FOUR WEDDINGS AND A FUNERAL (1994)

Terkadang suatu film disebut bagus karena memang benar-benar bagus. Tapi tidak jarang pula ada yang dinyatakan bagus (hanya) karena punya kualitas di atas kebanyakan film lain dengan genre serupa. Tidak semua, tapi mayoritas komedi romantis memang diciptakan sebagai tontonan ringan. Lupakan semua pesan moral atau kritik sosial yang diselipkan secara paksa dengan kuantitas amat minim, fokus utama rom-com memang menyajikan tontonan romansa ringan nan menghibur. Maka disaat Amerika masih terus mengulang formula usang, kemunculan komedi romantis dari Inggris garapan Mike Newell ini terasa menyegarkan. Pendapatan di atas $245 juta serta dua nominasi Oscar untuk Best Picture dan Best Original Screenplay menunjukkan kehausan publik dunia khususnya Amerika akan romantic comedy yang tidak melulu bicara romantisme gombal. Tapi masalahnya Four Weddings and a Funeral tidak sebagus itu. Satu lagi film overrated yang menguasai tahun 1994 selain Forrest Gump.

Judul film ini menjelaskan semuanya. Akan ada empat pernikahan dan satu pemakaman yang dihadiri oleh tokoh utamanya, Charles (Hugh Grant). Dia adalah sosok pria canggung yang meyakini keberadan satu cinta sejati, meski sampai saat ini ia masih belum menemukan wanita yang benar-benar ia cintai. Dalam rentang waktu beberapa bulan, kita dibawa melihat Charles beserta sahabat-sahabatnya menghadiri empat pesta pernikahan plus satu upacara pemakaman. Pada berbagai kesempatan itulah secara rutin Charles bertemu dengan seorang wanita Amerika bernama Carrie (Andie MacDowell). Cinta pada pandangan pertama dialami oleh Charles. Terhalang oleh jarak, ia pun hanya bisa bertemu dengan Carrie pada even-even tersebut, dimana dalam tiap pertemuan selalu terjadi perubahan dinamika hubungan antara keduanya. Memang tidak ada yang terlalu menonjol dari alurnya. Bahkan kita sudah tahu dari awal pernikahan siapa yang akan muncul terakhir.
Hal yang membuat film ini layak untuk berada di atas kebanyakan komedi romantis lain adalah naskah tulisan Richard Curtis. Ada tiga poin utama: kandungan cerita, dialog, komedi. Ceritanya membuat rom-com ini tidak hanya mengumbar romantisme yang nihil. Meski hadir dalam tataran alur yang mudah ditebak, ada perjalanan cukup bermakna yang dialami karakter Charles. Dia menghadiri empat pernikahan dan penonton dibuat merasakan itu layaknya sebuah rutinitas. Bahkan dalam satu adegan, Charles bangun tidur dan mensyukuri bahwa pada hari itu ia tidak harus menghadiri pernikahan siapapun, seolah kehadirannya di pesta pernikahan adalah bagian dari keseharian. Walaupun begitu ia tidak pernah menikmati hubungan cintanya, bahkan nampak jauh dari kesan segera menikah. Daripada menemukan cinta sejati ia justru "diteror" oleh mantan-mantannya dalam suatu rangkaian adegan lucu dan jauh dari kesan menyenangkan saat Charles bertemu dengan mereka. Ibaratnya, Charles adalah partygoer yang tidak pernah menikmati pesta itu sendiri.

Semua itu memang membuat Four Weddings and a Funeral penuh ironi dalam kehampaan yang dirasakan karakter utamanya. Tapi sebenarnya hanya itu. Poin di atas membuat filmnya tidak kosong, tapi tidak sampai menjadikannya tontonan penuh makna, emosional, ataupun romantisme yang benar-benar menggigit. Hanya menghibur tapi tidak pernah terlalu dalam. Sedangkan poin kedua dan ketiga tidak bisa dipisahkan, karena dialog yang ungguh terjadi dalam percakapan antara Charles dan sahabat-sahabatnya, dimana suasana komedi kental disitu. Saat bersinggungan dengan drama percintaan, dialognya biasa saja. Tapi Richard Curtis mampu menuliskan banter menarik yang terasa renyah saat para sahabat ini mulai berinteraksi. Ada Gareth (Simon Callow) yang energik, Tom (James Fleet) yang kaya tapi canggung dan bodoh, sampai Fiona (Kristin Scott Thomas) dengan berbagai sindirannya. Komedi yang ditulis Curtis tidaklah terlalu cerdas, tapi efektif. Ringan tapi jauh dari kesan bodoh. Berpadu dengan cermatnya Mike Newell mengatur timing, kelucuan demi kelucuan pun sanggup dihadirkan. Bahkan kemunculan Rowan Atkinson meski singkat tapi sukses mengundang tawa. 
Pernikahan pertama membuka film dengan begitu baik, memuat saya langsung menyukainya. Pernikahan kedua memantapkan apa yang sudah dibangun. Tapi mulai pernikahan ketiga dan seterusnya, film mulai melelahkan. Padahal justru pada dua pesta pernikahan terakhir plus pemakaman itulah poin titik balik film ini dimulai. Titik balik yang sejatinya merupakan tempat dimana segala potensi emosional berada. Tapi filmnya sudah terlalu lama berputar pada dua pesta pertama yang penuh keceriaan. Memasuki tiga event berikutnya yang lebih serius (meski masih ada komedi disana-sini) saya sudah merasa lelah. Ketidak berhasilan film ini menyajikan momen drama kuat juga berujung pada kegagalan mengangkat daya tarik film pada paruh kedua. 

Hugh Grant memang bermain apik dengan timing komedik sempurna, penuh ekspresi clueless, dan kecanggungan natural yang tidak jatuh menjadi kebodohan. Tapi saya tetap tidak terikat pada kisah percintaannya. Justru hubungan antar sahabat di dalamnya lebih menarik bagi saya. Muncul pula harapan Kristin Scott Thomas mendapat porsi jauh lebih besar khususnya pada porsi komedi. Four Weddings and a Funeral pada akhirnya tidak lebih dari sekedar sajian ringan yang amat menghibur. Saya tidak menyangkal film ini sangat menghibur, lucu, penuh interaksi karakter menarik dan cerita yang tidak kosong. Tapi untuk segala tanggapan positif dan kesuksesan yang diraih, semua itu terasa berlebihan. Film ini akan memberikan kesenangan, tapi tidak bermakna, apalagi berhiaskan rasa yang dieksplorasi mendalam. Tidak jauh beda dengan mantan-mantan Charles yang hanya memberikan kesenangan biasa saja tanpa kehadiran cinta sejati penuh makna. Rom-com British yang berusaha sebisa mungkin mendekati "rasa Amerika" demi kepentingan komersil.

SONG OF THE SEA (2014)

"Come away oh human child, to the waters and the wild, with a fairy hand in hand, for the world's more full of weeping than you can understand." Rangkaian kalimat yang begitu indah itu membuka Song of the Sea. Sebuah animasi yang tidak berlebihan jika disebut sebagai pemantap jalan bagi Cartoon Saloon untuk menjadi Ghibli-nya Irlandia. Berdasarkan mitologi Celtic tentang Selkie (jelmaan anjing laut), film ini bercerita tentang kebahagiaan sebuah keluarga kecil yang tinggal di suatu mercusuar. Ben yang masih kecil begitu dekat dengan sang ibu, Bronagh. Keduanya sering melukis bersama, bernyanyi bersama, dan bercerita dongeng tentang Selkie yang mengantar para peri pulang dengan nyanyian indah. Sutradara Tomm Moore membawa kita merasakan kebahagiaan itu lewat rangkaian visualnya yang ajaib. Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Bronagh meninggal (penyebab baru diungkap di pertengahan) pada hari yang sama dengan kelahiran anak kedua mereka, Saoirse.

Nyatanya kehidupan keluarga ini begitu berubah pasca kepergian Bronagh. Sang suami, Conor masih belum beranjak dari duka dan tidak terlalu memperhatikan kedua anaknya (tidak meninggalkan sepenuhnya, hanya dikalahkan oleh kesedihan mendalam). Ben yang sebelumnya tidak sabar menantikan kelahiran sang adik kini justru membenci Saoirse. Baginya, kewajiban menjaga sang adik yang meski telah berusia enam tahun tapi belum bisa bicara sepatah katapun terasa mengesalkan. Saoirse sendiri meski tidak bisa bicara adalah gadis kecil imut dengan tingkah laku yang akan membuat siapapun (kecuali Ben) menyukai dirinya. Segala petualangan dimulai saat suatu malam Saoirse menemukan kerang pemberian Bronagh dan sebuah mantel ajaib. Petualangan magis yang menghidupkan kembali keindahan dongeng cerita rakyat. 
Pada dasarnya Song of the Sea punya cerita yang begitu sederhana. Kisahnya menggabungkan ciri dua aspek: kisah pendewasaan untuk melawan rasa takut dan cerita rakyat penuh sihir serta makhluk negeri dongeng macam peri, penyihir sampai raksasa. Kedua jenis cerita itu punya alur yang tidak akan sulit dibaca akan berjalan kemana. Begini jadinya apabila animasi bertemakan from zero-to-hero memang dikemas untuk menunjukkan perkembangan karakternya dengan fokus pada jalinan emosi daripada sekedar menyajikan petualangan seru atau penjualan merchandise demi kepentingan komersil belaka. Tentu kita tahu bahwa pada akhirnya sikap Ben terhadap Saoirse akan berubah. Kita juga tahu Ben akan bisa mengalahkan segala rasa takutnya. Tapi fokusnya memang bukan pada hasil akhir, bukan pula pada seberapa seru petualangan yang ia jalani. Melainkan proses terbentuknya semua itu yang bakal melibatkan banyak memori serta introspeksi emosional.
Petualangan yang terjadi tidak mengutamakan action, melainkan keajaiban yang berasal dari segala potensi cerita rakyat masa lampau. Tentu kita semua masih ingat bagaimana rasanya saat orang tua kita dulu menceritakan dongeng-dongeng penuh keajaiban. Imajinasi dibawa melayang-layang, membayangkan seperti apa kiranya rupa setiap tokoh serta gambaran negeri dongeng tempat terjadinya cerita tersebut. Lewat Song of the Sea, Tomm Moore mewujudkan segala imaji masa kecil itu. Kunci utama terletak pada visual. Banyak animasi indah tersaji pada masa sekarang, tapi film ini tetap berdiri tegak sebagai salah satu yang terindah. Song of the Sea adalah gambaran paling dekat dari seperti apa rupa negeri dalam cerita rakyat yang saya bayangkan sejak dulu. Penuh warna yang berkilauan dan perwujudan benda layaknya alam mimpi. Bahkan visualnya memperhatikan sampai ke detail terkecil. Lihatlah segala benda yang hadir, dimana setiap ornamen terkecil disajikan dengan lekuk garis begitu indah. Bahkan aliran air dan hembusan angin nampak indah.

Jika kita menonton lebih mengutamakan otak daripada rasa, maka jalinan cerita film ini mungkin bakal mengganggu. Kemunculan anjing laut yang tiba-tiba membantu Ben di tengah laut, bantuan dari seorang penyihir, dan hal-hal lain yang akan terasa seperti penggampangan untuk resolusi konflik. Tapi ingat, ini adalah dongeng. Dongeng tidak bisa dinikmati hanya dengan otak dan logika saja, tapi lebih pada ranah rasa serta imajinasi. Jika ditilik dengan kedua hal itu, maka semua hal di atas tidak lagi menjadi masalah. Pada awal tulisan saya sempat mengatakan film ini layak disandingkan dengan karya dari Ghibli. Selain karena nuansa dongeng dan keajaiban yang kental, ketiadaan sosok jahat juga berpengaruh besar. Segala perbuatan karakternya bahkan yang bisa dibilang tidak baik sebenarnya bukan karena mereka jahat. Ada satu alasan sama yang melatar belakangi berbagai tindakan tersebut, yaitu cinta. Cinta tidak hanya memberi kebahagiaan tapi bisa membutakan, dan kebutaan itulah yang mendorong beberapa karakter film ini berbuat hal buruk. Kentalnya cinta, kesan imajinatif, keindahan visual, ditambah lagu "Song of the Sea" dari Lisa Hannigan yang memberikan kedamaian harmoni, maka lengkaplah film ini menjadi salah satu animasi (bahkan film) terindah dalam beberapa waktu terakhir.

DAUN DI ATAS BANTAL (1998)

Langit seolah tidak pernah cerah dalam film karya Garin Nugroho ini. Film yang sempat diputar dalam seksi Un Certain Regard pada Cannes Film Festival tahun 1998 ini bercerita tentang kehidupan tiga anak jalanan di Yogyakarta. Kancil, Heru dan Sugeng (tiga anak jalanan asli yang memerankan diri mereka sendiri) harus menghadapi kerasnya kehidupan di jalan yang akrab dengan rasa lapar serta kriminalitas. Meski begitu mereka khususnya Heru tetap punya angan-angan untuk kelak bisa terentas dari kemiskinan. Sehari-hari, ketiganya tinggal bersama Asih (Christine Hakim) seorang saleswoman yang juga harus bergulat dengan kemiskinan. Daun di Atas Bantal berfokus pada kehidupan tiga anak jalanan tersebut plus Asih dengan alur yang bergerak bebas. Tidak ada satu konflik terpusat. Penonton dibiarkan mengikuti sebuah tema yang menjadi cerita, bukan cerita yang berbasiskan sebuah tema. Terkesan "bebas", tapi jauh lebih linier dan ringan diikuti ketimbang banyak film Garin lainnya yang surreal dan artsy.

Judulnya terdengar manis. Selain merujuk pada bantal daun milik Asih yang sering diperebutkan oleh Kancil, Heru dan Sugeng, Daun di Atas Bantal merupakan judul yang merepresentasikan impian masing-masing dari mereka. - Anak-anak jalanan itu sering bermimpi (bantal diasosiasikan sebagai tempat bermimpi) mengenai kehidupan yang lebih baik (daun sebagai metafora hidup) - Tapi filmnya sendiri tidaklah semanis dan seoptimis kedengarannya. Bukan sekedar drama kehidupan, cerita yang dibuat Garin Nugroho dan Armantono ini merupakan tragedi. Penonton dihadapkan tidak hanya pada kesulitan hidup tapi juga tragedi yang dialami karakternya. Rangkaian kejadian tragis yang tidak diniati sebagai melodrama tapi potret apa adanya tentang kehidupan jalanan. 
"Apa adanya", begitulah film ini bertutur. Garin Nugroho telah membuat drama dengan rasa dokumenter yang kuat. Tentu saja terdapat dramatisasi sebagai penguat dinamika alur, tapi tidak dipaksakan dan di luar itu semuanya terasa nyata. Alur yang bergerak bebas tanpa terikat pada satu konflik khusus makin menguatkan kesan tersebut. Itu pula yang nampaknya menjadi tujuan penggunaan anak jalanan asli daripada menggunakan aktor cilik. Menangkap setiap sisi dari mereka apa adanya. Tidak ada kepalsuan yang terpancar disini kecuali jika kita menghitung pengucapan dialog beberapa dari mereka yang tentunya kaku. Tapi aktor cilik manapun tidak akan bisa menandingi aura yang mereka pancarkan. Aura penuh penderitaan hasil tempaan kerasnya jalanan sehari-hari. Christine Hakim sebagai nama terbesar di jajaran pemain (tidak menghitung Sarah Azhari yang saat itu belum tenar) juga mampu "membaur" dalam suasana tersebut. Kumuh dan penuh tatapan penderitaan.
Daun di Atas Bantal adalah tipikal film yang akan memberikan tamparan keras pada penonton. Tamparan yang muncul dari gambar-gambar mencengangkan yang tampil begitu kuat. Tamparan yang juga dihadirkan oleh kenyataan. Film ini juga tidak hanya menjadi potret dokumentasi, tapi juga memberikan berbagai kritik sosial. Tidak, Garin Nugroho dan Armantono tidak sedang menyuguhkan jurang sosial pada naskah mereka. Ini bukan pertentangan antara si kaya dan si miskin, karena yang ada hanyalah si miskin. Jika ada hal seperti itu, mungkin hanya terdapat pada selipan konflik mengenai penipuan berkedok asuransi. Di luar itu, mereka yang berada di strata sosial yang tidak jauh beda harus bergulat dalam kerasnya hidup. Begitu kerasnya sampai nasib tragis berupa kematian yang bisa menjemput lewat cara sangat mengenaskan.

Film ini bukanlah tearjerker yang mengajak penontonnya bersimpati terlebih dahulu pada karakter-karakter sempurna sebelum menghujani mereka dengan berbagai cobaan yang mengundang tangis. Memang banyak kesedihan, tapi lebih terasa sebagai sebuah dokumentasi realita daripada dramatisasi penuh kepalsuan. Garin Nugroho membuktikan kapasitasnya sebagai sutradara dengan insting visual yang luar biasa. Meski tidak mengandung unsur sureal kental (masih ada beberapa momen sejenis tapi tidak mendominasi) dan mengandung dialog-dialog yang signifikan menggiring jalannya cerita, kekuatan utama film ini tetap ada pada rangkaian gambar yang sanggup bertutur secara lugas. Bahkan jika tidak berfokus pada dialog yang di banyak bagian kurang terdengar jelas, anda akan tetap bisa memahami bahkan merasakan apa yang tengah dituturkan Garin lewat filmnya ini. Daun di Atas Bantal adalah film lokal yang langka karena lebih tertuju pada pembangunan rasa lewat atmosfer daripada jalinan alur.



(Selamat HARI FILM NASIONAL. Terus dukung film-film berkualitas Indonesia dengan cara menontonnya di bioskop)

WHEN MARNIE WAS THERE (2014)

Setelah 29 tahun dan 20 film (21 jika menghitung Nausicaa of the Valley of the Wind) kemungkinan kita sampai pada akhir perjalanan panjang yang luar biasa dari Studio Ghibli. Studio animasi asal Jepang ini memang masih ada dalam fase hiatus, bukan gulung tikar. Tapi melihat tidak adanya kepastian sampai kaban "masa rehat" tersebut, untuk saat ini When Marnie Was There layak disebut sebagai sajian terakhir dari Ghibli. Cukup unik disaat film terakhir ini disutradarai bukan oleh dua co-founder mereka yakni Hayao Miyazaki dan Isao Takahata, melainkan Hiromasa Yonebayashi yang sebelumnya membuat Arrietty. Setelah cerita rumit tentang pembuatan pesawat serta kisah fantasi sang puteri bulan, menyenangkan melihat Ghibli kembali ke cerita sederhana tentang seorang anak di sebuah pedesaan asri. Mungkin bukan yang terbaik, tapi jelas perpisahan sementara (?) yang mengesankan.

Karakter utamanya adalah gadis berusia 12 tahun bernama Anna yang tinggal di Sapporo. Anna adalah seorang penyendiri, dan seperti yang ia bilang ada "di luar lingkaran." Sebagai seorang anak angkat, Anna tidak pernah bisa sepenuhnya menganggap Yoriko sebagai ibu kandung (Anna memanggilnya bibi) meski kepedulian dan cinta terpancar jelas dari wanita tersebut. Satu hal lagi yang membuat Anna semakin tenggelam dalam kesendirian adalah penyakit asma yang ia derita. Demi kesembuhan Anna, Yoriko mengirimnya untuk tinggal di Hokkaido bersama keluarga Oiwa. Anna yang selalu menghabiskan waktu dengan menggambar tertarik pada sebuah mansion kosong yang megah di seberang danau. Dari situlah keanehan terjadi setelah pertemuannya dengan gadis berambut pirang bernama Marnie. Siapa Marnie? Apakah dia teman imajiner Anna? Hantukah dia? Atau sosok yang lain?
Pertanyaan tersebut pastilah muncul dalam benak tiap penonton. Tapi sama seperti Anna, seiring dengan berjalannya waktu saya tidak lagi peduli tentang identitas Marnie. Bukan berarti rasa penasaran mendadak hilang, tapi nyata atau tidaknya sosok Marnie tidak lagi penting. Satu hal yang penting adalah bahwa kehadiran Marnie menambal segala lubang dalam kehidupan Anna. Kita akan melihat transformasi yang menyenangkan dalam diri Anna disaat gadis gloomy nan pendiam ini perlahan mulai memancarkan semangat serta senyum lebar. Menyenangkan, karena diawal film Anna beserta isi kepalanya penuh dengan perasaan negatif dan pesimisme. Kehadiran Marnie menghidupkan tidak hanya semangat Anna tapi juga perasaan filmnya. Persahabatan (atau hubungan macam apa yang terjalin terserah tiap-tiap penonton) antara Anna dan Marnie begitu hangat, indah, sekaligus magical
Sekali lagi Studio Ghibli memberikan tontonan penuh keajaiban dalam setting realita penuh kesederhanaan. Keajaiban yang bukan hadir karena sihir atau makhluk aneh dalam mitos melainkan dari kehidupan itu sendiri, atau mungkin lebih tepatnya kebahagiaan hidup. Bagaimana takdir mempertemukan Anna dengan kebahagiaan, serta dengan orang-orang baru yang mengisi satu per satu kekosongan dalam hatinya memang terasa ajaib. Semua itu punya benang merah dalam sosok Marnie. She's not a ghost, but definitely ghostly (not in a scary way). Sosoknya menghadirkan kesan samar, layaknya memori masa lalu yang terpendam jauh dalam ingatan manusia. Tentu kehadirannya mengundang tanya, tapi disisi lain membawa tawa bahagia. Menggunakan hubungan antara Anna dan Marnie, Hiromasa Yonebayashi menghadirkan kisah pendewasaan, proses tumbuh kembang seorang gadis remaja awal yang perlahan mengatasi segala rasa negatif yang selama ini setia menyelimuti.

Tentu kita sering mendengar pernyataan bahwa seseorang mungkin bisa pergi atau mati, tapi rasa cinta yang ia berikan pada sang terkasih akan selalu hidup. When Marnie Was There bagaikan kenangan indah yang mungkin terlupa tapi selalu tersimpan rapih dan setia memberikan cahaya penunjuk arah saat seseorang tersesat. Lalu sekalinya kenangan itu muncul ke permukaan ada senyuman simpul penuh cinta, bahagia, romantisme, bahkan haru. Begitulah yang saya rasakan saat menonton film ini. Mungkin tidak ada cerita kompleks layaknya The Wind Rises. Tidak ada pula visual penuh keunikan seperti yang dihadirkan The Tale of the Princess Kaguya. Tapi dibandingkan kedua film tersebut, saya tetap akan memilih When Marnie Was There sebagai perpisahan dengan Studio Ghibli. karena yang diberikan Hiromasa Yonebayashi disini adalah alasan mengapa saya mulai mencintai Ghibli dulu. Hadirnya keajaiban dalam sampul bernama kesederhanaan animasi dua dimensi serta cerita yang akan selalu bisa kita tengok dalam kehidupan sehari-hari. Indah dan lagi-lagi mengharukan di ending.

THE DISAPPEARANCE OF ELEANOR RIGBY: THEM (2014)

Debut penyutradaraan Ned Benson ini penuh dengan gimmick yang sesungguhnya tidak perlu. Judul sekaligus nama karakter utamanya mengambil dari judul lagu The Beatles. Eleanor Rigby adalah lagu tentang kesepian dan sesuatu yang terabaikan. Karakter Eleanor Rigby (Jessica Chastain) memang mengalami kedua hal itu. Sebuah tragedi membuat dia menelantarkan segalanya. Menghilang tiba-tiba dari sang suami, Conor Ludlow (James McAvoy) lalu mencoba bunuh diri dengan melompat dari atas jembatan. Tapi apapun nama yang diberikan tidak akan mempengaruhi kandungan cerita sedikitpun. Beberapa dialog selipan tentang Beatles tidak akan bisa dimasukkan, tapi hanya itu. Benson melakukannya seolah hanya untuk memberikan keunikan atau menarik perhatian para fans Beatles. The Disappearance of Eleanor Rigby sendiri terdiri dari tiga paket film dengan sub-judul Him (sudut pandang Conor), Her (sudut pandang Eleanor) dan Them (sudut pandang keduanya).

Saya hanya menonton versi Them, dan mungkin memang benar dengan menonton ketiganya penonton bisa menapatkan cakupan kisah lebih lengkap dari berbagai sudut pandang. Tapi bukankah hal itu bisa dilakukan hanya dengan satu film? Siapa yang bersedia menonton tiga film dengan total durasi lebih dari lima jam dengan inti cerita sama? Pastinya saya tidak akan melakukan itu kecuali filmnya luar biasa, dan meski tidak buruk, The Disappearance of Eleanor Rigby jelas masih jauh dari tingkatan tersebut. Kesemuanya berakhir sebagai gimmick yang tidak diperlukan. Bahkan keputusan Benson itu membuat filmnya kehilangan banyak potensi yang terkandung dalam kekuatan dramanya. Them berusaha menggabungkan dua sudut pandang tapi saya merasa ada yang hilang. Serasa ada lubang yang tertinggal karena upaya Benson membuat Them jadi suguhan seimbang, menyimpan beberapa detail eksplorasi untuk dua versi lainnya.
Berbagai gimmick diatas memang memperlemah keseluruhan kisah, padahal sesungguhnya film ini bisa saja menjadi drama romansa-tragedi dewasa yang lebih low-profile tapi tetap kuat. Ned Benson sebagai sutradara sekaligus penulis naskah memaksimalkan dua perannya tersebut. Naskahnya merupakan penelusuran kuat akan cinta dan duka, memiliki dan kehilangan. Secara status Conor dan Eleanor masihlah sepasang suami istri, tapi tragedi yang hadir tidak lagi masuk pada tahap menguji hubungan mereka, tapi menghancurkan semuanya, membawa mereka pada titik nadir. Eleanor memang secara literally sempat menghilang dari Conor, tapi lebih jauh lagi kata "menghilang" disini merujuk pada rasa. Pada awal film kita secara sekilas melihat bagaimana romantis dan bahagianya mereka berdua. Sampai terjadilah tragedi tersebut dan Eleanor pun menghilang dari kehidupan Conor.
Sebagai sutradara, Benson sanggup mengemas film ini dengan indah tanpa perlu eksploitasi sinematografi yang megah ataupun dramatisasi berlebihan. Perasaan hampa setelah kehilangan orang terkasih menjadi fokus utama, dan Benson sanggup menghadirkan kehampaan itu entah dari sisi sang pria maupun wanita. Sekali lagi saya menyayangkan penggunaan berbagai gimmick di atas. Hal itu menutupi jati diri sekaligus keunggulan utama film ini sebagai drama romansa-tragedi yang dewasa. Ada percintaan, ada pula kehilangan, tapi semuanya hadir dengan elegan dan penuh kedewasaan. Benson mampu menghadirkan perasaan dalam ceritanya tanpa perlu terasa berlebihan. Dinamika mengalir begitu lancar. Tidak banyak naik dan turun tapi begitu hidup. Satu hal yang mengganjal adalah durasi yang terlalu panjang. Bukan masalah "terlalu lama", tapi filmnya yang hampir dua jam tidak sebanding dengan seberapa jauh Benson menggali sisi terdalam dua karakter utama.

Tidak digali sedalam yang seharusnya, tapi film ini beruntung punya Jessica Chastain dan James McAvoy. Nama yang disebut terakhir sejatinya tidak terlalu spesial, tapi sang aktor setidaknya sanggup memberikan penampilan solid, menghidupkan sosok Conor yang berusaha mati-matian memperbaiki hubungan dengan wanita yang ia cintai tanpa harus memaksanya untuk kembali lagi. Sedangkan Jessica Chastain adalah bintang disini. Saya percaya dengan segala penderitaan Eleanor berkat penampilan sang aktris. Selain adegan flashback segala hal yang terpancar dari karakternya penuh duka, bahkan senyumannya sekalipun. Akting bagus ditambah sosoknya yang disini bagaikan the prettiest woman in the world membuat saya dengan mudah ikut merasakan kehampaan yang ada, termasuk rasa kehilangan akan Eleanor yang dialami Conor. The Disappearance of Eleanor Rigby adalah drama sederhana yang kuat. Romantis sekaligus kelam, saya juga menyukai adegan terakhirnya yang menyiratkan harapan romantisme meski di ranah keabu-abuan. Gimmick-nya sendiri sedikit disayangkan. Suatu kisah memang punya banyak sudut pandang, tapi apakah perlu mengemasnya sebagai satu film tiap sudut pandang? Saya rasa tidak.

FORCE MAJEURE (2014)

Cukup sering saya menonton sebuah film tanpa tahu sedikitpun data termasuk bercerita tentang apa. Hanya bermodalkan fakta bahwa film itu mendapat respon yang positif, saya menonton dalam kondisi benar-benar "buta". Force Majeure merupakan salah satunya, karena yang saya tahu hanyalah akan ada adegan salju longsor dalam film ini. Sebuah adegan yang mendapat banyak pujian karena mendefinisikan penggunaan CGI yang esensial terhadap cerita. Jadi saya pun berasumsi bahwa karya Ruben Ostlund ini merupakan disaster movie, mungkin versi lebih realistis atau less-dramatic dari The Impossible. Film dibuka dengan adegan sebuah keluarga dari Swedia tengah berfoto bersama di sebuah sky resort yang terletak di pegunungan Alpen. Mereka tampak bahagia menikmati momen kebersamaan keluarga yang jarang didapat karena sang ayah, Tomas (Johannes Bah Kuhnke) selalu sibuk bekerja. Kita pun bisa merasakan betapa berharganya lima hari yang akan mereka habiskan disana. Semua ini seolah memperlihatkan ketenangan sebelum badai datang.

Lalu tibalah adegan itu. Saat sedang makan siang di sebuah restoran, Tomas dan keluarganya melihat sebuah longsoran salju. Meski dikontrol, longsoran itu ternyata cukup membahayakan pengunjung restoran. Orang-orang mulai berlarian, tidak terkecuali Tomas yang meninggalkan sang istri, Ebba (Lisa Loven Kongsli) dan dua anak mereka. Perkiraan saya keliru. Ini bukan film bencana, atau setidaknya bukan film yang berfokus pada bencana alam. Jika ada bencana maka itu adalah bencana yang menerjang internal keluarga tersebut. Ebba merasa kecewa melihat sang suami memilih lari daripada melindungi keluarganya. Tomas sendiri menyangkal bahwa ia melarikan diri. Perdebatan dua sudut pandang tersebut terus berulang, menciptakan kesan kaku yang tidak mengenakkan diantara mereka berdua. Kita sebagai penonton sendiri menjadi saksi bahwa Tomas memang meninggalkan keluarganya. Karena itu fokus utama film ini bukanlah benar atau tidak dia melarikan diri.
Force Majeure adalah drama atau bahkan komedi (super) gelap tentang bagaimana suatu kejadian (baca: bencana) berujung pada terjadinya bencana lain yang terus menyebar, dimana dalam konteks film ini adalah perpecahan dalam keluarga. Berulang kali sebagai penonton kita ditempatkan dalam posisi yang tidak nyaman seperti saat Ebba mulai menyindir suaminya dalam dua kali makan malam bersama orang lain. Tidak hanya bagi lawan bicara mereka, bagi penonton pun situasi tersebut tidaklah nyaman. Melihat Tomas yang terus-terusan menyangkal meski kita sendiri tahu ia memang kabur, atau bagaimana Ebba yang tetap mengungkit permasalahan tersebut meski sebelumnya telah setuju pada satu versi cerita yang disepakati bersama. Dalam hal ini, Ruben Ostlund coba menunjukkan sisi alamiah dari dua hal: insting bertahan hidup dan permasalahan yang tidak tuntas.
Tomas berusaha menyelamatkan diri tentu saja nalur alamiah, tapi apakah ia bisa dibenarkan saat meninggalkan keluarganya? Mungkin saja ia tidak sempat berpikir melakukan itu. Tapi bukankah ia sempat berpikir membawa pergi handphone serta sarung tangan? Hal kedua lebih menarik, disaat filmnya berfokus pada berbagai pertengkaran. Pertengkaran yang sekilas sudah mendapat solusi namun pada akhirnya kembali terulang bahkan semakin buruk. Disinilah secara benar-benar tersirat, Ostlund menyelipkan komedi hitam. Segala perdebatan terus berulang, dimana masing-masing dari mereka nampak tidak pernah berfokus pada penyelesaian masalah tapi justru entah berkelit atau menyalahkan lawan bicara. Lucu, karena satu kata yaitu "maaf" bisa menyelesaikan segalanya. Semakin menggelitik lagi disaat pasangan Mats (Kristofer Hivju) dan Fanni (Fanni Metelius) ikut "tertular" pertengkaran Tomas dan Ebba. 

Seolah belum cukup, Ruben Ostlund memberikan pertukaran terhadap "peran gender" (selain fakta bahwa justru Ebba yang melindungi anak-anak mereka, bukan Tomas) disaat konflik mencapai puncak. Tomas semakin tertekan, dan berakhir menangis secara histeris, meringkuk di dalam kamar sedangkan Ebba hanya bisa memandang iba bercampur bingung harus berbuat apa pada sang suami. Adegan itu adalah momen paling hilarious dalam film ini. Kesan menggelitik yang dihadirkan oleh gelapnya komedi film ini terjadi pada ending. Sebuah suasana luar biasa awkward dihadirkan sebagai penutup setelah beberapa saat sebelumnya kita dipertunjukkan suatu adegan luar biasa menegangkan yang terjadi dalam bus. Terlihatlah kehebatan Ruben Ostlund dalam merangkai adegan lewat dua momen berurutan tersebut. Sungguh cara yang luar biasa untuk menutup sebuah film. Force Majeure secara keseluruhan memberikan sajian drama yang mengikat, observasi tidak nyaman tentang manusia beserta hubungan yang dijalani, serta menggelikannya beberapa aspek kehidupan yang tidak akan terasa lucu saat kita sendiri mengalami hal-hal tersebut.

BIG EYES (2014)

Apa persamaan Tim Burton dengan Johnny Depp? Mereka sama-sama pernah menjadi mesin penghasil uang sebelum kini karirnya mandek dengan film-film mengecewakan yang kesulitan hanya untuk sekedar balik modal. Alice in Wonderland memang meraih lebih dari $1 milyar, tapi kualitasnya buruk sebelum disusul Dark Shadows yang lebih parah tidak hanya dari segi kualitas tapi juga dollar yang didapat. Tapi tidak seperti sahabatnya yang masih keras kepala, Burton nampaknya mulai sadar. Frankenweenie adalah animasi berkualitas meski tidak sukses besar di Box Office. Tapi kesempatannya kembali ke performa terbaik di ranah live action terbuka lewat Big Eyes, sebuah biopic tentang penipuan di dunia seni lukis yang dilakukan oleh Walter Keane pada era 50 sampai 60-an. Dengan materi cerita provokatif serta kehadiran Christoph Waltz dan Amy Adams di jajaran pemain, inikah pertanda kembalinya "the (once) great" Tim Burton?

Margaret (Amy Adams) membawa putrinya kabur dari rumah meninggalkan sang suami. Mendapati dirinya tanpa pengalaman dan harus menafkahi sang anak, Margaret pun bekerja di pabrik furnitur sambi sesekali menjual lukisan hasil karyanya. Lukisan Margaret adalah gambar unik yang menampilkan anak-anak kecil dengan mata yang besar, jauh di atas ukuran proporsional. Suatu hari ia bertemu dengan Walter Keane (Christoph Waltz) yang juga seorang pelukis dan mengaku pernah bersekolah seni di Prancis. Keduanya saling jatuh cinta dan tidak lama kemudian menikah. Walter yang banyak melukis pemandangan kota mendapati lukisannya kalah diminati jika dibandingkan "Big Eyes" karya sang istri. Hal itulah yang membuatnya mulai mengaku sebagai pembuat lukisan-lukisan tersebut. Walter berdalih pada Margaret bahwa hal itu ia lakukan semata-mata karena alasan bisnis. 
Lukisan anak bermata besar tersebut memang sempat menjadi fenomena. Banyak orang berbondong-bondong membeli tidak hanya lukisan asli tapi juga kopi yang dicetak sebagai poster. Walter diundang ke berbagai acara televisi dan muncul sebagi headline banyak media. Jadi bayangkan betapa mengguncangnya penipuan ini. Rasanya akan sama seperti jika suatu hari kita mendapati pria yang bernyanyi di album Maroon 5 bukanlah suara asli Adam Levine. Tapi dengan modal cerita seperti itu, Burton memilih mengemas Big Eyes sebagai sajian ringan yang bertujuan menghibur. Tidak ada kesan ambigu dalam penyajian cerita, juga konflik internal karakter yang tidak terlalu kompleks. Film ini murni biopic yang ditujukan sebagai hiburan daripada eksplorasi lebih jauh akan suatu peristiwa beserta para pelakunya. Usaha mengemasnya seringan mungkin justru memunculkan inkonsistensi pada tone. 

Terkadang film ini menjurus kearah drama serius yang cukup kelam saat bersinggungan dengan konflik rumah tangga yang berbahaya, seperti saat Walter yang mabuk coba membakar Margaret dan Jane. Tapi kadang Burton tidak ingin filmnya terlalu berat dan menyelipkan komedi. Contoh paling nyata adalah pada adegan persidangan yang begitu komikal, membuat sosok Walter menjadi badut secara total. Hal itu membuat Burton mengorbankan sisi realistis cerita. Memang harus diakui Big Eyes jadi terasa ringan dan berhasil dalam usahanya menghibur penonton sebanyak mungkin, tapi eksplorasi terhadap kisah nyata yang sejatinya kompleks ini jadi dikesampingkan. Kesan serupa terjadi pada karakternya. Banyak aspek kurang tergali, semisal bagaimana Margaret bisa mendapatkan kekuatan dan memantapkan diri berkonfrontasi dengan Walter. Tapi untungnya saya bisa diajak bersimpati pada sosoknya, dan dengan senang hati membenci Walter Keane.
Amy Adams bagus sebagai Margaret dengan tatapan penuh kebimbangan itu. Sosoknya jadi terasa ada di posisi yang lemah, tapi menyiratkan hasrat melawan di dalam, memberikan kekuatan yang menghindarkan Margaret berakhir sebagai karakter "bodoh" yang sering ditemui pada banyak melodrama. Menyebut Christoph Waltz mengecewakan jelas sangat tidak adil. Dia bermain baik dalam porsi yang ditetapkan Tim Burton. Terasa eksentrik khususnya dengan seringai penuh kelicikan yang khas. Permasalahan memang ada pada karakterisasi pada naskah yang menjadikan Walter Keane lebih sebagai tokoh komedik minim pendalaman. Sangat dua dimensi.

Memang berakhir kurang dalam, tapi menyenangkan kembali melihat Tim Burton membuat drama yang lebih "normal" dengan fokus lebih kearah penyajian cerita daripada keanehan visual. Tapi bagi para pecinta visual Burton jangan khawatir, film ini masih mengakomodir kecintaan sang sutradara pada tampilan aneh. Meski tidak banyak, beberapa momen dreamlike yang sureal mampu menghadirkan kesan tersebut, selain fakta bahwa lukisan-lukisan Margaret juga mirip dengan gaya visual Burton. Big Eyes adalah kisah ringan nan menghibur tentang seorang artis yang mencintai karyanya, hanya ingin berkarya tanpa peduli situasi serta pendapat orang lain (kehadiran kritikus), dan menganggap seni sebagai ekspresi diri daripada penyempurnaan teknik atau eksploitasi demi komersialitas. Bisa jauh lebih bagus andai karakter serta dramanya lebih diperdalam dan konsisten secara tone.

WILD (2014)

"A thousand miles" dalam cerita film ini bukanlah kiasan, melainkan jarak yang benar-benar ditempuh oleh Cheryl Strayed (Reese Witherspoon) saat melintasi Pacific Crest Trail (PCT) pada 1995. Jarak total yang ditempuh Cheryl adalah 1.100 mil atau 1.800 km. Perjalanan nekat ini ia lakukan setelah berbagai rentetan kejadian penuh cobaan dalam hidupnya. Sang ibu, Barbara (Laura Dern) meninggal karena kanker. Rasa duka mendorong Cheryl menjalani kehidupan yang destruktif, mulai dari memakai heroin sampai berhubungan seks denga hampir semua pria yang ia temui. Sang suami, Paul (Thomas Sadoski) pun memilih menceraikan Cheryl. Didorong keinginan move-on dan pencarian makna kehidupan, wanita 27 tahun tanpa sedikitpun pengalaman hiking ini memulai perjalanan panjang dengan benak yang sesungguhnya penuh keraguan. Dia harus berhadapan dengan alam, peralatan seadanya, rasa sepi, dan gambaran masa lalu yang masih menghantui.

Secara pribadi saya tidak terlalu menyukai film bertemakan survival. Mulai dari All is Lost sampai Tracks yang punya banyak kesamaan dengan Wild (karakter wanita melakukan berjalan kaki sendiri di tengah alam liar demi memahami kehidupan) tidaklah mengesankan. Entah karena minimnya selipan kisah emosional atau mayoritas durasi yang hanya didominasi adegan karakternya berjalan susah payah tanpa terjadi apapun, film semacam itu terasa membosankan. Sutradara Jean-Marc Vallee berusaha melakukan hal yang lebih. Alurnya dikemas tidak secara linear. Berbagai flashback tentang masa lalu Cheryl muncul secara acak. Filmnya pun jadi lebih terasa sebagai memory/mood-driven daripada berpijak pada rangkaian plot. Kita diajak melihat bagaimana tiap momen dalam perjalanan Cheryl akan membawanya terlempar kembali pada ingatan manis serta pahit di masa lalu, khususnya yang mendorong dia melakukan perjalanan ini.
Meski hadir secara rutin dan berkali-kali, flashback yang muncul sifatnya hanya potongan demi potongan sekilas. Tidak akan sampai membuatnya begitu emosional, tapi memberikan warna yang mencegah Wild terasa datar. Setidaknya penonton bisa tahu seberapa hancur kehidupan Cheryl sebelum ini, meski tidak sampai ikut merasakan. Hal lain yang turut hadir sebagai penyegar suasana adalah selipan komedi. Tidak akan membuat anda tertawa, tapi benar-benar efektif sebagai pencair suasana. Tanpa hal itu, menonton film ini bisa saja terasa seperti mendengarkan ocehan dosen di dalam ruang kuliah yang melulu membicarakan materi tanpa selingan, entah itu lelucon atau cerita santai. Meski mengisahkan karakter yang tengah hancur, ketidak raguan naskah tulisan Nick Hornby untuk menyelipkan sedikit lelucon memberikan kehidupan pada film ini. Filmnya pun tidak terasa gersang dan kosong.
Potongan flashback memang hanya memberikan secuil emosi saja, tapi kehadiran Laura Dern dan tentunya Reese Witherspoon memperkokoh pondasi dramanya. Dengan screen time yang tidak terlalu banyak dan hanya sepotong-sepotong, Dern dengan segala tawa dan senyumnya menghidupkan sosok ibu yang penuh kasih sayang, penuh kekuatan. Sebagai penonton saya pun memahami kenapa kehilangan sosoknya begitu menghancurkan Cheryl. Sedangkan Reese Witherspoon menghadirkan pertunjukkan akting yang kuat serta penuh kejujuran, menelanjangi setiap emosi yang disimpan maupun diluapkan sosok Cheryl. Tantangan akting secara fisik maupun emosional berhasil dilakoni Witherspoon. Ini adalah salah satu contoh penampilan dari seorang aktris yang matang, bukan sekedar "keberuntungan". Dengan ini Reese Witherspoon makin memantapkan "reboot" bagi karirnya yang dimulai pada 2013 setelah bertahun-tahun terjebak dalam rom-com medioker.

Tapi saya tetap tidak bisa menyukai Wild secara total. Penggunaan flashback sebagai pemunculan memori yang menggerakkan kisah memang memberikan kekuatan emosional yang tidak banyak sebelum didukung performa kuat dua aktirsnya. Namun diluar itu, Wild masih dipenuhi kekosongan yang terasa melelahkan. Tentu saja perjalanan Cheryl Strayed begitu berat, melelahkan, dan pastinya luar biasa. Tapi transformasi dalam media film ini tidak sepenuhnya berhasil mewakili semua itu. Disaat Cheryl pada akhirnya mendapat banyak pelajaran serta jawaban dari pertanyaan hidup yang ia cari selama ini, filmnya tidak seperti itu. Begitu menyentuh fase konklusi, semua berakhir dengan kurang bermakna. Sama sekali tidak buruk, tapi sebagai adaptasi kisah inspiratif, Wild tidak sebegitu menginspirasi. Setidaknya film ini layak ditonton karena salah satu performa terbaik sepanjang karir Reese Witherspoon.

HUNGER (2008)

Shocking, haunting & dirty. Begitulah kesan yang terpancar kuat dari debut penyutradaraan Steve McQueen ini. Disaat banyak film bertemakan sejarah atau biopic yang lebih terasa seperti visualisasi data dan literatur yang didramatisir, (12 Years A Slave-nya McQueen pun agak seperti itu) Hunger lebih mengutamakan pembangunan emosi dan situasi lewat rangkaian gambar. Penonton tidak akan merasa film ini asal mencomot dari rangkaian sejarah episodik dari buku, tapi horror nyata yang disuguhkan McQueen terasa begitu realistis mendokumentasikan peristiwa-peristiwa yang ada. Kisahnya berfokus pada aksi mogok makan (hunger strike) yang berlangsung di penjara Maze, Irlandia Utara pada tahun 1981. Semuanya berawal dari protes para tahanan tentang persamaan status antara "tahanan biasa" dengan "tahanan politik" yang menurut Margaret Thatcher sama-sama tindak kriminal. 

Perjalanan awal saya mengunjungi penjara Maze sudah terasa mengejutkan. Suasana penjara begitu kotor dan para penjaga memperlakukan tahanan dengan penuh kekerasan. Pada saat itu para tahanan melancarkan dua buah aksi: "blanket protest" dan "dirty protest". Protes pertama adalah keengganan mereka memakai atribut penjara, dan memilih hanya memakai kain selimut. Sedangkan yang kedua lebih ekstrim lagi. Masing-masing tahanan "menghias" dinding sel dengan kotoran mereka, dan setiap malam membuang air seni secara serempak ke koridor penjara. Mulai dari sini McQueen sudah membangun horror. Hunger memang drama yang kental dengan atmosfer horror. Suasananya sunyi dengan dialog minim serta penggunaan musik yang nyaris tidak ada. Penggunaan long take plus kamera statis secara otomatis mengunci pandangan saya. Ditambah kesan disturbing yang hadir lewat keras dan kotornya penjara, kesan mencekam semakin sempurna. Keheningan dan gerak kamera minimalis memang selalu mencekam.
Lalu kita dibawa berkenalan dengan sosok Bobby Sands (Michael Fassbender), salah satu pemimpin pergerakan sekaligus anggota IRA (Irish Republican Army). Merasa cukup dengan perlakuan yang diterima dari pihak penjara maupun pemerintah Inggris, Bobby merasa perlu melakukan perlawanan lebih. Pada akhirnya ia pula yang menciptakan aksi mogok makan. Horror, horror dan horror. Bahkan disaat kita sudah dibawa pada setting klinik yang lebih bersih dan cerah, kengerian tetap terpancar karena pada saat itu Bobby tengah melakukan aksi mogok makan. Apa yang mengerikan dari seorang narapidana yang tidak mau makan? Jawabannya: penderitaan. Penonton diajak melihat Bobby yang begitu menderita, kurus kering, lemas, bahkan tidak lagi mampu untuk sekedar berdiri. Dengan tubuh penuh luka pula, sosok Bobby tampak seperti mayat hidup. Disinilah totalitas Fassbender begitu terasa. Lewat badan kurus serta gestur kecil dan tatapan kosong yang menunjukkan penderitaan kita pun dapat dengan mudah merasakan penderitaan tersebut. 
Hunger merupakan tontonan yang begitu fokus. Ceritanya tidak sampai meebar jauh ke ranah politik yang lebih luas, melainkan terus berfokus pada hilangnya sisi kemanusiaan di penjara Maze. Para tahanan tidak diperlakukan secara manusiawai, dan berujung pada sosok mereka yang tidak lagi terasa selayaknya manusia. Film ini berjalan lambat dan sunyi, tapi dengan fokus yang terus terjaga, penuturan to-the-point, serta durasi singkat, kisahnya terasa padat dan tidak terasa diseret terlalu lama. Lewat film ini Steve McQueen memaksimalkan potensi dasar sinema, yakni bertutur lewat gambar. Minim dialog, gambar-gambarnya sudah menceritakan semua aspek mulai dari alur, situasi, sampai rasa. Tapi saat ada dialog, kalimat-kalimat yang hadir adalah aspek esensial untuk pembangun motivasi karakter serta menyampaikan tema penuh ambigunya. Sebuah pembicaraan antara Bobby dengan Pendeta Dominic (Liam Cunningham) disajikan secara luar biasa dalam long take intens selama kurang lebih 17 menit.

Steve McQueen memang begitu piawai dalam mengangkat kisah mengenai orang/kelopok yang terpinggirkan, diremehkan, dan mendapat perlakuan tidak adil. Dia mengeksploitasi sisi terdalam mereka, tanpa mencoba memberikan penghakiman berat sebelah bagi pihak "lawan". Hunger merupakan panggung pertunjukkan bagi duet maut Steve McQueen-Michael Fassbender. Sang sutradara dengan kehebatannya membangun atmosfer serta rasa, dan sang aktor dengan totalitas berakting. Menghadirkan sebuah situasi yang berat, filmnya memunculkan pertanyaan dilematis: "Apa yang akan kita lakukan jika ditempatkan dalam situasi serupa?" "Langkah mana yang terbaik?" Karena baik pendapat Bobby maupun Dominic sama-sama memiliki dasar yang kuat dengan resiko masing-masing.