THE WITCH (2015)

Rasanya dewasa ini sulit menemukan horror yang punya kapasitas menakut-nakuti penonton ketika jump scare makin jadi primadona. Sehingga tidak mengherankan tiap kali suguhan macam itu hadir, pujian setinggi langit senantiasa mengiringi. Setelah The Babadook dan It Follows, giliran The Witch karya sutradara debutan Robert Eggers mencuri perhatian, memunculkan harapan bahwa masih ada horror filmmaker dengan kemampuan membangun kengerian atmosfer secara efektif tanpa harus berusaha keras menjadi "critics darling" namun mengalienasi penonton awam karena filmnya terlampau berat untuk dinikmati. The Witch akan membawa anda kembali jauh menuju abad 17, menjelajah hutan belantara New England guna menyibak rahasia menyeramkan di dalamnya.

William (Ralph Ineson) beserta keluarganya baru saja diusir dari sebuah komunitas Kristen puritan akibat dituduh menentang aturan Gereja. Mereka pun pindah menetap di samping hutan sembari membangun kebun jagung demi memenuhi kebutuhan pangan. Beberapa bulan kemudian keluarga tersebut dirundung duka kala bayi mereka, Samuel mendadak hilang. William berasumsi Samuel dimangsa oleh serigala, tapi istrinya, Katherine (Kate Dickie) menyalahkan sang puteri sulung, Thomasin (Anya Taylor-Joy) yang saat itu tengah bertugas menjaga Samuel. William tetap berusaha meyakinkan keluarganya bahwa Tuhan akan selalu memberikan perlindungan, namun iman mereka semakin terkikis, menghadirkan perpecahan tanpa tahu teror penyihir setia mengintai dari dalam hutan.
Sepanjang 88 menit durasinya, The Witch memang berjalan lambat, tapi bukan berarti Robert Eggers betah membuat penonton berlama-lama menunggu tanpa satu pun hal signifikan terjadi. Berbeda dengan arthouse horror di luar sana yang menghabiskan waktu cukup lama membangun atmosfer supaya penonton bisa merasakan kesunyian mencekam setting-nya, film ini hanya butuh sekitar tujuh menit sampai keanehan pertama muncul  hilangnya Samuel  dan kita berkesempatan "mengintip" ritual disturbing sang penyihir. Daripada bertahap, pembangunan atmosfer, eksplorasi karakter, serta pameran kengerian dilakukan secara bersamaan sehingga kita tak usah lebih dulu terjebak kebosanan menanti filmnya tancap gas. 
The Witch tidak bergantung pada jump scare  hanya muncul 2-3 kali  melainkan pemanfaatan kolektif dari scary imagery lewat sinematografi Jarin Blaschke, creepy atmosphere hasil musik gubahan Mark Korven, juga eksplorasi cerita melalui naskah tulisan Robert Eggers. Rangkaian gambar film ini terasa mencekam tanpa perlu mengeksploitasi gore ataupun penampakan hantu berwajah mengerikan. Adegannya didominasi twisted situation berisi tingkah aneh hewan atau manusia yang mengacaukan logika nalar kita, membuatnya justru semakin mengerikan. Terlebih Robert Eggers piawai merangkai gambar-gambar tersebut supaya tidak bertebaran acak sekaligus menciptakan timing sempurna bagi terornya. Sedangkan musik karya Mark Korven selaku scoring film horor paling eerie selama beberapa waktu terakhir bak menyiratkan teror mencekam yang perlahan mencengkeram.

Ditinjau melalui sudut pandang cerita pun, The Witch menyimpan kekuatan sebagai folktale menyeramkan penuh aura kejahatan tentang goyahnya iman manusia tatkala iblis mulai menyodorkan tipu daya memanfaatkan kelemahan kita. Bukan hal mudah menyaksikan bagaimana William dan keluarganya mulai terpecah belah mencurigai satu sama lain. Terasa begitu jahat karena The Witch tidak (langsung) melukai fisik tokoh-tokohnya, melainkan menjatuhkan psikis mereka terlebih dahulu. Paparan unsur agamanya tak berusaha menjelekkan satu pihak, murni eksplorasi lemahnya keimanan seseorang saat barisan doa sekedar terucap di mulut tanpa merasuk dalam hati, atau sebagai topeng guna menyembunyikan kelamahan dan ketidakberdayaan seseorang macam William yang nyatanya hanya jago membelah kayu. This movie shows how the devil drags us human into joining their side in a fucked up and eeriest way.

ADA APA DENGAN CINTA 2 (2016)

Banyak orang menyematkan status "fenomenal" untuk Ada Apa dengan Cinta? karena keberhasilannya merepresentasikan remaja di masanya. Bagi saya pencapaian AADC? lebih dari itu. Bukan semata-mata mewakili, filmnya mampu menciptakan kultur, menggiring remaja meniru banyak unsur di dalamnya. Seperti film legendaris lain, kehadiran sekuel memancing pertanyaan sekaligus kekhawatiran. Hendak dibawa ke mana kisahnya? Apa memang perlu dilanjutkan? Bukankah konklusinya sudah sempurna? Bagaimana jika hasilnya buruk lalu mencoreng reputasi pendahulunya? Walau tampuk penyutradaraan berpindah ke Riri Riza, menggantikan Rudi Soedjarwo yang kini kualitas karyanya naik-turun dan naskah masih digarap Prima Rusdi (kali ini bersama Mira Lesmana), rasa khawatir tetaplah ada.

Ber-setting 14 tahun pasca film pertama, kita dipertemukan lagi dengan Cinta (Dian Sastrowardoyo), Karmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal) dan Milly (Sissy Priscillia) yang tengah bereuni   ketiadaan Alya (Ladya Cheryl) nantinya akan dijelaskan   sembari merencanakan liburan bersama ke Jogja. Sementara itu, Rangga (Nicholas Saputra) masih tinggal di New York sembari membuka coffee shop sederhana. Hingga suatu berita membuat Rangga memutuskan kembali ke Indonesia, tepatnya Jogja. Di sanalah Rangga dan Cinta kembali bertemu setelah bertahun-tahun lamanya terpisah. 

Ada beberapa plot point tidak saya singgung demi menjaga kepuasan anda saat menonton. Sinopsis di atas terdengar klise dan sejatinya Ada Apa dengan Cinta 2 memang tak menawarkan inovasi pada tataran alur, tapi bukan berarti penceritaannya lemah. Fokus utama seputaran romantika Rangga-Cinta dikemas ala Before Trilogy-nya Richard Linklater, di mana mayoritas durasi "hanya" memperlihatkan obrolan mereka berdua selama sehari penuh di Jogja. Saya sebut "mayoritas" karena cuma second act-nya saja memakai pendekatan tersebut, namun itu saja sudah cukup mengeksplorasi hubungan keduanya secara lebih intim. Terlebih Riri Riza piawai mengolah supaya situasi sebuah scene tersalur kuat pada penonton.
Pertemuan kembali dua insan saling mencinta setelah sekian lama pastilah takkan mudah, apalagi jika tersimpan permasalahan yang belum terselesaikan. Ada kesan awkward terpancar, but in a cute and romantic way, semisal Cinta yang kerap malu-malu atau saat Rangga kehabisan kata-kata (yes, Rangga is speechless). Riri mampu menjadikan momen sederhana menjadi impactful, dengan contoh sempurna pembicaraan Cinta dan Rangga di cafe yang walau sekedar diisi luapan unek-unek Cinta, jadi terasa intense sekaligus menggelitik berkat banyaknya pemakaian close-up menyoroti ketegasan Cinta atau diamnya Rangga. Kesan serupa rutin terulang sepanjang film, menjadikannya romantis secara natural karena kita menyukai interaksi protagonisnya, bukan dipaksakan lewat baris kalimat puitis berlebih atau momen overly dramatic.

Ada Apa dengan Cinta 2 bukannya tanpa kelemahan. Beberapa menit awal terasa flat, tepatnya sebelum Cinta dan Rangga menjalani hari bersama, bagai prolog yang terlampau panjang. Untung "Geng Cinta" mampu menjaga intensitas berkat hidupnya interaksi di antara mereka yang acapkali memancing tawa. Saya pun sedikit terganggu akan cara penghantaran konklusi. I don't have a problem with happy ending. Rangga and Cinta deserve that. The audience deserve that. Tapi setelah penutup powerful dari setting Jogja, ending tersebut menjadi antiklimaks, tak seberapa menguras emosi. Cukup mengganggu pula karena film mendadak berubah dari talky romance intim menjadi lebih generic walau masih menyunggingkan senyum di bibir saya. 
Jajaran cast-nya (unsurprisingly) jadi aspek terkuat. Dian Sastrowardoyo efektif menangani adegan emosional tanpa harus berlebihan, namun daya pikat terbesarnya ada pada bahasa non-verbal sewaktu merespon ucapan Rangga misal lewat senyuman diam-diam. Karena itu, penonton terpikat, karakter Cinta pun terkuatkan. Nicholas Saputra masih mempertahankan charm-nya. Menyenangkan pula lebih sering melihat Rangga selain sebagai pria bermulut sinis. Keputusan tepat dilakukan ketika memberi porsi lebih pada Karmen. Adinia Wirasti kini merupakan salah satu aktris terbaik Indonesia, dan memberi Karmen konflik personal serta satu momen perselisihan dengan Cinta jadi langkah tepat memaksimalkan kemampuannya. Barter dialog penuh emosi antara Adinia Wirasti dan Dian Sastrowardoyo? Siapa tidak antusias? Sedangkan Sissy Priscillia adalah scene stealer lewat kemampuannya menghadirkan tawa berulang kali. 

Ada Apa dengan Cinta 2 adalah nostalgia memuaskan, apalagi berkat kehadiran beberapa fan service moment yang sukses menciptakan histeria penonton. Tapi tidak hanya itu, karena alurnya tetap memperhatikan eksposisi cerita serta karakter daripada sekedar fokus pada fan service. Is it unnecessary? Probably. Tapi sama halnya Before Sunset, sekuel ini tidak wajib dibuat namun sukses membawa kelanjutan kisah pendahulunya menuju arah yang benar. Berbeda dari film pertamanya, Ada Apa dengan Cinta 2 mungkin tak sampai mewakili apalagi menggiring kehidupan generasi masa kini, tapi sungguh perayaan manis untuk kisah cinta legendaris. Salah satu sekuel terbaik di perfilman Indonesia. 

CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR (2016)

Menggabungkan sejumlah superhero ke dalam satu film layaknya The Avengers merupakan tugas maha berat, tapi tingkat kesulitan Captain America: Civil War bagi saya jauh lebih tinggi. Penonton harus bisa digiring supaya mempercayai alasan para jagoan saling bertarung. Sebagaimana The Avengers, jumlah karakternya pun sangat banyak, dan kenapa mereka memilih bergabung dengan satu sisi harus pula dipaparkan, bukan sekedar menggabungkan semuanya. Wajar bila terdengar seperti kemustahilan yang memunculkan skeptisme. Sampai kekhawatiran tersebut musnah seketika, berganti cinematic orgasm bercampur gejolak emosi tatkala Anthony Russo dan Joe Russo mempersembahkan entry terbaik dari Marvel Cinematic Universe sejauh ini.

Bicara mengenai plot, anda hanya perlu tahu bahwa terjadi perpecahan di tubuh Avengers ketika PBB menciptakan "Sokovia Accord" yang bertujuan mengatur pergerakan manusia berkekuatan super. Avengers pun terbelah menjadi dua di mana Captain America / Steve Rogers menyuarakan penolakan, sedangkan Iron Man / Tony Stark menyatakan kesetujuan. Dari sini eksplorasi karakter dimulai. Selaku tonggak tiap fraksi, penting membuat motivasi keduanya jelas, dan naskah garapan Christopher Markus bersama Stephen McFeely berhasil melakukannya. Baik prinsip Steve maupun dampak rentetan pengalaman buruk Tony bisa saya pahami. Pada titik ini, sulit menentukan siapa benar, siapa salah, karena masing-masing opini menyimpan kekuatan sekaligus kelemahan.
Melalui satu momen perdebatan, hadir kesempatan bagi tokoh-tokoh lain mengutarakan pendapat yang (meski sekilas) telah cukup menguatkan motivasi atas pilihan kubu mereka nantinya. Naskahnya menekankan bahwa konflik tersebut didasari perbedaan prinsip sembari beberapa membawa permasalahan personal, bukan hanya pemberi jalan untuk menciptakan pertarungan besar antara superhero. Emosi saya dipermainkan oleh fakta bahwa tidak ada satu pun yang menikmati perpecahan itu. Clearly, they don't wanna fight each other. Di saat pertama kali "Sokovia Accord" diajukan, Tony (the one with big mouth) hanya bisa duduk terdiam. Atau tengok pula adegan Black Widow / Natasha Romanoff mengutarakan keengganannya membiarkan Steve sendirian walau keduanya berbeda pendapat. 

Di samping "Sokovia Accord" terdapat sub-plot lain yang alih-alih merusak fokus justru memperluas area penceritaan sembari memberi jalan bagi karakter lain macam Black Panther / T'Challa, Winter Soldier / Bucky Barnes hingga Helmut Zemo untuk ikut terlibat. And once again, they have clear motivation. Tentu begitu banyak hal terjadi, namun berkat kejelian Christopher Markus dan Stephen McFeely semua konflik punya keterikatan, saling menguatkan, menghadirkan satu bagan menyeluruh tanpa pernah out of place. More importantly, this is still Captain America movie, not Avengers 2.5, karena segala konflik bersinggungan dengan sang titular character
Pada paragraf pertama saya sempat menyebut "cinematic orgasm". Orgasme semacam itu selalu memancing air mata saya mengalir. Bukan karena drama penguras emosi, melainkan rasa kagum luar biasa atas bagaimana filmmaker menyusun karyanya. Russo Brothers telah membuat air mata saya menetes lewat eksekusi action sequence. Yes, I cried because of action sequence! Sebagaimana The Winter Soldier, Civil War mempertahankan nuansa espionage khususnya pada opening kala Avengers tengah memburu Crossbones. Russos tidak asal menyuguhkan kesan bombastis, melainkan menekankan bagaimana Avengers menghadapi pertempuran sebagai sebuah tim bermodalkan taktik dan kerja sama. Saya suka menyaksikan mereka bahu membahu terlebih momen "kolaborasi" Captain America-Scarlet Witch.

Adegan pembuka nyatanya sekedar contoh kecil, awal rentetan kegilaan aksi lainnya. Captain America: Civil War sempat berjalan lambat ketika masuk babak pengenalan masalah. Jauh dari membosankan karena eksplorasi naskahnya, namun jelas berpotensi menguji kesabaran penonton. Untung adegan aksi selalu rutin terselip, and let me tell you, all of the action sequences are amazing. Bukan satu atau dua, tapi semua! Bahkan sewaktu superhero berjibaku tanpa mengenakan kostum, ciri khas masih kuat terjaga. Puncaknya adalah airport sequence dan climax battle. Klimaksnya selain brutal juga emosional. Walau minim ledakan, dinamika karakter menjadi kunci, di mana tak hanya pertarungan terjadi melainkan pertukaran luapan rasa. Sedangkan untuk airport sequence, Russo Brothers melakukan hal serupa dengan yang telah dilakukan sepanjang film: penekanan karakter. Overall, sequence ini tak hanya terbaik di antara rilisan MCU tapi juga film superhero secara keseluruhan.
Tiap tokoh mendapat kesempatan unjuk gigi. Spider-Man berayun sembari berseloroh, mengingatkan kenapa sang manusia laba-laba ini merupakan sosok yang amat likeable (and yes, this is my favorite incarnation of Spidey). Ant-Man pun serupa. Masih bersenjatakan lontaran jokes menggelitik ia bahkan menyimpan satu kejutan luar biasa bagi penonton. Black Panther? He's simply a noble bad-ass. Paling mengejutkan justru Helmut Zemo. Tanpa kekuatan super  dibanding villain MCU lain jelas ia "terlemah"   Zemo justru lawan paling berbahaya dengan motivasi paling relatable sejauh ini. Bermodalkan satu monolog menjelang akhir, Daniel Bruhl sukses merenggut simpati saya. Jikalau ada kekecewaan, mungkin hanya pada Crossbones yang porsinya tak seberapa.

Boleh saja ini merupakan sajian superhero berisikan orang-orang berkostum, tapi nyatanya terdapat kisah kompleks nan emosional khususnya tentang persahabatan dan keluarga, dua hal yang mendominasi story arc tokoh-tokohnya. Berakhir sebagai suguhan paling menguras perasaan dari MCU, untungnya Civil War tetap ingat membuat penonton tertawa lewat sentuhan komedi segar. Inilah bukti bahwa film superhero tetap bisa menyinggung kisah serius cenderung kelam tanpa harus malu menyuntikkan semangat bersenang-senang. Semakin bertambah kepuasan saya tatkala Russo Brothers secara jenius mentranslasikan berbagai panel ikonik dari komik ke dalam rangkaian adegan di layar. Filled with joy and tears, 'Captain America: Civil War' is monumental, not only for Marvel, but also superhero movie in general. So, tell me DC, do you bleed?

*Ada 2 credit scene, satu di pertengahan dan satu lagi di akhir kredit. Jadi jangan buru-buru beranjak.


Ticket Powered by: ID Film Critics

THE INVITATION (2015)

Bukankah sering anda mendapati sebuah adegan dalam film memperlihatkan karakternya membunuh hewan (bahkan manusia) yang terluka dengan alasan "to put it out of its misery"? Opening film ini memunculkan pemandangan serupa ketika Will (Logan Marshall-Green) secara tidak sengaja menabrak seekor coyote, lalu terpaksa membunuh hewan tersebut. Tapi benarkah tindakan itu mengakhiri penderitaan? Is it really the best way? Coba terapkan kondisi serupa pada kehidupan sehari-hari, tatkala kita menderita, merasakan sakit luar biasa (fisik maupun psikis). Apakah cara di atas sungguh pilihan bijak atau sekedar denial karena merasa lelah kemudian ingin lari dari permasalahan?

Peristiwa road kill tadi terjadi saat Will dan kekasihnya, Kira (Emayatzy Corinealdi) sedang berada di perjalanan guna menghadiri undangan Eden (Tammy Blanchard) yang tak lain adalah mantan istri Will. Pertemuan tersebut juga menjadi ajang reuni bagi teman-teman mereka setelah tak bertemu selama dua tahun. Selama dua tahun itu pula Will menghilang dan menikahi David (Michiel Huisman). Tentu jamuan makan malam itu terasa sulit bagi Will, di mana situasi kaku terasa jelas meski semua orang termasuk Eden dan David coba menghangatkan suasana. Will sendiri masih merasakan trauma akibat tragedi semasa pernikahannya dengan Eden dahulu. Namun kondisi perlahan berubah dari awkward menjadi mencekam ketika Will merasa ada keanehan di sana, terlebih pasca David mempertontonkan sebuah video.
Jangan berharap film ini melaju kencang memacu jantung penonton sejak awal durasi. The Invitation merupakan slow burning thriller yang penuh kesabaran (baca: lambat) menyibak tabir misterinya. Baru sekitar 20 menit terakhir sutradara Karyn Kusama mempercepat laju, itu pun masih tergolong mid tempo, tidak menghentak keras. Justru karena itulah The Invitation mampu tampil memikat. Naskah garapan Phil Hay dan Matt Manfredi cermat mengolah sisi psikologis manusia untuk menggunakannya selaku amunisi pembangun rasa tidak nyaman. Will diposisikan sebagai jembatan penghubung antara penonton dengan filmnya. Jika anda perhatikan, semua permainan atmosfer film ini apapun bentuknya bersumber dari dalam diri Will, bukan stimulus eksternal akibat suatu kejadian   baru berubah saat klimaks. Murni permainan psikologis.
Bagaimana The Invitation berhasil melakukan permainan tersebut? Sederhana, sumber awal ketidaknyamanan Will adalah hal yang mudah penonton imajinasikan, yakni pertemuan kembali dengan ex-lover plus pasangan barunya. Mudah bagi penonton merasa terganggu karenanya, kemudian secara tak sadar ikut hanyut dalam berbagai prasangka sang tokoh utama. Will yakin ada ketidakberesan, penonton pun tahu pasti bahwa memang ada. Patut dicatat, mayoritas durasi film berisikan dialog antar karakter. Sebagaimana kebanyakan indie thriller berisi satu lokasi dan banyak tokoh, intensitas dipupuk oleh tiap interaksi. Berkat pondasi kokoh berupa keterikatan penonton dengan Will, segala pembicaraan menyulut kecurigaan. The Invitation sukses membangun ketegangan dari perasaan curiga.

Bukan hanya paparan thriller, The Invitation turut menjadi eksplorasi mendalam teruntuk penderitaan manusia. Ketika Will selalu nampak gloomy akibat trauma masa lalunya, Eden sebaliknya justru beberapa kali mengungapkan bagaimana ia telah berhasil menangani segala rasa sakit sembari menyunggingkan senyum di wajah. Tapi seiring terungkapnya kejadian tragis di masa lalu mereka, sulit untuk tidak merasa aneh terhadap sikap Eden. Jalinan kisahnya memunculkan perenungan sekaligus kritiikan bagi para pemilih "jalan mudah" demi menghapus penderitaan, apalagi saat motivasi sesungguhnya dari jamuan makan malam mulai dibeberkan. The Invitation adalah thriller langka yang kuat memaparkan drama psikologis. Walau berjalan lambat dan mempunyai klimaks generic, film ini menyimpan daya pikat lain, yakni teror yang didasari asumsi kita. 

SUPER DIDI (2016)

Tugas suami mencari nafkah sedangkan istri mengurus anak, begitu peran gender yang sering dicekokkan pada kita semenjak dulu. Meski bukan sepenuhnya kekeliruan, acapkali timbul rasa meremehkan atau bahkan ketidakpedulian akibat pembagian peran di atas. Salah satu masalah yang paling sering timbul adalah kurangnya pemahaman seorang ayah tentang anaknya. Membenamkan diri seutuhnya pada pekerjaan, bisa saja dia melewatkan tumbuh kembang sang buah hati, tak memahami mereka, juga menganggap remeh tugas istrinya merawat anak. Super Didi garapan duet sutradara wanita (Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayl Yurahma) serta ditulis pula naskahnya oleh seorang wanita (Budhita Arini) bak curhatan atas problematika tersebut.

"Didi" pada judul film merupakan panggilan Anjani (Anjanique Renney) dan Velia (Aviela Reyna) untuk ayah mereka, Arka (Vino G. Bastian). Berprofesi sebagai arsitek tentu menyita banyak watu Arka, sehingga meski amat dekat dan menyayangi kedua puterinya, dia melimpahkan tugas merawat mereka pada sang istri, Wina (Karina Nadila). Suatu hari, Wina harus pergi ke Hong Kong setidaknya selama seminggu, sedangkan di waktu bersamaan Arka tengah memimpin proyek penting bernilai triliunan rupiah. Arka pun dibuat kerepotan membagi waktu antara bekerja dengan mengurus kedua anaknya, mulai dari antar-jemput sekolah dan les hingga hal kecil seperti belajar mengepang rambut. 
Mudah menebak arah pergerakan alur bahkan bentuk presentasi klimaks hingga konklusinya tatkala kita mengetahui bahwa Anjani dan Velia akan terlibat dalam sebuah pementasan drama "Timun Emas" tepat dua minggu pasca kepergian Wina ke Hong Kong. Naskahnya memang tidak berusaha terlepas dari kesan formulaic, yang mana bukan merupakan permasalahan besar. Bahkan naskah karya Budhita Arini patut diapresiasi lewat keputusannya tidak menyuntikkan banyak konflik besar. Konflik lebih sering diisi kesulitan Arka menangani hal-hal kecil sehari-hari sehingga Super Didi mampu dijaga tetap membumi. Kekurangannya, gagal tercipta jalinan alur kuat karena cerita yang berjalan acak dari satu situasi ke situasi lain sehingga sulit mengikat fokus penonton. Hal ini berpotensi menciptakan kebosanan pada pertengahan durasi.

Jajaran cast turut menghadirkan performa memikat sesuai porsi masing-masing. Vino G. Bastian tentunya paling menonjol tatkala (lagi-lagi) sang aktor sukses menyeimbangkan akting komedik plus dramatik. Vino punya kemampuan memancing tawa tanpa perlu kehilangan charm-nya. Cukup puat pula curahan emosinya (khususnya) menjelang akhir film. Berkat akting Vino, Arka jadi protagonis yang likeable. Dua aktris cilik Anjanique Renney dan Velia Aviela Reyna memberi penampilan memadahi, menjauh dari kekurangan banyak pemeran cilik yang seringkali terasa annoying. Mereka sukses merebut hati saya. Meski porsinya minimalis, menarik pula menyaksikan Mathias Muchus memerankan tokoh "ringan" setelah biasanya identik dengan pria keras.
Kekuatan terbesar Super Didi terletak pada komedi yang selalu berhasil memunculkan tawa. Leluconnya terhindar dari kesan murahan di mana Arka tak sampai dikemas menjadi karakter dengan kebodohan berlebih. Poin ini membuktikan jika Super Didi bukan dibuat guna mengolok-olok seorang ayah melainkan sekedar candaan atas ketidakmampuan ayah menangani anaknya seorang diri sembari tetap menunjukkan respect. Unsur komedi nyaris sempurna jika tidak ada adegan Arka datang ke arisan ibu-ibu sambil berdandan konyol. Momen tersebut seolah dipaksakan hadir demi menambah kelucuan semata, apalagi secara konteks tak memiliki kaitan dengan kegiatan menjaga anak. Setelah dijejali konflik mengenai anak, selipan adegan menggantikan sang istri arisan terasa out of place.

Kualitas drama terbilang memadahi, di mana Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayl Yurahma tak mendramatisir adegan secara berlebihan. Kisahnya mampu membuat saya sebagai laki-laki sekaligus calon ayah di masa depan tersentil namun tak sedikitpun merasa "diserang". Sayangnya muncul penghalang hingga kemungkinan tidak semua penonton terikat oleh ceritanya. Halangan tersebut berasal dari penggambaran keluarga Arka. Mereka adalah orang kaya, hidup berkecukupan, memiliki paras rupawan dan dikelilingi kegiatan mewah macam perawatan atau arisan sosialita. Ujungnya, beberapa situasi berpotensi hanya berakhir sebagai guyonan belaka tanpa memberi kedekatan dengan penonton. Tapi di saat bersamaan, artinya para pembuat film ini tak memaksa memaparkan suatu hal yang kurang dipahami dan mengangkat wajah kehidupan di sekitarnya, alias jujur. Super Didi adalah sajian jujur, ringan, dan terpenting dapat dinikmati semua umur. Pesan "jadi ayah itu seru" berhasil mulus tersampaikan.

SURAT CINTA UNTUK KARTINI (2016)

Bagaimana cara mengatasi kejenuhan penonton akan suatu cerita yang telah dipaparkan berulang-ulang atau sudah mereka ketahui secara pasti guliran kisahnya? Salah satu jalan keluar adalah menyelipkan twist, atau pada kasus Surat Cinta Untuk Kartini, trio penulis naskah Vera Varidia, Toha Essa dan Fatmaningsih Bustamar menciptakan karakter fiktif bernama Sarwadi (Chicco Jerikho) selaku love interest R.A. Kartini di tengah usahanya memperjuangkan hak perempuan Indonesia memperoleh kesetaraan derajat. Sebuah konsep "what if" menarik, mengingat mayoritas biopic dewasa ini terkekang dalam "kewajiban" penjabaran ideologi tokohnya semata, alias dipenuhi ide namun minim sentuhan perasaan.

Sarwadi adalah duda beranak satu dengan profesi sebagai tukang pos di Jepara. Baru hari pertama bekerja, ia sudah berkesempatan mengantar surat ke rumah Bupati, dan di sanalah Sarwadi pertama kali terpesona oleh kecantikan Raden Ajeng Kartini (Rania Putri Sari). Semakin hari, semakin jatuh hati pula Sarwadi, terlebih ketika ia mengetahui impian Kartini mendobrak budaya Jawa yang mengekang kaum perempuan. Sampai suatu hari Sarwadi mendengar niatan Kartini membuka sekolah bagi kalangan bumiputera. Dari situlah Sarwadi berusaha membantu Kartini, termasuk menyediakan tempat mengajar sekaligus mengajak puterinya, Ningrum (Christabelle Grace Marbun) beserta anak-anak lain belajar di sana. Namun sebagai rakyat jelata, cinta Sarwadi pada Kartini memang bak mimpi di siang bolong.
Surat Cinta Untuk Kartini dapat berujung sajian romansa kuat nan mengharu biru tanpa perlu berlebihan menjalin melankoli, karena formula klasik mengenai "cinta beda kasta" tak bisa dipungkiri efektif merenggut hati penonton. Bagi saya pribadi perjuangan cinta Sarwadi cukup relatable serta potensial menggugah perasaan kala film menyentuh konklusi. Alasan detail akan saya bahas nanti, tapi poin utamanya, Surat Cinta Untuk Kartini bakal jauh lebih memuaskan andai hanya berfokus tentang love story kedua protagonis atau sekedar eksplorasi sudut pandang dan cinta Sarwadi bagi Kartini. Tapi, naskahnya seolah merasa "sayang" mengesampingkan perjuangan Kartini. Alhasil diluangkan waktu beberapa lama mengeksplorasi hal tersebut yang justru melemahkan narasi.

Nyaris mustahil melakukan penggalian menyeluruh terhadap aspek emansipasi ketika filmnya membagi fokus dengan kisah romantika, sehingga dalam durasi terbatas, berbagai gagasan Kartini diungkapkan sepotong demi sepotong entah melalui sebaris dialog maupun petikan konflik semisal dipaksakannya Kartini untuk menikah atau perselisihannya dengan sang paman. Penonton akhirnya sebatas tahu tanpa diajak memahami. Saya turut mempermasalahkan interpretasi "emansipasi" khususnya yang diwakili oleh sempilan kisah masa kini. Selain paruh penceritaan itu tidak signifikan, cukup mengganggu tatkala Kartini kembali diidentikkan dengan kebaya dan segala tampilan fisiknya. Stereotyping itu selaras akan "masalah" perayaan Hari Kartini yang didominasi lomba pakaian adat alih-alih menekankan pada perjuangan hak. 
Namun saya adalah seorang laki-laki, rasanya kurang bijak menggemborkan isu yang (bagi sebagian kalangan) tidak dimengerti kaum Adam. Jadi mari kembali ke poin yang sudah barang tentu saya pahami, yakni love story. Telah saya sampaikan sebelumnya, perjuangan Sarwadi terasa relatable, kenapa? Karena mayoritas pasti dialami laki-laki. Coba perhatikan: kisah cinta bak "punuk merindukan rembulan", usaha membantu pujaan hati merengkuh mimpi sebagai alat curi-curi kesempatan supaya dekat, sampai upaya tersirat sebelum akhirnya tersurat (no pun intended) agar sang pujaan hati memilih dia daripada pesaingnya. Dibuatnya karakter Sarwadi sering nampak cengengesan pun bakal melemparkan ingatan penonton laki-laki akan kebodohan laku mereka (kami) tatkala berhadapan dengan perempuan idamannya.

Ada perbedaan antara usaha menyeimbangkan eksplorasi gender dalam sebuah alur dengan murni kebingungan memilih fokus antara "movie about woman" atau "movie about man". Film ini adalah bentuk kebingungan karena jelas terlihat niatan utamanya menjadi kisah percintaan namun merasa sayang apabila menanggalkan emansipasi R.A. Kartini begitu saja. Padahal Surat Cinta Untuk Kartini dapat berhasil sebagai kisah cinta sederhana dua insan beda kasta tanpa embel-embel pesan lainnya. Terlebih, baik Chicco Jerikho maupun Rania Putri Sari sama-sama memberi akting memuaskan sebagai laki-laki kelas bawah berbalut senyum penuh impian dan perempuan bangsawan berbalut wibawa pula kelembutan. Belum lagi alunan musik mendayu garapan Aghi Narottama bersama Bemby Gusti cukup mampu menyentuh hati. Potensi itu tersia-siakan. 

ASSASSINATION CLASSROOM: GRADUATION (2016)

I love the first movie (review), salah satu adaptasi live action favorit saya sejauh ini. Walau harus diakui tanpa narasi mumpuni serta memaksakan begitu banyak kisah ke dalam satu film berdurasi (hanya) 110 menit, absurditas komedi dan karakter membuatnya mudah dicintai. Selang setahun kemudian, sekuel bertajuk Graduation yang masih disutradarai oleh Eiichiro Hasumi rilis. Mengemban tugas sebagai babak penutup, filmnya bagai menyadari keharusan mengakhiri cerita secara emosional sehingga asupan drama khususnya mengenai masa lalu Koro-sensei (Kazunari Ninomiya) diperbanyak sampai mengambil alih fokus utama. Sayangnya keputusan tersebut justru melucuti segala daya tarik film pertamanya.

Sebagaimana pendahulunya, Graduation bak tersusun atas segmen-segmen minim kohesifitas, atau jikalau ada, terasa dipaksakan. Awalnya kisah menyoroti festival sekolah yang dianggap memberi peluang besar bagi murid kelas 3E membunuh Koro-sensei karena kondisi ramai bakal memecah konsentrasinya. Di saat bersamaan pemerintah mengirim sniper bernama Red Eye (Tsuyoshi Abe) guna menghabisi Koro-sensei. Tidak berapa lama fokus berpindah pada pengungkapan jati diri Kaede Kayano (Maika Yamamoto), flashback masa lalu Koro-sensei beserta hubungannya dengan Aguri Yukimura (Mirei Kiritani), dan masih banyak lagi. 
Paruh awal Graduation mempertahankan nuansa serupa film pertama, yakni kemunculan tokoh-tokoh unik yang bertujuan membunuh Koro-sensei. Hanya saja, semua itu semakin terasa repetitif, tidak lagi menghadirkan efek hiburan signifikan. Bagi murid-murid kelas 3E, usaha membunuh sang guru sudah jadi rutinitas biasa, begitu pula perasaan saya menyaksikan kegiatan tersebut. Karena biar segila apapun, rutinitas berulang pastilah suatu saat menimbulkan kebosaan. Begitu pula kemunculan segelintir "pembunuh" lain yang jauh dari kesan menarik. Red Eye maupun Kaede plus tentakelnya jelas kalah unik dibanding Ritsu (Kanna Hashimoto) si artificial intelligence atau Irina Jelavic (Kang Ji-young) sang pembunuh seksi (baca: bitchy). 
Sewaktu tone berganti menuju drama-romantis, intensitas Graduation semakin menurun. Pergantian ini memang perlu demi penggalian karakter Koro-sensei, tapi pace lambat cenderung dragging, dangkalnya naskah karya Tatsuya Kanazawa, ditambah chemistry lemah dari Kazunari Ninomiya dan Mirei Kiritani membuat pertengahan film alih-alih romantis justru melelahkan. Kecuali momen saat Koro-sensei a.k.a Shinigami dan Aguri "berpegangan tangan", kesan romantis kurang berhasil mencuri perasaan. Akibat berlama-lama pada sub-plot ini, bukan saja intensitas menurun, waktu yang penonton habiskan bersama murid-murid kelas 3E turut terpangkas. Padahal konklusi film jelas membutuhkan itu demi memperkuat dinamika emosi. 

Fokus menuju drama otomatis mengeliminasi kesempatan memunculkan komedi absurd selaku kelebihan terbesar Assassination Classroom. Segelintir momen mampu mengundang senyum, tapi hanya sebatas itu, nihil gelak tawa. Daya bunuh jokes-nya berkurang drastis karena kehadirannya tak lagi alami, dipaksakan hadir sekedar untuk memenuhi kewajiban memasukkan unsur komedi. Harapan sempat kembali tatkala klimaks menyuguhkan pertarungan Koro-sensei melawan sesosok monster, sayang, pasca building menjanjikan, klimaks selesai terlampau cepat, meninggalkan kita pada kekecewaan menanti sajian pamungkas penuh gebrakan. Konklusinya berpotensi mengaduk-aduk emosi tatkala dilema para siswa kelas 3E mencapai puncak, tapi setelah sekitar satu jam melelahkan, Assassination Classroom: Graduation justru berakhir meninggalkan kerinduan atas kehebatan film pendahulunya menyuguhkan hiburan menyenangkan.


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

SUPER (2010)

Terkadang membuat film bagus saja tidak cukup, karena jika kurang beruntung, satu ide brilian dapat seketika "turun kasta" bahkan diragukan orisinalitasnya apabila didahului oleh karya lain. Super dibuat James Gunn empat tahun sebelum merengkuh kesuksesan lewat Guardians of the Galaxy dan (sayangnya) enam bulan pasca perilisan Kick-Ass. Film ini memang serupa dengan karya Matthew Vaughn tersebut, sama-sama mengetengahkan jagoan amatir tanpa kekuatan super. Namun akibat datang "terlambat" juga bukan tergolonng sajian high profile, Super tenggelam di bawah bayang-bayang kompatriotnya. Gagal secara pendapatan, mixed respons para kritikus, sampai mendapat tudingan plagiat. But for me, this movie is super indeed, even slightly better than Kick-Ass.

Frank Darbo (Rainn Wilson) merasa hidupnya tersusun atas rangkaian kekecewaan, kecuali dua peristiwa: saat ia menikahi Sarah (Liv Tyler) dan membantu polisi meringkus jambret. Maka tatkala sang istri kembali kecanduan narkoba lalu berpaling pada seorang pemilik strip club bernama Jacques (Kevin Bacon), Frank pun depresi. Di tengah kegamangannya, Frank mendapat visi aneh di mana jari Tuhan (literally) menyentuh otaknya lalu mendapat pesan dari superhero religius, Holly Avenger (Nathan Fillion) bahwa Tuhan memilih Frank untuk suatu tujuan spesial. Frank memaknai pesan itu sebagai keharusan baginya menjalani hidup sebagai superhero. Menggunakan kostum buatan sendiri serta bersenjatakan pipe wrench, Frank bertransformasi menjadi The Crimson Bolt. 
Super bukan cerita tentang The Crimson Bolt, melainkan sosok di balik kostum tersebut. Melalui naskahnya, James Gunn menghadirkan penelusuran terhadap depresi. Memang tak seberapa mendalam, namun cukup kuat mendasari motivasi karakternya. Frank menjadi The Crimson Bolt bukan karena jengah akan kriminalitas atau terobsesi oleh sepak terjang superhero dalam komik. Keputusan itu murni dipantik depresi akibat kehilangan sosok paling berharga di hidupnya. Menilik kekacauan hati dan pikirannya (mengalami delusi diikat tentakel, diiris kulit kepalanya, sampai disentuh otaknya oleh Tuhan), saya bisa memahami bagaimana Frank dapat bertindak brutal menghajar para penjahat. Kentalnya unsur kekerasan jadi tidak terasa pointless, melainkan manifestasi gangguan kejiwaan karakternya.
Tentu saja Super turut dijejali selipan komedi -termasuk dark comedy. Salah satu sumber utama penghasil tawa adalah Ellen Page sebagai Libby a.k.a Boltie, "kid sidekick" dari The Crimson Bolt. Patut disayangkan kegilaan Libby tak mendapatkan eksposisi sekuat Frank, seolah sosoknya gila hanya sebagai penghasil daya kejut. Tapi totalitas Ellen Page yang lewat penampilannya memunculkan magnet penarik atensi penonton membuat kekurangan itu boleh sedikit dimaafkan. Tiap kali Libby bertingkah aneh memancarkan aura psikotik, saya selalu berhasil dibuat tertawa. Berbanding terbalik dengan Rainn Wilson yang setia menghadirkan kesan gloomy. Awalnya sulit bersimpati untuk Frank mengingat ia memang pecundang, tapi perlahan seiring perjuangannya berlangsung, saya mulai mendukungnya, hingga merasakan emosi serupa pada ending.

James Gunn mengeksekusi adegan aksi brutal dengan baik ketika darah tak sekedar tumpah namun sesekali menghadirkan shcoking moment. Cukup sadis tapi tidak sampai over the top sehingga masih menjaga sentuhan realisme selaku paparan konsep mengenai "apa jadinya jika superhero tanpa kekuatan super beraksi di dunia nyata?" Mencapai pertengahan, fokus terhadap kekerasan sempat membuat filmnya mengesampingkan eksplorasi psikis karakter, untungnya James Gunn sukses menyuntikkan lagi guratan drama emosional tatkala Super memasuki tahapan konklusi. Sebagai film penuh kegilaan serta darah, konklusi film ini tergolong spesial, menghadirkan nuansa bittersweet emosional (secara subtil cenderung bitter) berisi perenungan akan makna kebahagiaan. Super adalah bukti kapasitas seorang James Gunn menyatukan dengan rapih. berbagai macam unsur dengan tone bervariasi menjadi satu. Very underrated.