SPRING (2014)

Tanyakan pada saya film ini tergolong genre apa, dan percayalah saya tidak akan bisa memberi jawaban pasti. Spring dimulai dengan layar blackout dan hanya terdengar suara nafas berat. Kita akhirnya tahu bahwa itu adalah nafas dari ibu Evan (Lou Taylor Pucci) yang terbaring lemah di kasur akibat kanker yang ia derita. Atmosfernya unsettling, apalagi disaat wanita tua yang sekarat itu menceritakan sebuah lelucon tentang kematian. Tidak lama kemudian ia meninggal. Dengan suasana seperti itu, rasanya ini adalah film horror. Kematian sang ibu membuat Evan berduka. Apalagi beberapa bulan sebelumnya sang ayah juga meninggal. Pemuda ini tinggal sebatang kara. Duka tersebut membuatnya terlibat dalam perkelahian di sebuah bar tempatnya bekerja. Perkelahian yang tidak hanya membuat Evan dipecat tapi juga dikejar pihak kepolisian. Berniat kabur sekaligus mengubur duka, Evan pergi ke Italia.

Mendadak filmnya terasa bagaikan sebuah road trip. Karakter utama yang berada dalam titik terendah memilih pergi dengan harapan menemukan obat untuk memulai hidup baru. Disana Evan bertemu dengan dua pria asal Inggris, sempat berpesta bersama sebelum menetap sambil bekerja di perkebunan jeruk milik Angelo (Francesco Carnelutti). Matahari bersinar terang di latar serta penggunaan filter warna yang lembut tapi cerah menyuguhkan suasana hangat. Indah, layaknya kisah pencarian makna hidup. Evan pun akhirnya bertemu dengan wanita lokal bernama Louise (Nadia Hilker) yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi benar, Spring adalah journey movie tentang seorang pria yang melakukan perjalanan, lalu bertemu cinta sejati yang akan menyembuhkan dukanya. Benar begitu? Well, not really. Saya tidak akan memberi spoiler. Jadi yang bisa saya sebutkan adalah filmnya akan berubah lagi menjadi: romance, monster movie, body horror, science-fiction, and romance (again.) Spring is batshit crazy...in a good terms.
Sangat sulit menggabungkan beberapa genre menjadi satu, apalagi jika tiap-tiap genre bukan hanya suatu selipan tapi sempat mengambil alih spotlight. Inilah kenapa duo sutradara Justin Benson (juga penulis naskah) dan Aaron Moorhead layak disebut jenius. Bukan hanya mampu merangkai suatu kisah koheren yang tidak berantakan, keduanya juga berhasil mengambil unsur substansial dari masing-masing genre, lalu memaksimalkannya. Jadi penonton bakal merasakan kisah cinta yang romantis, lalu suasana mencekam juga disturbing, hingga sci-fi tentang stem cell yang tidak asal mengambil fakta sains. Bagai membagi semua itu kedalam babak-babak, tone dari tiap genre begitu terasa. Benson dan Moorhead mampu mengecoh persepsi penonton. Membuat kita percaya pada apa yang hadir sebelum kemudian memberikan twist mengejutkan tanpa harus menipu. Keduanya bukan sekedar memelintir cerita secara paksa. Semua fakta sudah ditanam jauh sebelumnya secara tersirat. 

Diantara banyak genre yang ada, sesungguhnya romansa adalah pondasi utama. Semuanya percuma jika kisah cinta Evan dan Louise gagal mencuri hati penonton, karena itulah motor penggerak dinamika film. Tanpa itu Spring hanya akan menjadi lemparan kegilaan yang tak mengikat. Evan adalah pria yang baik. Dia tengah berduka dan kita bersimpati karena itu. Tapi dia tidak gloomy. Dia penuh perhatian dan sungguh-sungguh mengejar cintanya tanpa harus terasa annoying. Saat jatuh cinta dengan Louise pun bukan karena Evan mencari, tapi ia menemukan cintanya. Romantis. Sedangkan Louise adalah gadis yang misterius tapi unik dan atraktif. She's that kind of girl that most of us guys wanna spend our time with, even though just for a little chat. Hubungan keduanya hadir begitu hidup. Tidak ada obrolan gombal soal cinta dan perasaan. Saat menghabiskan waktu, keduanya lebih sering bicara hal santai atau saling ejek satu sama lain. Cair serta dinamis. Layaknya karya Richard Linklater, romansanya didominasi obrolan-obrolan cerdas yang menjerat penonton.
Pada third act yang kental penggabungan romansa dan sci-fi, sesungguhnya hanya dipakai sebagai tempat menjelaskan segala teori sains yang rumit. Disaat kebanyakan film menjelaskan science mumbo jumbo hanya dalam waktu singkat yang meninggalkan kebingungan dan kesan buru-buru, Spring memakai sepertiga akhir filmnya untuk itu. Kenekatan yang bisa jadi membosankan, tapi Benson dan Moorhead sukses menghindarkan kesan itu. Alih-alih membosankan, bagian ini justru tidak hanya berhasil menjelaskan segala teorinya dengan detail tapi juga membangun hubungan Evan dengan Louise menjadi lebih kuat. Membuat penonton lebih bersimpati pada mereka. Karakterisasi keduanya jadi unsur vital disini. Salah satu rangkaian adegan terbaik hadir pasca sebuah kejadian gila di rumah Louise. Ada perasaan shock pada diri mereka khususnya Evan, tapi Benson dan Moorhead menyuntikkan nuansa komedi sebagai bentuk konsistensi hubungan antara dua karakternya yang cair. Alhasil adegan setipe yang biasanya terasa kaku dalam film lain justru begitu dinamis disini. Atensi penonton pun bisa terambil, membuat kita mampu fokus mencerna segala penjelasan yang ada.

Spring mampu melakukan apa yang oleh banyak film romansa pop gagal lakukan, yakni menyajikan kisah cinta dua insan yang "berbeda" tanpa harus terasa menggelikan, bahkan believable. Sesungguhnya film ini melakukan hal yang tampak mustahil dan sering membuat film macam Twilight jadi bahan olok-olok. Manusia dan "monster" saling mencintai? Ada. Manusia berumur dewasa awal mencintai lawan jenisnya yang berumur puluhan ribu tahun dan hidup abadi? Ada. Tapi daripada menggelikan, ini terasa romantis. Setiap pengorbanan dan istilah "cinta buta" yang hadir bisa kita maklumi karena sebelumnya kita sudah merasakan bagaimana indahnya romansa kedua karakter utamanya. Spring mampu menghadirkan percintaan (super) aneh yang memikat. Maka disaat film diakhiri dengan ending sederhana yang begitu manis, saya pun tersenyum simpul.

Verdict: Spring menjadi bukti bahwa "genre" dalam film hanya sebagai klasifikasi dan bukan sebuah kotak pembatas eksplorasi. Part Linklater's chatty romance, part Cronenberg's body horror. Justin Benson dan Aaron Moorhead mempersembahkan salah satu film paling kaya dan berwarna sepanjang masa.

TOBA DREAMS (2015)

Seberapa banyak film yang bisa membuat penonton menangis? Banyak. Bahkan romansa murahan ala Nicholas Sparks itu tearjerker efektif. Tapi seberapa banyak film yang bisa membuat air mata penonton mengalir karena mampu mewakili perasaan mereka? Saya tidak sedang membicarakan diri saya sendiri, atau segelintir orang, tapi mayoritas penonton setidaknya dalam ruang tempat saya menonton. Jawabannya tidak banyak. Toba Dreams garapan Benni Setiawan merupakan salah satunya. Judulnya memang menggunakan nama "Toba". Setting serta karakter pun begitu kental unsur adat Sumatera Utara. Namun cerita yang dibawa film ini tidak pernah terbatasi oleh apapun alias universal. Karakternya mewakili tiap generasi. Bagi generasi muda atau seorang anak, ada sosok Ronggur (Vino G. Bastian) yang punya mimpi untuk bisa sukses di Jakarta dan menikahi seorang wanita yang berbeda keyakinan dengannya, Andini (Marsha Timothy).

Ronggur itu keras kepala dan tidak ragu untuk memberontak pada orang tuanya demi bisa menjalani hidup seperti yang ia impikan lewat jalannya sendiri. Dia pun begitu kesal saat sang ayah (Mathias Muchus) berusaha mengatur dirinya untuk menjadi seperti yang diinginkan ayahnya. Kesan rebel yang dilatar belakangi hasrat kuat untuk bisa meraih mimpi demi memberi bukti pada orang tua. Aspek itulah yang membuat karakter Ronggur begitu dekat dengan penonton muda, atau lebih tepatnya mereka yang mulai beranjak dari masa remaja menuju dewasa (termasuk saya). Kita pernah ada di posisi itu. Saya pernah ada di posisi itu. Sedangkan bagi penonton yang lebih tua atau yang memiliki anak seusia Ronggur, karakter Sersan Tebe pastinya terasa mewakili. Seorang ayah yang keras, ingin sang anak mengikuti jejaknya, hingga tak jarang terkesan begitu egois. Tapi dibalik itu, alasan utamanya karena menginginkan masa depan yang terbaik bagi Ronggur.
Hubungan yang terjalin antara Ronggur dan ayahnya terasa familiar bagi saya. Semua itu ada pada hidup saya, hidup kebanyakan penonton. Perdebatan dan pertengkaran memang selalu terjadi, bahkan perang dingin. Tapi diluar adegan konklusi yang menyatakan secara verbal, jauh sebelum itu Benni Setiawan sudah berhasil menyiratkan bahwa keduanya saling menyayangi, hanya saja tertutupi oleh hal lain. Hal lain yang bisa berupa ego maupun harga diri. Sejatinya konflik macam ini sudah begitu sering dihadirkan dalam film. Hanya saja "penyakit" yang kerap terjadi adalah sosok anak sering hadir sebagai protagonis yang menderita tak berdaya tanpa ada penggalian latar belakang lain demi menguatkan simpati penonton. Sedangkan karater ayah sering digambarkan menjadi antagonis yang selalu marah dan memaksa tanpa ada sedikitpun tersirat rasa sayang pada anaknya. Sebelum pada akhirnya pada konklusi secara ajaib kedua belah pihak menunjukkan cintanya. Toba Dreams tidak seperti itu.

Masing-masing karakter punya alasan serta motivasi kuat dalam diri mereka. Membuat penonton akhirnya bisa memahami, bisa ikut merasakan tanpa harus berpihak. Keduanya punya momen kelam masing-masing disaat mereka terjatuh dan dibutakan. Tapi fokus utama tentu ada pada Ronggur. Biar bagaimanapun penonton harus bisa bersimpati padanya, dan itu berhasil. Durasi yang cukup lama (144 menit) digunakan oleh Benni Setiawan dengan begitu efektif untuk menuturkan babak-babak kehidupan karakternya. Setiap babak pun dihadirkan dengan kualitas yang berimbang. Alhasil kita benar-benar mengenal Ronggur sedari ia masih seorang anak kampung penuh impian dan pemberontakan, kemudian berjuang di Jakarta, mencapai keberhasilan meski itu membawanya dalam "lubang hitam", sampai akhirnya terjatuh lagi. Kisah jatuh bangun perjuangan memang klise, bisa pula membosankan. Tapi akan begitu kuat dan emosional jika tiap fase digarap maksimal. Ronggur pun bukan hanya karakter dua dimensi di layar. Dia adalah kita, atau setidaknya terasa seperti seorang kerabat dekat yang kita kenal baik.
Untuk menciptakan itu bukan hanya penggarapan Benni Setiawan maupun naskah yang ia tulis bersama TB Silalahi (penulis novel Toba Dreams) saja yang harus kuat, tapi juga akting tiap pemain. Disitulah Vino G. Bastian berperan besar. Tanpa mengesampingkan faktor lain, ada dua hal paling penting untuk menghidupkan karakter Ronggur: transformasi dan motivasi karena rasa sakit terpendam. Ronggur bertransofrmasi dari pria kampung yang berambisi mengejar mimpi menjadi seorang pria mapan berwibawa yang punya segalanya. Vino pun bertransformasi dengan mulus. Sedangkan faktor kedua pun ia lakoni dengan baik. Beban dan sakit begitu nyata ia pancarkan. Sebagai tandem hadirlah Mathias Muchus. Matanya memancarkan ketegasan yang keras. Tapi jauh di balik itu ada kesedihan. Kesedihan yang beberapa kali hanya tersirat namun cukup menghadirkan haru. Apalagi saat semuanya dia hadirkan secara nyata.

Teriakan dan tangisan dalam pertengkaran begitu mendominasi Toba Dreams. Sedikit berlebihan, tapi tidak sampai pada taraf yang mengganggu. Untuk ledakan emosi sebanyak itu, apa yang ditunjukkan oleh film ini memang substansial. Sesuai dengan karakter maupun situasi yang ada. Tema yang diusung ada di seputaran hubungan anak dan orang tua, ambisi, sampai percikan konflik mengenai agama. Ketiganya hadir maksimal tanpa terasa tumpang tindih. Seperti yang telah saya singgung, hubungan anak dan orang tua terasa kuat, begitu juga tema ambisi yang menghadirkan jatuh bangun perjuangan. Sedangkan tema agama menghadirkan salah satu adegan paling indah dalam perfilman Indonesia, yakni saat dilakukan doa sebelum makan malam di rumah Sersan Tebe. Indah bukan karena sinematografinya, karena Benni Setiawan mengemas adegan ini dengan sederhana. Indah karena esensi kebersamaan seperti itulah yang selama ini begitu saya dambakan. Saat itulah air mata semakin tak tertahankan.

Verdict: Lampu bioskop menyala tapi air mata saya dan banyak penonton lain masih mengalir. Itu bukan tangisan hasil "manipulasi" adegan menyedihkan, tapi karena kita tahu rasanya mengecewakan orang tua, jatuh saat menggapai mimpi, dan mencintai serta dicintai orang-orang terkasih. Toba Dreams memang senyata, sekuat dan seindah itu.

TOP 20 MOST AWAITED INDONESIAN FILMS

Sudah bukan masanya bagi kita untuk skeptis terhadap perfilman Indonesia! Ibaratnya saat ini kita tengah membuka jalan memasuki masa renaissance. Saya tidak berlebihan. Walau belum sepenuhnya sampai kesana, film-film lokal yang rilis dalam beberapa bulan terakhir semakin memantapkan optimisme saya. Tidak semuanya bagus tapi kesan untuk membuat film bagus yang tidak asal sudah begitu kuat. Maka dari itu saya akan membagikan daftar 20 film Indonesia yang akan, tengah atau telah selesai diproduksi dan bakal tayang di bioskop (kemungkinan) antara 2015- 2016. Berikut daftarnya yang disusun urut alfabet.

3 SRIKANDI
Disutradarai oleh Iman Brotoseno, film ini menuturkan kisah nyata perjuangan tiga pemanah wanita asal Indonesia yang berhasil meraih medali perak pada Olimpiade 1988 di Seoul. Tema perjuangan bukan hal baru, tapi perjuangan di bidang panahan tentunya menarik termasuk bagaimana adegan pertandingannya dieksekusi. Di samping cerita, daya tarik ada pada daftar pemainnya: Dian Sastrowardoyo, Tara Basro, Chelsea Islan dan Reza Rahadian. Film ini rencananya rilis pada 24 Desember 2015.

A COPY OF MY MIND
Joko Anwar merupakan salah satu sutradara favorit saya, dan fakta bahwa kali ini ia merilis film dengan genre drama (setelah tiga film terakhir kental unsur thriller/horror) jadi daya tarik besar. Film ini bercerita tentang sepasang kekasih (Chico Jerikho dan Tara Basro) yang terseret intrik politik setelah mereka menemukan sebuah DVD berisi rekaman korupsi. Kabarnya film ini merupakan bagian trilogi tentang Jakarta(judul dua film lainnya adalah "A Copy of My Heart" dan "A Copy of My Soul"). Sempat direncanakan rilis bulan April, tapi hingga saat ini belum ada tanggal pasti meski tetap bakal rilis tahun 2015.

A JADE JOURNEY
A Jade Journey adalah film karya Teddy Soeriaatmadja yang memenangkan kategori "G2D Post-Production" pada Hong Kong Asian Financing Forum (HAF) akhir Maret lalu. Belum ada sinopsis dan jadwal rilis resmi untuk film ini.

ABOUT A WOMAN
Menjadi rangkaian film Teddy Soeriaatmadja yang membahas seksualitas dan kemunafikan setelah Lovely Man dan Something in the Way, film ini bercerita tentang seorang janda tua yang merasa kesepian setelah sang pembantu pergi. Merasa khawatir dengan sang ibu, anak dan menantunya mengirim pembantu baru, pria bernama Abi. Ikatan antara sang janda dan Abi pun akhirnya semakin kuat. Dirilis lebih dulu di "Singapore International Film Festival 2014", mari berharap film ini mendapat tempat di bioskop lokal. Karena sebelumnya Lovely Man hanya tayang empat hari. Bahkan Something in the Way tidak mendapat jatah.

AN INNOCENT TRIP TO NEW YORK
Satu lagi karya Teddy Soeriaatmadja. Pada tahun 2012 lalu proyek ini mendapat "PanStar Cruise Award" di Asian Project Market dan mendapat $9,000 untuk produksinya. Bercerita tentang pengelola rumah makan padang bernama Haji Bansar yang merasa terpukul setelah puteranya yang bersekolah di New York, Alfi mengaku bahwa dirinya seorang gay. Suatu hari Haji Bansar menerima undangan pernikahan anaknya dan memutuskan pergi ke New York untuk menghentikan pernikahan tersebut. Belum ada tanggal rilis resmi film ini.

ANOTHER TRIP TO THE MOON
Film sureal karya Ismael Basbeth ini bercerita tentang gadis bernama Asa (Tara Basro) yang memilih tinggal sendirian di tengah hutan sampai seorang manusia anjing (Cornelio Sunny) kepercayaan ibunya datang menjemput Asa supaya sang gadis mau tinggal di kota. Lebih dulu tayang di "Rotterdam Film Festival 2015", daya tarik film ini tentu ada pada penggabungan dunia mitologi lokal dan fantasi dengan gaya surealisme. Belum ada tanggal rilis pasti untuk film ini.

BATTLE OF SURABAYA
Animasi adalah genre yang jarang dijamah film Indonesia, karena itu film ini jadi begitu saya tunggu selain karena fakta bahwa sudah sejak lama mendapat buzz karena berbagai penghargaan dari festival film internasional. Seperti judulnya film ini bercerita tentang bocah tukang semir sepatu yang harus mengirimkan paket bagi para pejuang saat meletusnya peperangan di Surabaya pada 10 November 1945. Dari halaman IMDb-nya, film ini mendapat tanggal rilis 20 Agustus 2015. 

DECEMBER
Belum ada informasi baik tangal rilis maupun sinopsis resmi film ini. Tapi karena ini adalah film karya Andri Cung yang menghadirkan pada kita The Sun, The Moon and The Hurricane, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak antusias.

GUNDALA PUTRA PETIR
Tidak perlu banyak alasan untuk menunggu sebuah film superhero buatan Indonesia. Hanung Bramantyo membangkitkan kembali sang putera petir yang selama ini tenggelam di tengah serbuan superhero Hollywood. Belum ada kepastian tanggal tapi film ini bakal rilis tahun 2016.

KARTINI
Film Hanung Bramantyo lagi, dan satu lagi biopic dari sang sutradara. Dian Sastrowardoyo berperan sebagai Kartini yang dalam film ini akan ditonjolkan sisinya sebagai wanita muda dengan kelincahan dan kecerewetannya. Sudut pandang baru yang tidak diperlihatkan oleh film versi 1984-nya. Memulai syuting pada bulan Desember, film ini bakal dirilis pada April 2016.

NAY
Selalu suka karya Djenar Maesa Ayu yang mengangkat kisah perempuan dan mendobrak batas tabu suatu kisah. Nay. bercerita tentang gadis bernama Nay yang mengetahu dirinya telah mengandung 14 minggu. Tapi saat menyampaikan kabar itu pada Ben sang kekasih, ia justru lebih mementingkan permasalahan dengan sang ibu. Disatu sisi Nay baru saja mendapat peran di sebuah film sebagai pemeran utama. Film ini mengambil mayoritas lokasi dalam sebuah mobil dengan karakter Nay melakukan monolog (meningatkan pada Tom Hardy di Locke.) Rencananya film ini bakal tayang pertengahan tahun ini.

PANJI TENGKORAK
Disutradarai oleh Upi (Belenggu, Realita Cinta dan Rock 'n Roll, Radit dan Jani) film ini merupakan adaptasi komik silat karya Hans Jaladara yang sempat terkenal pada tahun 60-an. Upi berniat membawa kisah tersebut ke setting modern yang lebih pop. Panji Tengkorak direncanakan rilis pada Desember 2015.

PERBURUAN
Disutradarai oleh Richard Oh yang membuat Melancholy is A Movement (salah satu film lokal terbaik tahun 2015 sejauh ini menurut saya) film ini menjadi adaptasi novel karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit tahun 1949. Ber-setting pada akhir era penjajahan Jepang, Perburuan berkisah tentang seorang pejuang bernama Hardo yang tengah diburu oleh tentara Jepang. Film ini akan rilis 16 Agustus 2015.

SURAT DARI PRAHA
Setelah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi yang begitu mengesankan, film karya Angga Dwimas Sasongko tidak akan bisa saya lewatkan. Dibintangi oleh Tio Pakusadewo dan Julie Estelle, film ini akan menjadi refleksi perjalanan karir Glenn Fredly (juga menjadi produser disini) selama 20 tahun ia berkarya. Film ini akan rilis pada Oktober 2015.

TERPANA
Satu lagi karya Richard Oh. Menampilkan Fachri Albar dan Raline Shah sebagai pemeran utama, saya menduga film ini bakal menjadi satu lagi karya abstrak dari Richard Oh. Setelah Melanchoy is A Movement, abstrak dari Richard pasti saya nantikan. Belum ada tanggal rilis, tapi kemungkinan akhir tahun 2015 atau awal 2016.

THE RETURNING
Witra Asliga yang menyutradarai segmen Insomnights dalam 3Sum adalah sutradara film ini. Belum ada keterangan resmi, tapi dari karya sebelumnya besar kemungkinan ini adalah twisted thriller/horror. Menarik.

TUYUL PART 2 & 3
Fim pertamanya mungkin tidak tergolong bagus, tapi jelas ada usaha kuat menjadi horror berkualitas disana lengkap dengan tata artistik mengesankan. Menarik untuk ditunggu bagaimana dua film ini mengeksplorasi secara lebih jauh mitologi tuyul yang sudah dikembangkan cukup menarik oleh film pertamanya.

VALENTINE
Satu lagi film superhero, tapi bedanya Valentine menampilkan jagoan wanita dan tanpa kekuatan super. Berencana rilis tahun 2015 ini, tentu menarik disaat raksasa Hollywood macam Marvel dan DC baru akan mengeluarkan film superhero wanita pada beberapa tahun kemudian Indonesia justru terlebih dahulu melakukan itu.

WIRO SABLENG
Akhirnya Wiro Sableng di layar lebar! Mengetahui bahwa film ini diproduksi oleh Lifelike Pictures-nya Lala Timothy yang banyak menelurkan film-film berkualitas (Modus Anomali, Pintu Terlarang, Tabula Rasa) terasa melegakan. Belum diketahui tanggal rilis, sinopsis, maupun siapa saja yang terlibat meski bisa dipastikan ada keterlibatan Vino G. Bastian yang notabene putera Bastian Tito selaku pencipta Wiro Sableng.

Selain 20 film di atas masih banyak lagi film-film Indonesia berkuaitas yang akan segera tayang. AYO NONTON FILM INDONESIA BAGUS DI BIOSKOP.

(beberapa bagian artikel bersumber dari web officialfilmindonesia.com)

FAULTS (2014)

Debut penyutradaraan Riley Stearns (suami Mary Elizabeth Winstead) ini adalah contoh bagaimana sebuah twist justru mengurangi kualitas sebuah film alih-alih memberikan kejutan menyenangkan. Saya mendapati usaha Stearns untuk memecahkan misteri yang telah ia tebar dalam filmnya, berusaha merasionalkan semua itu. Tapi tidak semua misteri harus memiliki jawaban. Tidak peduli seaneh apapun, beberapa pertanyaan memang sebaiknya dibiarkan tanpa jawaban, karena tidak semua dalam hidup kita selalu memiliki jawaban pasti. Faults memulai kisahnya dengan begitu baik, begitu mencengkeram, menjadikan 90 menit terasa begitu cepat. Filmnya dimulai dengan suasana ala komedi hitam Coen Brothers yang menggelitik lewat situasi tak nyaman dan karakter dengan perilaku unik. Karakter itu bernama Ansel Roth (Leland Orser).
Ansel adalah seorang aktivis, pembicara, penulis buku, atau apapun itu yang ia kerjakan. Tapi fokus utamanya adalah membicarakan kelompok cult. Ansel berpengalaman membebaskan seorang gadis dari suatu kelompok meski akhirnya sang gadis justru bunuh diri setelah pulang ke rumah. Dari kejadian itulah ia mulai kehilangan segalanya. Uang, pekerjaan, popularitas, bahkan sang istri. Ansel selalu menegaskan tentang "free will", bahwa manusia sudah selayaknya hidup bebas tanpa diatur pola pikir serta tindakannya seperti mereka para anggota cult. Walau begitu Ansel jutru nampak sebaliknya. Dia hidup terkekang khususnya oleh hutangnya kepada sang manajer. Disaat menyuarakan kebebasan Ansel justru hidup jauh dari kata tersebut. Bahkan ia sempat mencoba bunuh diri dengan menghirup asap knalpot mobil. Ironi dan ketidak berdayan Ansel. Dari situlah mayoritas komedi hitamnya berasal.
Mereka dengan kontrol dan yang dikontrol. Kedua belah pihak itu jadi identitas tokoh-tokoh film ini. Semakin kuat setelah masuknya karakter Claire (Mary Elizabeth Winstead). Claire merupakan anggota sebuah cult bernama "Faults". Kedua orang tuanya mendekati Ansel untuk meminta tolong supaya sang puteri bisa kembali lagi pada mereka. Terlihat jelas Ansel sudah tidak ingin melakukan praktek semacam itu lagi, tapi tuntutan untuk membayar hutang memaksanya menerima tawaran itu. Ya, satu lagi bentuk ironi disaat Ansel bertindak diluar kemauannya. Rangkaian "sesi" selama beberapa hari yang ia lakukan untuk menyembuhkan Claire menggali lebih dalam role play tentang kontrol tadi. Pada awalnya dan seperti yang seharusnya, Ansel memegang kontrol saat ia membawa paksa Claire. Si gadis pun tidak berdaya saat harus dikurung dalam kamar hotel. Dia berada di bawah kontrol.

Tapi perlahan semua itu berubah. Kita mulai melihat bagaimana Ansel makin tidak yakin dengan yang ia lakukan, makin tersudut, nampak lemah. Sedangkan Claire yang tadinya tak berdaya justru terlihat semakin mantap, makin memiliki keyakinan dan kekuatan. Kekuatan akting Leland Orser dan Mary Elizabeth Winstead berperan besar dalam terciptanya dinamikat antar kedua karakter. Dari Leland Orser kita bisa melihat kelemahan yang berusaha ia sembunyikan. Terlihat jelas dari usahanya untuk tidak pernah tampak menyedihkan atau gagal meski sebenarnya itu yang terjadi. Ada harga diri tinggi diperlihatkan Orser, namun disaat bersamaan sisi lemah tak berdaya pun begitu jelas. Sedangkan Mary Elizabeth Winstead memancarkan sisi misterius. Meski awalnya nampak rapuh, seiring berjalannya waktu ada tatapan tajam yang menunjukkan keyakinan disitu. Interaksi antara dua sisi berlawanan inilah yang membuat filmnya dinamis.
Semuanya berjalan lancar, bahkan luar biasa karena Riley Stearns pada awalnya nampak begitu berani memberikan sudut pandang lain tentang cult. "Bagaimana jika keberadaan seseorang dalam kelompok itu memberikan kehidupan yang lebih baik? Memberikan kebahagiaan bahkan kebebasan lebih dari yang ia dapat bersama keluarga." Kita bisa melihat itu dari konflik antara Claire dengan sang ayah. Sebuah sudut pandang unik yang berani, karena mayoritas film serupa biasanya cenderung menempatkan cult layaknya iblis, sesat tanpa melihat perspektif lain. Kemudian muncul twist pertama. Sebuah twist yang membawa Faults ke tingkatan abstrak lebih tinggi. Semakin kompleks, sedikit mistis dan terasa unexplainable. Layaknya film-film Coen Brothers seperti Barton Fink, ada kesan abstrak yang menyentuh ranah horror. Saya sangat menyukainya, bahkan sudah bersiap menjadikan Faults salah satu kandidat film terbaik tahun ini. Sampai datang twist kedua.

Inilah sebuah twist yang merusak segala keunikan di atas. Kejutan ini bagaikan usaha Stearns untuk merasionalkan segala keanehan tersebut, yang mana itu tidak perlu. Jawaban itu tidak meninggalkan ruang bagi pertanyaan tak terjawab yang menghantui benak penonton. Justru perasaan semacam itu yang membuat satu film terasa lebih mengesankan. Tapi yang lebih fatal, twist kedua turut mengembalikan perspektif film ini tentang cult kearah lebih umum dan normal. Mengembalikan karakter cult-nya pada posisi yang lebih hitam. Saya tidak sedang mencoba membela kelompok-kelompok cult disini. Saya hanya beranggapan bahwa memandang suatu isu dari perspektif lain untuk menggalinya secara lebih dalam akan memberikan pemahaman yang lebih luas pada isu tersebut.

Verdict: Faults sempat punya segalanya untuk menjadi klasik seperti karya-karya Coen Brothers lewat semua keunikan baik dari sudut pandang cerita maupun alur sebelum twist-nya meruntuhkan potensi tersebut. Tapi diluar itu film ini masih punya kelucuan, keanehan, serta sentuhan drama kuat.

BLACK SEA (2014)

Sejatinya Black Sea tidak jauh beda dengan kapal selam yang menjadi setting utamanya. Keduanya sama-sama beresiko. Jika ditangani dengan pintar, film dengan satu lokasi sempit bisa mendatangkan keberhasilan besar, sama seperti kapal selam di medan perang. Namun satu kesalahan fatal bisa merusak semuanya. Semua kru di kapal bisa terbunuh, dan bagi filmnya sendiri dapat menghilangkan intensitas, hanya memunculkan kesan monoton. Kevin Macdonald selaku "kapten" bagi film ini membuktikan ia mampu membawa Black Sea bertahan hidup meski tidak berhasil meraih kejayaan seperti yang diharapkan. Karakter utamanya adalah Robinson (Jude Law), veteran angkatan laut yang mendapati dirinya baru saja dipecat setelah puluhan tahun mengabdi. Respon yang ia munculkan saat mendengar itu sudah cukup menggambarkan sakit hati dan amarahnya.
Bagaimana tidak? Selama puluhan tahun Robinson harus menghabiskan mayoritas hidupnya di laut, meninggalkan anak dan istrinya, hingga berujung pada perceraian. Kini dia sendirian, mendapati keluarganya hidup dengan seorang pria kaya sedangkan ia miskin. Hanya satu hal yang Robinson tahu, yakni menjadi kapten sebuah kapal selam. Karena itu ia tidak berpikir dua kali saat mendapat tawaran mengambil harta bernilai puluhan juta pounds peninggalan Hitler pada masa perang dunia II. Harta tersebut berada di dasar laut, tepatnya tenggelam bersama sebuah kapal selam Jerman. Robinson pun mulai mengumpulkan kru yang terdiri dari separuh orang Inggris dan separuh orang Rusia. Naskah tulisan Dennis Kelly memanfaatkan berbagai macam konflik yang terjadi saat pencarian harta. Baik konflik yang berasal dari medan perairan berbahaya maupun konflik antar kru dalam kapal.
Perjalanan ini memang punya semua jalan untuk memunculkan konflik. Segalanya terasa salah. Jangan bayangkan sebuah kapal selam canggih dan fresh seperti milik Steven Siegel dalam Under Siege. Robinson dan kru mendapat sebuah kapal berkarat dengan mesin rusak dimana-mana. Tidak berlebihan untuk disebut sampah logam. Begitu pula dengan kru yang ada. Sedari awal sudah terbentuk kubu antara orang Inggris dengan Rusia. Ditambah lagi dengan kehadiran Ben Mendelsohn dalam peran khanya sebagai Fraser yang gila. Semua bagaikan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Sebagai penonton kita pun tahu bahwa ledakan itu akan segera terjadi. Menghilangkan unsur kejutan, tapi bisa dimanfaatkan untuk membangun ketegangan karena antisipasi yang hadir. Muncul tantangan lebih bagi Macdonald karena ketegangan harus dibangun dalam setting sempit.

Poin utama thriller satu lokasi adalah menghadirkan kesan klaustrofobik bagi penonton. Penonton harus bisa ikut merasakan betapa pengap, sesak dan memuakkannya tempat tersebut. Untuk itu Black Sea masih terlalu segar dan ringan. Masih banyak ruang bernafas dalam thriller ini. Muncul banyak pertengkaran, tapi tidak membuat saya tercekik. Kebanyakan akibat pembangunan sekaligus resolusi yang terlalu cepat. Seperti saat orang Inggris dan Rusia berselisih lalu berujung pada masing-masing menguasai separuh bagian kapal. Konfik itu berakar dari sebuah pembunuhan, dan bahkan bisa jadi template bagi satu film penuh. Tapi Dennis Kelly hanya menjadikannya sebagai sub-plot yang pada eksekusinya oleh Macdonald tidak bertahan sampai 15 menit. Begitu pula konflik lain yang datang silih berganti begitu cepat. Bermaksud tidak berlama-lama pada satu titik, yang terjadi justru kesan terburu-buru.
Belum sempat saya merasa terikat, suatu permasalahan telah usai dan berganti dengan yang lain. Memang sering berujung pada kematian, tapi bahkan di ruang sempit itu aroma busuk mayat tidak tercium sedikitpun. Dalam artian, sebagai penonton saya tidak pernah benar-benar diajak hadir langsung merasakan ketidak nyamanan di dalam kapal selam tersebut. Pemilihan Macdonald untuk melaju cepat karena banyaknya konflik yang dituangkan Kelly memang berujung tidak terikatnya penonton dengan cerita, tapi disisi lain hal itu berhasi membuat filmnya jadi suguhan seru. Tidak begitu menegangkan, tapi masih menyenangkan. Setiap teriakan, setiap kematian dan setiap hantaman di badan kapal tidaklah menyesakkan, tidak mendebarkan, tapi cukup untuk menjaga intensitas setidaknya dalam kondisi stabil. 

Sebagai drama, Black Sea juga menonjolkan tema keserakahan. Robinson dan kawan-kawannya adalah korban keserakahan para pemilik modal yang memanfaatkan mereka untuk mendapat keuntungan, tapi begitu uang didapat mereka pun dibuang begitu saja. Terdapat kebencian akan pihak kaya, khususnya dalam diri Robinson yang berulang kali mengingatkan pada kru bahwa mereka harus berhasil jika tidak mau terus ditindas. Hingga kemudian keserakahan juga turut menyerang para kru, berdampak pada konflik antara mereka. Tapi yang paling menarik adalah saat Kelly memberikan sentuhan ambiguitas dalam diri Robinson selaku karakter utama. Memulai cerita sebagai sosok "putih" yang terluka, perlahan Robinson mulai bertransformasi. Tiap perintah yang tadinya bertujuan semata-mata demi keselamatan kapal makin lama berubah menjadi demi bisa membawa pulang emas. Jude Law dengan mulus menghadirkan transformasi tersebut. Dari kapten kapal yang handal menjadi pria hancur yang dibutakan kekayaan.

Verdict: Black Sea isn't that thrilling but definitely very entertaining. Walaupun kelam tapi minim kedalaman pada konflik yang membuat penonton tidak terikat sekaligus melucuti potensinya sebagai thriller klaustrofobik. Untungnya Kevin Macdonald masih tahu cara membuat hiburan non-stop yang bergerak cepat, menjaga filmnya supaya tidak karam.

CLOUDS OF SILS MARIA (2014)

Olivier Assayas mengajak penonton mempertanyakan bagaimana waktu, usia, hingga kultur mempengaruhi perspektif orang akan sesuatu dalam film terbarunya ini. Clouds of Sils Maria dimulai dengan perjalanan seorang aktris senior sukses bernama Maria Enders (Juliette Binoche) bersama asisten pribadinya, Valentine (Kristen Stewart) menuju Zurich dimana Maria akan mewakili penulis Wilhelm Melchior untuk menerima sebuah penghargaan. Sedari poin ini kita bisa tahu bahwa tercipta keakraban kuat antara Maria dan Valentine. Bukan sekedar hubungan bos dengan atasan, melainkan seperti dua teman dekat. Valentine mengurusi hal-hal rumit seperti perceraian hingga jadwal kegiatan sang aktris, sedangkan Maria tampak nyaman membicarakan obrolan santai dengan asistennya. Seiring berjalannya film kita pun melihat mereka membicarakan hal-hal yang lebih personal, jauh dari tema pekerjaan. Mereka berteman, dan tampak nyaman satu sama lain.
Di tengah perjalanan, sampailah kabar mengejutkan. Wilhelm meninggal dunia secara mendadak (kemudian kita tahu dari sang istri bahwa Wilhelm bunuh diri). Lalu semuanya berubah. Tidak hanya acara malam penghargaan yang menjadi sebuah tribute untuk mengenang sang penulis, tapi juga bagi kehidupan Maria. Perubahan itu datang saat seorang sutradara muda, Klaus (Lars Eidinger) menawari Maria untuk bermain di pementasan teater berjudul "Maloja Snake" yang naskahnya ditulis oleh Wilhelm. Pementasan itu berkisah tentang percintaan antara wanita tua bernama Helena dengan gadis muda bernama Sigrid. Maria sendiri mulai angkat nama sebagai aktris saat memerankan Sigrid 20 tahun lalu. Namun kali ini ia ditawari bermain sebagai Helena. Terjadilah dilema karena baginya, Helena adalah sosok yang amat bertolak belakang dari Sigrid. Tapi benarkah itu?
Pada awalnya Maria menolak. Baginya dia adalah Sigrid yang 180 derajat berlawanan dengan Helena. Mungkin saja. Tapi mungkin juga seperti interpretasi Klaus bahwa Helena tidak lain adalah sosok Sigrid puluhan tahun kemudian. Maria di masa muda mungkin adalah Sigrid, tapi bisa saja ia saat ini telah menjadi Helena. Disinilah Assayas mulai bermain-main dengan tema "perspektif" pada naskahnya. Berkaitan dengan waktu, Maria tidak sadar atau lebih tepatnya menolak untuk menjadi sesuatu, atau memandang sesuatu seperti yang ia benci. Tampak jelas ketidak sukaannya pada Helena. Dia menolak menjadi Helena, takut menjadi karakter itu. Itulah kenapa terjadi ketidak lancara dalam beberapa reading yang ia lakukan dengan Valentine. Dia selalu mengeluhkan sikap atau dialog yang diucapkan sang tokoh. Terjadi penolakan kuat bukan semata karena memang ia tidak setuju, tapi karena rasa takut. Padahal sesungguhnya Maria telah menjadi Helena.
Perubahan itu tergambar jelas dalam hubungannya dengan Valentine. Assayas membaurkan interaksi dalam naskah "Maloja Snake" dengan realita yang terjadi pada film ini. Helena adalah seorang pebisnis yang mempekerjakan Sigrid sebagai asistennya walaupun si gadis muda tidak punya kemampuan yang baik di bidang tersebut. Semua dilandasi rasa ketertarikan. Pada akhirnya Helena menjadi posesif, ingin menahan Sigrid di sisinya apapun yang terjadi. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada Maria dan Valentine. Valentine meski tidak buruk namun juga tidak menonjol dalam tugasnya sebagai asisten pribadi. Dia sempat lupa melaporkan suatu acara pada Maria, juga kerepotan menangani jadwal yang padat. Satu-satunya tugas rutin adalah menemani proses reading, yang menurut Valentine sendiri bisa dilakukan oleh siapa saja. Semakin lama cerminan Helena pada diri Maria semakin kuat, khususnya pada saat reading. Apakah yang terucap hanya dialog di naskah atau memang ungkapan perasaan Maria? Apakah saat berdialog tanpa disadari ia merefleksikan "rasa"-nya pada Valentine? That's when "life imitates art."

Setiap momen terasa intens berkat penampilan kuat jajaran aktrisnya. Juliette Binoche dan Kristen Stewart berpadu menciptakan sinergitas kuat yang selalu berhasil menyerap saya dalam tiap adegan saat terjadi saling lempar kalimat antar keduanya. Binoche sanggup menghadirkan pertentangan nyata pada sosok Maria. Kehadirannya tegas, tapi memunculkan kepalsuan. Kepalsuan yang hadir karena jauh dalam diri karakter itu terdapat perbedaan dengan apa yang ia selalu jabarkan tentang dirinya. Tentu sulit untuk tidak tenggelam apalagi menandingi seorang Juliette Binoche dalam performa terbaiknya. Tapi Kristen Stewart mampu. Valentine lebih kuat dari Maria karena ia lebih menapak pada realita saat Maria mengawang dalam dilema. Kekuatan yang bersumber dari kesadaran itu nampak nyata pada Stewart. Dia menghidupkan film ini. Bahkan ia mampu membuat saya tertawa terbahak-bahak lewat rangkaian dialog yang secara tidak langsung menyindir kehidupan pribadinya. (movie with werewolf? dating the most popular guy on Earth? Having an affair?) Jangan terkejut jika tahun depan namanya menghiasi jajaran nominator Oscar. Bahkan lewat film ini Stewart telah mencatatkan diri sebagai aktris Amerika pertama yang menang di Cesar Award.

Verdict: Olivier Assayas menghadirkan sisi ambigu, mengaburkan batasan fiksi dan realita tanpa harus menjabarkannya secara sureal. Semua ini realis, nyata, kuat, menggelitik perspektif penonton. Clouds of Sils Maria adalah film yang bisa membuat penonton mempertanyakan sesuatu yang selama ini tidak pernah dipertanyakan karena mungkin tak pernah disadari. 

STAR WARS EPISODE I - VI

Tidak sampai delapan bulan lagi Star Wars: The Force Awakens bakal mengguncang layar bioskop. Menandai kembalinya franchise ini setelah satu dekade. Meski masih cukup lama, saya merasa tidak ada salahnya untuk menengok kembali keenam episode yang telah lalu demi menyegarkan ingatan sekaligus membangkitkan nostalgia. Well, setelah Han Solo dan Chewie akhirnya kembali pulang ini waktu yang tepat bukan? Jadi inilah mini review saya untuk keenam episode Star Wars.

EPISODE I: THE PHANTOM MENACE (1999)
Saya tidak bisa membayangkan perasaan para fans ketika mendapati penantian 16 tahun mereka berujung kekecewaan besar. Sedari opening crawl sudah ada yang terasa "keliru". Daripada bercerita tentang peperangan antar galaksi, narasinya mengisahkan tetek bengek konflik embargo perdagangan. Tidak masalah sebenarnya, bahkan bisa memberikan konflik segar pada franchise ini. Tapi cerita tentang konspirasi kekuasaan berbalut unsur politik dan perdagangan kental butuh naskah kuat. Geroge Lucas tidak punya itu. Lucas hendak mencoba tampil pintar, tapi berujung kebosanan karena cerita yang tidak mengikat. Tiap petualangan, tiap pertempuran jadi terasa pointless. Penggunaan CGI berlebihan turut melucuti daya tarik action-nya. Hampa.

And of course there's Jar Jar Binks here. Dia bukan "the next C-3PO", karena droid tersebut meski penakut tapi punya hati, peduli pada rekan-rekannya, dan tidak pernah jadi fokus utama. Jar Jar sebaliknya. Bodoh, egois, clumsy berlebihan, menyebalkan, tidak pernah sekalipun bertindak tepat, dan jadi fokus utama. Bahkan dia menjadi jenderal! Lucas tidak punya selera komedi dan Jar Jar membuktikan itu. Untung The Phanton Menace punya pertarungan lightsaber menghibur dengan koreografi yang lebih cepat. Kehadiran Darth Maul pun cukup mengisi lubang ketiadaan Darth Vader. Terlalu banyak dialog rumit yang buruk, petualangan yang tidak seru, CGI berlebihan, drama karakter yang begitu lemah. Naskah Lucas membuat film ini terasa kaku dan kering. 



EPISODE II: ATTACK OF THE CLONES (2002)
Film ini adalah usaha Lucas untuk membuat romansa klasik namun berujung kegagalan total. Disini Anakin telah menjadi Padawan, dan Padme adalah seorang Senator. Keduanya jatuh cinta dalam sebuah romansa paling cheesy yang disuguhkan dengan sangat menggelikan. Dialog ala-sinetron Lucas berkolaborasi dengan akting kaku Hayden Christensen. Jangan bandingkan ini dengan hubungan Han Solo-Princess Leia. Han adalah antihero keren, sedangkan Anakin hanya anak muda egois yang doyan merengek, stalker creepy, perayu gombal kelas teri. Apa yang membuat kisah cinta Han-Leia menarik adalah karena walaupun ucapan romantis (hampir) tidak pernah mereka ucapkan, kita tahu keduanya saling mencintai. Anakin-Padme sebaliknya. Terus mengungkapkan itu tapi terasa kosong, bahkan menyebalkan. Bagaimana mungkin bocah annoying ini menjadi sosok seperti Darth Vader?

Penggunaan CGI dari Lucas makin tamak. Daripada film, Attack of the Clones lebih mirip sequence dari video game. Awkward moment bukan cuma hadir karena dialog dan akting buruk, tapi juga CGI jelek yang membuat aktornya tampak menggelikan. (poor Ewan McGregor & Christopher Lee) Konspirasi politiknya pun makin tak menarik, bertumpuk dengan kisah cinta buruk tadi. Untung klimaksnya menyelamatkan film ini. Battle of Geonosis sangat menghibur. Ayunan lightsaber begitu banyak menghiasi layar, adegan aksi bergerak cepat, sangat jauh dibandingkan drama di paruh awal yang begitu diseret membosankan. Menyenangkan melihat Yoda akhirnya beraksi meski dalam versi CGI buruk. Kemunculan clone troopers hingga terjunnya mereka ke medan perang untuk pertama kali turut membantu film ini sedikit mendekati kesan epic yang diinginkan Lucas. 


EPISODE III: REVENGE OF THE SITH (2005)
Akhirnya sebuah peningkatan. Revenge of the Sith adalah saat Lucas menanggalkan segala basa-basi tak menarik tentang kisruh politik dan masuk ke fokus (seharusnya) utama dalam prekuel trilogi ini: kelahiran Darth Vader. Opening sequence yang menampilkan peperangan di Coruscant berhasil membuka film dengan lantang. Setelah itu filmnya bergerak cukup cepat. Masih ada romansa tak menarik Anakin dan Padme, tapi kita tahu itu tak terhindarkan demi kelahiran Vader, dan lebih dari itu kita tahu kemampuan bertutur Lucas dalam romansa tidak akan berkembang. Jadi kali ini anggaplah saya sudah kebal. Penggunaan CGI juga lebih tepat guna, yaitu untuk mengemas action sequence jadi lebih megah. Saya masih menyukai versi oldskul tentu, tapi kali ini obsesi Lucas pada efek komputer tidak begitu mengganggu.

Mendekati paruh akhir filmnya makin menyenangkan, apalagi saat referensi langsung dengan original trilogy mulai bermunculan. Tapi disitu pula masalahnya. Lucas hanya connecting the dots. Menghubungkan satu per satu apa yang sudah muncul di trilogi lawas, mengaitkannya begitu saja dengan film ini. Murni hanya menuturkan lebih detail tanpa eksplorasi lebih dalam. Sebagai contoh kita akhirnya tahu kenapa Anakin menjadi Darth Vader tapi tidak pernah terikat secara emosional. Tentunya itu turut dipengaruhi akting Hayden Christensen yang tidak sampai setingkat lebih baik dari sebelumnya. Ada potensi kisah tragis nan mengenaskan. Apalagi kebrutalan cukup dihadirkan Lucas pada third act yang penuh pembantaian. Tapi lagi-lagi penonton hanya diajak untuk tahu, bukan mengerti apalagi ikut merasakan.


EPISODE IV: A NEW HOPE (1977)
The one that started this phenomenal franchise. Tidak peduli pendapat orang saat ini, George Lucas punya visi serta konsep yang kuat saat memulai Star Wars disini. Meski merupakan awal, kita bisa merasakan mitologi dan universe yang sudah terbentuk dengan pondasi kuat bahkan sedari penyerangan Darth Vader terhadap pesawat Princess Leia. A New Hope langsung membawa penonton ke tengah konflik yang sudah lama berkecamuk dalam dunia penuh cerita, karakter, serta legenda. Tapi penonton tidak pernah tersesat. Banyak layer tapi Lucas mengungkapnya satu demi satu dengan begitu rapih lewat timing sempurna. Ceritanya kaya dengan sentuhan unsur religius.

Desain karakter tidak pernah berhenti membuat saya terkagum. Begitu pula desain set, pesawat, sampai segala properti lainnya. Imajinatif, berwarna sekaligus ikonik.Begitu pula karakternya. Han Solo langsung mencuri perhatian sedari kemunculan pertama sebagai anti-hero penuh gaya keren. Disaat bersamaan Leia menjadi karakter wanita yang menyimpan kekuatan meski berstatus puteri (salah satu adegan memperlihatkan ia sanggup memimpin Han dan Luke). Penggunaan banyak practical effect daripada bergantung pada CGI turut menciptakan dunia yang benar-benar hidup, bukan sekedar gambar kosong dua dimensi. Sebuah awal kuat yang membuka jalan pada Star Wars untuk melaju dengan kecepatan cahaya.


EPISODE V: THE EMPIRE STRIKES BACK (1980)
Mengejutkan. George Lucas yang kini dikenal sebagai salah satu wajah industri Hollywood pernah mengambil jalan yang berlawanan dengan tren sekuel sebuah blockbusterThe Empire Strikes Back tidak memakai formula "the bigger, the better". Sebaliknya, film ini lebih personal, lebih kelam, lebih punya perasaan. Ber-setting tiga tahun pasca A New Hope, kita melihat ketiga karakter utamanya telah berkembang. Luke bukan lagi pemuda annoying yang doyan mengeluh. Dia telah menjadi salah satu prajurti pemberontakan. Begitu pula Han Solo yang lebih condong sebagai pure hero daripada anti-hero, tanpa mengurangi daya tariknya. Naskahnya lebih banyak menggali inner tiap tokoh. Filmnya bukan sekedar epic soap opera megah. Ini adalah drama humanis penuh gesekan moralitas yang ambigu dan dilema dalam diri karakter.

Terasa lebih gelap apalagi saat film diakhiri dengan kondisi tokoh utama yang terdesak oleh pihak Emperor. Ditambah lagi sebuah twist tentang Darth Vader yang tidak hanya mengejutkan namun merubah arah franchise ini, memperdalam, menambah kompleksitas ceritanya. Meski gelap namun tetap imajinatif. Meski mengambil skala yang lebih kecil, namun bukan berarti episode V ini berjalan lambat dan terksan kerdil. Sutradara Irvin Kershner terus memacu film sedari awal, namun tidak melelahkan. Scoring John Williams turut menjadi kemegahan dramatis yang merupakan latar sempurna bagi petualangan luar angkasa penuh misteri sekaligus imaji ini. Berfokus pada karakter membuat film ini jadi sekuel blockbuster langka sekaligus salah satu yang terbaik.


EPISODE VI: RETURN OF THE JEDI (1983)
Setelah hadir lebih gelap dalam seri sebelumnya, penutup original trilogy mengambil langkah berkebalikan. Tentu saja action scale ditingkatkan. Sebuah kewajaran mengingat statusnya sebagai konklusi sebuah perang antar galaksi. Menyenangkan tapi mulai menjadi kosong. Peperangan melawan Death Star maupun yang bertempat di "Forest moon of Endor" tetap menghibur tapi intensitas tidak sekuat dua film sebelumnya. Apa yang muncul tidak lebih dari ledakan melawan ledakan daripada perjuangan manusia melawan sisi jahat. Minim emosi berujung pada tidak pernah sampainya film ini pada status epic conclusion seperti seharusnya.

Tone jelas jauh lebih ringan apalagi dengan hadirnya para Ewoks. Terasa betul usaha membuat Return of the Jedi menjadi tontonan yang lebih bisa menjangkau semua umur. Uniknya saat film secara keseluruhan kehilangan kedalaman karakter Luke justru makin menarik. Disini kita melihat bahwa sang pahlawan punya potensi untuk jatuh dalam dark side, seperti sang ayah. Return of the Jedi juga punya momen-momen ikonik yang tetap membuatnya jadi hiburan menyenangkan: Boba Fett, Darth Vader's redemption, dan tentunya Leia sebagai budak Jabba the Hutt. Tidak buruk, hanya saja selepas apa yang dicapai The Empire Strikes Back, episde VI ini jelas sebuah kemunduran. Still very entertaining though. 

Overall Verdict: Sudah pasti George Lucas terjerumus kedalam dark side bernama "uang" saat memutuskan membuat trilogi prekuel-nya. Bukan hanya tidak pernah menandingi kualitas trilogi "asli", prekuel itu pun terasa berasal dari universe yang berbeda. Tiga film pertama adalah sajian klasik penuh mitologi yang seharusnya cukup dibiarkan tak terjawab menjadi misteri. Tapi kini semua telah terjadi, dan saya yakin J.J. Abrams bisa lebih baik dari Lucas. So JJ, May the force be with you.

MY SHORT MOVIE - "TO THE BIUTI"

Berawal dari suatu malam minggu penuh kesendirian dan kehampaan (intinya nganggur dah) muncul sedikit ide membuat film pendek. Tapi kondisi keuangan sedang kurang mendukung dan tidak ada yang bisa diajak karena mendadak ingin membuat saat itu juga. Akhirnya nekatlah saya eksekusi ide itu sendiri. Menyusun cerita sendiri, sutradara sendiri, aktor sendiri, ambil gambar sendiri, edit sendiri. Akhirnya teknis dan segalanya kurang bagus sudahlah, yang penting hasrat berkarya ini terpenuhi. Bisa orgasme. Ceritanya sendiri tentang obsesi masyarakat zaman sekarang akan sesuatu (watch it and you know what's the obsession). Musik yang saya pakai disini adalah buatan Kevin MacLeod yang dinaungi lisensi creative commons. Jadi silahkan dilihat film pendek atau apapun namanya karya saya ini.

GITA CINTA DARI SMA (1979)

Semenjak milenium baru AADC? menjadi sebuah ikon. Tidak hanya pergerakan film Indonesia, tapi juga ikon kisah cinta remaja beserta kehidupan masa SMA. Tapi lebih dari 20 tahun sebelum era Rangga dan Cinta, Indonesia sudah terlebih dulu punya Galih dan Ratna dengan kisah cinta yang masih terus melegenda sampai hari ini. Bagi generasi mudah, dua nama tersebut mungkin lebih lekat diasosiasikan sebagai judul lagu buatan Guruh Soekarnoputra yang dinyanyikan Chrisye. Namun rasanya sudah tidak banyak yang tahu bahwa fenomena itu diawali dari film karya Arizal yang diangkat dari novel berjudul sama karya Eddy D. Iskandar ini. Bahkan dari apa yang tersaji di layar, amat mungkin bahwa AADC? mengambil begitu banyak inspirasi dari Gita Cinta dari SMA. Film ini adalah contoh sempurna dari istilah "film klasik". Tidak peduli usianya sudah menginjak 36 tahun, romansa ala Galih dan Ratna masih begitu dekat dengan kehidupan remaja saat ini.

Ratna (Yessi Gusman) adalah siswi pindahan yang karena kecantikannya langsung membuat banyak pria mengantri untuk cintanya. Satu per satu dari mereka mencoba mendekati Ratna dengan bermodalkan modus "antar pulang". Tapi di tengah pria-pria dengan mobil dan vespa tersebut, perhatian Ratna justru tertuju pada Galih (Rano Karno) yang hanya sanggup mengayuh sepeda. Disini mulai terasa pembeda antara Gita Cinta dari SMA dengan kebanyakan romansa modern perfilman Indonesia. Formulanya klasik. Wanita dari keluarga "berada" jatuh cinta dengan pria sederhana. Klise. Tapi hal klise ini justru sudah banyak ditinggalkan karena dianggap tidak logis. Tren pun berganti. Tengok saja kebanyakan film romantis remaja saat ini, tidak peduli yang sampah ataupun yang lumayan. Kebanyakan membuat sosok pria idaman dengan paras tampan, dandanan metroseksual, plus mobil mewah. Tren yang makin lama makin berlebihan dan justru menciptakan "ketidak logisan" yang semakin parah.

Kalaupun ada yang menyoroti strata berbeda, hasilnya juga (tanpa bermaksud merendahkan kasta sosial tertentu) sama ngawur-nya. Entah si wanita digambarkan sangat kaya dan si pria sangat miskin (supir, pembantu, pengamen, tukang becak, dll) atau sebaliknya. Galih dan Ratna berbeda. Status sosial keduanya berbeda, tapi itu tidak jadi soal. Tidak pula dieksploitasi berlebihan. Ratna jatuh cinta karena Galih tidak seperti pria lain yang ngotot mendekati dia, bahkan cenderung memaksa. Galih terkesan cuek. Cuek yang bukan didasari sok cool tapi karena rasa malu dan tidak percaya diri. Alamiah, realistis. Kondisi semacam ini memang sering terjadi. Ratna pun mendekati Galih dengan cukup agresif, memakai salah satu trik pendekatan paling klasik, yaitu meminjam buku catatan. Cheesy-kah? Nyatanya tidak. Disaat "the oldest love story" dituturkan secara sederhana dan apa adanya, kejujuran lah yang terasa.
Kuncinya adalah dua karakter utama yang tidak asing. Galih dan Ratna adalah kita sendiri. Remaja biasa dengan problematika romansa yang jamak terjadi. Sebuah kisah cinta SMA dengan bumbu konflik yang wajar hadir seperti persaingan dan restu orang tua. Semakin tidak asing pula film ini berkat caranya menampilkan kehidupan SMA yang ada. Kegiatan belajar mengajar, guru yang jadi bahan lelucon, perkemahan penuh nyanyian beserta iringan gitar bahagia, semua itu ada. Semua itu nyata. Penonton dari kalangan usia manapun saya rasa akan terlempar memorinya ke masa sekolah dulu saat menonton film ini. Satu lagi yang menyenangkan adalah bagaimana film ini tidak melakukan glorifikasi terhadap kehidupan "sok gaul" remaja. Saya tidak tahu bagaimana hedonisme pada era 70-an, tapi jelas bukan seperti ini. Disaat romansa modern hobi memperlihatkan karakter dengan hidup glamor, Galih dan Ratna adalah dua pelajar teladan, juara kelas, dan tetap bisa saling jatuh cinta. 
Tapi tidak ada rasa menggurui disini. Tidak ada pesan moral bahwa pelajar harus rajin dan sebagainya. Ada usaha untuk memasukkan kesenian Indonesia seperti adegan tarian di acara perpisahan atau saat para siswa berkemah dan menyanyikan lagu-lagu anak yang riang gembira. Meski menghadirkan semua itu, lagi-lagi yang terasa adalah kejujuran. Tidak ada niatan untuk "sok nasionalis" atau "sok melestarikan budaya". Semuanya murni ada disana karena Arizal memang merasa perlu memasukkan semua itu untuk menghadirkan sebuah kisah cinta yang "sehat" dalam lingkungan yang "sehat" pula. 

Dialog yang ditulis Eddy D. Iskandar mayoritas menggunakan bahasa baku. Sangat baku dan sesungguhnya sedikit mengurangi kesan "abadi" film ini, karena jika ditengok lewat kaca mata sekarang, kesan realistis akan berkurang. Tapi itu bukan pilihan yang salah. Jika ada yang kurang, lebih kearah bagaimana Arizal menangani dialog-dialog baku tersebut. Muncul banyak adegan yang tidak dihendaki lucu namun membuat saya tertawa lepas. Kebanyakan rasa lucu hadir karena kekauan yang begitu kuat. Banyak aktor khususnya dalam peran pembantu kurang nyaman dengan pelontaran dialog mereka. Kelucuan yang tidak diniati juga tidak hanya hadir karena pengemasan dialog. Disaat ceritanya mampu terhindar dari kesan cheesy, pengemasannya justru sering begitu dan terasa amat lucu. Contoh sempurna adalah adegan saat ayah Ratna memergoki ia dan Galih tengah berduaan di malam hari. Bersamaan dengan teriakannya, muncul gambar petir yang menggelegar. Komedi.

Tapi kekuatan akting dua pemeran utamanya amat menolong. Disaat Yessi Gusman sering kaku pada pelafalan dialog, tidak begitu dengan curahan emosi dan ekspresinya. Mata sebagai jendela hati muncul dalam aktingnya. Setiap emosi tersaji kuat. Sedangkan untuk dialog, Rano Karno adalah yang paling enak didengar. Karakter yang cuek ia bawakan dengan kharisma kuat dikombinasi dengan pengucapan dialog yang lebih terasa "cair". Tentu saja chemistry mereka begitu kuat. Ikatan yang berada pada tingkatan tinggi, jauh di atas kekakuan dialognya. Mereka berpadu dengan hati, bukan semata-mata akting permukaan yang scripted. Jika pada akhirnya Galih dan Ratna menjadi ikon kisah cinta abadi, itu karena Rano Karno dan Yessi Gusman sanggup menghidupkan kedua tokoh tersebut.

Verdict: Gita Cinta dari SMA adalah film pop, itu tidak perlu dipungkiri. Tapi sebuah film pop yang tampil jujur dan menjadikannya kisah romantis klasik. Ibarat makanan, film ini ringan tapi bergizi, bukanlah junk food.

AVENGERS: AGE OF ULTRON (2015)

Merupakan pekerjaan yang sulit kalau bukan mustahil untuk membuat follow-up yang melebihi The Avengers. Semaksimal apapun usahanya, suatu sekuel pasti tidak akan "sesegar" film pendahulunya. Ditambah ekspektasi amat tinggi dari penonton, membuat sekuel yang lebih bagus dari suatu masterpiece semakin terasa tidak mungkin. Christopher Nolan telah merasakan itu. Kali ini giliran Joss Whedon berhadapan dengan tantangan tersebut. Dia sudah mewujudkan "kemustahilan" saat berhasil menggabungkan banyak superhero dalam satu film. Age of Ultron memperlihatkan Avengers yang sudah menyatu sebagai sebuah tim, berbeda dengan di film pertama saat baru terbentuk. Hal itu sudah diperlihatkan oleh action sequence pembuka saat mereka menyerang markas Baron Strucker (Thomas Kretschmann). Pembuka yang dikemas apik oleh Whedon, memanfaatkan gerak kamera dinamis memperlihatkan masing-masing superhero bekerja sama di pertempuran. Mengingatkan pada klimaks film pertama.
Sejak lama Whedon menjanjikan sekuel yang tidak hanya lebih besar namun juga lebih gelap. Bahkan saat ditanya satu kata yang paling sesuai menggambarkan film ini, ia menjawab "death". Whedon menepati janti tersebut. Untuk mewujudkan film yang lebih gelap beberapa cara ditempuh. Selipan humor kuantitasnya dikurangi meski tidak dihilangkan. Ciri khas naskah tulisan Whedon masih terasa. Interaksi antar karakter tetap beberapa kali memancing tawa. Tidak seefektif film pertama, tapi masih segar, masih begitu hidup. Karakter (tidak hanya Tony Stark) melontarkan one-line-joke di tengah pertempuran jadi pemandangan biasa. Berbekal kepintaran Whedon serta mayoritas karakter yang sudah terbentuk dalam film-film sebelunya, baris lelucon tidak merubah mereka menjadi karakter sitcom. Whedon masih tahu batas. Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson), Ultron (James Spader) maupun Vision (Paul Bettany) punya momen komedik masing-masing yang tidak terasa dipaksakan sehingga out-of-character
Age of Ultron juga terasa lebih gelap karena kisahnya banyak mengeksplorasi ketakutan. Ultron tercipta karena ketakutan Tony Stark bahwa suatu saat nanti ada musuh yang tidak bisa ditangani oleh Avengers. Semakin kuat tema "ketakutan" berkat kehadiran Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dengan kemampuannya memanipulasi pikiran untuk menghadirkan mimpi terburuk seseorang. Dengan tema itu, jika berani nekat Whedon bisa saja membuat film ini menjadi horror bertemakan superhero. Whedon jelas menyadari potensi tersebut. Beberapa adegan kental suasana horror. Mulai dari dream sequence masing-masing Avengers, sekilas penampakan mayat seorang karakter yang tewas bersimbah darah, adegan potong tangan yang menjadi "rutinitas" phase 2 MCU sebagai referensi terhadap Empire Strikes Back, sampai kehadiran awal Scarlet Witch yang lebih terasa seperti hantu wanita daripada superhero/villain standar adaptasi komik. Keberhasilan itu membuat Age of Ultron sanggup menjadi sajian MCU yang lebih kelam, tanpa melupakan unsur hiburan. 

But here comes the problems. Termasuk Ultron, total ada 10 karakter yang harus berbagi spotlight. Jumlah yang bahkan melebihi film X-Men sekalipun. Terlebih lagi beberapa dari mereka seperti Quicksilver, Scarlet Witch, Vision dan Ultron baru diperkenalkan dalam film ini sehingga membutuhkan pengenalan. Bahkan untuk karakter lama sekalipun terdapat sub-plot tambahan semisal ketakutan Tony Stark plus pertentangannya dengan anggota tim sebagai jembatan menuju Captain America: Civil War, hubungan Bruce Banner dan Black Widow, hingga eksplorasi Hawkeye sebagai bentuk "melunasi" tersia-siakannya dia pada film pertama. Ada begitu banyak karakter, ada begitu banyak hal terjadi. Beberapa arc sesungguhnya berhasil. Hawkeye jadi karakter yang lebih menarik saat kehidupan pribadinya diperlihatkan, atau saat ia "berkeluh kesah" tentang dirinya sebagai manusia biasa yang terjebak di tengah pertempuran para dewa. Kisah cinta Bruce dan Natasha yang makin diangkat memberikan keunikan sekaligus romansa terbaik dalam sejarah MCU selain Steve Rogers dan Peggy Carter.
Tapi tidak semua berjalan mulus. Efek shared universe begitu terasa disini. Saat James Gunn "selamat" karena Guardians of the Galaxy adalah stand alone, maka Age of Ultron layaknya klimaks sebuah fase. Harus merangkum apa yang telah terjadi, memperkenalkan hal baru, sampai memberikan tease pada apa yang akan hadir ke depannya (Infinity Wars). Ya, kali ini Joss Whedon kesulitan menangani hal tersebut. Age of Ultron memang bukan sekedar pengisi slot, tapi keharusan terikat akan event-event MCU melucuti potensinya. Cerita pun jadi amat bertumpuk. Sebagai contoh kisah si kembar Pietro dan Wanda yang terburu-buru dieksekusi. Alhasil, peralihan sisi yang mereka alami tidak memberikan dampak lebih. Saya berharap sebuah turning point menggetarkan saat villain berganti menjadi pahlawan, tapi itu tidak terjadi. Kegagalan yang juga berujung pada kurangnya dampak emosional pada klimaks. 

Tapi kekecewaan terbesar datang dari sosok Ultron. Digadang-gadang sebagai villain bagus MCU setelah Loki, Ultron hanya diatas rata-rata namun tidak mengesankan. Kompleksitas karakter yang salah mengartikan perdamaian dan kehancuran bagai hanya tempelan saja. Apa yang sampai pada penonton hanya "Ultron ingin menghancurkan dunia" layaknya penjahat pada umumnya. Tidak lebih, tidak ada pula kompleksitas yang hadir akibat kebencian Ultron (anak) pada Tony Stark (ayah). Tentu lebih baik dari sosok villain Marvel kebanyakan, tapi layaknya Winter Soldier, Ultron punya potensi berada di ranah yang lebih kompleks, lebih abu-abu. Whedon berusaha membuat Ultron lebih quirky, lebih aneh dengan lontaran-lontaran jokes yang nyatanya kurang efektif. James Spader bukanlah Tom Hiddlestone. Spader justru lebih berpotensi menjadi villain yang lebih kelam, lebih kejam daripada "joker" layaknya Loki. Melucuti potensi itu membuat Ultron terasa less menacing dari yang selama ini digadang-gadang oleh materi promosinya.
Menjadi tidak maksimal, tapi Joss Whedon sudah melakukan hal spesial di sini, atau setidaknya lebih baik dari sutradara-sutradara lain yang kerepotan menangani karakter dalam jumlah besar (ex: Sam Raimi, Brett Ratner, Marc Webb). Tidak mungkin mendapat hasil lebih baik dari ini dengan total karakter utama menyentuh dua digit. Setidaknya masing-masing dari mereka punya kesempatan bersinar meski hanya beberapa menit. Diantara mereka, Scarlet Witch/Wanda Maximoff adalah yang paling saya sukai. Seperti deskripsi Maria Hill, "she's weird". Kemunculan awalnya misterius dan creepy. Meski pada akhirnya beralih sisi menjadi hero, karakternya masih terasa twisted. Potensi yang hadir dari karakterisasi serta kekuatan terpendam Wanda inilah yang bisa menjadikannya seperti Hulk dalam film-film ke depan, dalam artian sosok Avengers yang sulit dikontrol bahkan bisa menjadi ancaman layaknya di komik. 

Adegan aksi masih dikemas begitu baik oleh Whedon. Pergerakan kamera dinamis, tiap ledakan dan hantaman tidaklah asal namun diperhitungkan matang demi koreografi memikat. Tidak kosong. Whedon juga masih jago menjadikan tiap-tiap Avengers nampak keren saat tengah beraksi, tanpa harus berlebihan dan annoying. Semua itu adalah bukti bahwa Whedon tidak hanya paham tapi juga mencintai tiap-tiap tokoh yang ada. Mereka tampak keren bukan karena suatu keharusan, tapi karena Whedon ingin yang terbaik bagi karakternya, dan dia tahu bagaimana caranya. Tapi seperti yang saya sebut di atas, suasana fresh dalam film pertama tidak akan muncul di sekuelnya. Masih memukau, masih bombastis, tapi melihat para superhero ini beraksi dalam satu layar tidak lagi membuat bulu kuduk berdiri atau bahkan air mata menetes. Kita kembali melihat para Avengers bersatu menghadapi pasukan musuh, yang masih menghibur tapi tidak lagi luar biasa. Masih ditambah klimaks yang tidak se-epic apa yang hadir dalam trailer-nya. Mungkin butuh Thanos untuk memunculkan thrill itu lagi.

Verdict: Age of Ultron bukan epic massive. Bukan pula blockbuster bintang lima seperti yang saya harapkan. Fans akan terhibur meski penonton awam mungkin tidak mengerti beberapa referensi serta sempat bosan oleh selipan drama yang kental di pertengahan.Tapi dengan karakter dan cerita sebanyak itu, fakta bahwa film ini tidak berantakan bahkan sangat menghibur adalah pencapaian mengesankan sekaligus bukti kejeniusan Joss Whedon.