah bar. Salah satu ciri khas materi yang ia bawakan dan juga yang membuatya dicintai penonton adalah kehidupan sehari-hari. Donna tidak segan mengutarakan berbagai masalah pribadinya. Dia tidak ragu mengungkap berbagai hal yang orang lain anggap sebagai suatu hal yang sifatnya rahasia pribadi untuk menjadi bahan komedi, termasuk permasalahan yang ia hadapi bersama pacarnya, Ryan (Paul Briganti).

Tapi betapa terkejutnya Donna saat Ryan memberitahu bahwa ia sudah berselingkuh dengan wanita yang tidak lain adalah teman Donna sendiri. Merasa terpukul dan belum bisa move-on, Donna pun menghabiskan setiap harinya dalam kesedihan dan kekacauan. Yang dia lakukan hanya meninggalkan pesan-pesan tidak jelas di voice mail Ryan, minum-minum, bahkan stalking di depan rumah mantan pacarnya itu. Kehidupannya kacau, bahkan saat tampil diatas panggung Donna hanya meracau tentang semua kegalauannya itu sambil mabuk. Sampai suatu malam usai sebuah pertunjukkan yang kacau ia bertemu dengan Max (Jake Lacy). Max adalah tipikal pria baik dan sopan, yang mana bukan merupakan tipe idaman Donna. Tapi demi melupakan semua kesedihannya, Donna pun bersedia menghabiskan malam dirumah Max dan berhubungan seks dengannya. Tapi hubungan yang awalnya hanya direncanakan sebagai one night stand itu menimbulkan masalah saat Donna justru mengandung anak dari Max.

STARRED UP (2013)

Prison movie selalu penuh dengan kekerasan dan itu wajar saja karena kehidupan dalam penjara yang memang keras. Tapi yang membuat saya makin menyukai film bertemakan kehidupan keras dalam penjara tidak hanya itu, karena pasti ada kisah drama yang kuat, akting maksimal, serta tidak jarang kejutan-kejutan tak terduga bermunculan bahkan di pertengahan film. Film asal Inggris yang satu ini pun tidak jauh berbeda, hanya saja sentuhan dramanya jauh lebih kental. Starred Up disutradarai oleh David Mackenzie dan ditulis naskahnya oleh Jonathan Asser. Asser sendiri mendapatkan ide untuk menulis naskahnya berdasarkan pengalaman saat ia menjadi seorang terapis volunteer di penjara Wandsworth yang banyak diisi oleh penjahat-penjahat paling berbahaya di Inggris. Judul Starred Up sendiri merupakan sebutan untuk mereka yang ditransfer lebih cepat dari Young Offender Institution (penjara untuk usia 18-20) ke penjara bagi dewasa. Jadi bisa disimpulkan orang yang mendapat sebutan itu adalah pembuat onar yang berada dalam taraf "luar biasa". 

Eric Love (Jack O'Connell) adalah remaja pembuat onar yang baru saja ditransfer ke penjara dewasa. Tapi bahkan baru di hari pertamanya Eric langsung terlibat pertengkaran dengan penghuni penjara lainnya. Hal itu menarik perhatian Neville (Ben Mendelsohn), seorang pria yang tampak begitu disegani disana. Neville terus memperingatkan Eric supaya bisa lebih menjaga sikapnya. Tapi bukannya menurut Eric malah terlibat kekacauan lain, dimana salah satunya membuat seorang narapidana terluka parah. Saat sedang hendak dihajar oleh para penjaga penjara, Eric ditolong oleh Oliver Baumer (Rupert Friend), seorang terapis yang bekerja secara suka rela di penjara tersebut. Baumer meminta izin pada kepala penjara untuk membimbing Eric supaya bisa menahan hasrat mengacau dan emosinya. Caranya adalah dengan mengikut sertakan Eric dalam sebuah grup diskusi yang berisi para narapidana yang bermasalah dalam mengendalikan emosi mereka. Tapi tentu saja tidak mudah bagi Eric untuk membiasakan diri disana dan ia pun masih terus terlibat dalam berbagai konflik lainnya dengan penghuni penjara lain, sampai akhirnya sebuah fakta mengejutkan terungkap berkaitan dengan kenapa Eric bisa mendekam dalam penjara tersebut.

24 Okt 2014

AMERICAN HORROR STORY: FREAK SHOW (EPISODE 3)

Seperti biasanya, American Horror Story menghadirkan episode spesial Halloween yang kali ini terdiri dari dua episode dengan judul Edward Mordrake (Part 1 & 2). Edward Mordrake (Wes Bentley) sendiri dulunya merupakan seorang bangsawan Inggris yang diberkati dengan kecerdasan dan berbagai macam bakat, salah satunya adalah kemampuan bermain piano. Tapi dibalik segala kesempurnaan tersebut Edward ternyata (literally) mempunyai dua wajah. Wajahnya yang kedua ada di kepala bagian belakang dan selalu memberikan bisikan-bisikan "setan" dimana hanya Edward sendiri yang bisa mendengarnya. Hal tersebut akhirnya membuat Edward gila, dan sempat masuk ke rumah sakit jiwa sebelum berakhir sebagai salah satu penampil di sebuah freak show. Tapi pada suatu malam Halloween ia membantai semua teman-temannya dan ia sendiri gantung diri. Walaupun telah mati kutukan Edward masih tetap ada dimana ia akan kembali jika ada freak show yang melakukan pertunjukkan di malam Halloween. Edward Mordrake tidak akan pergi sebelum mengambil nyawa salah satu dari freak.

Karakter baru lain yang diperkenalkan adalah Stanley (Denis O'Hare) dan Maggie Esmeralda (Emma Roberts). Keduanya berencana untuk mengambil organ dari anggota freak show milik Elsa Mars guna dijual dengan harga mahal pada sebuah museum. Caranya adalah dengan memasukkan Maggie sebagai anggota disana. Maggie sendiri menyamar menjadi seorang peramal yang dengan mudah mengambil hati Elsa lewat kata-kata manisnya. Dalam episode ketiga ini konflik-konflik yang dialami karakternya makin berkembang. Ada Ethel yang harus menerima fakta umurnya tidak lama lagi karena penyakit yang ia derita dan penonton pun akan diajak melihat seperti apa hubungan yang pernah ia jalin dengan Dell Toledo. Jimmy tengah dalam depresinya setelah kematian tragis dari Meep, Bette dan Dot masih terlibat konflik satu sama lain dimana kali ini justru Bette lah yang semakin punya hasrat besar untuk menjadi bintang dan ingin berpisah dari kembarannya itu. Elsa Mars? Dia masih berkutat pada mimpinya menjadi bintang panggung. Diluar freak show Dandy semakin gila dan mulai mengenakan kostum badut layaknya Twisty the Clown yang masih menebar teror.

23 Okt 2014

RUMA MAIDA (2009)

Dengan torehan 12 nominasi pada FFI 2009 sudah cukup untuk menjadi gambaran betapa (dianggap) bagusnya film garapan Teddy Soeriaatmadja ini. Dengan naskah debut dari Ayu Utami, Ruma Maida juga memiliki banyak nama-nama tenar di jajaran pemainnya seperti Atiqah Hasiholan, Yama Carlos,  Nino Fernandez, Henky Solaiman, sampai Frans Tumbuan. Ceritanya sendiri berkisah tentang dua garis waktu, yaitu pada tahun 1998 dan pada era perjuangan kemerdekaan Indonesia khususnya pada saat Jepang mulai menjajah. Karakter utamanya adalah Maida (Atiqah Hasiholan), seorang mahasiswi jurusan sejarah yang juga menjadi guru sukarela untuk mengajar anak-anak jalanan. Kegiatan belajar tersebut dilakukan Maida di sebuah rumah kosong yang dulunya milik seorang pilot keturunan Belanda sekaligus pencipta lagu "Pulau Tenggara" yang menginspirasi Soekarno membuat Gerakan Non-Blok, Ishak Pahing (Nino Fernandez). Namun keberlangsungan sekolah milik Maida itu mulai terancam saat seorang arsitek bernama Sakera (Yama Carlos) datang dan mengatakan bahwa rumah itu akan dirobohkan.

Perintah merobohkan rumah tersebut datang dari seorang developer yang masih tetap kaya raya meskipun Indonesia sedang menghadapi krisis ekonomi, Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan). Dasaad yang membenci hal-hal berbau sejarah ingin segera merubuhkan rumah tua itu untuk dibandung menjadi sebuah bangunan modern. Tentu saja Maida tidak tinggal diam begitu saja mengetahui sekolah miliknya akan segera dihancurkan. Dengan bantua Sakera, ia pun mulai mencari cara apapun supaya rumah itu bisa diselamatkan. Sebuah usaha yang pada akhirnya justru membawa Maida banyak mengetahui rahasia-rahasia sejarah khususnya yang berkaitan dengan pemilik asli rumah tersebut, Ishak Pahing beserta kisah cintanya dengan sang istri Nani Kuddus (Imelda Soraya) yang berbeda ras dan agama. Begitulah Ruma Maida. Ada kisah tentang cinta, pendidikan, sejarah, hingga pluralisme. Semuanya dirangkum kedalam sebuah film yang terasa begitu ambisius ini. Semakin terasa ambisius lagi mengingat timeline-nya yang bergerak pada dua setting waktu. Tapi sayangnya ambisi besar ini tidak dibarengi dengan eksekusi yang bagus pula dan justru membuat filmnya terasa amat dipaksakan.

22 Okt 2014

TRACKS (2013)

Seorang wanita berjalan sendirian melintasi padang gurun selama sembilan bulan dengan hanya bermodalkan bekal seadanya dan "ditemani" empat ekor unta serta seekor anjing. Jika hal itu terdengar seperti sebuah dongeng atau kisah dramatis dalam film itu wajar saja, karena saat perjalanan tersebut dilakukan pun banyak yang meragukan bahkan mentertawakannya. Wanita nekat yang melakukannya adalah Robyn Davidson. Pada tahun 1977 Davidson melakukan perjalanan menyeberangi gurun Australia dengan tujuan Samudera Hindia. Perjalanan luar biasa yang diabadikan dalam sebuah artikel di National Geographic itu akhirnya berbuah buku berjudul Tracks yang ditulis sendiri oleh Davidson. Buku itu akhirnya menjadi sangat populer dan beberapa usaha untuk mengangkatnya menjadi sebuah film pun sempat beberapa kali dilakukan. Tercatat selama era 80 sampai 90-an ada lima kali usaha membuat film adaptasi dari buku itu termasuk yang menyertakan nama Julia Roberts sebagai pemeran utama yang kesemuanya gagal terwujud. Barulah pada tahun 2013 sutradara John Curran berhasil mengangkat Tracks menjadi sebuah film yang dibintangi Mia Wasikowska sebagai Robyn Davidson.

Film ini akan mengangkat kisah Robyn sedari ia mulai melakukan persiapan pada tahun 1975. Selama dua tahun ia berlatih bagaimana mengendalikan unta dan bertahan hidup di padang gurun yang gersang dan liar. Alasan Robyn melakukan perjalanan itu adalah karena rasa jengahnya terhadap kehidupan di kota yang selama ini ia jalani. Menurutnya kehidupan itu terasa monoton dan terus berulang. Singkatnya, Robyn ingin melakukan hal baru dalam hidupnya yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Setelah mendapatkan empat ekor unta yang ia dapat lewat hasil bekerja keras selama dua tahun, ia pun tinggal memerlukan bekal uang. Karena itulah Robyn menyetujui tawaran National Geographic untuk menjadi sponsor dan meliput perjalanannya. Jadilah dikirim seorang fotografer bernama Rick Smolan (Adam Driver) yang akan datang setiap beberapa minggu sekali untuk mengabadikan kegiatan Robyn. Kehadiran Rick sendiri menjadi "cobaan" tambahan bagi Robyn karena ia tidak menyukai sosok sang fotografer yang terus mengambil gambar dan selalu mencoba "sok ramah" pada Robyn.