CHI-RAQ (2015)

Mengadaptasi naskah drama panggung masa lampau dengan memindahkan setting-nya ke era sekarang sesungguhnya bukan lagi suatu terobosan. Karya-karya Shakespeare sebut saja "Romeo & Juliet", "Macbeth" hingga "Hamlet" pernah mendapatkan perlakuan tersebut. Tapi lain cerita ketika yang diangkat adalah "Lysitrata" karya Aristophanes -pertama dipentaskan tahun 411 SM. "Lysitrata" merupakan komedi tentang aksi titular character-nya mempersuasi wanita-wanita Yunani supaya mogok melayani hasrat seksual para pria demi menghentikan Perang Peloponnesos. Naskah satu ini tidak se-aplikatif judul-judul lain di atas karena kisahnya sendiri tidak se-universal itu. Bukan sekedar mengenai cinta sejati atau perebutan kekuasan. Ini tentang kemanusiaan, hasrat seksual dan male-dominated society. Oh, and it was adapted by Spike Lee.

Judul "Chi-Raq" berasal dari kombinasi "Chicago" dan "Iraq". Sebutan ini merujuk pada tingginya tingkat kematian di sana. Tercatat dalam rentang 2001-2015 ada 7.356 nyawa melayang di Chicago sebagai akibat pertempuran antar gang, jauh lebih banyak dibanding korban perang di Irak yang sedari 2003 hinga 2011 memakan korban dari pihak Amerika sebanyak 4.424 jiwa. Film ini mengisahkan perselisihan antara dua gang, Spartan dan Trojan yang masing-masing dipimpin oleh Demetrius "Chi-raq" Dupree (Nick Cannon) dan Sean "Cyclops" Andrews (Wesley Snipes). Sering terjadi baku tembak antara kedua belah pihak dan tak jarang warga sipil turut menjadi korban. Hingga setelah bocah berusia tujuh tahun tertembak, meregang nyawa di aspal jalan, terketuklah Lysistrata (Teyonah Parris) -kekasih Demetrius- untuk membuat perubahan.
Lysistrata meyakini bahwa kunci demi menghentikan pertikaian adalah dengan menolak berhubungan seks sebelum perdamaian tercipta. Dia pun mengajak wanita-wanita lain termasuk para istri/kekasih anggota gang Trojan untuk memulai demonstrasi tersebut. Jika terdengar aneh cenderung konyol wajar, karena memang benar begitulah intensi filmnya, menyuguhkan satir mengenai ketergantungan masyarakat (baca: laki-laki) terhadap seks, sehingga tatkala akses menuju kepuasan dasar itu dicabut -termasuk situs porno dan segala bentuk prostitusi- mereka pun menjadi gila. Dalam suatu adegan, seorang polisi (literally) kehilangan kewarasan, histerikal akibat gagal memuaskan hasratnya. Bahkan stabilitas dunia ikut terancam karena itu. Spike Lee sama gilanya, tidak menahan diri menghantarkan kekacauan konyol yang tak pernah gagal memancing tawa.

Permasalahan terletak pada tonal shift di mana komedi konyol mesti berdampingan dengan drama tragedi penuh kematian pula penderitaan. Sulit membayangkan adegan seorang Mayor bertingkah tolol merobek pakaiannya lalu naik ke atas meriam untuk berhubungan seks berada satu film bersama momen tatkala seorang ibu bersimpuh, membersihkan darah mendiang puterinya di tengah jalan. Pada pementasan teater -seperti "Lysistrata"- dua adegan tersebut bisa bersatu karena sisi artificial pertunjukkan (panggung dan properti kentara buatan), sehingga paparan "realis" pun tidak sepenuhnya terasa nyata. Penonton lebih bersedia menerima lompatan tone ekstrim, bahkan bisa berujung kekuatan dinamika alur. Sedangkan film berada dalam dimensi berbeda, jauh lebih mendekati kondisi dunia nyata. Alhasil inkonsistensi tone terasa mengganggu. Komedi akan tetap menggelitik, tapi kekuatan drama menurun drastis, di mana itu terjadi pada "Chi-Raq".
Naskah garapan Spike Lee dan Kevin Willmott mampu menempatkan diri sebagai satir yang baik berkat keberhasilannya melontarkan kritik melalui sindiran menggelitik. Penonton diajak mentertawakan banyak pihak, mulai pria biasa, Walikota, bahkan Presiden. Seperti biasa Lee berapi-api cenderung egosentris dalam melontarkan pesannya meski kali ini masih dalam taraf wajar dan universal (tidak segmented hanya untuk orang kulit hitam). Namun gejolak emosi yang semestinya ada sama sekali tidak terasa karena liarnya lompatan tone. Padahal Lee di sini tak hanya piawai melontarkan lelucon konyol tapi juga merangkai momen dramatik kuat. Beberapa adegan berpotensi menggetarkan emosi, terlebih jajaran cast seperti Angela Bassett dan Jennifer Hudson menampilkan performa memikat. Sayagnya hati saya tak pernah terikat karena perjalanan alurnya gagal menyelaraskan komedi dan drama secara rapih.

Butuh konsentrasi lebih guna menikmati film ini, karena bukan nama beberapa tokohnya saja yang setia dengan sumber adaptasi, tak ketinggalan pula penggunaan kalimat metafor berima. Baris dialognya terdengar seperti lirik lagu rap yang ditranslasikan menjadi suatu naskah. Apabila belum lama ini anda menonton "Macbeth", dialog milik "Chi-Raq" adalah versi gangsta-nya berisikan banyak umpatan serta kata-kata vulgar. Tidak mudah dicerna, namun "kenakalan" Lee dan Willmott meramu kata demi kata jelas memberi hiburan menyenangkan untuk telinga saya. Cara pengucapan aktor-aktor khususnya Samuel L. Jackson sebagai Dolmedes sang narator pun amusing. Memang "Chi-Raq" merupakan kekacauan tak tertata. Kurang berhasil pula film ini membuat isu dalam tema terasa lebih bermakna. Tapi Spike Lee piawai meramunya sebagai keliaran mengasyikkan. Berbagai koreografi saat adegan musikal mulai menghentak pun tersaji memikat. This movie's crazy, angry, preachy and messy yet really funny.

REBEL WITHOUT A CAUSE (1955)

"Dasar anak zaman sekarang!" Selorohan tersebut tentu sudah tidak asing lagi di telinga dan biasanya merujuk pada tingkah laku muda-mudi yang dirasa kurang baik oleh generasi di atas mereka. Masa remaja memang dipenuhi keliaran, kenakalan, bahkan seringkali pemberontakan. Bagaimana sikap tersebut muncul para orang tua hanya bisa "garuk-garuk kepala". Terjadi "pemberontakan tanpa sebab" yang dianggap sebagai manifestasi gejolak darah muda. Salah satu karakter dalam film ini sempat berucap bahwa tingkah itu dikarenakan usia remaja adalah masa ketika tak ada satu pun hal di dunia ini dirasa cocok oleh seorang anak. Mudahnya, "they're an asshole because that's what they are". Benarkah hanya itu?

"Rebel Without a Cause" membuka kisahnya dalam setting kantor polisi saat Jim Stark (James Dean), Judy (Natalie Wood) dan Plato (Sal Mineo) ditangkap dengan alasan berbeda-beda. Jim ditemukan tengah mabuk di pinggir jalan, Judy berjalan di malam hari sambil memakai riasan tebal dan pakaian mencolok, sedangkan Plato baru menembak anak anjing menggunakan pistol milik sang ibu. Mudah mengkategorikan mereka sebagai anak nakal, tapi anggapan itu berubah begitu ketiganya menceritakan kondisi di rumah masing-masing. Semua masalah tadi sesunggunya memiliki benang merah, yakni kurangnya perhatian orang tua. Setelah itu kisahnya membawa penonton mengarungi mengamati kenakalan tokohnya sekaligus kehidupan pribadi mereka selama 24 jam ke depan.
Melalui naskah buatannya, Stewart Stern meneriakkan suara kemarahan remaja tanpa sekalipun memupuk glorifikasi pada free lifestyle nihilistik yang kerap dimunculkan banyak teen movie masa sekarang. Poin ini terpancar dari penokohan ketiga karakter utamanya. Tentu mereka nakal, sering pula membangkang, tapi Stern bukan menekankan pada hasrat ketiganya untuk bebas namun harapan mendapat cinta. Pendekatan itu memudahkan penonton membangun ikatan pada karakter berkat adanya paralel antara perasaan mereka dengan kita. Karena semua orang pernah muda, dan anak muda ingin mendapat kasih sayang. Maka sewaktu di hadapan kedua orang tuanya yang tengah bertengkar Jim berteriak "You're tearing me apart!", teriakan itu seolah mewakili ungkapan rasa terpendam milik kita semua.

Paparan kisah mengeksplorasi gesekan antar-generasi sebagai pemicu utama konflik anak dan orang tua. "Rebel Without a Cause" jadi penggambaran bahwa dua generasi berbeda memang tidak ditakdirkan untuk memiliki kesamaan sudut pandang. Dalam kasus film ini, orang tua urung meluangkan perhatian lebih atau memahami pola pikir anak mereka, sehingga akhirnya tersulut konflik. Memang terkesan lebih membela sisi remaja, tapi bukan jadi soal karena film ini murni usaha mewakili suara mereka, bukan studi kasus bersudut pandang netral. Lagipula tidak ada niatan dari filmnya melakukan generalisasi bahwa orang tua selalu salah dan sang anak benar. Konfliknya hanya mengambil sample dalam beberapa keluarga di mana hal itu bertempat.
Semakin kuat pula status "Rebel Without a Cause" selaku ikon bagi remaja berkat karakter Jim Stark. Sosoknya pendiam dan lebih memilih berkeliaran sendiri sebagai akibat tekanan permasalahan di rumah. Namun Jim bukan pemuda lemah. Dia hanya memilih sebisa mungkin jauh dari permasalahan, tapi bukan berarti ia takut melawan para "pengganggu" -and he's really good at it. Pastinya pesona James Dean tak bisa dilepaskan dari keberhasilan Jim menjadi tokoh ikonik. "Rebel Without a Cause" adalah main role kedua Dean -total ia bermain sebagai lead role dalam tiga film- sekaligus mengabadikan namanya di dunia perfilman. Cara bertutur penuh kharisma ditambah luapan emosi menggetarkan, membuat Jim Stark tak hanya idola kaum wanita tapi juga sosok idela harapan banyak pria. Sayang, andai Dean tidak meninggal di usia muda (24 tahun, sebulan sebelum film ini rilis) bisa saja dia menjadi "another Marlon Brando".

Hanya berlangsung selama satu hari satu malam justru makin menguatkan esensi film mengenai kegilaan para remaja. Bayangkan, hanya dalam kurang lebih 24 jam sudah begitu banyak hal (baca: tragedi) mereka lalui. Kisahnya padat, ditambah lagi Nicholas Ray selaku sutradara mampu mengemas beberapa sequence yang sebenarnya predictable jadi suguhan ketegangan demi ketegangan, meski hal ini tak bisa dilepaskan dari fakta bahwa kita sudah menyimpan kepedulian besar pada tokoh-tokohnya. Hingga lebih dari 60 tahun pasca perilisannya, "Rebel Without a Cause" masih tetap dan akan selalu relevan mewakili situasi sosial masyarakat suatu zaman. Karena sampai kapanpun remaja beserta konflik antar-generasi pada dasarnya selalu serupa.

CARTEL LAND (2015)

Tidak seharusnya kita berhenti menyimpan optimisme teruntuk dunia yang lebih baik. Dunia tanpa kriminalitas, tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah. Namun seringkali harapan itu ditampar oleh kenyataan bahwa hidup ini berjalan membentuk lingkaran tanpa kenal putus. Satu keburukan ditumpas, tak butuh waktu lama untuk muncul benih keburukan berikutnya. It goes on and on and on. Terkesan hopeless, but that's the real life. Guna memaparkan wajah kelam itu rasanya tidak ada tempat yang lebih cocok selain Meksiko dimana institusi pemerintahan "runtuh" dan kartel narkoba berposisi di atas hukum. Seperti judulnya, "Cartel Land" menyoroti tanah tempat kartel narkoba berkuasa hingga memancing pergerakan warga sipil melakukan perlawanan.

Sutradara Matthew Heineman membagi dokumenter ini ke dalam dua cerita paralel mengenai dua kelompok vigilante: Arizona Border Recon dan Autodefensas. Kelompok pertama dipimpin oleh Tim Foley, beraksi menjaga perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, melakukan razia terhadap penyelundupan narkoba sampai imigran gelap. Sedangkan Autodefensas berisi warga sipil dari Michoacan, Meksiko yang merasa jengah terhadap aksi gembong Kngihts Templar. Bermodalkan senjata api lengkap, Autodefensas di bawah pimpinan Dr. Jose Mireles menyatroni satu per satu markas kartel tersebut untuk mengakhiri kekuasaan mereka di berbagai kota. 
This is one of the scariest documentary I've ever seen. Mengerikan, karena Heineman mendapat akses menaruh kameranya di berbagai setting tempat dan situasi yang semestinya tidak kita datangi. "Cartel Land" bukan dokumenter yang hanya bertutur lewat rangkuman statistik, reka ulang atau wawancara. Film ini terjun langsung ke tengah baku tembak antara Autodefensas melawan Knights Templar, hingga mendokumentasikan para kartel tengah meramu narkoba. Bayangkan anda berdiri di bawah desingan peluru liar atau duduk bersama kriminal keji sewaktu tengah melakukan aksi mereka. Aroma kematian terasa semerbak di sini. Terlebih lagi, Heineman tidak ragu menampilkan visual "memuakkan" berupa kepala terpenggal juga mayat berlumuran darah. Segala pemandangan tadi menjadi set-up sempurna bagi atmosfer filmnya, karena memang seperti inilah situasi di Michoacan. 

Sayangnya muncul lubang pada intensitas yang berasal dari keputusan Heineman menyatukan dua cerita. Bermaksud menciptakan paralel, kisah Arizona Border Recon jelas tenggelam baik dari sisi kuantitas maupun kualitas bila disandingkan dengan paparan perjuangan Autodefensas. Hanya menyajikan inteview pada Tim Foley dan sedikit aksi mereka di lapangan, konflik di perbatasan tersebut tidak nampak sebegitu menarik, bahkan sering menurunkan intensitas film secara keseluruhan akibat terpecahnya fokus. Andai hanya berpusat pada salah satu cerita saja -tepatnya Autodefensas- niscaya film ini akan jauh lebih padat. 
Pada awal narasi, kita menyaksikan kepahlawanan Autodefensas dan Jose Mireles. Mereka tidak ragu menantang maut bahkan berdiri tegak menghadapi usaha polisi melucuti senjata mereka. Lewat sebuah sequence menggetarkan kala warga kota bersatu mengusir polisi -seorang nenek mendorong paksa mobil patroli, wanita berteriak histeris bahkan ada yang mengayunkan parang- Heineman sukses menggambarkan runtuhnya kepercayaan masyarakat akan instansi berwajib. Awalnya Mireles adalah pahlawan terlihat bak pahlawan dan Autodefensas merupakan pelindung. Namun seperti kalimat dari Tim Foley di awal film, "there's an imaginary line between right and wrong. Good and evil". Baik dan buruk tersebut makin dibaurkan seiring berjalannya durasi ketika Heineman secara cerdik mencuatkan satu per satu fakta yang juga berperan sebagai twist mengejutkan. 

"Cartel Land" adalah tipikal film yang cukup ditonton sekali saja. Bukan karena buruk, namun kebrutalan visual dan dominasi cekatan rasa ketidakberdayaan bukanlah suatu hal menyenangkan untuk berulang kali disaksikan. Semakin disturbing karena film ini menyadarkan bahwa segala hal di layar merupakan realita. It's intense, scary and will stab right through your heartDokumenter ini bertutur mengenai pertempuran antara baik melawan buruk, hanya saja kita tak pernah tahu pasti siapa berada di pihak mana. Akhirnya begitu credit bergulir anda bakal bertanya, "masihkah ada harapan untuk kebaikan di dunia ini?"

THE WOLFPACK (2015)

Anda pernah menonton "Dogtooth"? Film asal Yunani rilisan tahun 2009 itu bercerita tentang orang tua yang mengurung anak-anaknya di dalam rumah dengan alasan bahwa dunia luar terlalu berbahaya. Such a weird and disturbing movie. Wajar bila kita yakin keanehan tersebut tidak mungkin bertempat di kenyataan. Sampai saya menonton "The Wolfpack" karya Crystal Moselle. Dokumenter ini menjadi bukti kekuatan sinema sebagai jendela dunia. Pertama karena menyadarkan saya betapa masih banyak kisah mengejutkan di luar sana. Kedua, berasal dari fakta bagaimana orang-orang selaku subjek film ini menjadikan film sebagai sarana terbesar guna mengetahui seperti apa rupa kehidupan di luar rumah.

"The Wolfpack" memperkenalkan penonton pada Keluarga Angulo yang terdiri dari sembilan orang (ayah, ibu, satu anak perempuan dan enam anak laki-laki). Judul filmnya merujuk pada keenam anak laki-laki keluarga ini. Pada adegan pembuka kita melihat mereka melakukan reka ulang adegan "Reservoir Dogsdi kamar dan lorong sempit dalam rumah lengkap degan setelan jas dan pistol mainan, lalu menonton "Blue Velvet", mencatat dialog lengkap beberapa film, sampai membuat daftar 30 film terbaik sepanjang masa. Mereka semua punya rambut panjang, sehingga lebih tampak sebagai anggota band metal daripada movie geek. Jadi mengapa keenam anak bernama Mukunda, Narayana, Govinda, Bhagavan, Krisna dan Jagadesh ini melakukan semua hal tersebut?
Ternyata selama sekitar 14 tahun, sang ayah (Oscar) melarang anak-anaknya keluar rumah dengan alasan terlalu banyak pengaruh buruk bertebaran. Hanya Oscar yang memegang kunci rumah, dan anggota keluarga lain hanya diberi kesempatan keluar jika dalam keadaan mendesak -keenam anak itu menjalani homeschooling di bawah bimbingan sang ibu. Bahkan pernah selama setahun penuh tidak ada yang meninggalkan rumah. Selama bertahun-tahun, film menjadi media hiburan utama sekaligus sumber pengetahuan terbesar. "The Wolfpack" menyoroti keseharian keluarga Angulo, serta perubahan dalam hidup mereka setelah suatu hari Mukunda nekat keluar rumah tanpa seizin ayahnya. 

Terkadang untuk membuat dokumenter bagus, "hanya" butuh keberuntungan yang memperkenalkan sang filmmaker kepada subjek menarik. Crystal Moselle jelas beruntung (entah bagaimana) mendapat kepercayaan keluarga Angulo merekam keseharian mereka. Moselle tidak banyak memberi inovasi dalam cara bertuturnya, melainkan sekedar mendapat akses menuju lingkungan "aneh tapi nyata", menyalakan kamera, lalu membiarkan subjek menuturkan semuanya. Moselle kentara mengambil peran pasif dalam penyutradaraan tanpa melakukan intervensi berlebihan. Sisi positifnya, segala hal di layar hadir natural. Tapi negatifnya, tercipta keterbatasan eksplorasi. Sebagai kisah berisi "twisted family", seperti ada kepingan konflik puncak yang hilang. 
Untung pada dasarnya para subjek sudah punya kekuatan lebih, sehingga saat dibiarkan "bicara sendiri" tetap muncul hal-hal menarik untuk penonton saksikan. Segala tingkah laku para wolfpack selalu memunculkan senyum, entah disaat mereka ulang adegan suatu film, menari heboh berlatarkan lagu "Tarzan Boy", atau mendapatkan kebahagiaan hasil dari hal-hal sederhana seperti bermain di pantai sampai menonton film di bioskop untuk kali pertama. Keunikan anak-anak ini sukses membangun atmosfer, bahkan suasana creepy tatkala merayakan Halloween dengan berdandan meniru ikon-ikon film horror (adegan ini layak masuk film horror sungguhan). Saya pun selalu dibuat terpukau melihat properti serta kostum yang diciptakan wolfpack untuk membuat "sweded movie". 

Ada isu menarik tentang ketakutan akan dunia modern, meski sayangnya hal ini tak pernah benar-benar tergali karena Moselle jarang memberi fokus pada Oscar. Hanya sekilas kita mempelajari bagaimana sudut pandang sang ayah terhadap dunia, alhasil isu tersebut hanya terasa sebagai sampul. Namun di lain pihak "The Wolfpack" telah berhasil menyampaikan surat cinta pada sinema, memaparkan bagaimana film dapat berarti lebih dari sekedar hiburan ringan. Film pun mampu memberi pengetahuan, berbagai sudut pandang, bahkan penopang hidup seseorang. Namun Crystal Moselle sudah terlanjur mengundang saya menuju dunia aneh ini, jadi akan lebih baik jika ia bertutur secara lebih tajam daripada membiarkan penonton hanya mengamati tampak luar seperti para wolfpack yang melihat hidup hanya dari dalam rumah. 

LONDON LOVE STORY (2016)

Sejak dulu sinema beserta aktor di dalamnya (baca: selebritas) selalu jadi tempat penonton "jelata" menggantungkan angan. Setelah menjalani penatnya keseharian dunia nyata, orang ingin dibawa melayang di tengah kegemerlapan para selebriti, entah di dalam maupun balik layar. Gemerlap itu berwujud paras rupawan, penampilan trendi, barang mewah, jalan-jalan ke luar negeri dan tentunya cinta sejati. Teruntuk Indonesia di mana budaya menonton di bioskop masih sering dianggap bentuk kemewahan, segala gemerlap tadi cenderung mendominasi layar televisi, baik melalui sinetron maupun FTV. Pecinta televisi khususnya dari usia remaja awal lebih menggemari romantisme berkilau macam itu daripada cerminan realita atau high concept di layar lebar.

Maka jangan heran tatkala "Magic Hour" berhasil mendatangkan lebih dari 850.000 penonton dan bertengger di posisi kelima daftar film Indonesia terlaris tahun 2015. Masih diarahkan oleh Aspe Kusdinar dan menampilkan dua main cast sama (Michelle Ziudith & Dimas Anggara), "London Love Story" coba mengulang kesuksesan pendahulunya bermodalkan formula serupa ditambah setting luar negeri yang tengah menjadi trend. Segala konflik dimulai saat Dave (Dimas Anggara) menolong Adelle (Adila Fitri) yang hendak bunuh diri melompat dari jembatan. Tapi seperti "remaja galau" pada umumnya, Adelle justru merasa takut dan meminta tolong pada Dave. Adelle pun untuk sementara waktu tinggal di apartemen Dave. Hanya butuh semalam bagi Adelle mulai flirting meski baru saja coba bunuh diri karena batal menikah. 
Pertama, begitu cepatnya Adelle jatuh cinta jelas bukan disebabkan pesona Dave (intensi filmnya), but because she's such a bitch. Kedua, pilihan Dave tidak berbuat apapun (you know what I mean) pada perempuan cantik yang selalu menggodanya (plus tinggal seatap) tidak memberi kesan bahwa Dave pria sejati yang menjaga cintanya pada sang mantan kekasih meski sudah setahun menghilang entah kemana (intensi filmnya juga), but because he's such an idiot. Kemudian kita diperkenalkan pada Caramel (Michelle Ziudith) yang memang semanis popcorn rasa karamel. Sama seperti Dave, Caramel kesulitan membuka hati pada pria bernama Bima (Dion Wiyoko). Tapi ini wajar, mengingat berbagai tindakan norak dari Bima seperti menerobos antrian di restoran pizza tempat Caramel bekerja hanya untuk memaksa gadis pujannya berkencan. Itu bukan romantis, tapi memalukan.

Mungkin anda bertanya-tanya kenapa setelah baris kalimat serius di paragraf pertama tulisan saya berubah menjadi "sindiran sayang" pada paragraf berikutnya. Sindiran di atas kerap saya gunakan untuk mengulas film berisi kebodohan akut, dan harus diakui "London Love Story" khususnya untuk naskah memang menghadirkan rangkaian kebodohan. Tapi semua itu disengaja. Target pasar film ini memang bakal menganggap cara tokohnya menyikapi percintaan sebagai suatu hal romantis. Mereka akan "meleleh" menyaksikan perjalanan cinta Dave dan Caramel, tidak peduli meski "rasa sinetron" seperti momen penuh kebetulan atau adegan kecelakaan terasa dominan. Tidak peduli, karena itulah yang mereka sukai, ketika dramatisasi cinta berlebihan (dianggap) berbanding lurus dengan romantisme.
"London Love Story" adalah bentuk escapism sempurna berkat kehadiran aspek-aspek gemerlap di atas. Melihat si tampan Dave dan si cantik Caramel mengejar cinta walau harus melalui banyak ujian, tak lain merupakan gambaran cinta sejati idaman para remaja. Keduanya menetap di London, mengenakan pakaian mahal, tinggal di apartemen dan memiliki mobil mewah. Kombinasi semua itu membentuk formula ampuh supaya penonton melayang di impian akan kesempurnaan hidup, sejenak melupakan betapa realita tak seindah harapan. Belum lagi naskah karya Sukhdev Singh dan Tisa TS membombardir telinga kita dengan rentetan quote percintaan, yang lagi-lagi membuat penonton remaja berteriak histeris (serius, itu kejadian nyata), meski penggunaan kalimat puitis itu tidak sinkron dengan gaya bicara tokohnya sehari-hari. 

Saya tahu film ini bodoh, tapi biar bagaimanapun saya manusia biasa, hingga tak mungkin sepenuhnya menolak "pesona duniawi" tadi. Terlebih sutradara Asep Kusdinar mampu menarasikan cerita dengan cukup baik. Walaupun kental unsur FTV, Asep sadar ia tengah membuat film bioskop, sehingga penghantaran dramatisasi tidak sampai taraf annoying. Penggunaan flashback juga tidak sampai membuat jalannya alur acak-acakan. Di jajaran cast, Michelle Ziudith paling menonjol berkat kapasitasnya menghantarkan adegan emosional meski belum mencapai taraf luar biasa. Menghibur atau tidaknya film ini tergantung seberapa jauh anda bisa menerima "unsur anak muda" nya. Bagi saya sendiri "London Love Story" adalah guilty pleasure berisikan segala pernak-pernik FTV yang disaat bersamaan terasa memuakkan sekaligus memabukkan.

NORM OF THE NORTH (2016)

Hingga saat ini, saya masih bisa menikmati tontonan berpangsa pasar anak-anak. Sebagai contoh saya terhibur menonton "Curious George" berbekal segala kesederhanaan berbalut selipan pembelajarannya. Bahkan jika benar-benar senggang, saya beberapa kali menyaksikan "Teletubbies" di YouTube. Dua acara tersebut adalah contoh tontonan anak yang bagus, mampu menyeimbangkan hiburan dan pendidikan, tapi paling penting tidak membuat orang dewasa "tersiksa". Disaat acara televisi masih bisa disaksikan sendiri oleh anak di rumah, lain cerita dengan film bioskop. Mustahil mereka datang sendirian. Pasti orang tua, kakak atau kerabat lain berusia dewasa ikut menemani. Karena itu hanya ada rating "semua umur", bukan "anak kecil".

"Norm of the North" jelas dibuat dengan harapan mampu memberikan hiburan bagi penonton muda. Ceritanya sederhana, berisikan petualangan dan tarian dari para hewan yang bisa bicara. Norm adalah beruang kutub sekaligus calon raja di Antartika. Masalahnya, sebagai hewan buas, Norm justru tidak memiliki kemampuan berburu. Hatinya terlalu lembut untuk tega menerkam singa laut sebagai bahan makanan. Tapi dia punya dua kelebihan yang tidak dimiliki hewan lain: bisa bicara bahasa manusia dan twerking. Dua hal itu menjadi senjata Norm tatkala seorang manusia bernama Mr. Greene berniat membangun perumahan mewah di Antartika. Demi menyelamatkan rumahnya, Norm berangkat ke New York guna menggagalkan rencana tersebut.
Bahkan dari tampak luarnya saja film ini sudah buruk. Pada era dimana Pixar mengembangkan photo realistic imagery lewat "The Good Dinosaur", kualitas visual "Norm of the North" memang terasa murahan. Tentu membandingkan dua film dengan perbandingan bujet hampir 1:10 tidaklah bijak, tapi bahkan bila dirilis satu dekade lalu pun visualnya masih buruk. Gambar kaku berisikan objek "kotak-kotak" turut diperparah oleh kemalasan animatornya mendesain karakter. Pada sebuah adegan kala sekumpulan lemming menari, terlihat gambarnya merupakan hasil multiplying satu desain. Sewaktu setting berpindah ke New York, jika jeli anda akan mendapati beberapa figuran manusia muncul berulang-ulang. Walau sekedar background character, itu cukup membuktikan kemalasan pembuatnya.

Ceritanya pun bernasib serupa. Saya tidak menuntut naskah cerdas dari film seperti ini, tapi setidaknya janganlah terlampau bodoh. Kekurangan bukan dikarenakan kisahnya terlalu sederhana, sebaliknya, bumbu intrik politis dan korupsi dunia real estate memperlihatkan ambisi berlebihan dari naskah supaya nampak pintar. Ambisi itu tak sejalan dengan kemampuan, sehingga banyak menimbulkan pertanyaan akibat kebodohan naskahnya. Bayangkan anda menemani anak/adik, lalu mereka bertanya "maksudnya korupsi gimana?" atau korelasi alat cara kerja alat pengukur dukungan masyarakat. Penulisnya tidak malas, hanya mengalokasikan energi mereka pada aspek yang salah.
Semestinya petualangan sederhana saja sudah cukup, dimana fokus terbesar terletak pada usaha menjadikan Norm karakter likable. Modal dasar sesungguhnya telah dimiliki melihat seperti apa sosok Norm: hewan bertubuh besar, berbulu lebat, bertingkah laku clumsy. Karakteristik serupa pernah berhasil diterapkan dalam "Kung Fu Panda". Bahkan tiga lemming berbekal keanehan mereka jelas diharapkan memberi dampak sama sebagaimana penonton jatuh cinta akan Minions. Sayang, baik karakter utama maupun sidekick tidak diberi momen cukup guna menggaet ketertarikan penonton. Mereka lebih banyak digunakan sebagai penghantar komedi slapstick monoton tak lucu. Kegagalan membuat penonton terikat pada karakter juga berarti kegagalan menyuntikkan "hati". Jangankan gejolak rasa, sepercik kehangatan pun tak ada. Film ini sedingin setting-nya.

Sekalinya menghibur adalah saat nomor musikal mulai mengisi, tapi itupun disebabkan deretan lagu catchy. Sutradara Trevor Wall tampak miskin kreativitas dalam pengemasan nomor musikal. Apa dilakukan oleh Trevor Wall selalu sama, entah melemparkan karakternya terbang ke atas, bergabung dalam tarian massal, atau twerking dari Norm. Maaf saja, tapi goyangan pantat beruang berlapis animasi buruk sama sekali tidak menghibur. But maybe it's just me. Maybe I'm too old for this shit. Maybe I'm too serious. Masih terdapat kemungkinan anak atau adik anda yang masih kecil merasa terhibur karena film ini. Namun jika anda ingin mereka mendapat hiburan berbobot berselipkan sedikit pesan berharga, sebaiknya jauhi "Norm of the North" dan bersabar menantikan "Kung Fu Panda 3" bulan depan.

THE PROGRAM (2015)

Terungkapnya pemakaian doping oleh Lance Armstrong bukan hanya skandal terbesar dalam sejarah Tour de France, tapi juga olahraga. Dari pahlawan inspiratif Armstrong menjadi pesakitan tatkala ketujuh gelar juaranya (terbanyak sepanjang sejarah) dicabut dan mendapat sanksi larangan mengikuti perlombaan seumur hidup. Kita semua telah mengetahui garis besar kasus tersebut. Sedangkan untuk detail, dokumenter "The Armstrong's Lie" sudah melakukan investigasi mendalam. Masihkah ada sisa cerita untuk dituturkan? Sesungguhnya masih, karena kasus Armstrong lebih rumit dari sekedar kecurangan dunia olahraga. Benarkah mereka yang berperan mengungkap skandal itu merupakan malaikat dengan Armstrong sebagai setannya? Melihat sejarah Tour de France -14 dari 25 pemenang terakhir melakukan doping- apakah layak semua gelar itu dicabut?

"The Program" diangkat dari buku "Seven Deadly Sins" karya David Walsh, wartawan New York Times yang melakukan penyelidikan panjang guna mengungkap kebohongan Armstrong. Sebagai building character, film ini memperkenalkan sosok Lance Armstrong (Ben Foster) sebagai pembenci kekalahan. Dia selalu ingin menjadi nomor satu, tapi apa daya kemampuan fisiknya tak mendukung ambisinya meraih gelar juara. Maka dari itu ia amat terpukul tatkala didiagnosa menderita testicular cancer stadium akhir pada 1996. Tentu saja Armstrong tidak tinggal diam. Dua tahun kemudian ia kembali berlomba, kali ini dibantu seorang dokter bernama Michele Ferrari (Guillaume Canet) yang secara rutin menyuntikkan EPO -obat penambah produksi sel darah merah- pada Armstrong.
Naskah garapan John Hodge melakukan tugasnya dengan baik menuliskan sosok Lance Armstrong. Tanpa berusaha "membenarkan", Hodge mampu membuat saya memahami alasan di balik tindakan sang atlet adalah rasa tidak suka akan kekalahan. Orang berwatak serupa akan sangat membenci ketidakberdayaan, nampak bagai pecundang. Ditambah kanker, semakin kuatlah motivasi Armstrong untuk melakukan segala cara demi kemenangan. Hodge membuat itu reasonable tanpa terasa membela. Tentu akting Ben Foster turut berperan serta atas keberhasilan tersebut. Foster selalu memunculkan ambisi juga arogansi dalam tiap tindak tanduknya. Kombinasi dua aspek itu memberi kompleksitas pada tokohnya. Ditambah melihat sumbangsihnya membantu penderita kanker, "The Program" memanusiakan Lance Armstrong. Bukan "setan penipu", hanya manusia biasa dengan dua sisi hitam-putih.
Sayangnya film ini terlalu dangkal dalam menghantarkan konflik. Naskah dari Hodge seolah "malu-malu" menjauhkan sosok-sosok seperti David Walsh (Chris O'Dowd) atau Floyd Landis (Jesse Plemons) dari kesan "orang baik". Di sini, David adalah wartawan penuh passion dalam balap sepeda yang murni mengungkap kecurangan Armstrong atas nama fair play, sedangkan Floyd merupakan korban kelicikan Armstrong dan timnya. Tidakkah terpikirkan oleh anda bahwa tindakan David dan Floyd hanya dilandasi rasa iri atau sakit hati? Bukankah mungkin juga keputusan pihak penyelenggara mencabut seluruh gelar Armstrong lebih disebabkan kekesalan akibat tertipu bertahun-tahun? Filmnya menyinggung semua itu hanya secara tersirat, mengurangi ketajaman narasi, pula kompleksitas konflik.

Di tangan sutradara Stephen Fears, "The Program" menjadi drama olahraga yang gagal menangkap adrenaline rush dunia tersebut. Tour de France tidak hanya dramatis tapi juga berbahaya, dimana total sudah memakan empat korban jiwa dan serangkaian kecelakaan fatal lain. Stephen Fears mampu mengemas sequence balapan secara well-made, tapi nihil intensitas ketegangan apalagi getaran emosi. Caranya bernarasi pun tidak membuat saya nyaman mengikuti cerita. Alurnya melompat begitu kasar, memunculkan kembali penyakit lama film biopic yang seperti hanya gabungan ala kadarnya dari serangkaian segmen. Jika anda tidak rutin mengikuti pemberitaan kasusnya, belum menonton "The Armstrong's Lie" atau tanpa pengetahuan mengenai obat-obatan, beberapa poin khususnya tentang kecurangan Armstrong bisa membingungkan. Tentu naskah turut berkontribusi dalam kekurangan itu, namun Fears semestinya berusaha lebih guna merapihkan penceritaan.

Terdapat sedikit eksplorasi teruntuk Lance Armstrong yang diperankan dengan baik oleh Ben Foster, tapi tanpa keberanian membawakan konflik secara lebih tajam dan keberadaan invetigasi lebih mendalam milik "The Armstrong's Lie", kehadiran "The Program" berujung pointless.