20 Des 2014

AMERICAN HORROR STORY: FREAK SHOW (EPISODE 10)

Akhirnya momen yang dinantikan tiba, sebuah episode yang semakin memperjelas koneksi antar tiap musim American Horror Story. Dalam Orphans yang juga merupakan episode terakhir AHS tahun ini sebelum rehat selama tiga minggu, kita akan melihat kembalinya Sister Mary Eunice, karakter dari musim kedua AHS, Asylum. Tapi fokus utama dari episode ini bukanlah kembalinya Mary Eunice, tapi pada Pepper. Kita akan mempelajari lebih banyak tentang latar belakangnya, dan bagaimana dia bisa berakhir di Briarcliff, sesuatu yang di musim kedua hanya dituturkan secara sekilas. Cerita langsung dibuka dengan kematian satu lagi freaks, yaitu Salty yang tidak lain adalah suami Pepper. Tidak seperti Ma Petite ataupun Ethel, Salty meninggal secara natural karena pada dasarnya kebanyakan Pinhead tidak bisa bertahan hidup lebih dari usia 40 tahun. Tentu saja hal itu mengakibatkan kesedihan luar biasa pada Pepper yang membuat Elsa begitu mengkhawatirkannya. Ya, disinilah kita benar-benar diperlihatkan sisi lain Elsa yang selama ini sudah disiratkan tapi baru benar-benar nampak nyata disini.

Elsa yang kental disini bukanlah Elsa yang ambisius dan kejam, tapi Elsa yang penyayang dan benar-benar tulus mencintai "monster" miliknya. Hal itulah yang membuat Elsa memutuskan membawa Pepper pulang kerumah kakaknya, supaya ia tidak lagi terpendam dalam kesedihan (jika anda tahu alasan Pepper masuk ke Briarcliff yang sempat ia tuturkan di Asylum, anda akan tahu kearah mana ceritanya bakal berjalan). Disisi lain ada kisah tentang Maggie yang (secara menggelikan) mengambil jalan yang sama dengan Jimmy untuk melampiaskan kesedihan, yaitu mabuk-mabukan. Disinilah bentuk kurang kreatifnya para penulis AHS terasa, yakni saat seorang karakternya terpendam dalam kesedihan mereka akan mabuk-mabukan sendirian di malam hari. Tentu saja itu sangat rasional, tapi semakin terasa repetitif dan membosankan setelah diulang berkali-kali. Tapi untungnya Maggie punya momen yang tidak hanya "itu" saja, karena disinilah ia untuk pertama kali menceritakan rahasianya dengan Stanley kepada Desiree. Stanley sendiri mulai menjalankan aksinya untuk mendekati Jimmy yang masih mendekam di penjara.

19 Des 2014

TO KILL A MAN (2014)

Bagaimana jadinya jika seseorang yang punya tugas sebagai pelindung justru adalah seorang penakut yang tidak punya nyali untuk berkonfrontasi? Itulah yang terjadi pada Jorge (Daniel Candia). Dia adalah seorang pria penakut yang bahkan tidak berani untuk sekedar melawan saat pada suatu malam mendapat gangguan dan dipalak oleh Kalule (Daniel Antivilo), seorang preman lokal beserta teman-temannya. Jorge hanya diam saja dan pasrah dipermalukan seperti itu. Justru sang anak, Jorgito (Ariel Mateluna) yang akhirnya nekat mendatangi kediaman Kalule untuk membela sang ayah. Malang bagi Jorgito, dia justru terluka setelah ditembak oleh Kalule. Karena perbuatannya itu, Kalule harus mendekam di dalam penjara meski hanya dalam waktu tidak sampai dua tahun. Tapi begitu keluar dari penjara, Kalule justru semakin intens dalam menebarkan teror pada Jorge dan keluarganya. Masing-masing dari mereka mendapat teror bahkan pelecehan. Yang bisa dilakukan Jorge hanyalah kembali melapor pada polisi, sesuatu yang sayangnya tidak membuahkan hasil memuaskan. 

Jorge sendiri tidak berani untuk berbuat lebih, dimana dia lebih banyak merasa takut dan lari dari permasalahan. Hal itu jugalah yang membuat sang istri, Marta (Alejandra Yanez) merasa jengah pada sang suami. Sebenarnya sisi pengecut dari Jorge tidak hanya ia tunjukkan dalam permasalahan keluarganya ini saja, karena disaat ia bertugas untuk melindungi sebuah hutan, Jorge pun sempat dengan mudah dibuat ketakutan oleh seorang gelandangan yang menolak diusir karena menyalakan api disana. Tentu dari judulnya kita bisa tahu akan bergerak kemana film ini. To Kill A Man melanjutkan tren drama-thriller arthouse tahun ini, yaitu sebuah tontonan dengan tempo lambat yang bercerita tentang seorang karakter utama pria pengecut dan tidak bisa diandalkan yang mau tidak mau harus memberanikan dirinya melakukan hal ekstrim demi orang-orang tercinta. Tema itu sering dieksplorasi karena begitu efektif untuk sebuah studi karakter dan mengeksplorasi sisi gelap yang dimiliki semua orang. Sehingga muncul pertanyaan "sejauh mana seseorang bisa bertindak saat dalam kondisi terjepit demi keluarga mereka?"

18 Des 2014

V/H/S: VIRAL (2014)

Seri V/H/S sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi tontonan horror yang bagus. Layaknya film-film antologi pada umumnya, selalu ada segmen yang bagus tapi pasti ada juga yang buruk. Sepanjang eksistensi dua filmnya, tentu saja segmen terbaik adalah Safe Haven garapan duo Gareth Evans dan Timo Tjahjanto dalam V/H/S/2. Satu-satunya alasan kenapa saya tetap setia menonton franchise buatan Bloody Disguisting ini adalah karena berbagai ide-ide unik yang berani dimunculkan dalam tiap segmennya. Memang merupakan hal yang cukup sulit untuk bisa melebihi film sebelunya, khususnya karena keberadaan segmen Gareth Evans dan Timo Tjahjanto. Hal itu nampaknya juga disadari oleh para pembuatnya, terbukti dengan terjadinya sedikit perubahan konsep dalam V/H/S: Viral. Jika dalam dua film pertama segmen penghubung selalu menampilkan sekumpulan orang yang menonton rekaman vhs mengerikan yang berujung pada kejadian mengerikan pula, maka dalam Viral konsep itu sedikit dirombak.

Segmen penghubungnya yang berjudul Vicious Circles menampilkan kejar-kejaran antara polisi dengan mobil penjual es krim. Anehnya selalu terjadi hal mengerikan yang selalu berujung kematian dalam setiap tempat yang dilewati oleh mobil es krim tersebut. Sayangnya meski memberikan pendekatan yang berbeda, segmen penghubung masih jadi aspek terlemah dalam film ini, sama seperti dua film sebelummnya. Bahkan yang lebih parah, sebagai sebuah penghubung, Vicious Circles kurang baik dalam menyatukan ketiga segmen yang lain sebagai satu kesatuan koheren. Seperti biasa segmen penyatu ini selalu berhasi menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan tanpa pernah sukses menyajikan jawaban yang memuaskan. Konklusi yang dihadirkan dala Viral amat dipaksakan, bahkan jauh melebihi film-film sebelumnya. Ambisi untuk jadi berbeda dan lebih besar dengan mengangkat tema goes viral tanpa adanya naskah yang kompeten membuatnya terasa amat konyol dan membingungkan. Membingungkan bukan karena plot yang dasarnya rumit, tapi karena pengemasan yang kacau. Lagi-lagi "penyakit" film horor bertema gaib yang menjadikan hal mistis sebagai escapism untuk tidak menghadirkan penjelasan rasional.

17 Des 2014

TANGERINES (2013)

Apakah perbedaan kewarganegaraan bisa menjadi alasan untuk saling bermusuhan? Apakah perbedaan agama membuat manusia sah-sah saja untuk saling bermusuhan bahkan membunuh? Tentu saja harga nyawa seseorang jauh lebih mahal daripada itu, tapi sayangnya begitulah wajah dunia sekarang ini. Terjadi permusuhan dan peperangan dimana-mana yang ironisnya dilandasi oleh perbedaan kepercayaan dan asal negara/suku. Bahkan dua orang bisa saling memusuhi hanya karena perbedaan itu tanpa mempedulikan kepribadiaan masing-masing. Keprihatinan akan isu tersebut yang pada akhirnya melandasi sutradara sekaligus penulis naskah Zaza Urushadze membuat film ini, yang sekaligus merupakan wakil Estonia dalam ajang Oscar tahun 2015 nanti. Tangerines atau yang mempunyai judul asli Mandariniid ini mengambil setting pada saat meletusnya perang di pemukiman warga Estonia di Abkhazia, Georgia tahun 1992-1993. Karena perang itulah banyak orang Estonia yang memilih pulang ke negara mereka. Tapi tidak dengan Ivo (Lembit Ulfsak) dan Margus (Elmo Nuganen) yang memilih tinggal untuk mengurus perkebunan jeruk mandarin milik Margus.

Disaat mereka tengah berharap mendapat perlindungan dari sejumlah tentara untuk menjaga supaya perkebunan jeruk itu tidak hancur oleh perang, Ivo dan Margus justru mendapati sebuah baku tembak antara dua pasukan kecil di dekat rumah mereka. Dalam baku tembak yang terjadi antara pasukan Chechen dan Georgia tersebut, hanya dua orang yang berhasil selamat. Mereka adalah Ahmed (Giorgi Nakashidze) dari pasukan Chechen dan Niko (Michael Meskhi) dari pasukan Georgia. Jadilah Ivo merawat dua orang yang saling bermusuhan itu di dalam rumahnya. Karena mereka sama-sama mengancam untuk membunuh satu sama lain, maka Ivo memberlakukan perjanjian yang melarang terjadinya pembunuhan di dalam rumahnya. Pada akhirnya Ivo harus merawat mereka sembari menjaga supaya keduanya tidak saling bunuh. Kisahnya memang sederhana, tidak baru dan punya pesan yang juga sudah sering diangkat kedalam film. Tapi dengan durasinya yang hanya 86 menit, Tangerines punya kekuatan lebih berkat suasana yang lebih intim, karakter yang tidak banyak tapi kuat dan terkesplorasi, serta konflik sederhana yang sudah cukup untuk mewakili pesan-pesan tersebut.

15 Des 2014

HOUSEBOUND (2014)

Disaat tahun ini Hollywood kering film horror berkualitas, siapa sangka dua negara yang saling bertetangga yaitu Australia dan Selandia Baru mengisi kekeringan itu dengan mengirimkan "perwakilan" berupa film horror bagus dengan konsep yang unik. Australia dengan The Babadook (review) mungkin lebih banyak mencuri perhatian dengan buzz begitu gencar, tapi bukan berarti Housebound yang merupakan film Selandia Baru buatan sutradara debutan Gerartd Johnstone ini kalah memikat. Sebelum menonton saya tidak tahu bercerita tentang apa pastinya film ini kecuali tentang rumah hantu (dilihat dari judulnya) dan mengkombinasikan tema haunted house tersebut dengan sentuhan komedi. Memang film ini unik, karena adegan pembukanya pun tidak seperti kebanyakan film-film rumah hantu lain yang selalu dibuka dengan perkenalan terhadap rumahnya. Film dibuka dengan adegan usaha perampokan ATM (yang konyol) oleh Kylie (Morgana O'Reilly) dan seorang temannya yang berujung kegagalan. Atas perbuatannya itu Kylie diharuskan menjadi tahanan rumah selama delapan bulan.

Bagi Kylie, rumah tempat ia harus menghabiskan hukumannya itu bukanlah rumah, karena disana ia harus kembali tinggal bersama sang ibu, Miriam (Rima Te Wiata) dan ayah tirinya, Graeme (Ross Harper) yang tidak dia sukai. Bagi Kylie, ibunya adalah seseorang menyebalkan dan cerewet. Tidak hanya itu, Kylie yakin bahwa sang ibu menderita dementia karena selalu mengatakan bahwa rumah tempat mereka tinggal adalah rumah berhantu yang sering mengeluarkan suara-suara aneh dan banyak barang yang tiba-tiba menghilang. Tentu saja Kylie tidak percaya dengan kisah-kisah supranatural dari sang ibu sampai pada suatu malam mengalami berbagai kejadian misterius secara langsung, mulai dari suara-suara misterius sampai boneka beruang yang bisa berbicara sendiri. Kondisi jadi semakin mengerikan bagi Kylie saat ia pada akhirnya berhasil mengungkap sebuah rahasia kelam yang pernah terjadi dalam rumah itu beberapa tahun sebelum ia dan keluarganya tinggal disana. Dari situlah Housebound mulai melemparkan kejutan demi kejutan tak terduga dalam plotnya.