18 Okt 2014

AMERICAN HORROR STORY: FREAK SHOW (EPISODE 2)

Musim keempat dari American Horror Story dibuka dengan Monsters Among Us, sebuah episode yang berfokus pada pengenalan tiap-tiap karakter dan universe dari musim ini. Bukan sebuah episode yang buruk tapi juga bukan sesuatu yang spesial. Bahkan dibandingkan dengan epsiode pertama dari musim-musim sebelumnya yang biasanya memang tidak terlalu kuat, pembuka dari Freak Show ini termasuk lemah, berjalan lambat dan agak membosankan di beberapa bagian. Akting Jessica Lange masih memukau tapi bagi penonton setia serial ini karakter yang ia mainkan memang selalu sama dari tiap musim. Ditambah lagi nomor musikal yang mengecewakan membuat episode tersebut terasa kurang greget. Untungnya ada Twisty the Clown dengan aksi brutalnya yang mencuri perhatian. Harus diakui juga karakter freak-nya cukup menyegarkan. Tapi AHS jelas butuh sebuah booster untuk meningkatkan daya tarik musim keempatnya, dan seperti yang selalu berhasil dilakukan tiga musim sebelumnya, episode keduanya berhasil memenuhi semua harapan saya. Massacres and Matinees adalah saat dimana Freak Show mulai tancap gas.

Ceritanya mulai berkembang dengan kehadiran berbagai karakter baru seperti Dell si "Strongman" (Michael Chiklis) dan istrinya yang punya tiga payudara, Desiree (Angela Bassett). Kehadiran mereka berdua menyuntikkan konflik baru diantara rombongan Freaks. Disisi lain Twisty the Clown masih beraksi dengan brutal dan masih menyimpan misteri akan identitas yang sesungguhnya. Bedanya kali ini karakternya mendapat sedikit pengembangan sejak pertemuan dengan Dandy, si pemuda manja yang nampaknya masih menyimpan sebuah rahasia. Episode ini memberikan tease akan perkembangan hubungan twisted antara keduanya. Yang menjadikan serial American Horror Story menarik adalah disamping berbagai kegilaannya ada konflik batin yang dialami masing-masing karakter, dan seperti biasa karakter yang paling banyak mengalami konflik internal dan menciptakan garis buram antara hitam dan putih adalah karakter yang diperankan Jessica Lange. Elsa Mars di episode ini makin memperlihatkan kegundahan berkaitan dengan ambisinya untuk menjadi bintang, apalagi sejak Bette memperlihatkan bakatnya bernyanyi. 

17 Okt 2014

ANNABELLE (2014)

Beberapa hari lalu saya datang ke dua bioskop yang ada di Yogyakarta dengan niatan menonton film-film seperti The Equalizer, A Walk Among Tombstone, The Maze Runner sampai Tabula Rasa yang sempat tertunda ditonton karena uang yang belum ada. Tapi begitu sampai, kedua bioskop tersebut didominasi oleh Annabelle dan film-film yang hendak saya tonton sudah menghilang dari peredaran. Tentu saja saya merasa kesal karena sejatinya saya tidak berniat menonton Annabelle, karena saya tahu film horror yang begitu diminati ini dibuat hanya dengan niatan cari duit dan tidak terlalu memperhatikan kualitas. Jangankan menyamai The Conjuring, untuk mendekati kualitas masterpiece James Wan itu saja saya pesimis. Jadilah saya batalkan niat menonton dan beralih membeli CD Ultraviolence-nya Lana Del Rey. Sampai hari ini akhirnya saya kembali ke bioskop dengan niatan menonton Strawberry Surprise yang lagi-lagi gagal karena tanpa pemberitahuan, studio tempat diputarnya film tersebut sedang direnovasi. Karena saya datang berdua bersama pacar, mau tidak mau kita menonton film dengan jam pemutaran terdekat yang tidak lain adalah Annabelle.

Saya merasa bagaikan ditarik oleh kutukan boneka Annabelle kepada takdir tak terhindarkan menonton film ini. Setelah menonton saya pun percaya pada kekuatan boneka terukut itu yang bisa memberikan teror dan mimpi buruk. Sebuah teror dan mimpi buruk tak tertahankan berupa 98 menit tontonan buruk yang terasa berjalan tiga jam. Seperti karakter dalam filmnya, sayapun dipaksa memberikan persembahan berupa uang tujuh puluh ribu rupiah untuk membayar tiket yang terbuang sia-sia. Hebatnya lagi, sihir boneka Annabelle tidak hanya menyerang saya tapi juga ribuan orang lain di seluruh Indonesia yang rela mengantri begitu panjang bahkan bisa dihipnotis sehingga membuat mereka merasa bahwa filmnya menakutkan. Bersama dengan para penonton lainnya saya dibuat berteriak-teriak menonton film ini. Berteriak tidak kuat menahan siksaan buruknya film disaat pacar saya sibuk menikmati begitu menggemaskannya sosok bayi dalam film ini. Filmnya sendiri membuat dia pusing dan selalu marah-marah saat si bayi tidak muncul di layar. Saya yakin pasti ada yang salah dengan sebuah film horror saat seorang perempuan yang bisa kaget dan ketakutan setengah mati meihat kucing malah gagal dibuat takut oleh film itu.

15 Okt 2014

BARTON FINK (1991)

Film ini ditulis naskahnya oleh Coen Brothers pada tahun 1989 saat mereka tengah mengalami kebuntuan membuat Miller's Crossing (review). Meski terlihat hanya seperti sebuah "pelarian" dari kejenuhan yang mereka alami, nyatanya Barton Fink justru menjadi salah satu film tersukses dari mereka dengan berhasil mendapatkan tiga piala pada Cannes Film Festival 1991. Ketiga piala tersebut adalah Palme d'Or (film terbaik), aktor terbaik untuk John Turturo, serta sutradara terbaik. Sedangkan di ajang Oscar, film ini mendapat tiga nominasi yaitu Best Supporting Actor bagi Michael Lerner, Best Art Direction dan Best Costume Design meski akhirnya tidak meraih satupun kemenangan. Cerita dari Barton Fink sendiri bagaikan sebuah cerminan atau mungkin curhatan dari Joel dan Ethan Coen, karena cerita utama film ini adalah tentang seorang penulis naskah yang mengalami writer's block dalam proses penulisan naskah film pertamanya. Tentunya dikemas dengan gaya Coen Brothers yang absurd, akan banyak keanehan disini yang membuat sulit untuk menentukan genre sesungguhnya dari film ini.

Barton Fink (John Turturo) adalah penulis naskah broadway yang sukses di New York. Pada tahun 1941 dia mencapai puncak kesuksesan karirnya dan mendapat tawaran dari Capitol Pictures yang dipimpin Jack Lipnick (Michael Learner) untuk menulis naskah bagi mereka. Meski mendapat iming-iming bayaran besar dan popularitas, Barton tidak langsung menerima tawaran itu karena kekhawatiran bahwa ia akan terpisah dari aspek "The Common Man" yang selama ini menjadi fokusnya saat menulis naskah pementasan. Meski pada akhirnya menerima tawaran tersebut, Barton tetap sebisa mungkin menjauh dari segala kemewahan Hollywood salah satunya dengan tinggal di sebuah hotel kumuh. Disanalah Barton memulai proses penulisan naskah film pertamanya, sebuah B-Movie tentang seorang pegulat. Tidak adanya pengalaman menulis naskah film khususnya film bertemakan gulat membuat Barton mengalami writer's block dan tidak kunjung berhasil memulai tulisannya. Hal-hal yang bisa menghibur Barton adalah pertemuannya dengan beberapa orang, seperti Charlie (John Goodman) seorang salesman yang tinggal di kamar sebelah. Barton juga menyimpan perasaan pada Audrey (Judy Taylor), sekretaris sekaligus kekasih W.P. Mayhew (John Mahoney) seorang penulis yang diidolakan Barton.

14 Okt 2014

THE TWO FACES OF JANUARY (2014)

Pada poster film ini terpajang tiga judul film, yaitu Tinker Tailor Soldier Spy, The Talented Mr. Ripley dan Drive. Apa kesamaan dari ketiga judul fiilm tersebut? Ketiganya sama-sama thriller yang berfokus pada karakter dengan ketegangan yang dibangun secara perlahan. Dari situlah kita bisa mulai meraba target penonton dan akan seperti apa debut penyutradaraan Hossein Amini. Hossein Amini sendiri selama ini lebih dikenal sebagai penulis naskah dari film-film seperti Drive, Shanghai, Snow White and the Huntsman dan 47 Ronin. Film ini sendiri merupakan adaptasi novel berjudul sama karangan Patricia Highsmith (penulis novel The Talented Mr. Ripley dan Strangers on a Train). Selain nama-nama menjanjikan di balik layar tersebut, The Two Faces of January juga dimeriahkan oleh jajaran nama-nama besar seperti Viggo Mortensen, Kirsten Dunst serta Oscar Isaac yang namanya mulai menanjak setelah Inside Llewyn Davis dan mendapat peran di Star Wars: Episode VII.

Dengan setting Yunani tahun 1962, film ini bersentral pada tiga karakter utama. Yang pertama adalah Rydal (Oscar Isaac), pemuda yang bekerja sebagai guide dan secara diam-diam menipu kliennya meski dalam jumlah yang tidak besar seperti menambah harga barang yang akan dibeli sekitar puluhan sampai ratusan dollar. Dua karakter lainnya adalah sepasang suami istri asal Amerika, Chester (Viggo Mortensen) dan Colette (Kirsten Dunst) yang sedang berlibur. Rydal sendiri akhirnya menjadi guide tour mereka tanpa mengetahui bahwa Chester bukanlah orang kaya biasa melainkan seorang penipu yang sudah memakan banyak korban. Pada suatu malam Chester dikejutkan dengan kehadiran seorang detektif swasta yang disewa oleh salah satu korban penipuan Chester. Detektif tersebut datang "hanya" untuk menagih hutang dari Chester dan pada akhirnya berujung pada perkelahian yang menewaskan sang detektif. Chester yang kebingungan berusaha menyembunyikan mayat tersebut, dan secara tidak sengaja bertemu dengan Rydal yang hendak mengembalikan gelang Collette yang tertinggal. Pada akhirnya ketiga orang tersebut sama-sama terjebak dalam kasus pembunuhan tersebut dan harus secepat mungkin meninggalkan Yunani.

13 Okt 2014

DRACULA UNTOLD (2014)

Mungkin sudah ratusan film yang mengangkat ceritanya berdasarkan novel Dracula milik Bram Stoker, tapi yang paling terkenal mungkin adalah versi dimana Bela Lugosi berperan sebagai Count Dracula di film tahun 1931 produksi Universal. Universal sendiri pada masa itu memang dikenal banyak memproduksi film-film monster seperti Dracula, Frankenstein, Mummy, Wolfman dan masih banyak lagi. Masa kejayaan film-film monster Universal akhirnya berakhir pada era 60-an. Merasa ingin mengulangi era kejayaan tersebut, Universal pun berniat mengikuti tren perfilman masa kini, yaitu menciptakan universe dari franchise mereka. Ambisi untuk mengumpulkan para monster dalam satu dunia (atau bahkan satu film?) dimulai dengan Dracula Untold garapan Gary Shore. Memulai dengan Dracula memang langkah yang amat wajar karena dibandingkan yang lain, sosok satu ini punya nilai juetal paling tinggi, terima kasih pada makin digemarinya sosok vampire akhir-akhir ini. Dengan mengusung kata Untold pada judulnya, film ini berusaha me-reboot franchise monster Universal dengan cerita asal muasal dari sosok Dracula, tepatnya saat ia masih dikenal sebagai Vlad "The Impaler".

Sebelum dikenal sebagai Dracula, Vlad adalah prajurit Turki yang dikenal tidak terkalahkan sekaligus kejam dalam membantai lawan-lawannya. Tapi reputasi itu justru membuat Vlad muak, dan akhirnya ia kembali ke Transylvania untuk memerintah sebagai pangeran disana sambil tetap rutin memberikan upeti pada Sultan Mehmed II (Dominic Cooper). Tapi rupanya segala upeti itu masih belum memuaskan sang sultan dan ia kembali menerapkan kebijakan yang telah bertahun-tahun ditinggalkan, yaitu mengirimkan ribuan anak-anak untuk dijadikan prajurit secara paksa, sesuatu yang dulu juga menimpa Vlad semasa ia kecil. Hal itu memaksa Vlad untuk harus menyerahkan putera tunggalnya juga, sesuatu yang tidak begitu saja ia turuti. Di tengah keputu asaan, Vlad memutuskan untuk meminta kekuatan pada sosok vampire (Charles Dance) yang selama ini bersemayam di sebuah gua dan telah memakan banyak korban. Kesepakatan pun terjali setelah Vlad meminum darah sang vampire dan ia mendapatkan kekuatan luar biasa yang mampu digunakan untuk megalahkan pasukan Turki. Tapi untuk kembali menjadi manusia biasa, Vlad harus menahan diri untuk tidak meminum darah manusia selama tiga hari, jika gagal selamanya ia akan menjadi vampire haus darah.