REHAT SEJENAK

Bukan, saya bukan merasa lelah menulis review di blog ini. Tapi (maksimal) selama dua bulan ke depan blog ini tidak akan aktif, atau kalaupun ada tulisan pastinya akan sangat sedikit. Alasannya karena saya harus menjalani kegiatan KKN hingga akhir bulan Agustus. Sebelum kalian berpikir bahwa penulis blog ini ternyata masih sangat muda, saya informasikan dulu bahwa saya hanya mahasiswa tua yang kuliahnya tersendat. Jujur saja berat meninggalkan kegiatan menonton yang selama ini merupakan salah satu pemberi kebahagiaan terbesar bagi saya. Apalagi saat ini summer blockbuster masih ramai menghiasi bioskop. Beberapa film di bawah adalah judul yang saya amat nantikan tapi pasti terlewatkan penayangannya:

- Yakuza Apocalypse
- Mencari Hilal
- Comic 8: Casino Kings
- Pixels
Sedangkan berikut ini adalah yang masih ambigu, alias masih mungkin saya tonton meski mayoritas kemungkinannya kecil:
- Fantastic Four
- Ant-Man
- Mission: Impossible - Rogue Nation
- Inside Out
Sebagai penggemar Pixar dan MCU, tentu saya berharap akan berkesempatan menonton Ant-Man dan Inside Out. Tapi entahlah, mari tunggu saja. Jadi bagi para pembaca yang mungkin menantikan tulisan saya (kayak banyak aja) mohon bersabar dan semoga dua bulan lagi blog ini belum sampai kehilangan pengunjungnya. Sampai jumpa di bulan September.

TOP 20 MOVIES OF 2015 SO FAR

Sudah setengah tahun 2015 berlalu dan ada kurang lebih 102 film rilisan tahun ini yang sudah saya tonton dengan genre beragam, asal negara beragam dan tentunya kualitas yang beragam. Seperti rutinitas tiap tahun, saya akan membuat daftar 20 film yang menjadi favorit saya tahun ini hingga titik pertengahan tahun. Tentu saja masih banyak judul-judul yang belum sempat saya tonton, sehingga mungkin akan menemukan beberapa film yang dianggap bagus namun tidak terpampang dalam daftar ini (atau mungkin film itu tidak saya sukai). Berikut ini daftarnya yang saya susun secara urut alfabet.
A GIRL WALKS HOME ALONE AT NIGHT
Sepertiga akhir dengan selipan romansa sedikit mengendurkan intensitas mood selaku penggerak utama film ini. Tapi dua pertiga awalnya adalah perjalanan atmosferik yang memberikan perspektif baru terhadap film bertemakan vampir. (review)

ANOTHER TRIP TO THE MOON
Sebuah adegan dengan UFO terasa bukan dari keping puzzle yang sama dan berujung memberikan retak kecil pada film ini. Tapi Another Trip to the Moon merupakan kesunyian yang indah, mistis sekaligus adiktif. Film yang mengingatkan saya akan kepuasan menonton slow cinema. (review)

BIRDMAN OR (THE UNEXPECTED VIRTUE OF IGNORANCE)
Pencapaian teknis memukau yang tidak pernah melupakan cerita sebagai pondasi utama. Magical mystery tour from Inarritu. (review)

CITIZENFOUR
Citizenfour is a real modern-life horror story, disaat kemajuan teknologi serta internet begitu merajalela hingga sampai pada tingkatan yang sulit untuk dipercaya. Mengajak penontonnnya untuk sadar dan membuka mata dengan segala kenyataan yang ada bahwa segala teori konspirasi memang benar adanya. Memberi tahu bahwa (US) Government doesn't give any single fuck about you. (review)

CLOUDS OF SILS MARIA
Olivier Assayas menghadirkan sisi ambigu, mengaburkan batasan fiksi dan realita tanpa harus menjabarkannya secara sureal. Semua ini realis, nyata, kuat, menggelitik perspektif penonton. Clouds of Sils Maria adalah film yang bisa membuat penonton mempertanyakan sesuatu yang selama ini tidak pernah dipertanyakan karena mungkin tak pernah disadari. (review)

DEAR WHITE PEOPLE
Film ini akan membenturkan persepsi anda, membuat hati dan rasa bergejolak penuh dilema. Bahkan bagi penonton seperti saya yang sudah menyimpan keresahan yang sama pun, Dear White People masih berulang kali "menampar" dengan fakta-fakta yang ada. Berani, jujur, lugas dan tidak memihak. Inilah cerminan sempurna yang apa adanya dari bagaimana cara pandang masyarakat kita saat ini tentang ras dan identitas. (review)

FILOSOFI KOPI
Diracik sempurna dengan chemistry kuat duet pemeran utama serta kisah yang hadir sederhana tapi begitu kaya, Filosofi Kopi menjadi sajian yang begitu nikmat sekaligus film Indonesia terbaik di tahun 2015 sejauh ini. Film yang dibuat dengan cinta tentang kopi yang juga dibuat dengan cinta. Jangan heran begitu selesai menonton anda langsung ingin menikmati secangkir kopi. (review)

FORCE MAJEURE
Force Majeure secara keseluruhan memberikan sajian drama yang mengikat, observasi tidak nyaman tentang manusia beserta hubungan yang dijalani, serta menggelikannya beberapa aspek kehidupan yang tidak akan terasa lucu saat kita sendiri mengalami hal-hal tersebut. (review)

MAD MAX: FURY ROAD
Mad Max: Fury Road adalah penceritaan mendalam dan cerdas tentang kondisi post-apocalyptic yang bersembunyi dalam sampul B-Movie penuh kegilaan tak berotak. (review)

MOMMY
Pada film ini, Dolan berhasi merangkum setiap adegan menjadi rangkaian momen yang kuat secara emosional sekaligus menjadi observasi mendalam terhadap tema sekaligus karakter. Tapi tidak perlu sang sutradara ini terlalu mendramatisir untuk menciptakan kesan emosional. (review)

JURASSIC WORLD
Kombinasi kuat antara horor demi menghormati materi asli, komedi plus action sebagai daya jual, dan likeable character sebagai pengikat penonton adalah kenapa Jurassic World merupakan contoh bagaimana seharusnya blockbuster franchise itu digarap. (review)

SONG OF THE SEA
Kentalnya rasa cinta, kesan imajinatif, keindahan visual, ditambah lagu "Song of the Sea" dari Lisa Hannigan yang memberikan kedamaian harmoni, maka lengkaplah film ini menjadi salah satu animasi (bahkan film) terindah dalam beberapa waktu terakhir. (review)

SPRING
Spring menjadi bukti bahwa "genre" dalam film hanya sebagai klasifikasi dan bukan sebuah kotak pembatas eksplorasi. Part Linklater's chatty romance, part Cronenberg's body horror. Justin Benson dan Aaron Moorhead mempersembahkan salah satu film paling kaya dan berwarna. (review)

STATIONS OF THE CROSS
Mengaduk-aduk emosi lewat kesederhanaan kuat. Eksplorasi dalam saat agama diinterpretasi dengan keliru, menjauhkan manusia dari kebahagiaan sebagai manusia. Saya telah menemukan film terkuat tahun ini. (review)

THE DUKE OF BURGUNDY
Sensual namun elegan. Penuh intensitas diantara parade visual puitis nan mengerikan. The Duke of Burgundy adalah sajian erotik substansial tentang romansa yang perlahan jatuh menjadi mimpi buruk. (review)

TOBA DREAMS
Lampu bioskop menyala tapi air mata saya dan banyak penonton lain masih mengalir. Itu bukan tangisan hasil "manipulasi" adegan menyedihkan, tapi karena kita tahu rasanya mengecewakan orang tua, jatuh saat menggapai mimpi, dan mencintai serta dicintai orang-orang terkasih. Toba Dreams memang senyata, sekuat dan seindah itu. (review)

TWO DAYS, ONE NIGHT
Inilah drama realis yang mendefiniskan dengan sempurna istilah “realis” itu sendiri. Bukan hanya karena tema yang dekat dengan keseharian atau penggarapan berpijak kesederhanaan bertutur tapi juga dengan sempurna menggambarkan segala kerumitan dari permasalahan yang sekilas tampak simpel itu. (review)

WHEN MARNIE WAS THERE
Tidak ada cerita kompleks layaknya The Wind Rises. Tidak ada pula visual penuh keunikan seperti yang dihadirkan The Tale of the Princess Kaguya. Tapi saya tetap akan memilih When Marnie Was There sebagai perpisahan dengan Studio Ghibli. Karena yang diberikan Hiromasa Yonebayashi disini adalah alasan mengapa saya mulai mencintai Ghibli dulu. Hadirnya keajaiban dalam sampul bernama kesederhanaan animasi dua dimensi serta cerita yang akan selalu bisa kita tengok dalam kehidupan sehari-hari. (review)

WHIPLASH
Whiplash adalah rasa sakit dan momen dipermalukan selama hampir dua jam. Tapi seperti latihan keras yang diberikan Fletcher, esensi sesungguhnya dari semua itu adalah untuk melampaui batasan yang kita punya. Hal yang sama terjadi pada film ini yang sanggup melampaui pencapaian standar film drama bertemakan perjuangan dengan sentuhan musikal. (review)

WINTER SLEEP
Di tengah hamparan salju yang terhampar indah di Cappadocia, rasa dingin begitu menusuk. Kedinginan yang hadir dalam bentuk harmoni antara cuaca dan kesepian yang dialami Aydin. Winter Sleep mengalun perlahan selama lebih dari tiga jam dengan pasti dan penuh emosi. (review)

FLASH GORDON (1980)

Film ini langsung dibuka dengan penyerangan kaisar kejam bernama Ming (Max von Sydow) terhadap Bumi dengan menggunakan berbagai bencana alam. Sepertinya bakal jadi pembuka yang mengerikan, tapi ternyata tidak. Adegan tersebut justru seorang menjadi pernyataan lantang dari sutradara Mike Hodges bahwa Flash Gordon adalah film campy yang memang sengaja diniati untuk menjadi bodoh. Sedari awal itu sudah terasa. Ming dan pasukannya masih asing dengan Bumi, terbukti dari sebuah dialog dimana Ming menyatakan bahwa dia tidak familiar dengan planet ini. Tapi bagaimana mungkin pada salah satu alat pembuat bencana alamnya terdapat tulisan "earth quake"? Sebuah lubang menganga yang bakal disadari mayoritas penonton. Tapi itu belum apa-apa. Jika contoh kecil itu saja sudah membuat anda terganggu, jelas ini bukan tontonan yang cocok untuk anda.
Flash Gordon yang diangkat dari comic strip era 1930-an ini hanya akan berhasil menghibur penonton yang dengan tangan terbuka bisa menerima segala kebodohan dan campy tone di dalamnya. Film ini merupakan contoh tontonan dimana dialog jelek, plot bodoh, efek ketinggalan zaman, hingga akting kaku merupakan hiburan mengasyikkan daripada faktor pengganggu. Jadi tidak perlu terlalu memikirkan kenapa Flash Gordon (Sam J. Jones) sang bintang tim American Football, New York Jets ini berlibur sendirian. Terima saja fakta bahwa ia adalah superstar badass yang memang ingin menyendiri. Tak perlu juga memikirkan secara berlebihan kenapa seorang travel journalist bernama Dale Arden (Melody Anderson) bisa takut naik pesawat, dan kenapa pula dia naik pesawat jika takut. Filmnya sendiri juga tidak berusaha menjelaskan itu. Bagaimana pula pilot pesawat bisa tiba-tiba menghilang karena sinar merah berbentuk wajah Ming tidak perlu dipikirkan. 
Penonton cukup duduk menikmati petualangan Flash dan teman-temannya di planet Mongo dalam usaha mereka menghentikan rencana penghancuran Bumi oleh Ming. Kita akan diajak melihat transformasi Flash Gordon dari manusia biasa yang bahkan harus susah payah saat berkelahi dengan ilmuwan gila bernama Dr. Hans Zarkov (Chaim Topol) menjadi seorang pahlawan gagah berani, tak bisa dibunuh dan jagoan berkelahi setelah ia memegang sebuah...bola?? Seriously, Flash bisa tiba-tiba mengalahkan sekelompok pasukan Ming setelah Zarkov melemparkan padanya suatu hiasan berbentuk bola yang lalu oleh Flash dianggap sebagai bola American Football. Dia pun mulai menghajar satu per satu pasukan seperti ia beraksi di atas lapangan, lengkap dengan teriakan "set...hut!" Tapi para musuh tidak tinggal diam. General Klytus (Peter Wyngarde) langsung memberikan instruksi pada anak buahnya, layaknya seorang pelatih tengah berstrategi. Pertempuran pun dimenangkan oleh pasukan Mongo setelah Zarkov tanpa sengaja melempar sebuah bola yang mengenai kepala Flash. Epic!
Ada begitu banyak adegan lain yang kental nuansa humor, baik yang disengaja maupun yang tidak. Sang penulis naskah Lorenzo Semple, Jr. mengakui bahwa Mike Hodges memang berniat menciptakan sebuah komedi, sesuatu yang oleh Lorenzo disesali saat ini. Tapi tanpa komedi itu Flash Gordon tidak akan menjadi cult classic. Setelah 35 tahun, semua adegan aksi, efek CGI, hingga tata artistik lain bakal terasa ketinggalan zaman. Jika filmnya dibuat dengan tone serius, kesan so-bad-it's-good mungkin tidak akan hadir. Segala kekonyolan yang ada justru membuat Flash Gordon tak lekang oleh waktu. Keuntungan juga didapat dari akting buruk para pemainnya. Ada yang berlebihan macam Brian Blessed sebagai Prince Vultan, ada pula yang kaku seperti Sam J. Jones. Tapi kualitas akting tersebut begitu senada dengan tone filmnya. Begitu pula penulisan dialog buruk penuh one-line menggelikan, sampai kehadiran sexual innuendo pada beberapa aspek (adegan, dialog, kostum). Untuk hal kedua, kehadiran Ornella Muti sebagai Princess Aura berperan besar. Dia pun sukses menjadikan setiap kemunculannya patut dimasukkan dalam film porno. Atau mungkin Flesh Gordon yang merupakan erotic parody dari film ini. 

Tapi tidak semua keasyikan film ini berasal dari keburukannya. Desain set dan kostumnya yang penuh warna dan punya banyak bentuk unik memberikan hiburan visual. Keunikan kostumnya membuat tiap kali sebuah adegan mengumpulkan banyak warga planet Mongo, saya seperti sedang melihat the weirdest fashion show ever, but in a good way. Begitu pula efek CGI laser atau rendering kasar dalam beberapa adegan yang makin menjadikan filmnya penuh warna. Tapi keasyikan paling besar tentu saja mendengarkan soundtrack "Flash's Theme" yang dibawakan oleh Queen. Siapa yang tidak terpacu adrenaline-nya saat Frddy Mercury menyanyikan lirik "Flash!....Aaaah!" Sempurna menggambarkan sosok Flash Gordon sebagai pahlawan yang macho dan keren saat beraksi. 

Verdict: Tidak menawarkan apapun kecuali petualangan menyenangkan yang hadir berkat tone campy. Tapi kesenangan penuh kebodohan ini memang timeless.


DANNY COLLINS (2015)

"The following is kind of based on a true story a little bit." Kalimat itu membuka Danny Collins, dan secara tidak langsung memberi tahu penonton bahwa film ini tidak akan terlalu "serius" dan (hanya) sedikit menukil dari kejadian nyata. Tapi jangan salah, debut penyutradaraan Dan Fogelman (penulis naskah Cars, Cars 2, Tangled, dll) ini memang mendasari ceritanya dari sebuah kisah nyata tentang musisi folk dari Inggris bernama Steve Tilston. Pada tahun 1971, Steve yang baru memulai debutnya terlibat wawancara dengan majalah ZigZag. Kala itu ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa ketenaran dan kekayaan bakal mempengaruhi kegiatannya menulis lagu. Selang 34 tahun kemudian, seorang kolektor menghubungi Steve, menyatakan bahwa ia memiliki surat dari John Lennon yang ditulis untuk Steve pada tahun 1971 berkaitan dengan wawancara yang ia jalani. Kisah tersebut menjadi dasar film ini, tentunya dengan banyak perubahan.
Sang karakter utama diubah menjadi Danny Collins (Al Pacino), seorang rockstar yang mencapai titik jenuh dan lelah akan kehidupan liarnya selama 40 tahun berkarir. Dalam suatu konser ia berhasil memukau penonton, membuat mereka bernyanyi dan menari mengikuti lantunan lagu upbeat andalannya yang berjudul "Hey, Baby Doll". Konser yang penuh semangat dan kebahagiaan, namun apa yang terlihat di backstage setelah itu justru sebaliknya. Sang bintang duduk ditemani segelas minuman, memperlihatkan wajah yang seolah merasa lelah akan semua itu. Tidak pernah kehabisan minuman dan kokain, bepergian dengan mercedes mewah dan pesawat pribadi, sampai memiliki kekasih yang berusia jauh lebih muda nyatanya tidak membuat Danny bahagia. Hingga sewaktu pesta ulang tahunnya, sang manajer sekaligus sahabatnya, Frank (Christopher Plummer) memberikan sebuah kado berisi surat dari John Lennon untuk Danny. Surat dari sang idola yang telah lama tersimpan itu membuat Danny melakukan perjalanan untuk merubah hidupnya.

Semua orang akan mengalami rasa terkejut yang sama dengan Danny jika dihadapkan pada kondisi serupa. Mendapat surat personal dari seseorang yang menginspirasi mereka, dan baru menerima surat tersebut puluhan tahun kemudian disaat sang idola telah meninggal dunia. That's kind of "WOW" on so many levels. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Bisa saja hanya euforia sesaat yang beberapa hari kemudian sudah mereda, atau seperti Danny yang menjadikan surat tersebut sebagai turning point kehidupannya. Memiliki karakter utama seorang massive rockstar menjadi dasar menarik. Menarik untuk menilik bagaimana seorang bintang bereaksi akan kondisi tersebut. Tapi Dan Fogelman nyatanya membawa definisi "hidup baru" dalam film ini kearah yang begitu klise. Danny diceritakan pergi ke New Jersey untuk menemui puteranya, Tom (Bobby Cannavale) yang belum pernah ia jumpai. Disana ia menginap di sebuah hotel, berusaha membuat lagu baru (terakhir dilakukan 30 tahun lalu), kemudian bertemu dengan manager hotel, Mary (Annette Bening) yang memikat hatinya. This is basically just another cliche redemption movie.
Tapi apakah itu berarti Danny Collins adalah film yang buruk? Nyatanya jauh dari itu. Mungkin perjalanan karakternya klise, tapi bukan tidak perlu. Mari kita lihat seperti apa kehidupan Danny sebelum menerima surat dari Lennon. Daripada membuat karyanya sendiri, Danny hanya menyanyikan lagu buatan orang lain, merilis album "Greatest Hits" hingga volume ketiga, dan mendapat uang dari rangkaian tur. Seorang musisi yang selama 30 tahun tidak pernah menuangkan segala haratnya dalam membuat lagu pastinya jauh dari kata "puas" dan "nyaman". Kehidupan percintaannya pun tak bisa disebut lancar setelah tiga kali gagal dalam pernikahannya. Meski ia tampak bahagia berpacaran dengan Sophie (Katarina Cas), perbedaan umur yang jauh jelas menjadi ganjalan. Ketiadaan keluarga semakin membuat Danny merasa sendirian. Satu-satunya orang yang bisa menjadi teman berbagi hanyalah Frank. Karena itu adalah sangat masuk akal bagi saya, saat di New Jersey ia melakukan pencarian terhadap ketiga hal tersebut (keluarga, cinta dan karya). 
Film semacam ini harus berhasil membuat penonton bersimpati pada karakternya, karena sepanjang durasi kita akan dibawa mengikuti perjalanan sang karakter memperbaiki kehidupan dan menebus segala kesalahan yang ia lakukan. Danny jelas sosok yang simpatik. Tentu saja ia menjalani kehidupan liar, tapi penonton akan mudah memaafkan itu mengingat star syndrome adalah hal "biasa" bagi rockstar. Di samping itu kita melihat sosok Danny sebagai orang yang menyenangkan. Dia menyapa karyawan hotel dengan senyum lebar plus kalimat-kalimat menyenangkan, tidak pula berlagak layaknya bintang yang ingin dilayani. Kehadirannya mampu menghadirkan kesenangan dan tawa bagi orang di sekitarnya, termasuk penonton. Al Pacino jelas memberikan salah satu performa terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir yang dipenuhi filmography buruk. Tiap senyuman dan gestur-gestur besar yang ia tunjukkan membangun atmosfer positif dengan begitu kuat. Lalu saat tengah breakdown, kita pun bisa mengasihani karakternya. Al Pacino dalam film ini bukan lagi Al Pacino tua yang aneh cenderung creepy. Mengingatkan pada sisi charming Downey Jr., tapi lebih memiliki hati.

Cerita yang klise membuat rangkaian konflik hingga konklusi amat mudah ditebak. Tapi itu tidak masalah, karena selain akting Al Pacino, Dan Fogelman juga piawai dalam mengkombinasikan drama hangat tanpa perlu dramatisasi berlebihan dengan percikan komedi yang meski tidak banyak tapi juga berperan mencairkan suasana. Permasalahan justru hadir saat Fogelman seringkali terburu-buru menggerakkan filmnya. Memang baik tidak berlama-lama tinggal di momen yang penonton pun tahu akan dibawa kemana, tapi terburu-buru berpindah juga bukan hal baik. Transisi konfliknya terlalu kasar. Sebagai contoh adalah bagaimana konflik Danny dan keluarganya dibawakan. Belum lama Tom memperkenalkan sang ayah pada puterinya, Hope (Giselle Eiseberg) sebagai "penjual musik", selang beberapa menit mereka sudah seperti satu keluarga bahagia. Tapi terburu-buru masih bisa saya maafkan. Alasan saya tidak memberikan nilai lebih pada film ini adalah konflik klimaks yang benar-benar dipaksakan. 

Saya tidak akan memberikan spoiler, tapi momen tersebut mengacaukan segala perjalanan yang dilakoni Danny. Sedari awal saya dibuat percaya bahwa diluar kebusukannya Danny adalah pria baik. Tapi klimaks itu justru menjadikan Danny sebagai total jerk. Semua itu hanya cara yang sangat malas dari naskah Dan Fogelman untuk memberikan jalan bagi konfliknya kembali muncul ke permukaan. Satu hal berkaitan dengan klimaksnya, "memangnya sebuah gig performance hanya menampilkan satu lagu?" dan "memangnya fans keberatan jika diantara lagu-lagu favorit mereka sang musisi menyempilkan satu lagu baru yang nuansanya berbeda dari ciri yang selama ini sudah ia usung?" Terlalu dipaksakan, malas dan bodoh. Sayang sekali.

Verdict: Film tidak harus menjadi high concept atau groundbreaking untuk menjadi bagus. Memaksimalkan kesederhanaan hangat dan menyenangkan terbukti jadi nilai lebih Danny Collins, yang juga menampilkan satu lagi akting mengesankan dari Al Pacino. Sayang, klimaksnya justru menjadi titik lemah.

WHILE WE'RE YOUNG (2014)

Bukan hal mudah untuk menciptakan karakter yang mengundang simpati penonton. Tapi jauh lebih sulit lagi saat simpati tersebut hadir karena adanya perasaan "senasib". Sebuah perjalanan menyenangkan saat kita mendapati menonton suatu film dimana kita pernah merasakan hal sama seperti yang dirasakan karakternya, mengalami kejadian yang serupa pula, sehingga kita merasa familiar dan terikat dengan mereka. Pemaparan konflik pun tidak lagi terasa sebagai usaha "formalitas" demi membentu dinamika suatu film. Konflik jadi suatu cerminan realita yang kita sadari memang nyata keberadaannya dalam hidup. Itulah yang saya rasakan dari karya terbaru Noah Baumbach ini. Mungkin kita semua pernah berada dalam posisi layaknya Josh (Ben Stiller), seorang pembuat dokumenter yang selama 10 tahun terhambat dalam menyelesaikan film terbarunya. Kondisi itu juga yang menjadi salah satu pemicu masalah dalam pernikahannya dengan Cornelia (Naomi Watts). Keduanya merupakan pasangan paruh baya, tidak memiliki anak, dan mendapati kemesraan diantara mereka mulai luntur.

Beberapa kali baik Josh maupun Cornelia menyatakan pada satu sama lain ketidak inginan memiliki anak, karena bagi mereka hal itu bisa menghilangkan kebebasan melakukan apapun yang dimau. Namun kita bisa melihat bahwa kenyataan yang mereka pendam justru sebaliknya. Cornelia masih merasa trauma dengan dua kali pengalamannya mengalami keguguran. Sedangkan Josh pun dipenuhi berbagai macam ketakutan yang saling berpengaruh. Seperti kutipan dialog dari pementasan The Master Builder karya Henrik Ibsen yang menjadi pembuka, While We're Young banyak menampilkan rasa takut yang berujung pada terhambatnya kehidupan tokoh-tokohnya (especially Josh). Josh takut memiliki anak, takut memotong dokumenternya sehingga berujung sebagai materi kompleks nan membosankan selama enam jam yang tidak pernah keluar dari ruang editing, Josh tidak meminta bantuan mertua sekaligus mantan mentornya, Leslie (Charles Grodin) karena tanpa pernah diakui ia takut Leslie memandangnya sebagai penerus sekaligus menantu yang gagal. 
"Ketakutan yang menghentikan langkah seseorang". Baumbach kemudian menggabungkan itu dengan tema penuaan, menerapkannya pada pasangan Josh dan Cornelia. Keduanya merasa kehidupan yang mereka jalani "payah", dan berkat penggabungan dua hal di atas, penonton bisa melihat itu secara jelas. Semakin jelas setelah kehadiran Jamie (Adam Driver) dan Darby (Amanda Seyfried), sepasang suami-istri muda yang nampak berkebalikan dari Josh dan Cornelia. Jamie dan Darby baru berusia 25 tahun, tampak begitu passionate dalam menjalin hubungan, melakukan hal-hal penuh kebebasan yang dirasa "liar" atau "aneh" oleh Josh dan Cornelia. Lucu, karena mereka selalu beranggapan tidak memiliki anak adalah usaha untuk mempertahankan kebebasan tapi selama ini keduanya tak pernah melakukan apapun. Pertemuan dengan pasangan muda itu mulai merubah rutinitas mereka. Mulai dari Josh yang mencoba berandan layaknya anak muda, Cornelia yang mengikuti kelas tari hip-hop, hingga mengikuti upacara Ayahuasca (just google it).

While We're Young adalah film yang dengan cerdiknya men-"tackle" konflik lintas generasi. Mereka yang tua akan menganggap para anak muda aneh dan sering melakukan hal-hal "berbahaya", sedangkan sebaliknya bagi pemuda, generasi tua sering dianggap membosankan. Siapa benar dan siapa salah, film ini mengajak kita melihat bahwa hal itu tidak ada. Untuk yang sudah berumur layaknya Josh dan Cornelia, memang bagus sesekali meluangkan waktu bersenang-senang menikmati kebebasan, Pada awalnya itu terbukti mengembalikan hasrat serta romantika mereka berdua. Tapi setelah itu justru kepalsuan yang tercipta. Keduanya lupa bahwa semua itu hanyalah bagian dari perjalanan hidup, dan dulu, masa penuh kesenangan itu pun pernah mereka alami. Sedangkan bagi para pemuda pun sama, tidak peduli seunik apapun kalian sekarang, pada saat tua nanti juga akan berakhir sebagai "orang tua membosankan" seperti pada umumnya. Jamie dan Darby mungkin liar, tapi bukan karena mereka "gila" tapi karena mereka masih muda. Semuanya hanya masalah perspektif, dan Baumbach begitu lancar menuturkan konflik yang jawabannya akan sulit diungkapkan lewat kata-kata tersebut.
Pada awal tulisan saya membahas tentang karakter simpatik. Keterikatan saya akan sosok Josh begitu kuat disini. Kecemburuan, takut akan kegagalan, takut mengecewakan orang lain, takut membuang segala kesempatan, saya tahu rasanya semua itu. Saya pernah, bahkan sering berada dalam posisi seperti Josh. Melihatnya, saya bagaikan dipertontonkan suatu refleksi oleh Noah Baumbach. Refleksi hidup dan diri saya sendiri. Emosi sukses diaduk-aduk seiring dengan berbagai kesulitan yang menghampiri Josh. Setiap kesulitan dan kegagalan yang menghampiri, rasa sakit yang saya rasakan juga semakin menumpuk. Sosoknya nampak menyedihkan, dan Ben Stiller memang sesuai dengan peran seperti itu. Sesekali menunjukkan bakat komedinya, tapi akting dramatis dari ekspresi wajah "tak berdaya" itulah yang mencuri perasaan saya. Beginilah keindahan dari kekuatan realisme karakter dalam film. Bukan hanya sesosok tokoh fiksi, tapi miniatur kehidupan sehari-hari. Seperti fim garapan Jamie, bukan masalah asli atau tidak, tapi sejauh mana hal itu bisa mewakili orang-orang yang menontonnya. 

Tapi bukan film Noah Baumbach namanya, jika tanpa selipan komedi sederhana namun mampu memancing tawa. Sederhana, karena lelucon Baumbach tidak akan jauh-jauh dari situasi awkward atau tingkah polah karakter yang aneh namun masih sangat wajar terlihat di sekitar kita. Ben Stiller dan Naomi Watts sama-sama melakoni momen dramatik maupun komedik dengan baik. Tapi Naomi Watts dengan segala tarian hip-hop-nya adalah pemancing tawa paling besar di paruh pertama. Kenapa paruh pertama? Well, karena pada paruh kedua, filmnya bergerak kearah yang jauh lebih serius dan emosional. Filmnya memang emosional, tapi apakah hanya untuk mereka yang merasakan kemiripan dengan karakternya? Saya jawab "ya", tapi hampir semua penonton setidaknya akan merasa terwakili pada salah satu momen. Karena begitu banyak konflik yang kuat berpijak pada realita hadir dalam film ini, dan hebatnya Noah Baumbach begitu mulus merangkum semua itu, tanpa harus terasa sebagai kepingan-kepingan terpisah yang dipaksakan menjadi satu. 

Verdict: Another funny and bittersweet movie by Noah Baumbach with relatable characters. The story looks simple on the surface but have much deeper complexity about fear, ageing and relationship inside it.

TERMINATOR GENISYS (2015)

Setiap film pastinya (diharapkan) memiliki ciri sebagai pembeda antara satu dengan yang lain. Pembeda itu akan semakin vital pengaruhnya jika membicarakan sebuah franchise. Apapun bentuknya, entah cerita, karakter, tema, atau mungkin sekedar gimmick, ciri khas menjadi begitu penting dalam membangun franchise. Tidak perlu yang sifatnya besar. Satu hal kecil asalkan itu kuat pun sudah cukup. Sebagai contoh kita bisa membedakan antara Die Hard dengan Rambo yang sama-sama mengusung one man army sebagai penggerak cerita karena perbedaan sosok John McClane dengan Rambo. Keberadaan ciri tersebut memberikan jalur yang harus diikuti saat membuat sekuel, karena mengesampingkan hal itu sama saja menghilangkan jati diri. Perubahan boleh dibuat asal membawa kearah lebih baik dan tidak mengkhianati esensi dasar. Penonton bisa menerima saat Fast Five berubah dari racing movie kearah heist, karena tetap menampilkan kebut-kebutan mobil sebagai fokus utama. 
Terminator Genisys adalah usaha membangkitkan suatu franchise yang sesungguhnya tidak memiliki banyak hal tersisa untuk dieksplorasi. Salvation yang dirilis enam tahun lalu sebenarnya sudah memberikan arah baru dengan berfokus pada perjuangan John Connor di masa depan, tapi karena respon negatif, maka merupakan hal riskan untuk melanjutkan kisahnya. Pada akhirnya untuk me-refresh cerita dan memberi kesempatan bagi Arnold Schwarzenegger kembali sebagai Terminator, dilakukanlah upaya yang saat ini tengah menjadi tren di Hollywood: soft-reboot. Metode ini sebenarnya efektif untuk memberi awalan baru tanpa harus sepenuhnya melupakan/menuturkan lagi semua yang selama ini sudah dibangun. X-Men: Days of Future Past dan Jurassic World adalah dua contoh yang berhasil. Genisys mengambil langkah mirip dengan film yang disebut pertama, yakni memanfaatkan aspek perjalanan waktu dan alternate timeline. Filmnya dibuka dengan "recap" mengenai hal yang sudah kita tahu, mulai dari Judgement Day, hingga perlawanan manusia terhadap mesin yang dipimpin John Connor (Jason Clarke).

Manusia telah berada dalam tahap akhir pertempuran dimana tinggal selangkah lagi Skynet berhasil mereka kalahkan. Skynet yang tidak tinggal diam mengirim sejumlah Terminator untuk membunuh ibu John, Sarah Connor (Emilia Clarke) di tahun 1984. Tidak tinggal diam, John mengirim tangan kanannya, Kyle Reese (Jai Courtney) untuk melindungi sang ibu. Tentu saja kita sudah mengetahui apa yang akan terjadi, karena semua itu adalah plot bagi film pertama yang rilis 31 tahun lalu. Kyle akan melindungi Sarah, keduanya saling jatuh cinta, kemudian lahirlah anak mereka, John Connor. Penonton berada dalam posisi yang tidak jauh berbeda dengan Kyle saat berekspektasi bakal melihat Sarah versi remaja yang masih polos dan lemah. Tapi sesampainya di masa lalu kita mendapati Sarah sudah mengetahu segala hal tentang Skynet, kedatangan Kyle, John sebagai pemimpin perlawanan, intinya segala hal yang seharusnya belum ia ketahui. Bahkan ia sudah 10 tahun hidup bersama T-800 (Arnold Schwarzenegger) yang membantu Sarah mempersiapkan takdirnya kelak.
Penjelasan mudahnya adalah, Kyle Reese tiba di alternate timeline yang berbeda dari masa lalu yang ia tahu. Masa lalu berubah, nasib karakter berubah, begitu juga masa depan. Bagaimana itu bisa terjadi? Film ini memberikan jawaban yang sesungguhnya tidak menjelaskan apapun alias "ngeles". Naskah yang ditulis Laeta Kalogridis dan Patrick Lussier asal memasukkan versi alternatif sebagai langkah mudah untuk merubah cerita seenaknya tanpa mempedulikan bagaimana semua itu bisa terjadi. Tentu saja saya tidak mengharapkan sesuatu yang masuk akal disini, tapi layaknya X-Men: Days of Future Past, setidaknya tidakkah mereka bisa berusaha lebih keras memberikan pemaparan? Penggunaan alternate timeline hanyalah alasan permisif yang sulit diterima untuk bisa berbuat sesuka hati dalam menyusun cerita tanpa peduli akan semua yang sudah dibangun oleh Terminator selama ini. Contohnya, jika ada yang bertanya "kenapa T-1000 (Lee Byung-hun) bisa ada di tahun 1984 padahal seharusnya ia baru muncul setelah John lahir?", saya yakin orang-orang dibalik film ini akan menjawab dengan enteng "karena masa lalu sudah berubah."

Jelas menjadi sebuah kesalahan disaat film ini bermain-main dengan tema perjalanan waktu dan alternate timeline secara asal-asalan seperti ini. Tapi "dosa" yang lebih besar adalah Genisys melupakan esensi dari Terminator franchise. Esensi yang mana? Hampir semuanya. Sedari awal tema perjalanan waktu sudah diusung, namun satu hal penting adalah fakta bahwa seperti apapun usaha yang dilakukan, masa depan tidak akan bisa dirubah. Fakta tersebut turut diperkuat oleh twist ending pada film ketiganya, Rise of the Machine. Tapi film ini mengambil langkah yang berlawanan. Lagi-lagi hal itu dilakukan dengan memanfaatkan versi alternatif dari masa lalunya. Langkah tersebut jelas memperlihatkan bagaimana para pembuat filmnya tidak menghormati intelegensi penonton. Seolah dengan menyuguhkan versi masa lalu dan masa depan yang berbeda mereka terlihat tidak mengutak-atik konsep di atas. 
Kesalahan berikutnya adalah saat Genysis melucuti aura "horor" yang selama ini lekat dengan Terminator, entah horor yang dihasilkan oleh kejar-kejaran dengan robot mengerikan, atau horor dari penggambaran kondisi masa depan yang depresif, penuh kehancuran dan tanpa harapan. Saya tidak mengharapkan kengerian seperti yang dimunculkan James Cameron dalam film pertama. Cukup hadirkan suasana kelam akibat Skynet saja sudah cukup. Namun Genysis berusaha sekuat mungkin untuk disukai oleh penonton secara lebih luas. Caranya dengan membuat tone film lebih ringan lewat sentuhan komedi tidak lucu yang mayoritas berasal dari interaksi kaku antara T-800, Sarah dan Kyle. Sesekali melihat kekakuan Arnold dalam berdialog itu masih menghibur, tapi tidak jika terlalu sering. Emilia Clarke dan Jai Courtney pun kurang piawai saat harus menangani momen komedik di tengah-tengah adegan serius. Semakin menjauh dari atmosfer itu saat ending-nya menawarkan konklusi bahagia yang membuka opsi bagi sekuel secara dipaksakan. Kenapa dipaksakan? Karena daripada menyisakan cerita lebih untuk dieksplorasi, film ini hanya memakai kalimat "perjuangan belum usai", seolah menandakan hasrat akan sekuel (baca: uang lebih banyak) tapi bingung akan dibawa kemana lagi ceritanya.

Hilang pula aura perjuangan berbalut drama emosional yang selalu menghiasi franchise ini. Bahkan Salvation yang selama ini dianggap paling lemah pun masih memiliki semangat perjuangan dalam ceritanya. Disini saya tidak pernah merasa diajak untuk memahami apalagi merasakan apa yang diperjuangkan oleh karakternya. Kyle Reese diutus untuk melindungi Sarah Connor, tapi setelah masa lalu berubah kemudian apa? Filmnya kebingungan memaksimalkan ceritanya karena kerumitan alternate timeline yang mereka pun kebingungan merangkainya. Hubungan antara T-800 dengan Sarah dimaksudkan selayaknya ayah dan anak, tapi tidak pernah ada ikatan emosional kuat. Begitu pula disaat Sarah mengetahui John yang seharusnya ia persiapkan sebagai harapan terakhir umat manusia berubah menjadi harapan terakhir pihak mesin. Karakternya tidak ada yang berhasil mencuri perhatian. Sarah dan Kyle lebih terasa menyebalkan lewat pertengkaran penuh kengototan mereka daripada memberikan hubungan kuat. John lebih parah, disaat karakternya di-twist secara "ngawur" tanpa transformasi yang memuaskan. Sedangkan Arnold sebagai T-800 sudah melakukan hal terbaik yang menjadi bakatnya, yaitu berakting sedatar mungkin (it's a praise, by the way).

Genisys melupakan segala faktor penting yang menjadi dasar film-film Terminator, namun sesungguhnya sebagai sajian aksi blockbuster film ini cukup menghibur. Alan Taylor terbukti punya kapasitas untuk menggarap rentetan aksi yang eksplosif. Baku hantam berhasil tersaji brutal, memanfaatkan karakter Terminator yang tidak bisa merasakan sakit dan tanpa batasan fisik. Sehingga mau sekeras dan segila apapun Taylor mengemas filmnya, penonton tetap bisa menikmati. Ledakan demi ledakan pun hadir menggelegar, sebagai bukti pemanfaatan bujet $170 juta dengan cukup efektif. Paling tidak Alan Taylor tahu bagaimana mengemas adegan aksi penuh ledakan yang tidak membuat penontonnya merasa pusing dan kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Penggunaan CGI pun cukup efektif meski sesungguhnya semua efek yang hadir dalam film ini khususnya T-1000 yang bisa berubah menjadi benda cair hanya akan membuat kita semakin terpukau pada kehebatan James Cameron yang puluhan tahun lalu sudah bisa menyajikan hal serupa.

Verdict: The action sequences are very entertaining, but as a part of "Terminator Franchise", this movie pretty much ruined everyhting from the substance, plot continuity and characters, just for the sake of more money. The characters are often talk about blow something up, and apparently that's the only thing that "Genisys" is good at.

POLTERGEIST (2015)

Fungsi sebuah remake setidaknya ada dua. Pertama sebagai sarana memperbaiki kekurangan yang dimiliki film aslinya. Dahulu, John Carpenter menyetujui pembuatan ulang The Fog karena bujet yang lebih besar untuk menghadirkan CGI mumpuni (meski hasil akhirnya justru jauh lebih buruk). Sedangkan alasan kedua sekaligus yang paling sering, yakni membawa sebuah tontonan klasik menuju setting modern guna memperkenalkannya pada penonton masa kini. Sebenarnya ada alasan ketiga sebagai usaha tidak kreatif studio untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya, tapi mari berpura-pura alasan itu tidak ada. Poltergeist yang film aslinya rilis 33 tahun lalu jelas tidak butuh perbaikan. Mungkinkah film ini dibuat sebagai usaha modernisasi? Jawabannya "ya". Sutradara Gil Kenan membawa film yang aslinya adalah kombinasi haunted house horror dengan family drama ini menuju destinasi baru untuk penonton saat ini. Kenan tidak berusaha melakukan modifikasi pada aspek cerita, tidak pula berusaha membuat horor yang lebih mengerikan. Dia hanya berfokus membuat Poltergeist versinya menjadi lebih modern meski dibungkus dalam template yang sama dengan versi original. 

Saya mulai benar-benar menyadari itu pada beberapa hari lalu sewaktu menonton Minions. Saat trailer Poltergeist ditayangkan, saya mendengar dua perempuan di samping saya coba menebak trailer untuk film macam apa yang tengah mereka lihat. Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing karena sudah pernah melihat trailer itu. Tapi mendadak perhatian saya teralih saat seorang dari mereka berkata "pasti film alien." Mendengar itu saya putuskan mengamati trailer sekali lagi, dan menyadari bahwa dugaan bahwa itu merupakan film alien terdengar menggelikan karena saya sudah tahu film horor macam apa Poltergeist. Tapi saat coba memposisikan diri sebagai "penonton baru", berbagai unsur seperti glitch pada handphone, layar televisi yang buram, "Sutet" dengan aliran listrik tinggi, sampai rambut yang berdiri saat menyentuh lemari jelas lebih dekat pada sci-fi/thriller daripada haunted house horror.
Ceritanya masih serupa, disaat satu keluarga pindah ke rumah baru dan mendapati rumah tersebut dipenuhi oleh roh-roh jahat. Gangguan yang dihadirkan bertahap, mulai dari pergerakan benda secara perlahan, sampai perabotan yang terlembar kesana-kemari hingga menghilangnya Madison (Kennedi Clements) sang puteri sulung. Hampir semuanya tampak serupa. Mulai dari cerita, karakter, hingga adegan. Tentu saja momen-momen ikonik seperti saat Madison berdiri terpaku di depan televisi atau pohon yang mendadak hidup masih dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap film original. Tapi segala persamaan itu sesungguhnya hanya di atas kertas. Mari tengok adegan saat Eric (Sam Rockwell) mengalami sesuatu yang mengerikan dengan wajahnya. Pada versi Hooper, adegan tersebut punya tingkat gore yang terasa menyakitkan bagi penonton sekaligus mewakili esensi bahwa roh jahat yang ada mengetahui ketakutan tiap anggota keluarga, lalu mengeksploitasinya. Gil Kenan juga memunculkan adegan itu, tapi bagian paling "menyakitkan" tidak tersaji eksplisit. Begitu pula esensi adegan yang disini tidak lebih dari jump scare murahan.

Poltergeist juga identik dengan drama keluarga, karena karakter yang kuat pada masing-masing dari mereka. Tidak hanya itu, teror yang hadir turut membuat keluarga tersebut bersatu, menghadirkan ikatan kuat yang berujung pada kehangatan dramatis. Potensi kearah sana sesungguhnya dimiliki film ini. Sam Rockwell mengkombinasikan kedalaman akting dramatik dengan kehebatannya mengemas peran komedik. Eric pun menjadi karakter yang menarik dan memiliki jiwa. Begitu pula Madison si gadis kecil menggemaskan yang mudah dicintai penonton. Sehingga saat ia harus terkurung bersama roh-roh itu, kita akan peduli padanya. Hal serupa terjadi pada karakter lain, kecuali Kendra yang mencuri perhatian hanya karena kecantikan Saxon Sharbino. Seharusnya ikatan diantara mereka menjadi modal bagi Gil Kenan untuk menghadirkan klimaks yang pumping bukan saja karena keseruannya, tapi juga karena penonton sudah bersimpati pada keluarga tersebut, dan mendukung perjuangan mereka. Begitu besar potensi film ini untuk memiliki klimaks yang epic, namun berakhir menyia-nyiakan itu semua.
Tidak bisa disangkal klimaksnya begitu intens, cepat, berisik, sangat seru. Bahkan Poltergeist nampak lebih baik dalam menghadirkan adegan aksi daripada horor menyeramkan. Tapi Kenan kurang piawai menggabungkan segala potensi filmnya. Dia kebingungan menempatkan fokus antara aksi dan spotlight bagi karakter yang jumlahnya tidak sedikit. Dia pun memilih jalan tengah dengan berusaha menyeimbangkan porsi mereka semua, termasuk bagi Carrigan Burke (Jared Harris) beserta sekelompok ahli paranormal lainnya. Bagi saya itu kesalahan, karena menkhianati esensi sesungguhnya dari Poltergeist yang mengedepankan drama keluarga beriringan dengan horor. Semakin "keliru" lagi disaat film ini berhasil memberikan keseruan tapi gagal tampil seram. Kali ini bukan saja melenceng dari pakem franchise-nya, tapi dari film horor itu sendiri. Untuk apa adrenaline penonton berhasil dipacu lewat rentetan aksi super cepat tapi sama sekali tidak dibuat takut saat horor-nya lagi-lagi hanya berisikan jump scare yang sudah basi? 

Tapi mau bagaimana lagi? Poltergeist versi remake ini memang bentuk seutuhnya dari masyarakat modern. Dari sisi pembuatnya, seperti inilah interpretasi dengan menggunakan "kaca mata" masa kini. Dipenuhi glitch pada barang-barang elektronik, alur cepat, dominasi CGI, bahkan Gil Kenan beberapa kali menggunakan lens flare. Tidak akan terlalu mengejutkan jika tiba-tiba Kenan memasukkan klimaks The Amazing Spider-Man 2 lengkap dengan scoringnya. Saya pun mengamini perkataan seorang perempuan yang saya sebut di atas, bahwa Potergeist lebih nampak seperti film alien, atau lebih tepatnya thriller yang kental dengan unsur sci-fi penuh sorotan lampu menyilaukan dan teknologi mutakhir. Saya tidak menyukainya, tapi bisakah sepenuhnya film ini disalahkan? Ternyata tidak juga, karena seusai filmnya berakhir, beberapa anak SMA memasang wajah puas. Salah seorang dari mereka lalu berkata, "keren ya, bagusan ini daripada film-film Insidious" yang langsung disetujui oleh teman-temannya. Nampaknya film ini mewakili jiwa anak-anak muda pada era modern seperti sekarang, dan saya tidak termasuk dalam golongan anak muda tersebut.

Verdict: Poltergeist sebagai film horor adalah sebagaimana dubstep sebagai salah satu genre musik paling populer saat ini. Disukai karena upbeat, noisy, penuh gimmick elektronika, melaju kencang tapi tanpa jiwa. This techno-remake is that kind of not-so-scary-but-fun horror movie.


AS THE GODS WILL (2014)

Takashi Miike kembali menjadi seorang jenius gila yang tahu caranya bersenang-senang dalam adaptasi manga berjudul Kami-sama no Iu Toori (As the Gods Will) ini. Setelah menghabiskan beberapa tahun terakhir mencari uang untuk makan (Miike mengatakan itu) lewat film-film ringan macam Ninja Kids dan Ace Attorney, memang sudah saatnya ia kembali menjadi Miike yang dicintai banyak orang. Kekerasan penuh darah, situasi absurd yang hadir seenaknya, hingga komedi gelap yang hitam pekat adalah apa saja yang bakal kita temui dalam film ini. As the Gods Will adalah jawaban jika ada seseorang bertanya "kenapa sang sutradara begitu suka mengadaptasi manga?" Jawabannya mudah. Karena dari materi buku komik, Miike bisa menemukan keluasan fantasi yang dengan mudah memfasilitasi keliaran gayanya. Seolah dia menemukan kebebasan mengekspresikan kegilaan komikal yang mengakar kuat dalam jiwanya. 
Bagaikan tidak sabar, Miike sudah menyodorkan boneka Daruma yang bisa bergerak, bicara, bahkan membunuh orang sedari awal film. Sekelompok siswa SMA terkurung dalam kelas tanpa tahu apa-apa dan dipaksa menjalani permainan maut oleh Daruma tersebut. Sebuah permainan tradisional sederhana, dimana ada satu orang berjaga (Daruma) sambil melantunkan sebaris lirik sedangkan pemain lainnya (siswa) harus bergerak mendekatinya tanpa ketahuan. Jika Daruma berbalik dan mendapati ada yang bergerak/bicara, siswa tersebut akan mati. Cara mereka mati pun dikemas sadis tapi komikal. Kepala mereka meledak, tapi tidak hanya darah yang muncrat, melainkan kelereng berwarna merah dalam jumlah besar. Semua itu hanya awal. Awal dari rangkaian permainan tradisional lain yang dimainkan secara mematikan, karena pemenang dari tiap babak akan lanjut ke permainan lain yang lebih sulit dan tentunya lebih berbahaya. Takashi Miike telah membuat Battle Royale versinya lewat film ini.
Mengingatkan pada Battle Royale karena survival games yang hadir tidak hanya menguji kecepatan berpikir, namun juga fisik serta psikologis pesertanya. Ada beberapa momen dimana kepercayaan dan kesetiaan pada teman-teman mereka diuji. Tapi toh As the Gods Will tidak memiliki atau lebih tepatnya tidak berusaha memiliki drama persahabatan menyentuh seperti film yang diperbandingkan. Satu-satunya drama yang mendapat fokus lebih adalah hubungan antara sang karakter utama, Shun Takahata (Sota Fukushi) dengan dua orang teman wanitanya. Mereka adalah Ichika Akimoto (Hirona Yamazaki) yang merupakan teman Shun sedari kecil, dan Shoko Takase (Mio Yuki) yang sempat dekat dengannya saat SMP dulu. Selipan cinta segitiga di tengah kekacauan absurd penuh darah semacam ini memang terdengar menggelikan. Jika dipaksakan dramatis, bukan kesan emosional kuat yang hadir, namun justru kekonyolan dalam konteks negatif. 

Namun tentu saja Miike sadar akan hal tersebut. Dia membiarkan drama itu mengalir seadanya, tidak berusaha melakukan penggalian lebih. Bagaimana pada akhirnya semua itu terasa emosional adalah saat Miike bertransformasi dari orang gila menjadi seorang yang kejam. Dengan kejamnya, ia memanfaatkan tiga aspek: adegan kematian sadis, wajah cantik nan polos dari Mio Yuki, serta kondisi sebatang kara dari Shun. Alhasil setelah semua ini berakhir, saya yang masih merasa sakit akibat "tusukan" mendalam dari Miike dibuat merasakan kehampaan serupa dengan karakternya. Ending yang seharusnya bahagia itu pun jadi terasa kosong (in a positive way) saat penonton dibuat bertanya-tanya "lalu untuk apa berusaha lolos dari semua ini?" 
Sepanjang film, karakternya sering bermonolog dalam hati guna memohon, bertanya, bahkan mengutuk segala tindakan Tuhan. Seperti yang tersurat dalam perkataan Shun, "Tuhan itu tidak ada, jika memang ada maka Dia sangat kejam." Kemudian jika penonton bertanya kenapa, bagaimana dan untuk apa, mungkin Miike dengan santainya bakal menjawab "semuanya sudah merupakan kehendak Tuhan." Mungkin ceritanya merupakan perwujudan cerdas mengenai orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. Atau bisa saja semua ini hanyalah escapism dari Miike yang tidak mau repot-repot menjelaskan asal muasal makhluk-makhluk aneh pembawa maut tersebut. Karena jika ditanya, toh lagi-lagi ia bisa menjawab "semuanya kehendak Tuhan." Sebenarnya yang manapun tidak masalah, karena keduanya sama-sama berhasil menyuguhkan tontonan menyenangkan. Mungkin pertanyaan di atas akan terjawab oleh sekuelnya kelak jika dibuat.

Dibalik segala kebrutalan dan keabsurdan sureal yang menyenangkan, poin terbaik As the Gods Will adalah permainan-permainan mautnya. Memberikan twist pada game tradisional, menyaring aturannya, lalu mengubahnya menjadi rangkaian permainan mematikan adalah ide yang segar. Setiap permainan mempunyai lawan berbeda, setting berbeda, aturan berbeda, ujian berbeda, dan konsekuensi yang berbeda pula. Hal itu membuat perjalanan film ini tidak pernah membosankan, selalu bergerak dalam kecepatan serta intensitas yang stabil. Ditambah efek CGI yang meski tidak terlalu mahal namun bersinkronisasi sempurna dengan tone "tidak serius" khas seorang Takashi Miike, kesenangan yang dihadirkan film ini pun seolah tak ada habisnya.

Verdict: Brutal, gila, konyol dan secara mengejutkan punya sisi emosional, As the Gods Will akan membuat penontonnya meminta lagi dan lagi. Berkebalikan dengan para korban, kita tidak ingin permainan itu cepat berakhir. 

THE NIGHTMARE (2015)

Dulu saya cukup sering mengalami apa yang orang Jawa (saya tidak tahu sebutan di daerah lain) bilang "ketindihan", atau dari bahasa lebih scientific disebut sleep paralysis. Salah satu yang paling mengerikan terjadi kurang lebih tiga tahun lalu. Seluruh tubuh tidak bisa digerakkan (gejala standar), kemudian badan merinding membuat pikiran saya mengasosiasikan bahwa ada kehadiran makhlus halus di dalam kamar, hingga tiba-tiba saya seperti berada di tengah hutan. Kondisi tubuh masih tidak bisa digerakkan, tidak bisa pula berteriak. Mulailah terdengar suara aneh yang menyuruh untuk melihat kearah semak-semak tepat di depan saya. Semakin lama pandangan terfokus kesana, semakin saya merasa ada suatu hal mengerikan di baliknya. Lalu mendadak sepasang mata berwarana merah menyala tampak dari balik semak-semak diiringi suara teriakan menyayat layaknya scoring film Insidious. Saya pun terbangun. Mungkin hampir tiap orang pernah mengalami itu meski detail yang dirasakan atau dilihat berbeda. Lewat The Nightmare, Rodney Ascher merangkum cerita dari delapan narasumber yang sering mengalami sleep paraylisis kemudian ia visualisasikan.
Reka ulang yang dilakukan Ascher menjadikan dokumenter ini kental dengan aura horor. Bahkan pada akhirnya The Nightmare jauh lebih berhasil sebagai horor murni daripada dokumenter yang berfungsi melakukan penggalian terhadap sebuah isu. Sama seperti karya Ascher sebelumnya yaitu Room 237, tidak ada satupun pakar dari bidang bersangkutan yang memberikan keterangan. Segala informasi yang membentuk narasi, murni berasal dari cerita delapan orang narasumbernya. Hal tersebut menjadikan filmnya kurang memiliki pegangan dalam eksplorasi. Meski berjumlah cukup banyak, orang-orang ini berasal dari pihak yang sama, yakni mereka dengan sleep paralysis. Pada akhirnya meski pengalaman masing-masing berbeda, sudut pandang yang dimunculkan kurang lebih sama. Tidak peduli walaupun ada yang memakai perspektif agama dan ada pula yang sains, semuanya memberikan penuturan serupa: their sleep paralysis are beyond explanation. Lalu apa? 
Tidak banyak hal baru yang bisa penonton ambil lewat film ini. Keseluruhan 90 menit film ini tidak ada bedanya dengan obrolan yang terjadi saat tengah duduk bersama teman-teman kita membicarakan pengalaman mistis. Menyenangkan, mengerikan dan membuat kita ingin mendengar lebih. Tapi semua itu hanya cerita yang subjektif tanpa ada penyeimbang dari sumber lain. Kita tidak tahu apakah narasumber ini menyatakan 100% kebenaran. Bisa saja mereka memberi bumbu, bisa saja semuanya kebohongan, atau bisa saja adalah kebohongan yang tidak mereka sadari. Sebagai contoh, salah satu narasumber menceritakan pengalamannya didatangi dua makhluk mirip alien saat usianya masih 1,5 tahun. Seseorang bisa saja mengingat sebuah memori yang kurang tepat atau bahkan sama sekali berbeda untuk kemudian secara tidak sadar mereka percayai sebagai sebuah kebenaran. Apalagi pengalaman itu diceritakan terjadi puluhan tahun lalu saat masih balita. Miskonsepsi memori amat mungkin terjadi. 
Apakah The Nightmare masih bisa disebut penggalian lebih dalam akan sleep paralysis? Bagi saya tidak. Daripada menggali lebih dalam, film ini coba menggali di lebih banyak lubang tanpa kedalaman yang berarti. Tujuan Rodney Ascher memang hanya menghimpun sebanyak mungkin cerita, tanpa menciptakan polemik maupun pencerahan terhadap objek utamanya. Seperti Room 237, kita sebagai penonton hanya diajak mendengarkan cerita subjektif yang tidak bisa lagi diganggu gugat. Mereka tenggelam dalam cerita mereka, begitu percaya akan apa yang mereka yakini, tak ubahnya seorang tokoh agama radikal. Saya sama sekali tidak menyatakan segala omongan mereka itu bohong. Karena salah satu cerita narasumber hampir sama persis seperti yang saya deskripsikan di atas. Saya termasuk yang percaya bahwa sleep paralysis secara medis memang ada, tapi "ketindihan" secara mistis juga ada. Dua buah fenomena yang serupa tapi tak sama. Masalahnya, Rodney Ascher tidak memberikan sudut pandang lain untuk memperkuat statement yang diusung filmnya. Bagai sebuah karya tulis yang mengambil referensi dari ocehan pengguna media sosial.

The Nightmare adalah dokumenter lemah, tapi justru merupakan horor yang cukup efektif. Sebagai kisah nyata yang didokumentasikan tanpa dasar teori kuat, film ini bagaikan fiktif. Tapi dipandang sebagai fiktif, pengemasannya sebagai dokumenter justru membuat film ini terasa nyata. Ironis memang, tapi The Nightmare justru berhasi memunculkan apa yang seringkali gagal dilakukan mockumentary horror dewasa ini, yaitu menciptakan kengerian yang seolah-olah sungguh terjadi. Pengemasan Ascher bagai membawa kita kedalam mimpi buruk. Atmosfer eerie, rasa seperti melayang di kehampaan, kemunculan bayangan hitam misterius yang perlahan mendekat, suara-suara chaotic nan disturbing, lengkap dengan lighting remang didominasi neon merah-biru, setidaknya film ini sukses mewujudkan situasi sleep paralysis dengan meyakinkan. Terasa menakutkan, apalagi jika pengalaman anda termasuk yang divisualisasikan oleh film ini. Bagi saya sendiri, kemunculan bayangan hitam berwarna merah sukses membuat bulu kuduk berdiri, rasa tidak nyaman hadir, dan seketika saya menengok sekeliling ruangan berharap tidak ada sosok mengerikan berdiri disana.

Verdict: Hanya sebatas dokumenter sebagai hiburan menyeramkan, karena Rodney Ascher memang tidak pernah berniat membuat The Nightmare lebih dalam dari itu. Sama seperti kebanyakan mimpi buruk, film ini hanya meninggalkan rasa tidak nyaman tanpa memberikan pencerahan.